Archive for the ‘Development’ Category
Keberhasilan dan Kegagalan Infrastruktur di AS
Oleh Dr. Beni Bevly, Silicon Valley
Sama halnya dengan negara lain, negara Adi Daya Amerika Serikat (AS) juga mengalami maju mundur dalam menangani infrasturkturnya. Dalam periode tertentu, pemerintahan AS sangat berbangga dengan keberhasilannya dan dalam kurun waktu yang lain, jika dibandingkan dengan negara maju lainnya kini – agaknya pernyataan ini bisa mengejutkan sebagian besar orang – AS masih bisa disebut gagal. Strategi apa yang telah pemerintahan lokal dan federal AS lakukan dalam memacu dan memaintain pembangunan infrastruktur? Mengapa infrastruktur mengalami kemunduran dan bagaimana jalan keluarnya? Read the rest of this entry »
Pancasila yang Keren

Sumber Gambar: beta.matanews.com
Pancasila yang Keren 1)
Oleh Dr. Beni Bevly 2)
Kini banyak pihak merasa Pancasila tidak sakti dan penuh dengan kebohongan, sehingga mereka melihatnya bukanlah objek yang keren. Terlepas dari benar atau tidaknya anggapan di atas, satu hal yang harus kita akui bahwa Pancasila tidak lagi memegang peranan sepenting ketika Orde Baru berkuasa. Berikut marilah kita diskusikan apa yang kita mau dari Pancasila? Apakah masih relevan? Jika ya, bagaimana kita mensikapinya? Apakah dengan repositioning Pancasila kita bisa membuatnya menjadi keren dan meletakkan Pancasila menjadi dasar filosofi dan pegangan rakyat Indonesia dalam bermasyarakat dan bernegara yang bisa mereka banggakan? 3) Read the rest of this entry »
Tatanan Perekonomian Dunia Pasca Amerika Serikat
Oleh Dr. Beni Bevly, San Francisco
Banyak para ahli yang memprediksikan kemunduran Amerika Serikat (AS) dari posisi nomor satu kekuatan ekonomi dunia dan munculnya kekuatan ekonomi baru. Bagaimana kemungkinan hal ini akan terjadi? Di manakah posisi Indonesia dalam tatanan perkonomian dunia pasca Amerika Serikat?
Perdebatan menurunnya kejayaan perekonomian AS akhirnya bermuara di sekitar opini mengenai munculnya atau akan munculnya kekuatan ekonomi tandingan AS dari kelompok negara BRIC dan MAVINS. Opini mengenai kemunculan BRIC (Brazil, Russia, India, dan China) sebagai kekuatan ekonomi yang akan menebas AS, pertama kali diperkenalkan oleh Jim O’Neill, global economist dari Goldman Sachs, sedangkan MAVINS (Mexico, Australia, Vietnam, Indonesia, Nigeria, and South Africa) sebagai kekuatan ekonomi dunia layer ke dua yang juga akan menjadi pesaing AS dipopulerkan awal tahun ini oleh Vincent Fernando dan Joe Weisenthal dari Business Insider. Read the rest of this entry »
Solusi Bisnis dari Seberang
Judul: Solusi Bisnis dari Seberang
Penulis: Dr. Beni Bevly dan Jennie S Bev, DBA
Penerbit: Afton Asia, Jakarta
Genre: Bisnis
Jumlah Halaman: 194
Dimensi: 15,24 x 22,86 cm
ISBN: 978-602-97885-01
Edisi: I, Januari 2011
Harga: Rp. 58.500,-
Berbisnis adalah salah satu cara untuk mencapai kesejahteraan bagi diri sendiri, keluarga, komunitas dan negara yang bisa dipelajari dengan mudah bila mendapatkan dan menggunakan sumber yang tepat.
Tidak seperti buku bisnis lainnya yang secara umum hanya membahas teori, tetapi buku “Solusi Bisnis dari Seberang” adalah sumber pengetahuan yang aplikatif dan jitu untuk berbisnis yang secara langsung dituangkan oleh dua praktisi, professional dan pakar bisnis yang bermukim di Silicon Valley, USA, yaitu Dr. Beni Bevly dan Jennie S Bev, DBA. Di tengah guncangan perekonomian USA, mereka masih banyak menemukan model bisnis yang sukses.
