Overseas Think Tank for Indonesia

facilitating intellectuals to contribute to indonesia

Air Mata Xie Xie

without comments

fireworks of love
Sumber gambar: loveisperfectharmony.files.wordpress.com

Oleh Mutiara Andalas, SJ

Thank You. Xie Xie. Terima Kasih. Matur Nuwun.

Kapan pulang? Pertanyaan ini menggelayuti benak saya beberapa waktu terakhir. Saat seseorang menanyakannya, saya awalnya menjawab sambil lalu,“Masih lama.” Saat kepulangan sudah di depan pintu, lidah semakin tercekat untuk menjawabnya. Perubahan rona penanya saat saya menyebut perkiraan tanggal kepulangan menyadarkan beratnya kandungan pertanyaan.

Sesegera ini kepulangannya? Seperti sebelumnya, pertanyaan ini barangkali lebih menggali kedalaman relasi selama hidup dalam komunitas katolik Indonesia di Bay Area dan sekitarnya. Perkenankan saya memperlakukan tulisan ini pertama-tama sebagai penali saat-saat bersama dengan komunitas daripada sebagai kalimat perpisahan. Barangkali tulisan ini menjadi kesempatan terakhir menyapa seluruh pribadi dalam komunitas. Sebagaimana Maya Angelou, penyair kontemporer Afrika-Amerika pernah bertutur, “Kalau padamu tersisa seulas senyum, berikan pada pribadi yang paling engkau kasihi”, harapannya tulisan ini merupakan seulas senyum kasih untuk masing-masing pembaca.

Maya Angelou melukis rumah sebagai tempat “wherever I can find myself.” Izinkan saya menambahkan sebaris kalimat di belakang pernyataannya, “and wherever I can find you.” Komunitas Katolik Indonesia di Bay Area dan sekitarnya merupakan home saya. Terhatur pula salam dari pribadi-pribadi yang dekat dengan hidup saya, terutama ayah dan ibu, yang merasakan langsung buah kehangatan relasi saya dengan komunitas. Setiap kali saya membawa oleh-oleh dari saudara-saudari dalam kunjungan liburan, orang tua bertutur, “Umat sungguh mengasihimu.”

Saudara-saudari sangat bermurah hati kepada saya dan setiap ekspresinya merupakan ketukan semakin menjadi pelayan Gereja yang murah hati. Setiap kali membuka kloset pakaian, saya menemukan ragam ukuran dan warna. Saya sudah memberikan sebagian koleksi pada sahabat-sahabat yang lebih membutuhkan, namun masih memiliki ekstra. Gelitikan puisi Arswendo Atmowiloto “Aku Mendamba Romo Yang…” sampai kepada saya.

Aku mendamba Romo yang
bajunya kadang kekecilan,
kadang kegedean
itu berarti pemberian umat
sebagai tanda cinta,
tanda hormat

Akankah mereka memintaku memasukkan kaki di sepatu pendahuluku? Pertanyaan bernada kekhawatiran sempat menggerumuti saat-saat awal pelayanan. Romo berasal di Jakarta sebelah mana? Apakah orangtua juga tinggal di Jakarta? Apakah Romo perhatian pada gerakan pembaharuan kharismatik? Apakah tanggapan Romo terhadap gerakan pembaharuan dari Rm. Yohanes Indrakusuma? Pertanyaan-pertanyaan awal ini membantu saya memetakan kebutuhan rohani Gereja yang menjadi subyek pelayanan.

Saya melanjutkan pelayanan yang sejenak mengalami masa jeda sepeninggal pelayan gereja yang mendahului saya. Umat, dari anak-anak, remaja, dewasa muda, hingga lansia, menjadi tongkat penunjuk jalan dalam menyelami kehidupan Gereja di Amerika. Pada sebuah kesempatan setelah ekaristi seorang bapak keluarga muda mendekati saya, “Umat sebenarnya bukan tanpa persoalan, bahkan sejujurnya banyak persoalan. Persoalan umat tetap tersembunyi kecuali kalau pelayan gereja menyapa umatnya. Perjumpaan-perjumpaan sosial barangkali tempat terbaik bagi Romo untuk menjangkau kami.”

