Overseas Think Tank for Indonesia

facilitating intellectuals to contribute to indonesia

Archive for January 12th, 2010

Gus Dur di hati saya

without comments

Keberaniannya mengakui kesalahan Institusi NU di masa lalu menyingkap komitmen Islam sepanjang masa untuk membela perikemanusiaan masyarakat korban.

Oleh Mutiara Andalas, SJ

(Artikel di bawah ini adalah Eulogy Mutiara Andalas dalam kegiatan Gus Dur Candlelight Memorial di Foster City, San Francisco Bay Area, USA pada hari Jum’at, 8 January 2009).

Menjelang era reformasi 1998, saya ikut diantara komunitas persaudaraan lintasagama yang mendirikan tenda Tim Relawan untuk Kemanusiaan di kantor Pengurus Besar Nahdatul Ulama. Saya berjumpa dengan nahyidin muda yang mengisahkan kekaguman dalam rasa hormat pada sosok Abdurrahman Wahid. Pengalaman awal saya dengan Gus Dur adalah melihatnya keluar masuk gedung PBNU dari tenda. Read the rest of this entry »

Written by Beni Bevly

January 12th, 2010 at 4:13 pm

Bapak Pluralisme Indonesia

with 2 comments

Gus Dur: Bapak Pluralisme Indonesia

Oleh Dr. Beni Bevly

Amukan teroris dan tumbuhnya radikalisme Islam secara pesat setelah runtuhnya Orde Baru pada tahun 1998 di Indonesia telah banyak menimbulkan rasa was-was di kalangan non-Islam radikal, termasuk penghuni bumi di belahan lain di dunia ini. Rasa was-was ini timbul karena persepsi yang tercipta dari tindakan kelompok teroris dan Islam radikal tersebut.

Ternyata ada satu tokoh yang secara berani, kontroversial dan lucu menampilkan sisi lain dari persepsi radikalisme Islam. Read the rest of this entry »

Gus Dur as a defender of pluralism, religious freedom

with one comment

Gus Dur also promoted the idea of localization (pribumisasi) of Islam, rather than “Arabization”, although he was well versed in Arabic. By the Indonesianization of Islam he meant the blending of Islamic beliefs and values with local culture.

By Dr. Muhammad Ali

Pluralism has always been a contentious issue, but Abdurrahman “Gus Dur” Wahid worked beyond passive tolerance. He advocated the creation of a public space for communication, dialogue and cooperation between the mainstream and the marginalized.

Raised in a pesantren (Islamic boarding school) and Nahdlatul Ulama (NU) tradition, but also in Western and Eastern traditions, Gus Dur became the advocate of a reform rooted in the traditions. Read the rest of this entry »

Written by Beni Bevly

January 12th, 2010 at 2:58 pm