Overseas Think Tank for Indonesia

facilitating intellectuals to contribute to indonesia

Archive for May, 2009

Rumah Berfondasi Karang Bagi Imigran Korban Mei 1998 di AS*

with 35 comments

Tragedi Kemanusiaan sebelas tahun yang lalu, tepatnya pada tanggal 13 sampai 15 Mei 1998 merupakan bukti nyata betapa rapuhnya rumah mereka dan untuk kesekian kalinya ribuan Tionghoa di Indonesia dipaksa meninggalkan rumah mereka.

Oleh Dr. Beni Bevly **

Pembuka

Pencarian dan pembangunan rumah yang befondasi karang damai sentosa untuk kehidupan yang lebih baik oleh banyak orang Tionghoa ternyata tidak berhenti di Indonesia karena ternyata banyak rumah yang mereka bangun di Indonesia rapuh dan mudah dirubuhkan.*** Mereka meneruskan pencaharian nenek moyang mereka ke negara lain, seperti ke Australia, Singapura, Hongkong dan Amerika Serikat.

Tragedi Kemanusiaan sebelas tahun yang lalu, tepatnya pada tanggal 13 sampai 15 Mei 1998 merupakan bukti nyata betapa rapuhnya rumah mereka dan untuk kesekian kalinya ribuan Tionghoa di Indonesia dipaksa meninggalkan rumah mereka. Massa di kota-kota besar dan sekitarnya seperti di Jakarta, Palembang, Solo, Surabaya dan Lampung membakar dan mendobrak rumah mereka. Massa tersebut masuk ke rumah mereka untuk menjarah harta benda, merusak, menganiaya, memperkosa dan membakar pemiliknya hidup-hidup. Read the rest of this entry »

Written by Beni Bevly

May 18th, 2009 at 10:31 am

Meniti Masa Depan yang Damai*

with 66 comments

Dengan pengertian sejarah Indonesia…diharapakan kita tidak mengulangi tragedi yang serupa dan bisa meniti masa depan yang damai

Oleh Dr. Beni Bevly

Dalam renungan dan memperingati 10 Tahun Tragedi Kemanusiaan Mei 1998, yang memakan sekitar 1.300 nyawa manusia dan sekitar 100 wanita Tionghoa diperkosa dan mengalami kekerasan seksual, ada baiknya kita menarik sejarah Indonesia jauh kebelakang, dan perlahan kita kaitkan dengan keadaan masa kini. Dalam gambaran sejarah di bawah terlihat: Pertama, adanya benang merah sumber kekerasan dan diskriminasi dari masa lalu hingga kini. Kedua, bisa dilihat bahwa nenek moyang kita dengan para pendatang setelah itu, bisa hidup damai dan berdampingan. Ketiga, adanya perjuangan bersama antara etnis Tionghoa dan bumiputra untuk bangsa dan negara Indonesia.

Dengan mengertian sejarah Indonesia seperti ini diharapakan kita tidak mengulangi tragedi yang serupa dan bisa meniti masa depan yang damai. Read the rest of this entry »

Written by Beni Bevly

May 11th, 2009 at 2:49 pm

A Call to Arms Against Bigotry And the Politics of Amnesia

without comments

Being born a female of a minority ethnic group and a member of a minority religious group in Indonesia has put me in the “triple minority” category.

By Jennie S. Bev

As part of international efforts to commemorate the Rwandan genocide, a New York-based group is calling for the United Nations to declare April as Genocide Prevention Month. Here at home, next month will bring the 11th anniversary of the Jakarta Riots in May 1998. Crimes against humanity occur every day around the world, and we need to remind ourselves of the root causes of such problems and consider ways to work on solutions.

Let me begin with myself. Being born a female of a minority ethnic group and a member of a minority religious group in Indonesia has put me in the “triple minority” category. While Indonesia’s population has almost equal numbers of males and females, the latter are still considered to be a minority due to their marginalization in civic and political spheres despite some recent symbolic advancements, such as a quota in the legislature. Read the rest of this entry »

Written by Beni Bevly

May 11th, 2009 at 2:03 pm

Kepemimpinan

with 22 comments

Kepemimpinan seperti ini harus mempunyai kemampuan untuk mentransform para pengikutnya, menciptakan visi dari tujuan yang akan dicapai, dan mengartikulasikan cara pencapaiannya
Image source: bisconsulting.ca

Oleh Dr. Beni Bevly

Agaknya baru pertama kali dalam sejarah di Tanah Seberang bahwa seorang Presiden turun tangan memecat Chief of Executive (CEO) perusahaan swasta. Di akhir bulan Maret dan awal April 2009, media cetak dan elektonik membuat head line besar bahwa President Barack Obama memecat Chairman dan CEO General Motors Corp. (GM), G. Richard Wagoner Jr., 56, yang telah bekerja selama 32 tahun dan menjabat sebagai CEO selama 5 tahun. Mengapa Wagoner sampai dipecat oleh Obama? Leadership atau kepemimpinan seperti apakah yang diinginkan olehnya?

Kepemimpinan Wagoner terangkat kepermukaan dan dipertanyakan oleh banyak pihak termasuk masyarakat awam di Tanah Seberang ketika ia terbang ke Washington untuk minta bantuan pemerintah dengan menggunakan jet perusahaan pada bulan November 2008. Di depan senat ia tidak bisa memberikan menjawab yang memuaskan mengapa ia membutuhkan bantuan berupa uang dari pajak rakyat Tanah Seberang. Read the rest of this entry »

Written by Beni Bevly

May 4th, 2009 at 3:17 pm

From Golden Bridge to Golden Monument: Essays on Humanity, Fairness, and Peace

with 4 comments

Title: From Golden Bridge to Golden Monument: Essays on Humanity, Fairness, and Peace
Author: Jennie Siat Bev
Language: English
Publisher: Afton Asia & Afton Institute
Genre: Anthology
Specification: 221 pages, 6 x 9 inch; soft cover
Price: $21.95 (BUY)

From Golden Bridge to Golden Monument: Essays on Humanity, Fairness, and Peace by Jennie Siat Bev

We live in an interesting time.

We could be nearing the end of time but intelligent optimists believe that we are embarking on a new beginning, which is more hopeful and meaningful. After all, everything comes in cycles. In grand epic A Tale of Two Cities, Charles Dickens wrote, “It was the best of times, it was the worst of times; it was the age of wisdom, it was the age of foolishness; it was the epoch of belief, it was the epoch of incredulity; it was the season of light, it was the season of darkness; it was the spring of hope, it was the winter of despair; we had everything before us, we had nothing before us.” Paradoxes are looming and one has full discretion to stand for anything he or she believes in.

I believe that with conviction and consistency, we can make the world slightly better than yesterday. Thus, we should stand on the side of wisdom, belief, light, hope and abundance rather than on the side of foolishness, incredulity, darkness, despair and nihilism. From time to time, we should remind ourselves to be intelligent optimists, regardless of the current state of the world. Through writing, I believe that I have this option. Read the rest of this entry »

Written by Beni Bevly

May 4th, 2009 at 1:39 pm