Dengan ketajaman pengetahuan bisnis praktis, akademis dan gaya bahasanya yang ngepop, mereka berhasil membuat isi buku ini mudah untuk dipahami dan diterapkan. Selain bagi para pebisnis dan calon pebisnis, ini adalah buku wajib bagi para eksekutif, pengamat, dosen, pengambil keputusan dari pihak swasta dan pemerintah, mahasiswa, karyawan dan pelajar.
Dengan memiliki buku ini berarti Anda telah membantu para korban bencana alam dan pendidikan putra-putri Indonesia yang akan disalurkan melalui Bevly Foundation.
Pemesanan dari Indonesia
Dapatkan dan milikilah segera buku ini dengan mengirimkan Rp. 58.500,- kepada akun BCA atas nama Siat Ching Mij dengan akun nomor 028 3840988. Konfirmasikan bukti transfer Anda melalui email kepada afton.asia@gmail.com atau fax (021) 319-27651. Setelah menerima konfirmasi bukti transfer, buku akan segera dikirimkan ke alamat Anda di Indonesia tanpa dikenakan biaya pengiriman dengan menggunakan TIKI (Titipan Kilat).
Pemesanan dari Amerika Serikat, Kanada dan negara lain
Buku Solusi Bisnis dari Seberang juga telah diterbitkan di Amerika Serikat. Untuk itu peminat yang menetap di AS, Kanada dan negara lain bisa memesannya dengan klik di sini.
Model dari Discovery Bay Hong Kong: Kembali ke Alam
Perlu diakui bahwa pembangunan di Indonesia banyak yang menghasilkan masalah. Misalnya, karena kurangnya perencanaan, maka banyak lokasi di Indonesia, termasuk di Jakarta, menjadi banjir , di samping musibah atau potensi musibah lain.
Dalam kaitan dengan model pembangunan dan tingkah laku masyarakat yang bersahabat dengan alam, saya mengajak anda untuk menelusuri pengalaman saya di Hong Kong dan kemungkinan penerapannya di Indonesia. Read the rest of this entry »
Peringatan Hari Kemerdekaan: Ritualisme Yang Tak Berujung

Image source: suaramerdeka.com
Oleh Tanza Erlambang
Perayaan untuk menyambut hari kemerdekaan Indonesia ke 65 tahun ini, sudah dimulai, baik di berbagai daerah tanah air, maupun oleh masyarakat indonesia yang tersebar di berbagai belahan dunia. Seperti ritual, perayaan itu terasa menoton. Dari tahun ke tahun hanya seputar lomba yang itu-itu saja : mulai dari menangkap kodok sampai main gaple, lomba lari karung sampai makan kerupuk.
Pertandingan olahragapun hanya sebatas hura-hura, tidak mengarah ke prestasi, apalagi prestasi olimpiade atau piala dunia. Kejuaraan dunia sepak bola misalnya, tak pernah sekalipun diikuti. Kita, seperti sudah mentakdirkan diri sendiri sebagai bangsa penonton sepanjang masa. Read the rest of this entry »
Land Banking
By Dr. Beni Bevly
Suatu ketika Mark Twain, novelis besar di Tanah Seberang, pernah berkata bahwa lokasi tanah yang baik tidak pernah out of style. Agaknya ungkapan ini tetap menjadi landasan para pebisbis properti untuk melakukan transaksi, sebagaimana dijelaskan oleh David Gold dalam diskusinya dengan saya dalam kaitannya dengan dengan bisnis land banking di San Jose daerah Silicon Valley. Apakah land banking? Apa yang bisa kita pelajari dari para pebisnis ini untuk diterapkan di Tanah Air? Read the rest of this entry »
Challenges for Indonesia’s foreign policy in transition

by Evan A. Laksmana
Ahead of US President Barack Obama’s visit to Jakarta next month, pundits have been debating the nature and future direction of Indonesia’s foreign policy.
