Overseas Think Tank for Indonesia

facilitating intellectuals to contribute to indonesia

Binis yang Akan Merubah Dunia

without comments

Dikabarkan bahwa BioCentric menawarkan kerja sama dengan siapa saja yang bisa menyediakan tanah sekitar 3 acre di daerah yang banyak mendapat sinar matahari dan biaya pertama sebesar USD 80.000/acre. Mereka akan mensuplai pengetahuan, teknologi, dan juga menyalurkan produk akhir ke pembeli.
Sumber gambar: heatusa.com

Oleh Dr. Beni Bevly

Beberapa saat yang lalu, the Wall Street Journal (WSJ) di Tanah Seberang mengajukan ide yang berjudul “Five technologies that will change the world”. Sebagian besar dari kita pasti akan tergoda untuk mengetahui teknologi apa sajakah yang diajukan oleh raja koran ini. Bukan hanya itu, efek alamiah yang inheren dari perkembangan teknologi ini diperkirakan akan menunjang perkembangan bisnis yang akan merubah dunia pula.

Berkaitan dengan ini, dan supaya tidak hanya menjadi penonton yang baik, apa yang bisa dilakukan oleh pebisnis di Tanah Air? Selanjutnya mari kita lihat kelima jenis teknologi itu dan dikaitkan dengan kemungkinan yang bisa dilakukan oleh pebisnis di Tanah Air.

WSJ yakin bahwa kelima teknologi berikut ini akan menciptakan dunia baru yang lebih baik. Pertama, teknologi space-based solar power. Idenya adalah menempatkan solar panel raksasa di tempat di mana matahari akan bersinar terus sehingga akan bisa mengirim tenaga listrik nonstop ke seluruh penjuru bumi. Coba terka di mana tempat yang ideal untuk solar panel raksasa ini? Di luar angkasa.

Kedua, teknologi advance car batteries. Baterai yang dimaksud adalah sebagai tenaga pembangkit listrik pengenggerak kendaraan bermotor. Teknologi ini akan mengurangi penggunaan minyak yang berasal dari fosil dan membantu menciptakan udara bersih dengan persyaratan tenaga listrik yang digunakan untuk men-charge baterai berasal dari low-carbon fuels seperti dari tenaga angin atau nuklir.

Ketiga, teknologi utility storage. Berhubung tenaga listrik (power) yang bersumber dari angin dan solar sedang giat dikembangkan, dan umumnya bersifat use-it-or-lose-it resources, karena itu, utility storage yang bisa menyimpan tenaga dan berdekatan dengan populasi manusia sangat dibutuhkan, terutama ketika angin tidak bertiup dan matahari tidak bersinar.

Keempat, teknologi carbon capture and storage. Teknologi ini akan bisa menangkap CO2 (carbon dioxide) yang jumlahnya 2 miliar ton per tahun dan penebalannya di udara mencipatakan global warming dan diharapkan bisa mengurangi emisi sampai 90%.

Kelima, teknologi generasi terbaru dari biofuels. Generasi terbaru biofuel ini berasal dari nonfood crops (bukan dari tanaman yang dikonsumsi manusia seperti palm dan jagung). Yang paling menjanjikan dari semua material yang ada adalah yang berasal dari algae (alga).

Penerapan kelima teknologi dari Tanah Seberang di Tanah Air tentunya tidaklah segampang membalikan telapak tangan. Banyak faktor yang perlu dipertimbangkan sehingga teknologi ini, di samping bisa membantu merubah Indonesia menjadi lebih hijau dan mengurangi musibah alam, juga bisa membantu pengembangan bisnis, di ataranya adalah faktor modal dan tenaga ahli dari dalam negeri. Tetapi hal ini bukanlah tidak mungkin. Bahkan bisnis skala kecil (dengan karyawan hingga 50 orang) dan bisnis berskala menengah (hingga 250 karyawan) diperkirakan bisa terjun ikut mendukung pengembangan teknologi dan memajukan industri solar panel dan next generation biofuel.

Sebut saja penerapan teknologi dan bisnis untuk solar power dalam skala kecil di kalangan jutaan rumah tangga di Tanah Air – di antara dua milar jiwa di dunia – yang tidak memiki akses listik. Dibandingkan dengan penggunaan minyak tanah dan kayu untuk lampu dan sumber panas yang sebenarnya sangat beracun dan mahal, tenaga solar dapat membantu meningkatkan kesehatan, mempompa air bersih, menerangi rumah, sekolah, musolah, mesjit dan klinik, menyalakan radio dan televisi, melakukan pengairan sawah lebih efektif dan masih banyak lagi. Tercatat bahwa racun dari asap api masak membunuh 1,5 juta perempuan dan anak-anak tiap tahun di dunia.

Diperkirakan kurang dari USD 30, satu keluarga bisa mendapatkan lampu solar terang benderang, USD 10.000 bisa membiayai sistem solar satu sekolahan, USD 2 juta bisa membiayai empat tahun program untuk puluhan ribu orang di desa-desa. Solar panel seperti ini umumnya bisa berfungsi paling sedikit hingga 50 tahun. Bayangkan berapa besar biaya yang bisa dihemat dalam jangka panjang dan sumbangsih untuk pelestarian lingkungan.

Sekarang mari kita lihat kesempatan mengembangkan teknologi dan biofuels dari algae di Tanah Air. Pada tahun 2006 dan 2007, BioCentric Energy Holdings, Inc., di Kalifornia Selatan telah melakukan penelitian dan pengembangan biofuel dari algae bukan hanya di Amerika Serikat, tetapi juga di Indonesia. ExxonMobil juga dikabarkan telah menyisihkan lebih dari USD 600 juta untuk tujuan yang sama.

Keuntungan dari penggunaan algae sebagai sumber bahan bakar di antaranya adalah algae mengkonsumsi CO2, struktur molekulnya sama dengan petroleum dan refined produk yand dipergunakan sekarang sehingga tidak perlu membangun refinery baru, dan produksi dari algae mencapai 2000 gallon per acre per tahun, jauh melebihi produk dari bahan lain seperti palm (650 galon), tebu (450), jagung (250) dan kacang kedelai (50 gallon).

Bagi pebisnis skala besar di Tanah Air, pengambangan kelima teknologi dan bisnis yang bisa dikatakan masih tahap awal ini, adalah kesempatan emas. Agaknya sampai saat ini, belum terdengar pebisbis besar di Indonesia menyisihkan biaya penelitian dan pengembangan yang berarti seperti dilakukan oleh BioCentric dan ExxonMobil.

Kedua pebisbis ini tidak hanya bekerja sendiri, tetapi mereka juga bermitra dengan pebisnis kecil dan menengah. Dikabarkan bahwa BioCentric menawarkan kerja sama dengan siapa saja yang bisa menyediakan tanah sekitar 3 acre di daerah yang banyak mendapat sinar matahari dan biaya pertama sebesar USD 80.000/acre. Mereka akan mensuplai pengetahuan, teknologi, dan juga menyalurkan produk akhir ke pembeli.

Maukah pebisnis di Tanah Air tertinggal jauh di belakang dalam mengubah dunia? Jika jawabannya tidak, maka mulailah bermitra dengan pihak yang memulai lebih dahulu dan menggandeng pihak yang lebih kecil untuk bahu-membahu menciptakan perubahan dari Indonesia sekarang juga.

____
Dr. Beni Bevly adalah penulis buku Managing For Profit Organizations in the Flatter World. Ia bisa dijumpai di www.OverseasThinkTankForIndonesia.com.

Written by Beni Bevly

January 22nd, 2010 at 11:37 am

Leave a Reply