Setelah 12 Tahun

Sumber gambar: adferoafferro.files.wordpress.com
Oleh Mutiara Andalas, SJ
Peringatan 12 tahun tragedi Mei 1998 ibarat nyala lilin yang menerangi paras kemanusiaan Indonesia. Pelaku menyerang kehidupan korban dan melukai kemanusiaan bersama. Paguyuban korban membela kesucian hidup korban kekerasan dan diskriminasi rasial dari stigma politik. Negara yang membisu, apalagi menghalangi ziarah keadilan bagi korban tragedi, menyembah berhala politik kekerasan dan diskriminasi. Ratapan korban mendorong paguyuban korban melukis ulang paras negara dan anutan politiknya. Negara yang memeluk politik kemanusiaan mendaku kesucian hidup rakyat miskin dan minoritas sosial.
Misteri tragedi
Tragedi kemanusiaan Mei 1998 masih berbalut misteri. Hitungan massal korban meninggal, luka, hilang, dan kekerasan seksual menempatkannya sebagai tragedi kemanusiaan besar dalam sejarah Indonesia. Pemetaan terhadap korban menunjukkan rakyat miskin dan etnis Tionghoa paling diserang kemanusiaannya dalam tragedi. Pengkaji politik kesulitan menunjuk identitas pelaku utama kekerasan dan diskriminasi rasial. Perdebatan mengenai jumlah korban, bahkan penyangkalan atas kekerasan seksual pada perempuan Indonesia etnis Tionghoa, menyingkap kasusnya peka secara politik dan berlikunya ziarah paguyuban korban untuk menyingkap misteri tragedi.
Paguyuban korban mengetuk nurani kita dengan air mata, paras duka, dan perjuangan kasus mereka. Kehilangan penopang nafkah bagi rakyat miskin berarti semakin berat memanggul salib ekonomi. Perusakan rumah dan lokasi bisnis, apalagi disertai penggagahan seksualitas, mencerabut keberakaran etnis Tionghoa sebagai manusia Indonesia. Mereka yang bertahan di Indonesia hidup dalam bayang-bayang ketakutan akan ulangan tragedi. Penggagahan terhadap kemanusian korban mendorong warga etnis Tionghoa untuk meninggalkan Indonesia. Mereka menilai negara menerapkan politik antikemanusiaan seperti rezim kolonial yang menepikan, bahkan mengasingkan minoritas etnis.
Kesucian korban
Kekerasan pelaku tragedi, terlebih serangan terhadap seksualitas tubuh, merenggut kesucian hidup korban. Perjuangan paguyuban korban mulai dengan mendaku kesucian hidup korban. Mereka mencari jejak informasi pada tubuh korban untuk mengenali identitasnya. Nama pada jenazah menghindarkan korban dari bahaya menjadi anonim. Mereka membawa jenazah korban untuk pemakaman yang layak. Paguyuban korban menolak stigma korban sebagai penjarah dan perusuh. Kebanyakan korban kekerasan seksual membatasi kesaksian di publik untuk menghindari ancaman kehidupan lebih lanjut. Gerilya kesaksian berlangsung di forum-forum kemanusiaan dan percakapan pribadi dengan pekerja kemanusiaan.
Penghormatan terhadap kesucian hidup juga terungkap dalam diri mereka yang ambil langkah kemanusiaan berani demi menyelamatkan kehidupan korban. Beberapa menjadi korban ketika berusaha menyelamatkan kehidupan korban lain. Untuk melindungi etnis Tionghoa, warga setempat meminjamkan peci, jilbab, dan menandai rumah dengan ayat-ayat Qur’an. Mereka membuka rumah, seperti juga tempat-tempat ibadat, sebagai lokasi pengungsian sampai situasi berangsur aman. Solidaritas antarciptaan Allah mengalahkan stigma politik yang dilekatkan pelaku tragedi pada target korban. Gairah serupa mendorong pengkaji ilmu ketuhanan untuk dialog baru agama dan politik dengan cakupan pembahasan kemiskinan dan diskriminasi rasial.