Given the strategic importance of the upcoming United States-Indonesia Comprehensive Partnership – set to deepen ties in defence, economic, health, and education sectors – some are asking whether this visit could jump-start Indonesia’s “post-Asean” foreign policy. Read the rest of this entry »
Democracy and the `remilitarization’ of the TNI

Image source: kaskus.us
by Evan A. Laksmana
Is democracy hurting Indonesia’s defense? One cannot but ponder this unspoken, yet often privately asked, question heard recently in a public discussion organized by noted military watchdog the Pro-Patria Institute.
While the forum was meant to launch the institute’s latest recommendations on national security, discussions during the Q&A session touched on the “excesses” of democracy and how it has complicated, if not undermined, the Indonesian Military’s (TNI) efforts to strengthen national defense. Read the rest of this entry »
Housing Activism: Menanggapi Krisis Perumahan di Amerika Serikat

Pada tangal 12 September 2009, Beni Bevly* menyampaikan Webinar (Web site seminar) di kantor Majalah Kabari, San Fransciso, CA, Amerika Serikat.
Seminar ini mendiskusikan bagaimana seseorang bisa mengkontribusikan tenaga, pikiran dan waktunya kepada komunitas di mana ia tinggal di Amerika Serikat dalam menghadapi krisis perumahan. Bevly percaya bahwa dengan membantu komunitas berarti membantu diri sendiri. Lebih lengkapnya, ikuti seminar ini dengan mengklik: Housing Activism: Menanggapi Krisis Perumahan di Amerika Serikat.
(Setelah mengklik link di atas, untuk menampilkan video dalam seminar ini, klik icon kamera di sudut kanan atas di screen komputer anda. Koreksi, di bagian Masalah Mikro, seharusnya disebut subprime loan atau subprime mortgage loan, bukan jumbo loan.)
_____
*Dr. Beni Bevly adalah pendiri Overseas Think Tank for Indonesia dan Ketua Mountain House Action Group di Kalifornia Utara, Amerika Serikat.
Meningkatkan Daya Saing

Oleh Dr. Beni Bevly
Seperti yang diketahui bahwa pemimpin di Washington, DC, di Tanah Seberang sering mendapat tantangan dari mitra bisnisnya, terutama dari Eropa, Jepang, Korea dan China. Sementara itu, tantangan yang tidak kalah ganasnya juga datang dari dalam negeri. Untuk itulah, pemerintahan Paman Sam – yang dikenal sebagai pemerintahan kapitalis dan membatasi diri untuk mencampuri kegiatan bisnis swasta – terpaksa turun tangan dengan memberikan dukungan berupa gudelines dan penghargaan untuk meningkatkan daya saing pebisnis dalam negeri. Read the rest of this entry »
Terkuburnya American Dream?
Oleh Dr. Beni Bevly
Memasuki tahun 2007 beberapa kenalan dan tetangga saya di Kalifornia Utara mulai menunjukkan kegelisahannya terhadap perkembangan perekonomian Amerika Serikat (AS). Kemakmuran ekonomi yang dinikmati dan memberi keuntungan pada banyak orang – termasuk kenalan saya – sejak tahun 2000 yang ditandai dengan menaiknya harga rumah mencapai 86% pada pertengahan tahun 2006, ternyata membawa keprihatinan dan kesedihan yang mendalam. Sebenarnya apa yang terjadi? Apa akibatnya bagi sebagian masyarakat AS? Siapa pelaku utamanya? Benarkah American Dream juga ikut terkubur?
Pada masa kemakmuran ekonomi – yang bisa dikatakan semu – inilah pembangunan dipacu laju. Lahan kosong dan kering kerontang dalam beberapa bulan menjadi daerah real estate disertai dengan atau tanpa pembangunan business area atau daerah pertokoan, perkantoran dan industri ringan. Untuk membeli rumah secara kredit pada saat itu, seseorang harus ikut lotere dan berlomba dengan ratusan pembeli yang lain. Harga sewa toko juga meningkat drasatis. Pada saat itu, seseorang dengan pendapatan lumayan (sebutlah berkisar $75.000-$120.000/tahun) bisa membeli beberapa rumah. Kondisi seperti inilah yang terjadi di kota baru di mana saya tinggal.
