Overseas Think Tank for Indonesia

facilitating intellectuals to contribute to indonesia

Rumah Berfondasi Karang Bagi Imigran Korban Mei 1998 di AS*

with 2 comments

Tragedi Kemanusiaan sebelas tahun yang lalu, tepatnya pada tanggal 13 sampai 15 Mei 1998 merupakan bukti nyata betapa rapuhnya rumah mereka dan untuk kesekian kalinya ribuan Tionghoa di Indonesia dipaksa meninggalkan rumah mereka.

Oleh Dr. Beni Bevly **

Pembuka

Pencarian dan pembangunan rumah yang befondasi karang damai sentosa untuk kehidupan yang lebih baik oleh banyak orang Tionghoa ternyata tidak berhenti di Indonesia karena ternyata banyak rumah yang mereka bangun di Indonesia rapuh dan mudah dirubuhkan.*** Mereka meneruskan pencaharian nenek moyang mereka ke negara lain, seperti ke Australia, Singapura, Hongkong dan Amerika Serikat.

Tragedi Kemanusiaan sebelas tahun yang lalu, tepatnya pada tanggal 13 sampai 15 Mei 1998 merupakan bukti nyata betapa rapuhnya rumah mereka dan untuk kesekian kalinya ribuan Tionghoa di Indonesia dipaksa meninggalkan rumah mereka. Massa di kota-kota besar dan sekitarnya seperti di Jakarta, Palembang, Solo, Surabaya dan Lampung membakar dan mendobrak rumah mereka. Massa tersebut masuk ke rumah mereka untuk menjarah harta benda, merusak, menganiaya, memperkosa dan membakar pemiliknya hidup-hidup.

Pemda DKI Jakarta melaporkan bahwa 5.723 bangunan termasuk rumah, 1.948 kendaraan dan 516 fasilitas umum rusak dibakar di Jakarta. Tim Relawan untuk Kemanusiaan menampilkan tabel bahwa 31 orang hilang, 27 meninggal karena senjata tajam atau lain-lain, 1190 orang meninggal terbakar dan 91 orang terluka dengan total korban berjumlah 1.339 orang. Tim Gabungan Pencari Fakta menemukan 92 perempuan korban sexual yang terdiri dari 67 orang diperkosa, 10 orang mengalami penyerangan seksual dan 15 mengalami pelecehan sexual (Jusuf, Timbul, Gultom & Friska, 2007).

Tragedi Kemanusiaan Mei 1998 menyebabkan trauma, luka, ketakutan, kekuatiran dan kegelisahan yang mendalam di kalangan Tionghoa untuk tetap tinggal di Indonesia, maka migrasi yang besar pun terjadi. Hampir semua airport penuh dengan orang Tionghoa yang siap meninggalkan Indonesia.

Sampai saat ini tidak ada data yang secara jelas merekam berapa banyak dari mereka yang meninggalkan rumah dan kampung halaman mereka di Indonesia. Seperti halnya dengan nenek moyang mereka yang merantau menyeberang lautan dan menetap di Indonesia, maka kini mereka pergi merantau jauh, mencari dan berharap membangun rumah baru berfondasi karang yang bebas dari ancaman untuk berteduh.

Apa artinya rumah berfondasi karang dari perspektif sekular? Di mana dan bagaimana membagun rumah tersebut? Sebelum menjawab kedua pertanyaan ini, saya akan meneruskan secara garis besar kisah perantauan sebagian Tionghoa di Amerika Serikat (AS).

Rumah Baru di AS

Diperkirakan sebagian besar Tionghoa korban Tragedi Mei 1998 yang bermigrasi memilih AS sebagai tempat tujuannya. Beberapa tahun setelah waktu kedatangan mereka, keadaan ekonomi dan perumahan di AS sangat menjanjikan. Di antarnya ditandai dengan harga rumah yang terus menanjak dan lowongan pekerjaan cukup memadai. Sebagian dari mereka memilih untuk membeli rumah, tinggal di rumah saudara, menyewa, atau inlaw sambil bekerja atau membuka usaha sendiri.

Bagi yang membeli rumah, walaupun harga rumah tinggi, tetapi tersedia jenis home loan yang memungkin hampir setiap orang memenuhi persyaratan. Dengan credit score dan pendapatan yang rendah seseorang akan bisa mendapatkan rumah idamannya melalui apa yang mereka sebut exotic loan seperti Adjustable Rate Mortgage (ARM) dan Option ARM dengan Zero Down Payment. Kini jenis home loan seperti ini disebut sub-prime mortgage, yaitu pinjaman yang beresiko tinggi untuk default.

Tertu saja juga banyak dari mereka yang membeli rumah dengan cara yang tradisional, yaitu 30-Year Fixed Rate dengan Down Payment, credit score dan pendapatan/dana yang memadai. Pemegang mortgage jenis ini bukan termasuk subprime mortgage.

Dengan demikian, maka banyaklah imigran baru Tionghoa menemukan rumah baru mereka di AS. Bahkan ada yang berpikiran atau mengambil keuntungan dari kenaikan harga rumah mereka, seperti me-refinance untuk mendapatkan cash dari bank. Atau menjual rumah mereka untuk mendapatkan keuntungan, atau membeli rumah baru lagi. Tetapi apa yang terjadi beberapa tahun setelah itu setelah itu?

