Pendidikan Berantai

Sumber gambar: smknegeri2telukkuantan.blogspot.com
oleh Yunani Adam
Pada artikel terdahulu saya menyinggung betapa pentingnya peran pendidikan untuk mengubah kualitas leadership kepemimpinan Indonesia, di antaranya adalah dengan menerapkan system pendidikan berantai.
Yang saya maksud dengan pendidikan berantai adalah menurunkan atau merantaikan ilmu yang telah dipelajari dari seseorang kepada orang lain, baik secara langsung, yaitu dengan mengajar secara rutin (contoh yang mudah adalah pelajaran bahasa Inggris), maupun secara tidak langsung, yaitu dengan memberikan dana atau alat bantuan lain kepada anak-anak yang tidak mampu untuk melanjutkan pendidikan mereka.
Selain mengakjarkan kepintaran, pendidikan berantai juga mengutamakan rasa tanggung jawab seorang manusia, tidak hanya terhadap dirinya sendiri atau keluarganya saja, tetapi juga terhadap orang lain. Dengan demikian, bila mereka hendak membuat keutusan, maka bereka bisa melakukannya dengan bijaksana dan fair dengan tidak merugikan orang lain.
Bila saya hendak memberikan bantuan dalam rangka menerapkan pendidikan berantai maka syarat-syarat yang perlu dipenuhi adalah:
Pertama, penerima bantuan adalah siswa yang berprestasi di sekolah, tetapi tidak mampu secara ekonomi.
Kedua, bersedia merantaikan atau menyumbangkan ilmunya kepada siswa-siswa lainya atau siapa saja yang membutuhkan pendidikan, misalnya: setiap penerima bantuan diwajibkan untuk mengajar bahasa Inggris setiap hari minggu yang boleh dihadiri oleh siapa saja.
Ketiga, penerima bantuan harus membaca buku-buku tentang pengembangan diri dan motivasi yang akan dipinjamkan, seperti : 7 Habits of Highly Effective People, Dare to Win, Emotional Intelligence, dan lain-lain.
Keempat, penerima harus dapat menerangkan isi buku-buku tersebut di atas, dan merantaikan serta menerapkanya sehari-hari.
Kelima, penerima harus bertanggung jawab terhadap kemajuan siswa-siswa yang dididiknya.
Bantuan pendidikan berantai akan diberhentikan jika penerima bantuan :
Pertama, tidak dapat mempertahankan prestasinya, baik di sekolah maupun di tempat kursus bahasa Inggris.
Kedua, tidak bersedia merantaikan pendidikan yang sudah didapatnya, dengan jalan mengajar setiap minggu.
Ketiga, tidak ada komitmen untuk membantu orang lain, dalam hal ini pendidikan.
Bila si penerima bantuan dapat mempertahankan syarat-syarat tersebut di atas, tidak tertutup kemungkinan, bantuan pendidikan berantai akan diberikan sampai tingkat universitas atau perguruan tinggi.
Dalam program pendidikan berantai ini, perlu selalu ditekankan prinsip dasar yang sering dilupakan pada saat ini, yaitu: “Jadilah orang sepandai-pandainya, sekaya-kayanya dengan cara halal dan terpuji dan tolonglah orang sebanyak-banyaknya dalam bidang pendidikan untuk mencetak pemimpin-pemimpin anti korupsi, kolusi dan nepotisme, dan anti diskriminasi seumur hidup mereka.”
___
Yunani Adam adalah alumni Jurusan Ilmu Politik FISIP UI dan bertempat tinggal di Hongkong.