Proses pembelian yang sudah atau sedang ditinggali harus melalui proses bidding secara tertutup. Dengan proses ini, seorang pembeli memberikan penawaran harga rumah yang lebih tinggi dari harga yang dipasang oleh penjual melalui amplop tertutup. Penjual tinggal memilih penawaran yang paling menguntungkan untuk mereka. Pada tahun 2004, saya sempat mem-bid satu rumah dengan $7.000 di atas harga yang dipasang, tetapi pemilik rumahnya menjual kepada pembeli lain yang mem-bid lebih tinggi.
Bukan itu saja, banyak di antaranya yang menguangkan dari kenaikan harga rumah mereka. Dengan menggunakan equity (lebih tepat disebut capital gain) yang ada, mereka melakukan refinance. Dengan proses ini mereka memperoleh uang cash di tangan, di pihak lain, nilai utang rumah mereka otomatis menjadi lebih besar. Dengan adanya cash di tangan, sebagian dari mereka berhenti kerja dan mulai berusaha. Sebagian besar menghabiskan uangnya untuk bertamasya, membeli barang mewah seperti mobil, me-remodel rumah, membeli rumah baru dan lain-lain. Tetanggaku membeli satu speed boat. Secara berkala ia mengajaku memancing atau ber-ski air dengan menggunakan perahunya.
Menjelang tahun 2007 keadaan berubah. Awal tahun 2008, Shirley, seorang pemilik rumah di samping rumah saya pernah berkata dengan mata berkaca-kaca, “Beni, I do not know what to do? Now I even can not sell my houses.”
Shirley yang sehari-harinya bekerja sebagai seorang perawat tergiur untuk mencari keuntungan besar. Ia membeli empat rumah secara kredit, setelah itu ia berharap harga rumahnya akan naik dalam waktu singkat, kemudian dijual untuk mendapat keuntungan.
Ternyata yang terjadi adalah kebalikan, keempat rumahnya yang berlokasi di Las Vegas dan di Kalifornia Utara mengalami penurunan harga secara drastis yang di antaranya mencapai lebih dari 50 persen, dari rata-rata $500.000 kini menjadi kurang dari $300.000. Supaya laku, maka ia harus menjualnya dengan harga jauh di bawah harga beli atau harga pasar pada saat itu.
Jika penjualan ini terjadi, maka ia harus menombok ratusan ribu dollar kepada bank. Selain itu, ia sudah menghabiskan uang begitu banyak untuk pengurusan pembelian ke empat rumah, dan membayar kredit bulanan. Tentu ia tidak mau menjual rumah-rumahnya dengan harga yang sangat murah dan menderita kerugian besar. Lalu apa yang ia perbuat?
She walked away. Ia meninggalkan keempat rumahnya begitu saja. Rumahnya kini berstatus forclosure. Hal ini juga terjadi pada Charles, kenalan saya yang lain. Bedanya ia membeli rumah secara kredit, bukan untuk mencari keuntungan tetapi untuk tempat tinggal ia dan keluarganya yang tercinta.
Kasus lain, pada awal Oktober 2008, Adam – seorang pelangganku – terlambat membayar uang keangotaannya. Ia menerangkan alsannya kepadaku, “Man, I was stressed out. My 401K was messed up. I moved my CD and money from Washington Mutual Bank.”
Krisis ekonomi ini menurunkan nilai 401K-nya (semacam tabungan masa pensiunya). Ia telah kehilangan beberapa puluh ribu dollar karena 401K-nya diinvestasikan oleh satu institusi keuangan yang ditunjuk perusahaan di mana ia bekerja. CD (certificate of deposit) dan uangnya yang dipindahkan ke bank lain belum clear. Hal ini membuat ia stress dan panik.