Menurunnya Harga Rumah dan Perekonomian AS

Memasuki tahun 2007 beberapa kenalan imigrant dan tetangga saya mulai menunjukkan kegelisahannya terhadap perkembangan perekonomian Amerika Serikat (AS). Kemakmuran ekonomi yang dinikmati dan memberi keuntungan pada banyak orang – termasuk kenalan saya – sejak tahun 2000 yang ditandai dengan menaiknya harga rumah dan mencapai 86% pada pertengahan tahun 2006, ternyata membawa keprihatinan dan kesedihan yang mendalam.

Di beberapa tempat di AS, harga rumah turun drastis melebihi 50%, sub-prime mortgage mulai di-adjust sehingga bayaran bulanan kredit rumah meningkat, di antara mereka pun mulai mengalami penuruan atau kehilangan pendapatan karena usaha mereka sepi dan di lay-off. Lebih dari itu, 401K atau tabungan pension dan certificate of deposit (CD) mereka menurun drastis. Di atas semua itu, maka pemilikan rumah mereka terancam dan bahkan harus dekembalikan ke bank atau foreclosure. Mengapa hal ini terjadi? Sebelumnya kita lihat perekonomian AS di tingkat nasional.

Di tingkat nasional, krisis ekonomi di AS benar-benar terangkat kepermukaan dan menyebabkan kepanikan ketika pasar stock di negara-negara berpengaruh mengalami penurunan tajam pada hari Juma’at, 10 Oktober 2008. Di AS Dow Jones mengalami penurunan 7,3 persen, di Jepang Nikkei 9,4 persen, di Hongkong lebih dari 8 persen, di Singapura and Korea Selatan 6 and 5 persen berturut-turut, dan di Indonesia lebih dari 10 persen. Penurunan ini adalah yang terbesar sejak the Black Monday Market Crash di bulan Oktober 1987.

Sebelum itu, pada tahun 2007, AS mengalami defisit dalam transaksi sebesar $847 miliar. Hal ini menyebabkan penurunan dollar AS. Pada periode ini terjadi penurunan harga rumah secara drastis. Daerah tertentu mencapai 30-50 persen. The Wall Street Journal melaporkan bahwa sekitar 12 juta keluarga (16 persen penerima kredit rumah) membayar lebih besar dari nilai rumah yang mereka diami atau lebih dikenal dengan sebutan underwater. 29 persen dari pembeli rumah secara kredit dalam lima tahun terakhir ini terancam untuk foreclosure.

Pada February 2008, 63.000 orang kehilangan pekerjaannya, rekor dalam 5 tahun. Pada September 2008, 159.000 orang dirumahkan lagi. Dalam jangka waktu itu sekitar 84.000 orang per bulan kehilangan pekerjaan mereka. Di bulan Maret 2009 sendiri, angka penganguran naik 694.000 menjadi 13,2 juta orang. Dalam waktu 12 bulan terakhir, angka pengangguran meningkat 5.3 juta orang.

Tanggal 5 September 2008, the United States Department of Labor melaporkan bahwa angka penganguran naik menjadi 6,1%, paling tinggi dalam lima tahun. Kini (Maret 2009) telah mencapai 8,5%. Meningkat 3,4% dalam waktu 12 bulan.

Tanggal 7 September 2008, mortgage lenders Fannie Mae and Freddie Mac dinyatakan dalam kontrol (conservatorship) pemerintah dan perlu mendapat suntikan dana. Setelah itu, 15 September Lehman Brothers, perusahaan investasi terbesar menyatakan diri bankrut. Perusahaan asuransi terbesar AS, AIG diberikan suntikan dana dari Federal Reserve, dan consortium dari 10 bank sebesar $70 miliar.

Perekonomian AS hanya tumbuh 0,6 persen dalam quarter pertama di tahun 2008, menurun dari prediksi sebesar 2,2 persen.

Barack Obama mengatakan bahwa krisis ekonomi sekarang adalah yang terbesar sejak Great Depression 1929.

Masalah Makro

Kembali kepertanyaan mengapa hal ini terjadi? Siapa pelaku utamanya?

Menurunnya harga stok adalah indikasi makro yang jelas dari menurunnya perekonomian suatu negara, termasuk AS. Penurunan ini di-trigger oleh merosotnya kepercayaan para pemegang saham/stok terhadap kondisi ekonomi saat itu. Ketidak-percayaan ini menyebabkan para pemegang saham panik dan melepas saham mereka hampir dalam waktu yang bersamaan dengan harga murah. Selanjutnya timbul pertanyaan, mengapa mereka berbuat demikian? Perbuatan mereka merupakan reaksi terhadap proses dan penumpukan masalah ekonomi yang telah berjalan tahunan.

Banyak ahli ekonom yang melihat ini sebagai akibat deregulasi, dimana pemerintah memberikan kebebasan yang luas pada para pelaku pasar. Pihak pemerintah yang dikuasai oleh kalangan konservatif percaya dengan keampuhan ekonomi pasar bebas yang salah satu pemikir utamanya adalah Milton Friedman. Pasar bebas diyakini akan menimbulkan persaingan yang akan membawa kemajuan dan mempunyai kemampuan untuk mencari jalan keluar dari permasalahan yang ada.

Pada kenyataannya, deregulasi seperti ini menimbulkan praktek ekonomi yang tidak sehat. Para investor besar mendesak para CEO untuk menuai keuntungan super besar dalam jangka pendek, untuk itu para CEO akan diberi bonus hingga pendapatan mereka bisa mencapai ratusan juta dollar. Siapa yang tidak tertarik dengan tawaran ini? Maka terciptalah berbagai macam produk finansial yang pada akhirnya menjadi senjata makan tuan.