Perjumpaan dengan beragam umat membentuk kepribadian saya sebagai imam. Sapaan, betapapun seringkali berlangsung sangat singkat, berarti bagi umat. Seorang ibu muda tergopoh-gopoh mengejar saya di pintu keluar gereja sambil menggandeng puteranya yang menahan paras masam. “Ia ingin bersalaman dengan Romo, namun tangan umat lain menyerobotnya.”

Seorang ibu muda lain bergegas menjumpai saya setelah ekaristi dan berkisah tentang putera pertamanya.
“Jangan sampai terlambat, Papa dan Mama. Saya ingin bertemu Yesus.”
Saat melihat saya berjalan dari belakang memasuki gereja, ia mengarahkan mata kedua orang tuanya.
“Itu Dia!”
Kita yang dewasa barangkali telah sampai pada titik jenuh merayakan perayaan keagamaan sebagai rutinitas yang dijadualkan. Anak ini membangunkan kesadaran kita akan misteri Allah yang menampakkan diri dalam sosok sederhana dalam gereja Katolik yang dalam beberapa waktu terakhir bergumul dengan skandal seksual para pelayannya.

Perjumpaan dengan umat lansia mendidik saya untuk mengembangkan kecakapan dalam mendengarkan. Saya mohon maaf atas tindakan saya yang menggurui selama melayani Gereja di sini. Sifat kebapakan dan keibuan mereka terungkap dalam kecemasan saat mengetahui saya terlibat aktif dalam persoalan-persoalan kemanusiaan Indonesia. Seorang Om lansia yang selalu membaca buku-buku saya bahkan dalam naskah draft menepuk pundak saya berkali-kali,“Berhati-hatilah. Politik Indonesia seringkali merenggut hidup pelakunya.”

Kisah hidup umat merupakan kado berharga saat telinga saya mendapat kepercayaan mendengarkannya. Doa dalam pergumulan hidup, baik karena kehilangan pekerjaan, janin dalam kandungan, pasangan hidup, seringkali mengungkapkan kebersandaran umat pada Allah. Ia pertama-tama bahkan ratapan kepada-Nya. Pergumulan, bahkan air mata mereka, menyuburkan pertumbuhan saya sebagai imam yang mendapat perutusan ditahbiskan untuk melayani umat teristimewa memimpin doa bersama umat.

Saya selalu takjub dengan para ibu yang mampu memberi makanan yang seringkali lebih dari cukup untuk jumlah umat berapapun yang menghadiri perayaan ekaristi. Saya hendak memohon maaf karena keterbatasan dalam menjangkau hati semua pribadi yang membuka pintu hatinya lebar-lebar untuk kehadiran saya. Dalam perjalanan pulang, Rm. Hadi dan saya saling menyegarkan ingatan akan nama pribadi-pribadi baru atau yang muncul kembali dalam ekaristi. Setiap pribadi di Gereja berarti di hati pelayannya.

Saat memberikan endorsement untuk buku Just For You: Mutiara-Mutiara Kehidupan (Yogyakarta: Kanisius, 2009), Zara Zettira Zr menamainya bahasa hati,

“Sesuatu yang datang dari hati
pasti mampu menyentuh hati-hati semua orang.
Lepas dari apapun suku, ras dan agama orang itu.
Karena hati hanya bicara dalam satu bahasa
dan bahasa Mutiara Andalas
adalah bahasa hati.”

Seandainya Maya Angelou pernah mampir ke komunitas katolik Indonesia di Bay Area dan sekitarnya, ia barangkali akan menggubah kembali puisinya,

“I’ve learned that
people will forget what you said,
people will forget what you did,
but people will never forget
how you made them feel.”

Tulisan ini barangkali masih jauh dari mencukupi untuk mengungkapkan seluruh ingatan akan kata, tindakan, perasaan kasih saudara-saudari kepada saya. Namun ia barangkali lebih dari cukup sebagai awalan. Air mata Xie Xie menjadi tanda baca penutup tulisan.

____
Mutiara Andalas, SJ adalah mahasiswa Pascasarjana di Jesuit School of Theology at Berkeley, California dan penulis buku “Lahir dari Rahim: Wacana Perempuan Asia tentang Allah di Era Globalisasi” dan “Kesucian Politik: Agama dan Politik di Tengah Krisis Kemanusiaan.” Artikel ini sebelumnya terbitkan oleh buletin WKICU.

Written by Beni Bevly

July 21st, 2010 at 3:51 pm

Leave a Reply