Situasi panik dan kepedihan yang menimpa Shirley, Charles dan Adam juga terjadi pada ribuan bahkan jutaan penduduk AS. Pertanyaan selanjutnya, sebenarnya apa yang terjadi?
Sebelum menjawab pertanyaan di atas, saya ingin meberikan ilustrasi lain secara mikro bagaimana krisis ekonomi ini menimpa para pengusaha, termasuk pengusaha kecil.
Setelah tidak bertemu beberapa lama, Eric, salah satu kenalan saya, mempunyai banyak bahan pembicaraan. Dengan perasaan prihatin ia berkata, “You know Beni, I am going to sell my business.”
“Why?” Saya bertanya.
“Last year it was still OK, but not now. It’s not. So far my business can survive because I go back to work. I have been using my salary to pay the expenses.” Kemudian ia menanyakan apakah saya kenal dengan orang yang mau membeli usahanya.
Sekarang plang usahanya telah berganti menjadi “Quickly coming soon”.
Singkatnya, Eric tidak mampu meneruskan usahanya karena berkurangnya pelanggan. Menurut pengakuannya, padahal ia sudah mendeversifikasi dan memberikan diskon, tetap saja tidak selaku tahun lalu. Hal yang serupa dialami oleh Jason, pemilik restoran Hawaiian Barbeque.
Di lain tempat, sekitar 20 mile dari tempat tinggalku, Nancy pemilik usaha massage therapy meminta bantuanku untuk menulis surat kepada management mall – yang akan ditandatangani penyewa-penyewa lain – untuk menurunkan harga sewa karena berkurangnya pelanggan. Mereka berjuang menekan pengeluaran supaya tidak bangkrut.
Secara pribadi, saya juga kehilangan salah satu rekan olah raga dan teman hang out saya, Robert. Untuk effisiensi kerja, Nordstrom di mana tempat ia bekerja melakukan restrukturisasi tenaga kerja. Ia berkata, “I was lucky, Beni. I just needed to adjust with my new position and my lower salary. A lot of my co-workers got laid off.”
Selain itu kami juga sering nongkrong di salah satu Starbucks, sekarang Starbucks itu telah tutup. Toko ini adalah salah satu dari 600 toko yang direncanakan akan ditutup sejak July 1, 2008. Secara keseluruhan Starbucks mengalami penurunan pendapatan hampir 30%.
Pada saat ini pembangunan rumah dan daerah bisnis di tempat saya tinggal hampir berhenti. Lennar – developer ke dua terbesar di AS dan Centex – ke empat terbesar – telah menarik diri. Pulte – developer no satu terbesar – yang sedang menyelesaikan pembangunan beberapa petak tanah akan segera hengkang. Setelah itu hanya akan tinggal Shea Homes yang berjanji akan membangun lapangan golf dan rumah tinggal muktahir. Secara keseluruhan terdapat 8 devisi yang belum dibangun dari 12 divisi yang direncanakan.
Di tingkat internasional, krisis ekonomi di AS benar-benar terangkat kepermukaan dan menyebabkan kepanikan ketika pasar stock di negara-negara berpengaruh mengalami penurunan tajam pada hari Juma’at, 10 Oktober 2008. Di AS Dow Jones mengalami penurunan 7,3 persen, di Jepang Nikkei 9,4 persen, di Hongkong lebih dari 8 persen, di Singapura and Korea Selatan 6 and 5 persen berturut-turut, dan di Indonesia lebih dari 10 persen. Penurunan ini adalah yang terbesar sejak the Black Monday Market Crash di bulan Oktober 1987.
Sebelum itu, pada tahun 2007 AS mengalami defisit dalam transaksi sebesar $847 miliar. Hal ini menyebabkan penurunan dollar AS. Pada saat yang bersamaan terjadi penurunan harga rumah secara drastis. Daerah tertentu mencapai 30-50 persen. The wall Street Journal melaporkan bahwa sekitar 12 juta keluarga (16 persen penerima kredit rumah) membayar lebih besar dari nilai rumah yang mereka diami. 29 persen dari pembeli rumah secara kredit dalam lima tahun terakhir ini terancam untuk forclosure.