Mari kita lihat lebih mendetil bagaimana proses deregulasi ini digulirkan. Perbuatan utama yang perlu dilakukan tentunya membatalkan regulasi. Tercatat dalam sejarah AS bahwa deregulasi yang sangat kontroversial adalah tindakan Presiden Nixon pada awal tahun 1971 dengan membatalkan cadangan emas sebagai patokan nilai dollar AS. Momentum ini agaknya menjadi inspirasi bagi deregulasi berikutnya.

Deregulasi yang diduga langsung berkaitan dengan krisis ekonomi sekarang adalah pemberlakuan Gramm-Leach-Bliley Act pada tahun 1999. Senator Phil Gramm yang menjadi Kepala Penasihat Ekonomi calon Presiden McCain adalah pemerakarsanya. Intinya ketetapan ini menderegulasi banking industry dan mengijinkan bank untuk merger dengan perusahaan security. Hal ini otomatis membatalkan Glass-Steagall Act tahun 1933 yang memisahkan commercial dan investment banking.

Setelah itu, Gramm berhasil menggoalkan amendment yang mengijinkan bank dan broker melakukan trading mortgage seperti trading stock dan bond. Degergulasi jenis ini menempatkan sub-prime mortgage yang menjadi penyebab utama krisis ekonomi sekarang.

Hal makro lain yang menjadi penyebab menurunnya perkonomian AS adalah program ownership society. Pada tahun 2002, Presiden Bush mempropagandakan agenda ownership society yang menyatakan bahwa masyarakat berpendapatan terendah sekalipun seharusnya mampu memiliki rumah.

Ide Gramm dan Bush tidak akan berkembang menjadi bubble dan meletus jika mereka tidak didukung dengan tindakan Alan Greenspan, seorang ekonom yang menjabat Chairman the Federal Reserve dari tahun 1987 sampai 2006.

Setelah 9/11 tahun 2001, the Federal Open Market Committee, di mana Greenspan sebagai ketuanya, memveto mengurangi suku bunga dari 3,5% to 3,0%. Kemudian, setelah Accounting Scandals tahun 2002 yang melibatkan Enron, Federal Reserve menurunkan suku bunga lagi menjadi 1,0%.

Tindakan Greenspan ini oleh Ekonom Pemenang Nobel Prize Joseph E. Stiglitz – yang pandangannya sering bertentangan dengan Milton Friedman – dinilai sebagai penyumbang besar dalam krisis ekonomi sekarang. Stiglitz mengatakan, “Alan Greenspan didn’t really believe in regulation; when the excesses of the financial system were noted, [he and others] called for self-regulation—an oxymoron.”

Selain Greenspan, Richard Syron (Chairman dan Chief Executive Freddie Mac atau Federal Home Loan Mortgage Corporation) dan David Taiclet (CEO dari Fannie May atau Federal National Mortgage Association) pada saat itu juga diyakini sebagai dalang krisis ini. Kedua institusi keuangan ini memfasilitasi liquiditas pasar mortgage dengan memastikan bahwa dana selalu tersedia untuk badan yang akan meminjamkan uang kepada pembeli rumah.

Sangat tidaklah mungkin bahwa mereka tidak mengetahui bahwa dana yang dikucurkan tersebut adalah untuk sebagian peminjam yang sebenarnya tidak legitimate. Walaupun demikian dana terus mengalir yang totalnya berjumlah $5,3 trillion, hampir setengah dari keseluruhan pasar mortgage di AS yang berjumlah $12 trillion.

Pada saat yang bersamaan pendapat kedua CEO ini sangat besar. Securities and Exchange Commission melaporkan bahwa Richard Syron seorang diri saja mengantongi hampir $19,8 juta pada tahun 2007 walaupun harga stok perusahaanya telah turun 50%.

Di institusi finansial lain, Joe Cassano yang berada dibelakang Financial Products Unit AIG (American International Group, Inc) mengasuransikan sub-prime mortgage yang beresiko tinggi dan Credit Default Swap (CDS). CDS adalah produk derivative yang merupakan perjanjian antara dua pihak di mana “pembeli” membayar secara periodik kepada “penjual” sebesar harga di mana diperhitungkan pembayaran tuntas apabila terjadi default atau ketidakmampuan membayar dalam hubunganannya dengan entitas ketiga. Singkatnya, karena ulahnya, Cassano menjadi orang yang paling bertanggung jawab terhadap keruntuhan AIG.

Tahukan anda berapa gaji dan bonus orang yang mempunyai andil dalam keruntuhan AIG ini? Cassano telah mengeruk $280 juta sejak tahun 2000. Sekitar $35 juta per tahun.

Tamparan yang lebih hebat lagi untuk perekonomian AS adalah berita yang dibawa oleh Richard Fuld, CEO Lehman Brothers. Pada tanggal 15 November 2008, Fuld mengumumkan berita kebangkrutan terbesar dalam sejarah AS. Kebangkrutan tejadi karena perusahaan yang menjual produk financial services, investment banking dan investment management ini memegang terlalu banyak subprime dan mortgage lainnya yang mempunyai bunga rendah. Selain itu, perusahaan ini diduga terlibat dalam transaksi CDS yang nilainya mencapai ratusan miliar dollar.

Dalam kuarter kedua tahun 2008, dilaporkan bahwa Lehman rugi $2,8 miliar dan terpaksa menjual $6 miliar asetnya. Dalam setengah tahun pertama di tahun 2008 harga stoknya menurun sebanyak 73%.

