Overseas Think Tank for Indonesia

facilitating intellectuals to contribute to indonesia

Just for You: Mutiara-Mutiara Kehidupan

with one comment

Dalam beberapa kesempatan saya juga membagikan kisah pribadi. Saya juga mempersilakan pembaca untuk mencecapi mutiara kehidupan melalui kisah hidup Dalai Lama, Aung San Suu Kyi, Thich Quang Do, Teresa Calcutta, Hillary Clinton, Suciwati Munir, dan sebagainya.

Judul: Just for You: Mutiara-Mutiara Kehidupan
Penulis: P. Mutiara Andalas, SJ
Penerbit: Kanisius, Yogyakarta, 2009
Ukuran: 150×150
Beli: Klik di sini

Kata Pengantar

Buku di tangan pembaca sejatinya sebuah kado ulang tahun. Saya mempersembahkannya untuk seorang remaja yang baru saja menginjak usia 17 tahun. Kisah hidupnya seringkali membawa ingatan saya kembali pada Aya dalam drama serial Ichi Ritoru no Namida. Di balik drama 1 Liter Air Mata, saya menemukan harapan akan kehidupan yang senantiasa bernyala. Harapan hidup ditemukan saat keduanya bergumul dengan sakit. Nafas tulisan berasal dari perjumpaan dengan pribadi-pribadi istimewa seperti penerima persembahan buku. Saya terngiang penuturan A. Alvarez yang mengaku jatuh cinta pada bahasa lebih dari setengah abad.

Untuk dapat menjadi penulis yang baik, engkau pertama-tama harus belajar menjadi pendengar yang baik. Hal serupa berlaku untuk menjadi pembaca yang baik. Mereka harus membuka telinga pada kehadiran di belakang kata-kata, dan memilih teks yang benar-benar mengandung kebenaran. Saya mengakui secara jujur bahwa menulis secara baik merupakan seni yang sangat sulit mencapainya.1

Pembaca yang sering berkunjung ke situs maya Facebook barangkali pernah membaca kisah-kisah dalam buku. Awalnya, tulisan lebih merupakan catatan harian pribadi atas peristiwa-peristiwa kehidupan yang menyentuh kemanusiaan-iman saya. Catatan kehidupan yang kebanyakan terbungkus dalam kisah kemudian beredar diantara para sahabat dekat. Buku ini jauh dari maksud mengajari kebijaksanaan. Kalau pun pembaca mendengar ajaran kebijaksanaan, nasihat pertama-tama terarah kepada penulisnya. Karya yang baik, sebagaimana dituturkan A. Alvarez, subversif bagi penulis maupun pembacanya.

Beberapa penulis kisah kebijaksanaan atau motivasi seringkali meletakkan pesan pada akhir, bahkan di luar kisah. Mereka mengundang pembaca untuk memeluk pesan yang ditawarkannya. Saya mengundang pembaca untuk menemukan sendiri pesan yang tersebar dalam kisah. Setiap bagian kisah penting karena merajut pesan. Pesan kisah kadang muncul dalam dialog antarkarakter. Kisah tulisan di mata saya merupakan mutiara kehidupan. Setiap kisah mendapat satu halaman penuh dalam buku. Harapannya, pembaca beritme hidup sibuk tetap memiliki waktu memadai untuk membukanya. Pembaca dapat menikmatinya saat jeda pelajaran, kerja, atau saat antri di loket kereta atau menunggu bus, tamu, bahkan sebelum istirahat. Saya menulis sebagian besar kisah juga pada saat-saat demikian.

Tema-tema ketuhanan beberapa kali muncul sebagai tanggapan atas kerinduan pembaca yang bertutur, ’’Seandainya Tuhan punya rekening facebook.’’ Dering telepon lewat tengah malam, gelandangan di depan restoran, paras sedih mahasiswi di tangga kampus, anak yang kesulitan melukis paras papanya, dan poster film Twilight di kamar merupakan sebagian kisah kehidupan yang melahirkan buku. Kisahnya rekaan dengan inspirasi dari kehidupan nyata sehari-hari. Kisahnya boleh jadi dekat dengan kehidupan pembaca. Dalam beberapa kesempatan saya juga membagikan kisah pribadi. Saya juga mempersilakan pembaca untuk mencecapi mutiara kehidupan melalui kisah hidup Dalai Lama, Aung San Suu Kyi, Thich Quang Do, Teresa Calcutta, Hillary Clinton, Suciwati Munir, dan sebagainya.