Pada February 2008, 63.000 orang kehilangan pekerjaannya, rekor dalam 5 tahun. Pada September 159.000 orang dirumahkan lagi. Hal ini berarti 84.000 orang per bulan kehilangan pekerjaan mereka. Tanggal 5 September 2008, the United States Department of Labor melaporkan bahwa angka penganguran naik menjadi 6,1%, paling tinggi dalam lima tahun.
Tanggal 7 September 2008, mortgage lenders Fannie Mae and Freddie Mac dinyatakan dalam keadaan “dirawat” dan perlu mendapat suntikan dana. Setelah itu, 15 September Lehman Brothers, perusahaan investasi terbesar menyatakan diri bankrut. Perusahaan asuransi terbesar AS, AIG diberikan suntikan dana dari Federal Reserve, dan consortium dari 10 bank sebesar $70 miliar.
Perekonomian AS hanya tumbuh 0,6 persen dalam quarter pertama di tahun 2008, menurun dari prediksi sebesar 2,2 persen.
Barack Obama mengatakan bahwa krisis ekonomi sekarang adalah yang terbesar sejak Great Depression 1929.
Kembali kepertanyaan mengapa hal ini terjadi dan siapa pelaku utamanya? Menurunnya harga stok adalah indikasi makro yang jelas dari menurunnya perekonomian suatu negara, termasuk AS. Penurunan ini di-trigger oleh merosotnya kepercayaan para pemegang saham/stok terhadap kondisi ekonomi saat itu. Ketidak-percayaan ini menyebabkan para pemegang saham panik dan melepas saham mereka hampir dalam waktu yang bersamaan dengan harga murah. Selanjutnya timbul pertanyaan, mengapa mereka berbuat demikian? Perbuatan mereka merupakan reaksi terhadap proses dan penumpukan masalah ekonomi yang telah berjalan tahunan.
Banyak ahli ekonom yang melihat ini sebagai akibat deregulasi, dimana pemerintah memberikan kebebasan yang luas pada para pelaku pasar. Pihak pemerintah yang dikuasai oleh kalangan konservatif percaya dengan keampuhan ekonomi pasar bebas yang salah satu pemikir utamanya adalah Milton Friedman. Pasar bebas diyakini akan menimbulkan persaingan yang akan membawa kemajuan dan mempunyai kemampuan untuk mencari jalan keluar dari permasalahan yang ada.
Deregulasi seperti ini menimbulkan praktek ekonomi yang tidak sehat. Para investor besar mendesak para CEO untuk menuai keuntungan super besar dalam jangka pendek, untuk itu para CEO akan diberi bonus hingga pendapatan mereka bisa mencapai ratusan juta dollar. Siapa yang tidak tertarik dengan tawaran ini? Maka terciptalah berbagai macam produk finansial yang pada akhirnya menjadi senjata makan tuan.
Mari kita lihat lebih mendetil bagaimana proses deregulasi ini digulirkan. Perbuatan utama yang perlu dilakukan tentunya membatalkan rergulasi. Tercatat dalam sejarah AS bahwa deregulasi yang sangat kontroversial adalah tindakan Presiden Nixon pada awal tahun 1971 dengan membatalkan cadangan emas sebagai patokan nilai dollar AS. Momentum ini agaknya menjadi inspirasi bagi deregulasi berikutnya.
Deregulasi yang diduga langsung berkaitan dengan krisis ekonomi sekarang adalah pemberlakuan Gramm-Leach-Bliley Act pada tahun 1999. Senator Phil Gramm yang menjadi Kepala Penasihat Ekonomi calon Presiden McCain sekarang adalah pemerakarsanya. Intinya ketetapan ini menderegulasi banking industry dan mengijinkan bank untuk untuk merger dengan perusahaan security. Hal ini otomatis membatalkan Glass-Steagall Act tahun 1933 yang memisahkan commercial dan investment banking.