Pada 6 Okober, 2008, pada saat Richard Fuld memberikan kesaksian di depan Kongress, Representative Waxman bilang bahwa Fuld mengantongi hampir $500 juta sejak tahun 2000, sambil memimpin Leman ke arah kebangkrutan.

Waxman berkata pada Fuld, “My question is a simple one. Is this fair?” Fuld menerangkan bahwa ia tidak dibayar semuanya dengan uang tunai. Ia menerima options dan incentives lainnya yang tidak ada harganya lagi setelah perusahaannya bangkrut.

Hal lain yang patut didiskusikan bahwa selain institusi keuangan, industri real estate juga mempunyai andil dalam menciptakan krisis ekonomi ini. Contohnya adalah perusahan developer (di AS disebut builder) ke sembilan terbesar di AS, Beazer Homes USA Inc. dengan CEO Ian McCarthy. Untuk mengejar keuntungan maha besar yang revenue-nya mencapai hampir $5 miliar, perusahaan ini telah melanggar federal law, termasuk pemalsuan data para pembeli rumah supaya kredit mereka bisa dikabulkan oleh bank.

Karena revenue yang besar itulah maka, McCarthy mengantongi sebanyak $29,6 juta pada tahun 2006. Pada tahun 2007, pendapatannya menurun 75%. Hal ini disebabkan di antaranya manurunnya pendapatan perusahaan dan perbuatan kriminalnya, sehingga ia “hanya” menerima $7,5 juta.

Ada sebagian yang berpendapat bahwa krisis ekonomi seperti ini mestinya tidak terjadi jika Charles Christopher Cox sebagai Chairman dari U.S. Securities and Exchange Commission (SEC) mengambil inisiatif perbaikan dan tindakan tegas terhadap para pelaku pasar yang jelas tidak etis dan menyebabkan krisis ekonomi. Karena sikapnya yang masa bodoh itu, pada 8 September 2008, calon presiden John McCain berkata, “The chairman of the SEC serves at the appointment of the president and, in my view, has betrayed the public’s trust,” Ia menambahkan “If I were president today, I would fire him.”

Sebenarnya apakah ada pihak lain yang mencoba memberi masukan dan ingin mencegah terjadinya krisis ekonomi ini? Jawabannya ada. Sebagai contohnya Attorney General dari 50 negara bagian pernah menuntut untuk memberhentikan subprime lending, terutama subprime mortgage. Tetapi tuntutan ini dikalahkan oleh George Bush dengan mendayagunakan the Office of the Comptroller of the Currency (OCC) dan membatasi hak dari negara bagian untuk menuntut pemberlakuan Lending Law.

Masalah Mikro

Ke tingkat mikro, bagaimanakah begitu banyak masyarakat AS terjebak dalam subprime mortgage yang menjadi salah satu penyebab utama krisis ekonomi?

Singkatnya, subprime mortgage dapat diartikan sebagai kredit pemilikan rumah yang beresiko tinggi. Jika seseorang memiliki subprime mortgage berarti orang itu akan mengalami kesulitan untuk membayar cicilan bulannya pada pihak yang memberi pinjaman atau lender yang umumnya adalah bank.

Seperti apakah bentuk subprime mortgage itu? Jika anda pernah membaca kontrak jual beli rumah secara kredit di AS maka anda akan menemukan salah satu dari kedua istilah ini, yaitu istilah ARM atau Adjustable-Rate Mortgage dan 30 Year Fix Rate.

Umumnya ARM mengandung resiko yang lebih tinggi karena suku bunga bisa berubah setelah dalam jangka waktu tertentu dan kebanyakan pembeli rumah hanya melakukan pembayar bunga saja setiap bulannya. Sedangkan 30 Year Fix Rate menawarkan pada pembeli rumah untuk melakukan cicilan, termasuk bunga dan principle, dengan suatu jumlah uang yang tetap dan dalam waktu 30 tahun maka rumah itu akan lunas.

Keuntungannya pada ARM bahwa pada mulanya dan umumnya ia menawarkan cicilan yang lebih murah dari 30 Year Fix Rate. Biasanya, jangka waktu ARM mulai dari 6 bulan sampai 12 tahun ARM. Artinya sesuai dengan kontrak, suku bunga tidak akan mengalami perubahan dalam waktu tertentu. Setelah itu suku bunganya akan disesuaikan dengan keadaan pasar. Kebanyakan yang terjadi adalah kenaikan suku bunga yang cukup tinggi, yang juga berarti kenaikan cicilan bulanan bagi pembeli rumah. Di sinilah letak masalah utama bagi para pembeli rumah, terutama mereka yang pendapatannya hanya cukup untuk membayar cicilan pada periode pemula.

Ternyata penawaran dari pihak yang meminjamkan uang untuk kepemilikan rumah ini semakin mengiurkan. Satu produk baru yang dikenal dengan Option ARM memberikan alternatif pada pembeli rumah untuk membayar cicilan bulanan rumah jauh lebih rendah dari seharusnya. Dalam Option ARM terdapat satu pilihan yang dinamakan Negative Amortization, yaitu pembeli bisa mencicil lebih kecil dari harga interest only. Sebutlah cicilan mereka dalam program ARM sebesar $2.000/bulan. Dalam program Negative Amortization ini mereka bisa mencicil dengan $1.500/bulan.

Lalu kemana selisihnya yang berjumlah $500? Selisih ini akan ditambahkan ke principle utang sehingga utangnya setiap bulan akan bertambah $500.

