Merubah Leadership Pemimpin Indonesia?
oleh Yunani Adam
Pada awal periode reformasi tahun 1998 masyarakat Indonesia mempunyai harapan besar akan terjadinya perubahan yang postif, termasuk diharapkan akan tampilnya pemimpin yang mengutamakan kepentingang masyarkat banyak dan negara. Sebaliknya, hingga saat ini leadership atau karakter dan ketrampilan kepemimpinan banyak pemimpin yang mengendalikan roda pemerintahan dan organisasi non-pemeritahan ternyata masih jauh dari harapan rakyat banyak dan merugikan negara. Dalam kesempatan ini saya akan membahas kemungkinan merubah leadership pemimpin Indonesia dengan menerapkan sistem pendidikan yang tepat.
Secara teknis, penerapan pendidikan yang saya ajukan adalah program pendidikan berantai yang melibatkan banyak individu, baik mereka yang berada di dalam maupun di luar negeri, termasuk dari segi pendanaan.
Tahapan awal adalah setiap individu yang terlibat mencari murid berbakat di sekolah miskin di lokasi di dekat meraka menetap. Contohnya, walaupun individu yang terlibat itu tinggal di Pondok Indah, Jakarta, tetapi dalam radius beberapa kilo meter, ia akan menjumpai lingkungan masyarakat miskin.
Murid yang berbakat tersebut perlu dibiayai sampai minimal lulus perguruan tinggi dan memperdalam bahasa Inggris. Murid yang lebih senior diwajibkan mengajar murid-murid yang lebih junior dan berbakat yang tidak mempunyai kesempatan sekolah. Tempat mengajar mereka bisa bertempat tempat di Sekolah Dasar mereka, di mesjid, musholla, gereja, atau bahkan di rumah penyandang dana.
Bisa dibayangkan jika setiap individu yang cukup berada bisa membantu sampai 5 murid Indonesia secara bertahap sampai lulus perguruan tinggi. Berapa anak Indonesia yangg bisa tertolong dari lingkaran kemiskinan.
Dalam proses pendidikan itu, adalah penting untuk memasukkan pelajaran yang bersifat, seperti anti korupsi, memihak pluralisme dan menerima setiap perbedaan sehingga korupsi dan tragedi kemanusiaan yang berdasarkan primordialisme bisa dihindari dimasa depan.
Para individu yang akan terlibat dalam membantu pendidikan berantai ini perlu selalu memupuk motivasi mereka. Sebagai contoh mereka bisa belajar dari Ibu Teresa sebagai Pengabdi Agung di Calcuta India. Beliau begitu mulia, mengorbankan dirinya untuk membantu jutaan orang miskin dan anak-anak di India. Pengabdian puluhan tahun yang luar biasa, sampai beliau meninggal dunia.
Berhubung disinggung pengabdian Ibu Teresa, mari kita lihat sisi lain dari pengabdiannya. Memang jutaan umat tertolong dari kelaparan dan kesakitan untuk beberapa waktu. Walaupun demikian harus diakui bahwa banyak dari mereka tetap miskin dan sakit. Mengapa?
Menurut pendapat saya, hal ini terjadi karena perjuangan luar biasa yang beliau lakukan tidak didukung oleh elit-elit di India, termasuk elit dalam bidang politik, sosial, bisnis dan lain-lain.
Elit-elit ini masih merasa tidak terinspirasi oleh Ibu Teresa, sebaliknya mereka tetap melakukan hal-hal yang mereka, saudara mereka dan pendahulu mereka lakukan yaitu korupsi, manipulasi dan nepotisme (KKN). Banyak dari leadership elit ini diteruskan oleh cucu dan cicit mereka sendiri yang juga menjadi koruptor dan perampok uang rakyat. Lingkaran setan berkelanjutan. Demikian pula di Indonseia, para pemimpin yang menerapkan KKN dan mungkin anti China tetap akan menjadi pemimpin.
Generasi penerus yang dibantu melalui program pendidikan berantai harus dibimbing agar mereka tidak melakukan perbuatan hina seperti KKN dan menjadi rasis.
Pendidikan berantai perlu melibatkan pihak yang punya dana dan tidak terkecuali untuk pihak asing yang ingin menjadi penyantun dana. Menjadi penyantun dana saja sebenarnya tidak cukup karena terdapat kemungkinan bahwa dana ini akan dikorup seperti yg sudah-sudah. Bahkan Michael Jackson, kalau dia masih hidup juga bisa juga bisa sekejar jadi penyumbang dana. Akan tapi jika para penyumbang ini memberi rasa “cinta”, yaitu pengertian dan ketulusan hati yang bisa dirasakan penerima dana kemungkinan besar akan menghasilkan murid-murid yang berbudi. Mereka akan merasa menjadi bagian dari keluarga penyantun, di manapun penyantun ini berada, termasuk anda yang berada di USA dan saya yang telah tinggal di Hongkong selama 18 tahun.
Suatu saat anak-anak didik ini diharapkan tidak hanya pandai untuk mendapat Peterman yang baik dan pada akhirnya bisa hidup sejahtera, tapi yang terpenting adalah diharapkan supaya mereka mempunyai jiwa yang berbeda dari perampok-perampok negara yang rasis.
Jika mereka menjadi pimpinan, mereka bisa menggeser kedudukan yang kemungkinan akan didominasi oleh anak cucu atau cicit para KKN yang rasis, kroni-kroninya dan penjilat-penjilat serta penyembah ajaran-ajaran pendahulu mereka. Perlahan anak didik yang tadinya miskin ini akan secara perlahan-lahan mempengaruhi kepemimpinan negara dengan cara pandang yang beda.
