Kepemimpinan

Image source: bisconsulting.ca
Oleh Dr. Beni Bevly
Agaknya baru pertama kali dalam sejarah di Tanah Seberang bahwa seorang Presiden turun tangan memecat Chief of Executive (CEO) perusahaan swasta. Di akhir bulan Maret dan awal April 2009, media cetak dan elektonik membuat head line besar bahwa President Barack Obama memecat Chairman dan CEO General Motors Corp. (GM), G. Richard Wagoner Jr., 56, yang telah bekerja selama 32 tahun dan menjabat sebagai CEO selama 5 tahun. Mengapa Wagoner sampai dipecat oleh Obama? Leadership atau kepemimpinan seperti apakah yang diinginkan olehnya?
Kepemimpinan Wagoner terangkat kepermukaan dan dipertanyakan oleh banyak pihak termasuk masyarakat awam di Tanah Seberang ketika ia terbang ke Washington untuk minta bantuan pemerintah dengan menggunakan jet perusahaan pada bulan November 2008. Di depan senat ia tidak bisa memberikan menjawab yang memuaskan mengapa ia membutuhkan bantuan berupa uang dari pajak rakyat Tanah Seberang.
Para kritik, termasuk anggota senat dan kongresmen bilang bahwa Wagoner bergerak terlalu lamban, gagal memotong ongkos perusahaan yang terlalu besar dalam bidang health care dan pensiun, dan terlalu lama mengandalkan keuntungan dari truk pickup dan SUV (sport utility vehicle). Kebijakan ini tetap dijalankan setelah harga bensin naik drastis dan pasar mobil bergeser ke ukuran yang lebih kecil dengan mengandalkan fuel-efficient.
Perkembangan terkahir share GM pada pre-market trading sebelum ia digantikan turun menjadi $2.76. Angka ini lebih rendah 89 persen dibandingkan dengan angka pada tanggal 30 April 2008, yaitu $24.24. Selain itu, selama masa kepemimpinan Wagoner empat tahun terakhir, GM mengalami kerugian $82 miliar.
Dengan issu di atas maka pemerintahan Obama mengadakan pertemuan khusus dengan Wagoner pada hari Juma’at, 27 Maret 2009. Sebagai keputusannya, seperti pengakuan Wagoner bahwa ia diminta untuk “step aside”. Obama dan Wagoner setuju dengan keputusan tersebut karena hal ini merupakan salah satu persyaratan dari pinjamam federal sebesar $13.4 miliar. Total pinjaman yang diberikan oleh pemerintah kini berkisar sekitar 35% dari keseluruhan investasi GM.
Di lain sisi, pihak yang tidak setuju dengan pemecatan Wagoner melihat bahwa ia telah membawa kemajuan yang berarti bagi GM.
Ketika Wagoner — yang merupakan seorang MBA dari Harvard — menjabat sebagai CEO, ia telah menurunkan jumlah karyawan di Tanah Seberang dari 177.000 menjadi 92.000. Ia juga menutup banyak anak pabrik yang tidak efisien and efektif, memberhentikan produksi merek Oldsmobile, menstandardisasi dan menglobalisasi engineering, manufacturing dan design yang telah menghemat miliaran dolar US. Proses ini telah membantu meningkatkan kualiti mobil mereka, contohnya Cadillac CTS dan Chevrolet Malibu yang memenangkan car-of-the-year awards tahun lalu dan pembuatan baterai lithium-ion battery dengan extended-range electric yang akan menjadi tenaga penggerak Chevrolet Volt di bulan November 2010.
Pada tahun 2007, GM sepakat dengan the United Auto Workers untuk menmindahkan biaya pesiun health care ke trust yang dikelolah oleh serikat pekerja dan menetapkan gaji $14 per jam untuk karyawan baru, kurang lebih setengah dari gaji karyawan existing.
Pembelaan di atas tidak dapat meyakinkan Obama dan ia tetap melihat bahwa Wagoner sebagai “a failure of leadership” dan menjadi dasar pemecatannya.
Alasan yang dikemukan oleh Obama menjadi bisa dimengerti jika saya membandingkan kepemimpinan Wagoner dengan Horoshi Okuda, president Toyota yang mendesak supaya mobil Prius Hybrid diluncurkan lebih cepat dari yang direncanakan. Maka pada Oktober 1997 Toyota meluncurkan mobil hybrid pertama di dunia dengan jarak tempuh 66 mile per galon, 100 persen lebih baik dari Toyota Corolla. Dalam waktu 1 bulan, Toyota melipatgandakan produksi Prius menjadi 2.000 unit. Sekarang Prius Hybrid tetap menjadi pemimpin pasar di kelasnya.
Sebelumnya, Toyota terus mencoba selama 20 tahun untuk menggantikan bahan bakar tradisional dengan kombinasi tenaga listrik. Tetapi dalam waktu singkat Okuda berhasil merealisasikan usaha itu.
Sedangkan GM yang telah lama bergelut dan lebih berpengalaman dari pada Toyota dalam industri mobil ternyata jauh tertinggal. Pada tahun 1997 dan sesudahnya, GM masih tetap bertahan dengan strategi produksinya yang mengutamakan SUV dan truk pickup.
Agaknya, realisasi kepemimpinan seperti inilah yang dikehendaki Obama. Kepemimpinan seperti ini harus mempunyai kemampuan untuk mentransform para pengikutnya, menciptakan visi dari tujuan yang akan dicapai, dan mengartikulasikan cara pencapaiannya. Pemimpin seperti ini desebut transformational leader yang memiliki karakteristik:
Pertama, visi. Pemimpin jenis ini secara inheren mempunyai oreintasi ke depan. Dia juga mengerti masalah terkini dan mampu mengajukan visi imaginatif untuk memecahkan masalah.
Kedua, kemampuan retorika. Sebagai tambahan dari kepemilikan visi, pemimpin ini memiliki kemampuan retorika yang tinggi yang bisa membangkitkan emosi dan menginspirasi pengikutnya supaya sevisi dengannya.
Ketiga, keahlian membangun imej dan kepercayaan. Pemimpin transformational membangun kepercayaan dalam kepemimpinannya dan pencapian tujuannya dengan menunjukkan emej akan kepercayaan dirinya yang tidak tergoyangkan, keyakinan moral yang kuat, pengorbanan diri dan ia sebagai contohnya, dan taktik atau tingkah-laku yang tidak konvensional.
Keempat, personalized leadership. Pemimpin jenis ini mempunyai hubungan yang kuat dengan pengikutnya, bahkan melebihi peranan resmi organisatorisnya. Ia memiliki tiga komponen: pertama, sang pemimpin sensitif akan tingkat emosi pengikutnya. Kedua, pemimpin ini juga cenderung mengekspresikan emosinya. Ketiga, dia memberikan kekuatan pengikutnya dengan membangun kemampuan mereka berjuang.
Bisa ditambahkan bahwa pemimpin yang handal harus mampu memimpin organisasi dan pengikutnya untuk mengetahui hal yang belum diketahui, melihat apa yang belum pernah dilihat, menjelajahi tempat yang belum pernah didatangi, melakukan apa yang belum pernah diperbuat, dan mencapai apa yang belum pernah dicapai. Bisakah penerus Wagoner melakukan ini? Kita nantikan saja.
_______
Beni Bevly adalah penulis buku Managing For Profit Organizations in the Flatter World. Ia bisa dijumpai di www.overseasthinktankforindonesia.com. Artikel ini diterbitkan oleh majalah Duit!