Apa kriteria seseorang untuk mendapatkan kredit pemilikan rumah dari lender di AS? Paling tidak ada dua kriteria yaitu Credit Score (CS), dan rasio utang dan besarnya pendapatan seseorang. Tentu saja masih ada faktor lain seperti pemilikan kartu kredit, dan rasio jumlah credit line dan kredit yang dipakai.

CS ditentukan oleh tiga badan yang bernama TransUnion, Experian dan Equifax yang dasar utamanya berpatokan pada tingkah laku pembayaran seseorang atas utang.

Kebalikan dengan anggapan umum mengenai CS. Sebenarnya, semakin banyak utang dan semakin lancar seseorang membayar utangnya maka CS-nya akan naik. CS berkisar antara 310 – 840. Nilai 620 ke bawah disebut poor, 620 – 659 fair, 660 – 749 good dan 750 – 840 excellent. Nilai fair pada saat itu sudah cukup bagi seseorang untuk membeli rumah secara kredit.

Rasio utang dan besarnya pendapatan seseorang pada umumnya dilihat dari pay check, bank statement dan dokumen pembayaran pajak yang dibandingkan dengan data dari CS. Tetapi dengan program baru, seseorang tidak harus menggunakan ketiga dokumen untuk membuktikan besarnya pendapatannya, ia cukup memberikan surat atau stated income yang menyatakan berapa pendapatannya.

Selain itu, dalam program kredit pemilikan rumah pada saat itu, seseorang juga tidak perlu membayar uang muka dan bahkan tidak perlu membayar biaya closing, seperti biaya escrow (seperti pengurusan balik nama dan pengcekan keabsahan dokumen), notaris dan komisi realtor yang biasanya membutuhkan ribuan, puluhan ribu bahkan sampai ratusan ribu dollar, tergantung dari harga rumahnya. Hal ini dimungkinkan karena koloborasi antara broker, appraiser, realtor dan bank.

Broker dan realtor bekerja sama untuk menunjuk appraiser supaya memberikan penilaian harga rumah di atas harga jual, sehingga bank bisa menggucurkan dana berdasarkan nilai yang di-appraise yang bisa mencapai lebih 110 persen dari harga beli. Kelebihan nilai appraisal ini akan digunakan untuk biaya closing. Dengan demikian pembeli rumah hanya membayar cicilan bulan pertama.

System appraisal yang menambahkan harga rumah menjadi lebih tinggi dari sebenarnya, pada akhirnya menciptakan nilai baru yang lebih tinggi, bukan hanya terhadap rumah yang di-appraise tetapi juga terhadap rumah di sekitarnya.

Akibat kolaborasi seperti ini maka sekarang paling tidak terdapat 12 juta keluarga di AS yang mempunyai utang lebih besar dari harga rumah sebenarnya. Mereka sedang terancam tidak mampu bayar cicilan bulanan. Jika keadaan ini tidak ditemukan jalan keluarnya maka perekonomian AS yang sudah tertatih-tatih akan terpuruk lebih mendalam lagi.

Arti Rumah

Dengan rumah sebagai pusat perhatian dari krisis ekonomi di AS, maka mudahlah disimpulkan bahwa rumah mempunyai pengertian yang sangat penting dalam kehidupan secara global. Rumah sebagai inti krisis ekonomi sekarang yang pada akhirnya membawa dampak perubahan global terhadap kehidupan sosial, budaya dan politik. Hal ini pada akhirnya akan mempengaruhi kehidupan orang Tionghoa yang migrasi ke AS karena Tragedi Kemanusiaan Mei 1998, terutama mereka yang memiliki rumah.

Saking pentingnya rumah maka ia sering dikaitkan dengan American Dream. Di dalam dictionary.com American Dream diartikan sebagai berikut:

A phrase connoting hope for prosperity and happiness, symbolized particularly by having a house of one’s own. Possibly applied at first to the hopes of immigrants, the phrase now applies to all except the very rich and suggests a confident hope that one’s children’s economic and social condition will be better than one’s own.

Sekali lagi, inti American Dream pada awalnya dikaitkan pada kepemilikan rumah oleh para imigran.

Arti rumah menjadi lebih penting bagi seseorang terlihat juga di dalam pengertian bahasa Inggris yang membedakan pengertian house dari pada home.

House diartikan sebagai a building in which people live; residence for human beings. Sedangkan home selain a building in which people live; residence for human beings, ia mempunyai makna tambahan yaitu an environment offering security and happiness dan a valued place regarded as a refuge or place of origin.

Dengan kata lain home atau rumah mempunyai pengertian yang melebihi dari sekedar suatu bangunan untuk manusia tinggal. Rumah mengandung makna yang luas seperti: keamanan, kebahagiaan, kenyamanan, ketenangan, kenangan, dan kekeluargaan.

Jika dikaitkan dengan lingkungan, neighborhood dan komuniti, arti rumah menjadi lebih bermakna, yaitu di antaranya berkaitan dengan: pendidikan (kualitas sekolah), hubungan sosial atau pergaulan dengan tetangga, tingkat keamanan/kejahatan, kebersihan dan kesehatan lingkungan, volunteering atau bekerja sukarela atau gotong-royong, sarana olahraga dan mainan anak-anak, fasilitas pemadam kebakaran, ambulance, rumah sakit dan hiburan, tempat belanja dan kualitas air serta utility lainnya.

Pengertian inilah yang sebenarnya adalah karang yang menjadi fondasi rumah. Pengertian home atau rumah seperti ini jugalah yang diimpikan oleh setiap manusia, termasuk para imigran Tionghoa korban Tragedi Kemanusiaan Mei 1998.

