Inovasi

Sumber Gambar: patrickdriessen.blogspot.com
Oleh Dr. Beni Bevly
Cell phone (sebutan rekan kita di Tanah Seberang Amerika Serikat untuk hand phone) Palm Centro saya memang sudah saatnya diganti. Tidak terasa sudah dua tahun telah berlalu, bukan hanya karena modelnya yang out of style dan kecanggihannya yang kalah jauh jika dibandingkan smart phone model terkini, tetapi ia telah dikunyah oleh anjing Labrador teman saya yang nakal. Hal ini mendorong saya untuk ke toko AT&T dan membeli iPhone 4. Walaupun saya sudah tahu kecanggihannya, begitu di tangannya saya, serasakan saya memasuki dunia Strar Trek. Tinggal beberapa pencetan saya telah bisa berbicara face to face dengan rekan saya yang berada di negara bagian lain dengan menggunakan teknologi FaceTime-nya.
Itu hanya salah satu bentuk inovasi dari ribuan produk dan service yang ada pada ada zaman sekarang. Pertanyaannya adalah mengapa perusahaan seperti ini bisa melakukan inovasi sedemikian luar bisanya? Sebaliknya faktor apa sajakah yang menghalangi perusahaan lain tetap jalan di tempat atau malah melangkah mundur? Bagaimana kemungkinan untuk melakukan inovasi di Tanah Air?
Dulu kita megenal mesin ketik manual dan mem-foto copy secara stensilan, sekarang kita menggunakan komputer dan sistem print on demand. Dulu kita menggunakan floppy disc untuk merekam data dari computer, kini kita menggunakan memory card. Dulu kita merasa canggih nonton video melalui Sony Betamax dan TV Trinitron, kini telah tersedia 3D (tiga dimensi) video player beserta telivisinya yang ramping dengan solusi yang melebihi 1080i yang sebelumnya hanya 720p. Dulu kita membawa buku-buku berat di backpack, kini hanya dengan Kindle yang lebih ringan dari ukuran buku biasa kita bisa membawa ribuan buku. Kini kita merasa canggih dengan iPad, tetapi tablet Galaxy dari Samsung yang berukuran lebih kecil ternyata lebih membengongkan.
Begitulah proses inovasi yang cepat dan boleh dikatakan lebih dari 80 persen terjadi 200 tahun terakhir ini sejak jutaan tahun peradaban manusia. Ketika kuliah di Stanford University, saya sangat kagum dengan keterangan dosen saya tentang inovasi Netflix yang menawarkan jasa untuk meyewakan DVD dengan menggunakan web site dan jasa kantor pos. Kini kita tidak perlu mengambil DVD tersebut di kotak pos, tetapi bisa secara langsung diupload ke komputer dan DVD player yang menggunakan koneksi internet dan ditampilkan ke televisi. Proses inovasi seperti ini memang tidak ada habisnya untuk dibahas. Mari ktia diskusikan inovasi itu sendiri.
“Inovasi” berasal dari kata Inggris “innovation” yang dipinjam dari kata Latin “innovātus.” Innovātus berarti “to renew” atau memperbaharui. Inovasi sering diartikan sebagai proses memperbaharui sesuatu yang telah ada atau memperkenalkan sesuatu yang baru.
Dalam terminologi bisnis saya lebih senang mempergunakan pengertian yang diperkenalkan oleh Baregheh A, Rowley J dan Sambrook S. dalam artikelnya Towards A Multidisciplinary Definition of Innovation, dalam jurnal Management Decision tahun lalu, yaitu:
“Innovation is the multi-stage process whereby organizations transform ideas into new/improved products, service or processes, in order to advance, compete and differentiate themselves successfully in their marketplace.” Atau ”Inovasi adalah proses tahapan berganda di mana organisasi mentranformasi ide-ide ke dalam produk baru atau diperbaharui, pelayanan atau proses, supaya bisa maju, bersaing dan melakukan diferensiasi diri mereka secara sukses dalam pasaran.”