Kesaksian keluarga korban, penulisan kisah korban, pendirian kampung kenangan, ikon tragedi, dan aksi diam di depan istana semuanya gerilya kemanusiaan paguyuban demi keadilan korban. Serangan terhadap kehidupan korban kategorinya berat sebagai pelanggaran hak asasi manusia. Paguyuban korban melukis paras negara dalam sisi terang dan gelapnya. Negara menampilkan wajah gelap ketika terlibat dalam pembiakan kekerasan dan diskriminasi rasial, dan menghalangi pencarian keadilan untuk korban. Dengan menyingkap wajah gelap negara, paguyuban korban mendorong negara untuk merengkuh politik kemanusiaan.
Sebaliknya negara berparas terang ketika peduli dengan warga yang rentan diserang kemanusiannya dalam tragedi. UU No. 12 Th 2006 mengenai kewarganegaraan Republik Indonesia menempatkan warga Indonesia etnis Tionghoa dalam relasi setara dengan komunitas-komunitas etnis lain. Reformasi hukum ini membuka pintu bagi mereka yang hendak mendapatkan kembali kewarganegaraan yang terpaksa dilepas pascatragedi. Penuntasan kasus yang berpihak pada kehidupan korban akan mengembalikan citra positif negara. Aparat negara perlu terlibat pula dalam menghapus stigma perusuh, penjarah, penyebar kebohongan, dan antikebangsaan.
Nyala kebenaran
Gesine Schwan, dalam Politics and Guilt: The Destructive Power of Silence (2001), mengangkat kasus penjahat kemanusiaan yang membungkam rasa bersalah dirinya terhadap korban (silenced guilt). Empati pada korban sirna karena pelaku bertindak melawan norma kemanusiaan. Pengakuan pelaku akan pelanggaran hak asasi manusia yang dilakukannya menjadi titik pijak merengkuh kembali kemanusiannnya. Saat korban yang dilukai kemanusiannya berjumpa dengan pelaku pelaku yang bertanggung jawab atas pelanggarannya, rekonsiliasi. Alternatif kehidupan bersama di masa depan hanya mungkin terbuka dari korban dan pelaku yang telah pulih kemanusiaannya. Ketiadaan subyek atau institusi yang mengaku bersalah terhadap korban dalam tragedi Mei menghalangi peziarahan bersama menuju Indonesia baru.
Hanya terang, menurut Martin Luther King Jr., penghalau kegelapan. Kita berkhayal jika membayangkan kegelapan dapat mengusir kegelapan. Paguyuban korban adalah nyala terang yang menghalau kegelapan Indonesia pascatragedi. Kaki paguyuban korban, betapapun letih, tetap berjalan tegak demi memperjuangkan Indonesia baru tanpa kekerasan dan diskriminasi. Harapannya, negara semakin berkomitmen menyelesaikan kasus kemanusiaan dan masyarakat semakin peduli dengan penyingkapan kebenaran tragedi kemanusiaan Mei 1998. Paguyuban korban mengundang semua terlibat untuk menyingkap misteri tragedi dengan nyala kebenaran.
____
Mutiara Andalas, SJ adalah mahasiswa Pascasarjana di Jesuit School of Theology at Berkeley, California dan penulis buku “Lahir dari Rahim: Wacana Perempuan Asia tentang Allah di Era Globalisasi” dan “Kesucian Politik: Agama dan Politik di Tengah Krisis Kemanusiaan”

Hey there! Do you know if they make any plugins to assist with SEO? I’m trying to get my blog to rank for some targeted keywords but I’m not seeing very good success. If you know of any please share. Thank you!
End Of Day Trading
25 May 11 at 6:31 pm
house warming Harmi result in Frinel paraclete dubin sjankata poncela seeds
Richie Deedrick
1 Aug 11 at 2:17 pm
Hello there, just became aware of your blog through Google, and found that it’s truly informative. I am going to watch out for brussels. I’ll be grateful if you continue this in future. A lot of people will be benefited from your writing. Cheers!
alexander wang wiki
14 Dec 11 at 4:06 pm