Membangun Rumah di Atas Karang

Setelah terpaka meniggalkan rumah di Indonesia karena Tragedi Mei 1998 dan tinggal di AS, ternyata rumahnya juga tergoyah di antaranya oleh hujan dan badai krisis sub-prime mortgage dan ekonomi. Pertanyaan berikutnya, bisakah kita bena-benar membangun rumah berfondasikan karang? Bagaimana caranya?

Perlu ditekankan bahwa membangun rumah berfondasi karang tidak berarti seseorang atau satu keluarga harus membeli bangunan atau ruang untuk tempat tinggal. Bangunan atau ruang ini bisa saja berupa sewaan atau numpang tinggal di rumah mertua, saudara atau orang lain. Dengan demikian maka jawaban dari pertanyaan di atas adalah bisa. Secara garis besar cara pembangunan rumah dengan fondasi karang dapat diterangkan dalam posisi Tionghoa Indonesia Amerika bertindak atas nama individu dan dalam kaitannya langsung dengan komuniti atau organisasi.

Pertama, bertindak atas nama individu dalam keluarga. Dasar utama adalah menciptakan suasana saling mendukung antara anggota keluarga dalam satu rumah. Dengan dasar utama ini, maka setiap anggota akan menjalankan tugannya dengan maksimum, seperti orang tua bekerja dan anak-anak ke sekolah dengan giat. Untuk itu:

1. Setiap anggota keluarga atau anggota yang tinggal dalam satu rumah perlu menerapkan prinsip saling menghormati/mutual respect. Suami-isteri dan anggota keluarga lainnya saling berasumsi bahwa mereka competent dan cerdas.
2. Semua anggota keluarga perlu adanya keterbukaan/openness antara mereka. Adalah mustahil untuk semua orang dalam serumah untuk mengetahui semua hal, jadi beri informasi kepada setiap anggota rumah/keluarga apa yang mereka perlu tahu dan berhak tahu.
3. Setiap anggota keluarga perlu membagun kepercayaan/trust. Setiap anggota keluarga percaya bahwa tidak ada pihak yang akan menyakiti secara sengaja. Jadi berikan informasi atau apa saja yang berguna untuk anggota lain.
4. Tindakan setiap anggota mengarah pada saling menguntungkan/mutual benefit. Jika terjadi konflik atau dalam situasi apa saja, rencanakan setiap strategi yang membawa kemanangan bagi semua anggota.

Kedua, bertindak dalam kaitannya langsung dengan komuniti atau suatu organisasi. Dalam suatu komuniti atau organisasi pasti ada yang memimpin (pemimpin) dan yang mengikutinya (pengikut), dan untuk kemajuan bersama, perlu dirumuskan tujuan bersama. Dalam konteks ini, pembangunan rumah befondasi karang akan tercapai jika setiap anggota menjalankan perannya dengan efisien dan efektif, yaitu peran pemimpin dan pengikut.

Peran seorang pemimpin dikatakan efekti dan efisien jika ia mempunyai kemampuan untuk mentransformasikan para pengikutnya, menciptakan visi dari tujuan yang akan dicapai, dan mengartikulasikan cara pencapaiannya. Pemimpin seperti ini disebut transformational leader yang memiliki (Hughes, Ginnet & Curphy, 2002):

1. Visi. Pemimpin jenis ini secara inheren mempunyai orientasi ke depan. Dia juga mengerti masalah terkini dan mampu mengajukan visi imaginatif untuk memecahkan masalah.
2. Kemampuan retorika. Sebagai tambahan dari kepemilikan visi, pemimpin ini memiliki kemampuan retorika yang tinggi yang bisa membangkitkan emosi dan menginspirasi pengikutnya supaya sevisi dengannya.
3. Keahlian membangun imej dan kepercayaan. Pemimpin transformational membangun kepercayaan dalam kepemimpinannya dan pencapian tujuannya dengan menunjukkan imej akan kepercayaan dirinya yang tidak tergoyangkan, keyakinan moral yang kuat, pengorbanan diri dan ia adalah sebagai contohnya, dan taktik atau tingkah-laku yang tidak konvensional.
4. Personalized leadership. Pemimpin jenis ini mempunyai hubungan yang kuat dengan pengikutnya, bahkan melebihi peranan resmi dari tuntutan organisasinya. Ia memiliki tiga komponen: pertama, sang pemimpin sensitif akan tingkat emosi pengikutnya. Kedua, pemimpin ini cenderung mengekspresikan emosinya. Ketiga, dia memberikan kekuatan pengikutnya dengan membangun kemampuan mereka berjuang.

Selain pemimpin, pengikut juga sangat menentukan keberhasilan anggota komuniti lainnya untuk membangun rumah berfondasi karang. Umumnya terdapat 5 jenis pengikut, yaitu (Kelly, 1992):