Buku berangkat dari gagasan relasi yang saling memberi inspirasi antara penulis dan pembaca. Pesan penulis dan tanggapan pembaca tampil berdampingan dalam relasi setara. Saya mendorong pembaca untuk menggali pengalaman pribadi saat membaca kisah dan menuturkan tanggapan pribadi atasnya. Saya mempersilakan pembaca untuk masuk ke dalam hati setiap kisah dan memperindahnya dengan refleksi pribadi. Bukankah kehidupan separuh keindahannya terletak dalam refleksi atasnya? Sebagai akhir kata pengantar, perkenankan saya mengulang pertanyaan yang diajukan A. Alvarez kepada pembaca.

Apa yang terjadi ketika engkau duduk dengan sebuah buku? Mengapa engkau membacanya? Apa sensasi yang engkau jumpai di dalamnya? Mengapa buku, puisi, bahkan fragmen tulisan terus-menerus dibaca selama bertahun-tahun, bahkan berabadabad setelah terbitan pertama, dan terus-menerus menemukan pembaca meskipun kematian sastra berulang kali dikumandangkan? 2

Terima kasih terulur kepada penerbit yang menghantar mutiara kehidupan kepada pembaca.

Berkeley, Musim Panas 2009
Mutiara Andalas, S.J.
Link di google books.

Endorsement

” Belajar bersyukur dari kehidupan. Pernyataan yang tepat untuk merangkum pesan JUST FOR YOU. Melalui peristiwa hidup, kita diajak untuk lebih peka pada sekitar dengan mendengar teguran hati. Dengan begitu, akan lebih berarti saat bilang “terima kasih”.”
(Nadine Chandrawinata, Puteri Indonesia 2005, environmentalist, Autism Ambassador)

“Karya ini membuktikan bahwa sesuatu yang datang dari hati, pasti mampu menyentuh hati-hati semua orang. Lepas dari apapun suku, ras dan agama orang itu. Karena hati bicara hanya dalam satu bahasa dan bahasa Romo Mutiara Andalas adalah bahasa hati.”
(Zara Zettira ZR – Ibu 2 anak, penulis, spiritualis)

“Cerita-cerita di dalamnya menyentuh dan membisikkan hati kita untuk merenungkan kembali hal yang berharga dalam hidup ini. Satu persatu ceritanya membuat kita termenung dan berkaca kepada diri kita sendiri. Kesederhanaannya membuat kita kembali memaknai arti kehidupan.”
(Maylaffayza, violinist dan World Book Day Ambassador)

“Cerita-cerita pendek yang terserak dalam JUST FOR YOU ternyata mampu menimbulkan asa, menggigit, dan memaksa kita untuk berkontemplasi. Tentang Kamu menjadi hadiah untuk Brandon, karena pribadi istimewa berhak memperoleh sebuah kado istimewa; kado yang berisi cinta kasih dan dikemas dengan tali ketulusan.”
(Ira Koesno, Konsultan PR/Mantan Anchor)

“Buku yang berkisah tentang berbagai sisi kehidupan ini dapat menyentuh pembaca dari berbagai usia karena masing-masing pembaca dapat mengidentifikasikan kisah dan tokoh dalam cerita dengan pengalaman hidup mereka pribadi atau orang-orang yang dekat dengan mereka. Pendekatan yang menarik pada buku ini adalah adanya komentar atau refleksi spontan yang dituliskan oleh pembaca di bawah kisah. Di samping memperkaya kisah itu sendiri, komentar dan refleksi tersebut mampu mengajak pembaca untuk melakukan hal yang sama pada kisah-kisah yang bermakna bagi hidup mereka.”
(Bernadette N. Setiadi, Pendidik dan Guru Besar di Fakultas Psikologi Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya)

____
1) A. Alvarez, The Writer’s Voice (New York: W.W. Norton and Company, 2005), 13.
2) A. Alvarez., The Writer’s Note, 15.

Written by Beni Bevly

November 23rd, 2009 at 5:28 pm

One Response to 'Just for You: Mutiara-Mutiara Kehidupan'

Subscribe to comments with RSS or TrackBack to 'Just for You: Mutiara-Mutiara Kehidupan'.

  1. Buku Romo Andy mengisi menaburkan percikan air segar di tengah padang yang kering karena resesi kehidupan.

    Beni Bevly

    7 Dec 09 at 6:43 pm

Leave a Reply