Overseas Think Tank for Indonesia

facilitating intellectuals to contribute to indonesia

Bertanding di Tanah Seberang dan Transformasi ke Tanah Air

with 2 comments

Transformasi suatu bisnis akan bisa berjalan lancar bukan hanya tergantung dari faktor infra struktur fisik dan hukum, tetapi juga tergantung dari kesiapan dan buying power masyarkat di Tanah Air. Jika ketiga faktor ini mendukung, maka tranformasi model bisnis AS dari Tanah Seberang ke Tanah Air akan berjalan lebih mulus.Sumber gambar: 4starerectors.com

Oleh Dr. Beni Bevly

Banyak bisnis besar yang dikenal ternyata berasal dari Silicon Valley, wilayah dekat di mana saya menetap, dan dari Tanah Seberang lainnya. Di samping itu, saya yakin masih banyak bisnis besar dan kecil, yang sebenarnya erat hubungannya dengan Tanah Air, belum begitu akrab di telinga kita. Kali ini mari kita intip bisnis apa saja yang ada, bagaimana mereka memulainya, dan apakah bisa ditransformasikan ke Tanah Air?

Google, HP, Cisco, Apple dan banyak perusahaan IT besar lainnya yang berjaya di Silicon Valley pastilah sudah sangat bersahabat dengan telinga anda. Dan saya yakin di benak anda akan terbayang bahwa pemain tingkat atas yang bertanding di perusahaan-perusahaan ini adalah para pebisnis bule. Jika itu bayangan Anda, maka Anda betul. Bagaimana kalau saya sebut Marvell (Marvell Technology Group) yang merupakan pemimpin dalam produk storage, communication dan consumer silicon solutions. Apakah nama perusahaan ini men-trigger pikiran Anda?

Jika tidak, akan saya bantu dengan menerangkan latar belakang perusahaan yang dimulai dari Silicon Valley di Tanah Seberang dan pada tahun 2007 ber-revenue USD 2,24 miliar. Marvell dibangun pada tahun 1995 oleh kakak beradik dan oleh salah satu isteri bersaudar itu. Kedua bersaudar iini mengenyam pendidikan Ph.D. dalam Electrical Engineering and Computer Science dari University of California Berkeley.

Kini Perusahaan ini memiliki lebih dari 5.000 karyawan dan mereka mempunyai design center di Aliso Viejo, Arizona, Colorado, Massachusetts, San Diego dan Santa Clara. Di luar negeri, design center mereka berada di Germany, India, Israel, Italy, Japan, Singapore dan Taiwan. Tentu saja kantor penjualan mereka tersebar hampir di seluruh dunia.

Paling tidak ada tiga big break yang perusahaan ini miliki – sehingga membantu mereka menduduki daftar orang terkaya AS di majalah Fortune (100 besar dalam kategori pebisnis berusia kurang dari 40 tahun) dan Forbes (ranking 373 untuk semua kriteria) – yaitu: pertama, pada tahun 1998, Marvell menemukan disk drive chip yang lebih cepat 20% dari produk umumnya pada saat itu. 90% pelanggan produk ini berasal dari perusahaan high end di Silicon Valley.
Kedua, pada tahun 2000, mereka memperkenalkan “gigabit” Ethernet chip pertama yang memindahkan data di atara komputer 10 kali lipat lebih cepat dari chip lama. Cisco menjadi customer besar mereka.

Ketiga, di tahun 2005, Marvell memproduksi suatu Wi-Fi chip yang jauh lebih kecil dan hanya menggunakan setengah power dari chip yang lain. Chip ini sangat cocok untuk handheld. Sony menggunakannya untuk PSP mereka, dan Nikon untuk kamera Coolpix S6-nya.

Sampai di sini saya yakin bahwa di antara Anda telah ada yang ingat siapakah kedua bersaudara ini? Mereka adalah dua co-founder Marvell: Sehat Sutardja dan Pantas Sutardja. Co-founder lainnya adalah Weili Dai, isteri Sehat Sutardja. Kedua bersaudara ini berasal dari Indonesia yang bertanding di antara para pebisnis raksasa di Tanah Seberang dan acap kali keluar sebagai pemenang.

Sebagai gambaran pertarungan mereka, Marvell telah meng-acquire 8 perusahaan dengan harga mulai dari puluhan hingga ratusan USD juta. Tindakannya mereka yang cukup mengejutkan adalah pembelian atas Xscale, salah devisi dari Intel Communications seharga USD 600 juta dalam bentuk tunai. Pada tahun 2006, Sehat mendapat penghargaan sebagai the Inventor of the Year oleh the Silicon Valley Intellectual Property Law Association.

Selain Marvell, juga cukup banyak pebisnis kecil lainnya yang bersaing tidak kalah ketatnya dengan pebisnis dari Tanah Seberang di kelasnya. Mereka ini antara lain bergerak dalam bidang restoran, real estate, apartement, transportasi, travel, asuransi, law firm, dealer mobil, dokter gigi, perawatan kolam renang, penerbitan majalah, physical training, sekolah bela diri, kosultasi bisnis, life coaching, dan online publishing.