1. Alienated followers yang mempunyai kebiasaan untuk mem-point out semua aspek negative dari organisasi. Jenis pengukit ini menganggap dirinya adalah maverick yang memiliki pandangan skeptisme yang sehat dari organisasi, tetapi pemimpin organisasi cenderung melihat mereka sebagai pengikut yang cynical, negatif, dan penyerang.
2. Conformist followers adalah “yes men” dalam suatu organisasi. Mereka sangat aktif melakukan pekerjaan organisasi, tetapi akan menjadi ancaman jika mereka melakukan perintah yang berlawanan dengan tingkah laku standar sosial atau kebijakan organisasi. Hal ini bisa terjadi karena tuntutan dan authoritarian style dari pemimpin atau terlalu kakunya struktur organisasi.
3. Pragmatist followers jarang commit pada tujuan kerja kelompok mereka, tetapi mereka tahu untuk tidak menimbulkan gelombang. Hal ini dikarenakan mereka tidak senang menonjol, kelompok ini cenderung menjadi mediocre performers yang bisa menyumbat arteri organisasi karena sulit dimengerti di mana mereka berdiri terhadap issu tertentu. Mereka menunjukkan sikap ambiguity, bisa berkarakter positif dan negative. Dalam setting organisasi, pengikut jenis ini bisa menjadi ahli dalam aturan birokrasi yang dipakai untuk melindungi dirinya.
4. Passive followers tidak menunjukkan karakteristik exemplary follower. Mereka mengandalkan pemimpin mereka untuk berpikir. Lebih jaul lagi, mereka kurang antusias. Mereka juga kurang berinisiatif dan kurang rasa tanggung jawab. Mereka membutuhkan petunjuk yang konstan. Pemimpin cenderung melihat mereka malas, incompetent, atau bodoh. Kadang kala, passive followers mengambil sikap ini untuk berhadapan dengan pemimpin yang mengharapkan mereka untuk berbuat demikian.
5. Exemplary followers menampilkan gambaran yang konsisten kepada pemimpin dan rekan mereka bahwa mereka mandiri, innovatif, dan berkemauan untuk bertukar pikiran dengan pemimpin mereka. Mereka mengaplikasikan bakatnya untuk keuntungan organisasi bahkan ketika mereka dikonfron dengan masalah birokrasi, rekan yang pasif dan pragmatis. Pemimpin yang efektif menghargai nilai lebih dari pengikut jenis ini dan menciptakan kondisi yang mendukung supaya tingkah laku seperti ini terus berkembang.

Bukan hanya pemimpin yang selalu perlu introspeksi diri, tetapi hal yang sama juga perlu diterapkan oleh pengikut. Pengikut perlu tahu bahwa mereka termasuk jenis pengikut yang seperti apa. Tentunya mereka ingin menjadi pengikut yang digolongkan sebagai exemplary followers.

Cara Organisasi Melibatkan/Menarik Anggota Organisasi atau Komuniti

Tidak semua anggota komuniti menyadari betapa pentingnya untuk terlibat dalam kegiatan sosial, politik, budaya dan ekonomi di komunitinya. Padahal peran mereka akan membantu mereka dalam mebangun rumah berfondasi karang. Untuk itu, suatu organisasi yang efektif akan mampu melibatkan anggota dan komunitinya supaya aktif dalam bermasyarakat. Di antaranya dengan cara (Bevly, 2008):