Akankah penerapan sistim pendidikan berantai ini akan memakan waktu yang lama? Ya, terutama jika hanya dilakukan hanya oleh satu atau segelintir orang Indonesia yang peduli. Tapi bayangkan, jika setiap orang Indonesia yang mampu ikut berpartisipasi, terutama masyarakat Tionghoa yang mempunyai kekuatan ekonomi tinggi, maka keberhasilan pendidikan dan pencetakan pemimpin yang berkarakter baru seperti ini bukan mustahil untuk terwujud.
Saya menghimbau melalui forum ini agar saudara-saudara sesama orang Indonesia untuk memperbaiki negara ini dengan cara memperbanyak pemimpin masa depan yang mempunyai pandangan yang berbeda dari pemimpim masa penjajahan Belanda, Suharto dan pemimpin-pemimpina lainnya yang menganut ajaran terkutuk mereka.
Bila anda bertempat tinggal di Indonesia, bantuan yang akan kita berikan kepada anak tak mampu, terlantar dan berbakat tidak hanya berupa uang sekolah, tapi juga bisa mengajarkan ilmu yang kita miliki, seperti bahasa Inggris, peduli lingkungan, dan lain-lain. Bila kita punya dana lebih, baru kita bantu secara materi untuk uang sekolah, sampai perguruan tinggi. Mulailah dari lingkungan tempat anda atau keluarga anda tinggal.
Sewaktu saya sekolah di New Zealand. Tepatnya di Ardmore. Saya tinggal di lokasi yang kurang lebih bisa dibilang pedesaan tapi dekat dengan pusat kota Auckland. Di sana kebanyakan petani, tapi banyak dari mereka mempunyai pendidikan S2. Termasuk ibu dan bapak kos saya waktu itu.
Mereka berjuang untuk meningkatkan produksi makanan dan kosmetika organik.
Setelah saya amati, alangkah baiknya jika pembangunan di Indonesia bias meniru pembangunan seperti mereka yang menekankan betapa pentingnya pendidikan.
Kalau kita bandingkan Jakarta dan Auckland. Jakarta lebih banyak memiliki gedung bertingkat, hotel berbintang, bangunan lainnya yang mega dan hebat. Di Jakarta juga terdapat kehidupan yang extrim mewah, tapi tidak bias dinikmati oleh sebagian besar rakyat Indonesia. Dari gedung-gedung tinggi menjulang lagit dan mewah ini, dalam radius beberapa kilo meter atau bahkan dalam bilangan meter, banyak yang di kelilingi daerah kumuh.
Salah satu efek dari pembangunan seperti ini adalah tingginya tingkat kriminal. Jika diorganisir dan ditrigger sedikit saja maka penjarahan akan terjadi.
Berapa banyak bangunan hebat di Auckland yang sebagai pusat bisnis New Zealand? Ternyata masih bisa dihitung dengan jari. Tetapi mereka mempunyai banyak kualitas sumber daya manusia yang terdidik dengan gelar sarjana dan docktor. Mengapa? Karena mereka meletakkan manusia sebagai objek pembangunan, bukan gedung atau objek kosmetik lainnya yang ditekankan oleh sistem pembangunan Indonesia.
Hal ini juga tercermin dari penampilan sebagian dari masyarakat kita yang agaknya menkomunikasikan bahwa biarlah otak bodoh yang penting punya tas seperti Chanel, Louis Vuitton, atau Ferragamo. Tidak peduli membelinya dengan berutang melalui kartu kredit, tetapi yang penting terlihat bergaya, mewah, trendy, dan aksi.
Masalah di atas adalah pekerjaan rumah kita, agar kita benar-benar bis amembantu bagaimana membuat manusia Indonesia itu handal secara akademis dan berketrampilan. Pendidikan seharusnya gratis dan wajib sekolah mestinya hingga ke perguruan tinggi. Paling tidak harus fasih berbahasa Inggris untuk lulus menjadi sarjana.
Untuk itu saya himbau agar teman-teman, khususnya yang berada di luar negeri yang berkekuatan ekonomi berlebihan untuk segera membantu anak-anak miskin yang berbakat di daerah-darah slump atau kumuh di manapun di Indonesia.
Sekali lagi: pendidikan adalah kunci untuk merubah leadership seorang pemimpin.
Ajaklah semua orang untuk melakukan pendidikan berantai. Program ini hanyalah debu, bila dilakukan oleh satu orang saja. Tapi bila dilakukan oleh jutaan umat Indonesia dan berjamaah pula, mudah-mudahan kita bisa cepat melihat hasilnya
___
Yunani Adam adalah alumni Jurusan Ilmu Politik FISIP UI dan bertempat tinggal di Hongkong.

[...] artikel terdahulu saya menyinggung betapa pentingnya peran pendidikan untuk mengubah kualitas leadership kepemimpinan Indonesia, di antaranya adalah dengan menerapkan system pendidikan [...]
Pendidikan Berantai at Overseas Think Tank for Indonesia
21 Jul 10 at 5:06 pm
Can’t agree more!!! Salah satu akar permasalahan adalah kebodohan.
Sinta
27 Aug 10 at 1:01 am
You are totally correct, Sinta.
Beni Bevly
28 Aug 10 at 11:19 am