Secara dekat mari kita lihat beberapa pebisnis ini. John Oei yang mempekerjakan 11 karyawan tetap dan 30 karyawan lepas di San Francisco, dan 8 di Tanah Air mengelolah bisnis asuransi (asuransi rumah, kendaraan bermotor, liability, dan bisnis properti ), real estate broker, residential dan commercial real estate, investment, dan penerbitan majalah Kabari.

Selain itu, bersama isteri saya, Jennie S. Bev, kami mengelolah bisnis penerbitan, consulting dan training dengan bantuan hingga belasan karyawan lepas.

Sebagai pebisnis di Tanah Seberang, baik Sutardja bersaudara, John dan kami – terlepas dari besar kecilnya sklala bisnis yang dikelalah – mempunyai kesamaan dalam memulai berbisnis, yaitu dengan kemauan keras, motivasi yang besar dan semangat pantang menyerah. Kami semua percaya bahwa kami pasti bisa.

Sehat dalam usianya yang sangat belia, yaitu ketika ia duduk di kelas enam SD telah memberitahukan pada orang tuanya bahwa ia ingin berkarir di bidang eloktronik, walaupun orang tuanya menginginkannya menjadi seorang dokter. Pada malam hari, ia sering bermimpi mengenai kehebatan yang bisa dilakukan oleh alat elektronik. Dengan hanya dimulai dari tiga orang (Sehat, Pantas dan Weili), tanpa berlibur dan tanpa menerima gaji selama dua tahun, Marvell tumbuh menjadi besar.

John mengaku ingin mencari solusi dan memberikan solusi tersebut pada orang lain dalam menghemat uang. Ia melihat dengan berbisnis, ia bisa mencapai tujuan ini. Selain itu, John juga bekeyakinan bahwa dengan berbisnis ia bisa menciptakan lapangan kerja dan pada saat yang bersamaan ia bisa mengembangkan pengetahuan di bidang yang ia geluti.

Saya melihat bahwa jalur untuk berbisnis di Tanah Seberang sangat jelas, yaitu infra stuktur fisik dan hukum dibangun dengan baik oleh pemerintah. Jika seseorang menemukan apa yang dibutuhkan dan bisa memuaskan pelanggan, maka dengan menggunakan infrastruktur yang ada, produk tersebut bisa dijual.

Sebutlah jika seseorang hendak memulai bisnis restoran. Pertama ia harus memiliki ijin usaha untuk, biasanya, ia perlu pergi ke City Hall. Ijin usaha akan segera dikeluar oleh pegawai pemerintah dengan biaya standar jika persyaratan terpenuhi seperti berusaha di lokasi bisnis, adanya fentilasi dan air mengalir yang bersih dan lain-lain.

Apakah bisnis model AS seperti di atas bisa ditransformasikan ke Tanah Air? Kabarnya Presiden Abdurrahman Wahid pernah meminta Marvell untuk berbisnis di Indonesia, tetapi hal ini tidak pernah terwujud. John sangat yakin bahwa bisnisnya juga bisa diterapkan di Tanah Air. Ia mengatakan, “Kami ada rencana untuk membuat jembatan di bidang pendidikan, media , real estate, dan green industry melalui majalah Kabari sebagai platform.”

Transformasi suatu bisnis akan bisa berjalan lancar bukan hanya tergantung dari faktor infra struktur fisik dan hukum, tetapi juga tergantung dari kesiapan dan buying power masyarkat di Tanah Air. Jika ketiga faktor ini mendukung, maka tranformasi bisnis dari Tanah Seberang ke Tanah Air akan berjalan lebih mulus.

_______
Dr. Beni Bevly adalah penulis buku Managing For Profit Organizations in the Flatter World. Ia bisa dijumpai di www.overseasthinktankforindonesia.com. Artikel ini pernah diterbitkan oleh majalah Duit! dengan editan dalam bentuk cetak.

Written by Beni Bevly

October 14th, 2009 at 8:54 am

2 Responses to 'Bertanding di Tanah Seberang dan Transformasi ke Tanah Air'

Subscribe to comments with RSS or TrackBack to 'Bertanding di Tanah Seberang dan Transformasi ke Tanah Air'.

  1. This is true that transformation is not only depend upon infra structure, justice, purchasing power, but also it depends upon education and work force development (sumber daya manusia), and positive work ethos. Indonesia is facing new fears completions in South East Asia from Vietnam and Philippines. It is no time to waste, for new elected government it is time to move on to new chapter of Indonesia for better future.

    Mike Chen

    14 Oct 09 at 8:23 pm

  2. I agree with you, Mike Chen. By “readiness” kesiapan, I mean education and work force development (sumber daya manusia), and positive work ethos. We really need to work on these issues. So far, Jennie S. Bev has been writing and advocating these topics. It will take time, but if we keep working on it, eventually we will go to that direction.

    Beni Bevly

    28 Oct 09 at 11:16 am

Leave a Reply