1. Menjadi socially salient. Hal ini bisa dicapai melalui peningkatan intensitas, kapasitas, frekuensi atau kualitas dari hal-hal yang membuat tindakan individu atau organisasi menjadi mencolok dan unik.
2. Menciptakan imaji yang cool bagi mereka yang terlibat di dalam masalah sosial. Umumnya organisasi di AS mempergunakan lambang tertentu untuk membuat para pendukung mereka merasa cool.
3. Menciptakan suasana fun dan playful dalam kegiatan sosial. Memang masalah sosial selalu membawa keprihatinan, tetapi tidak semua keprihatinan tersebut harus ditunjukkan dengan muka sedih dan kusam. Ajaklah para relawan untuk berpikir kreatif dan menerapkan ide mereka dalam kondisi yang gembira.
4. Mendatangi keramaian dan berpartner baik dengan organisasi profit maupun nonprofit. Cara ini banyak ditempuh oleh organisasi nonprofit di AS. United Way, misalnya, setiap tahun bekerja sama dengan sebuah perusahaan besar dan hadir di rapat mereka. Pada kesempatan itu, United Way bicara dan meminta dukungan dari para karyawan perusahaan tersebut. Umumnya pihak perusahaan kemudian akan menandingi jumlah yang disumbangkan oleh karyawan-karyawan mereka.
5. Segera memperlakukan para sukaralewan sebagai “orang dalam” (ingroup). Banyak para pendatang baru yang ingin menyumbangkan tenaga, pikiran dan material kepada suatu organisasi mundur teratur dalam pertemuan pertama. Salah satu penyebab utama mereka mengundurkan diri karena mereka merasa tidak diterima dengan baik. Mereka menemukan ternyata kegiatan dan lingkungan itu bukan tempat yang tepat buat mereka. Untuk mencegah agar hal ini tidak terjadi, para relawan dan pengurus organisasi perlu dilatih untuk memperlakukan relawan baru sebagai anggota ingroup. Artinya, pengurus dan relawan lama perlu membuat mereka merasa diterima dan memiliki. Jangan membuat mereka merasa tersisihkan karena topik pembicaraan yang belum mereka mengerti. Kalau bisa, tunjuklah satu orang untuk secara khusus untuk menemani pendatang baru ini. Kenalkan mereka kepada semua anggota.
6. Menyadarkan masyarakat akan adanya ancaman dan meningkatkan sense of urgency. Komunikasi seperti ini agaknya menjadi salah satu kekuatan organisasi di AS. Al Gore dengan film dan buku global warming-nya, An Inconvinient Truth, berhasil meraih kesadaran dari pihak internasional dengan menerangkan ancaman seperti apa yang telah dan akan terjadi jika kita tidak mempunyai sense of urgency untuk memperbaiki keadaan alam sekarang. Tentu saja, mewujudkan semua ini membutuhkan data dan fakta yang akurat.
7. Mengaitkan masalah sosial dengan uang yang dikeluarkan oleh mayarakat (taxpayers). “It’s your money and you need to know what they do with it,” begitulah kata Consumer Watchdog di AS. Mereka selalu mengingatkan masyarakat agar uang mereka jangan dipergunakan sembarangan oleh pemerintah. Kalimat seperti ini semakin sering didengar karena bailout dari pemerintah yang berjumlah $700 triliun baru-baru ini.
8. Menggunakan media elektronik, seperti internet (blog, Facebook, milis), dan tulisan atau press release di media massa on line. Information is the power. Karena itu, banyak pihak yang berebut untuk menguasai dan mempergunakan teknologi informasi jenis ini sebaik mungkin.
9. Memberi reward kepada relawan atas keterlibatannya dalam masalah sosial. Reward bukanlah sesuatu yang hanya menjadi jawaban dari sebagian orang yang bertanya, “What’s in it for me?”, tetapi juga sebagai tanda apresiasi dari organisasi.
10. Meyakinkan anggota bahwa tidak ada sumbangsih yang terlalu kecil. Sering kali anggota atau masyarakat awam tidak mau bergabung dalam kegiatan sosial karena mereka berpikir bahwa tidak ada yang bisa mereka sumbangkan. Untuk itu, organisasi nonprofit harus pintar untuk mengidentifikasikan apa yang mereka butuhkan, bukan hanya uang dengan jumlah tertentu.
11. Menunjukkan kepada anggota betapa gampangnya untuk berpartisipasi. Banyak orang awam berpikir bahwa untuk berpartisipasi secara aktif dalam suatu organisasi dibutuhkan ketrampilan tertentu. Anggapan ini umumnya tidaklah benar. Untuk itu, pengurus oranisasi perlu mendesain deskripsi kerja yang mudah dimengerti dalam instruksi step by step (langkah per langkah).
12. Memberikan keterangan mengenai risiko yang berkaitan dengan kegiatan sosial. “No risk and no obligation, when ever you can stop. Just try it to see if you like it”. Itulah kalimat yang sering dikeluarkan oleh para perekrut dari organisasi nonprofit di AS.
13. Menimbulkan rasa haru. Banyak kisah sedih yang ditampilkan oleh organisasi nonprofit di AS ke hadapan masyarakat. Kisah-kisah itu akhirnya menimbulkan rasa haru dan menggerakkan mereka untuk membantu.
14. Mendayagunakan media massa tradisional seperti koran cetak, radio, dan TV. Terlepas dari kemajuan informasi teknologi modern, media massa tradisional ini masih sangat efektif.
15. Mendistribusikan newsletter secara berkala. World Vision, sebuah organisasi yang membantu perkembangan anak-anak di dunia ketiga, sangat konsisten mengerjakan hal ini. Sekali seseorang menjadi orang tua asuh, maka secara berkala ia akan mendapat update tentang perkembangan anak asuhnya melalui newsletter yang dibuat oleh anak itu sendiri.

Begitu banyak cara yang tersedia untuk membangun kepedulian sosial dan melibatkan masyarakat awam. Kini hanya tergantung dari konsistensi organisasi untuk meneruskan usaha mereka. Caranya apapun tidak akan membawa hasil yang maksimal jika hanya dilakukan secara sporadik dan sesaat termasuk mengajak para imigran baru untuk membangun rumah dengan fondasi karang.

Penutup

Sebagai penutup, saya ingin sampaikan bahwa paper ini bermaksud memberikan pancing kepada imigrant baru atau pembaca yang hendak membangun rumah di atas karang di AS, jelas tidak memberikan pengetahuan teknis industri di bidang real estate seperti cara pembelian rumah, refinance dan laon modification untuk mortgage mereka. Jika ada di antara peserta dalam pertemuan ini yang tertarik mengenai ini, saya bersedia mendiskusikannya pada waktu yang tepat.

Akhir kata, semoga paper ini membawa manfaat praktis kepada para korban Tragedi Kemanusiaan Mei 1998 dan rekan-rekan lainnya yang telah bermukim di AS dalam rangka membangun rumah yang berfondasi karang. Selamat menjalani kehidupan baru.

______
*Paper ini disampaikan di depan anggota Keluarga Katholik Indonesia Sacramento (KKIS) di Sacramento, Kalifornia pada tanggal 18 April 2009.
**Dr. Beni Bevly adalah penulis buku Aku Orang Cina? Manging for Profit Organizations in the Flatter World, dan Sky without Limit. Ia bisa dijumpai di OverseasThinkTankForIndonesia.com.
***Premis rumah berfondasi karang diangkat dalam kaitannya dengan ayat Injil Matius 7:26-27, yaitu: itu sebabnya Yesus berkata: ”Setiap orang yang mendengar perkataanKu ini dan tidak melakukannya, ia sama dengan orang yang bodoh, yamg mendirikan rumahnya di atas pasir. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, sehingga rubuhlah rumah itu dan hebatlah kerusakannya” .

Written by Beni Bevly

May 18th, 2009 at 10:31 am

2 Responses to 'Rumah Berfondasi Karang Bagi Imigran Korban Mei 1998 di AS*'

Subscribe to comments with RSS or TrackBack to 'Rumah Berfondasi Karang Bagi Imigran Korban Mei 1998 di AS*'.

  1. bagus Ben teruskan

    Dr.Irawan

    18 May 09 at 8:10 pm

  2. Terima kasih atas encourage-nya, Dr. Irawan.

    Beni Bevly

    19 May 09 at 12:34 pm

Leave a Reply