Inovasi dalam pengertian seperti inilah yang diterapkan oleh perusahaan-perusahaan yang menghasilkan produk seperti yang saya sebutkan di atas. Melihat jenis produk mereka yang telah mencapai kecanggihan luar biasa, agaknya hampir tidak ada tempat lagi untuk produk baru. Jika hal ini dilihat dari sudut negatif, maka akan mundurlah teraturlah para pebisnis lain. Tetapi mental innovator tidaklah seperti itu. Mereka bahkan meresa tertantang dan melakukan inovasi dengan hasil yang bahkan lebih baik.
Inovasi yang baik, menurut Joseph Schumpeter – guru besar dari Harvard University – 88 tahun yang lalu dan masih releven hingga sekarang, mengemukakan sebagai berikut:
Pertama, memperkenalkan produk baru di mana pelangan masih tidak familiar atau memperkenalkan produk dengan kualitas baru.
Kedua, memperkenalkan metode produksi baru yang tidak harus selalu dibangun atas dasar penemuan sains dan juga bisa exsist dalam bentuk baru menangani komoditi secara komersial.
Ketiga, membuka, menciptakan atau menembus pasar, termasuk pasar yang belum dimasuki atau diciptakan oleh pebisnis lain.
Keempat, menguasai sumber supplai raw material baru atau setengah jadi produk.
Kelima, menciptakan industri baru, termasuk menciptakan industri tersebut sedemikian rupa sehingga bisa memonopli atau memecahkan monopol dari existing industri.
Pada poin-poin di atas, saya ingin tambahkan bahwa untuk menjamin keberhasil suatu inovasi baik produk ataupun jasa, maka bentuk inovasi ini harus bisa merubah atau menciptakan life style yang baru.
Seperti Starbucks berhasil membuat para pelanggan menjadi bangga hanya dengan memegang cangkir kertas dengan lambangnya. Atau iPhone yang berhasil menarik pelanggan untuk membeli keluaran versi terbaru iPhone 4 walau dengan harga yang mahal karena pemakai iPhone dinilai cerdas, berkelas dan kaya. Seperti diketahu bahwa iPhone belum memasuki pasar China, tetapi para pebisnis telah membelinya dengan harga retail USD 500 – USD 600 dan di jual di China dengan harga USD 900 – USD 1.000.
Kita tahu bahwa inovasi lebih banyak datang dari negera seperti AS, Korea, Jepang, dan negara-negara Eropa Barat dan China akhir-akhir ini. Sebaliknya masih banyak negara lain, seperti Indonesia gagal atau belum melakukan inovasi yang berarti, walaupun persyaratan untuk inovasi yang baik menurut Schumpeter sudah cukup memadai, yaitu seperti telah tersedianya pasar, sumber bahan mentah atau bahan setengah jadi dan kemampuan menciptakan monopoli.
Faktor yang sering membuat pebisnis atau perusahaan gagal atau belum berhasil melakukan inovasi yang berarti di antaranya adalah 1) mutu kepemimpinan dan organisasi yang rendah, 2) tujuan organisasi dan pelaksanaan yang tidak jelas dan tidak sejalan, 3) komunikasi dan partisipasi antara pemimpin dan karyawan tidak berjalan lancar, 4) empowerment, pengetahuan teknis dan manajemen rendah, 5) tidak ketatnya monitoring hasil produksi.
Memahami ulasan di atas, saya yakin pebisnis di Tanah Air akan mampu membenah diri dengan berpatokan kriteria inovasi yang baik dan melakukan perbaikan atas faktor-faktor yang menyebabkan kegagalan berinovasi. Jika hal ini dilakukan, maka mereka akan mampu menempatkan dirinya sejajar dengan para pebisnis yang penuh inovasi dari negera Tanah Seberang.
____
Dr. Beni Bevly adalah business trainer, consultant dan penulis buku Solusi Bisnis dari Seberang yang bermukin di Silicon Valley dan bisa dihubungi di BeniBevly[at]yahoo.com dan BeniBevly.com. Untuk kebutuhan corporate training di Jakarta, ia bisa dihubungi melalui Alexander Edi Surya: email: afton.asia[at]gmail.com, telephone: 021 559 4150, dan fax: (021) 319-27651. Artikel ini pernah di terbitkan oleh majalah Duit! dalam bentuk cetak pada Desember 2010.

I adore your website. You have a great deal of great material which might be employed to a great number of readers.
SIP Softphone
13 Oct 12 at 1:46 pm