Setelah itu, Gramm berhasil menggoalkan amendment yang mengijinkan bank dan broker melakukan trading mortgage seperti trading stock dan bond. Degergulasi jenis ini menyebabkan terjadinya trading sub-prime mortgage yang menjadi penyebab utama krisi ekonomi sekarang.
Pada tahun 2002, Presiden Bush mempropagandakan agenda “ownership society” yang menyatakan bahwa masyarakat berpendapatan terendah sekalipun seharusnya mampu memiliki rumah.
Ide Gramm dan Bush tidak akan berkembang menjadi bubble dan meletus jika mereka tidak didukung dengan tindakan Alan Greenspan, seorang ekonom dan Chairman dari the Federal Reserve dari tahun 1987 sampai 2006.
Setelah 9/11 tahun 2001, the Federal Open Market Committee, di mana Greenspan sebagai ketuanya, memveto mengurangi suku bunga dari 3,5% to 3,0%. Kemudian, setelah Accounting Scandals tahun 2002 yang melibatkan Enron, Federal Reserve menurunkan suku bunga lagi menjadi 1,0%.
Tindakan Greenspan ini oleh Ekonom Pemenang Nobel Prize Joseph E. Stiglitz – yang pandangannya sering bertentangan dengan Milton Friedman – dinilai sebagai penyumbang besar dalam krisis ekonomi sekarang. Stiglitz mengatakan, “didn’t really believe in regulation; when the excesses of the financial system were noted, [he and others] called for self-regulation—an oxymoron.”
Selain Greenspan, Richard Syron (Chairman dan Chief Executive Freddie Mac atau Federal Home Loan Mortgage Corporation) dan David Taiclet (CEO dari Fannie May atau Federal National Mortgage Association) juga diyakini sebagai dalang krisis ini. Kedua institusi keuangan ini memfasilitasi liquiditas pasar mortgage dengan memastikan bahwa dana selalu tersedia untuk badan yang akan meminjamkan uang kepada pembeli rumah.
Sangat tidaklah mungkin bahwa mereka tidak mengetahui bahwa dana yang dikucurkan tersebut adalah untuk sebagian peminjam yang sebenarnya tidak legitimate. Walaupun demikian dana terus mengalir yang totalnya berjumlah $5,3 trillion, hampir setengah dari keseluruhan pasar mortgage di AS yang berjumlah $12 trillion.
Pada saat yang bersamaan pendapat kedua CEO ini sangat besar. Securities and Exchange Commission melaporkan bahwa Richard Syron seorang diri saja mengantongi hampir $19,8 juta tahun lalu walaupun harga stok perusahaanya telah turun 50%.
Di institusi finansial lain, Joe Cassano yang berada dibelakang Financial Products Unit AIG (American International Group, Inc) mengasuransikan sub-prime mortgage yang beresiko tinggi dan Credit Default Swap (CDS). CDS adalah produk derivative yang merupakan perjanjian antara dua pihak di mana “pembeli” membayar secara periodic kepada “penjual” sebesar harga di mana diperhitungkan pembayaran tuntas apabila terjadi default atau ketidakmampuan membayar dalam hubunganannya dengan entitas ketiga. Singkatnya, karena ulahnya, Cassano menjadi orang yang paling bertanggung jawab terhadap keruntuhan AIG.
Tahukan anda berapa gaji dan bonus orang yang mempunyai andil dalam keruntuhan AIG ini? Cassano telah mengeruk $280 juta sejak tahun 2000. Sekitar $35 juta per tahun.
Tamparan yang lebih hebat lagi untuk perekonomian AS adalah berita yang dibawa oleh Richard Fuld, CEO Lehman Brothers. Pada tanggal 15 November 2008, Fuld mengumumkan berita kebangkrutan terbesar dalam sejarah AS. Kebangkrutan tejadi karena perusahaan yang menjual produk financial services, investment banking dan investment management ini memegang terlalu banyak subprime dan mortgage lainnya yang mempunyai bunga rendah. Selain itu, perusahaan ini diduga terlibat dalam tansaksi Credit Default Swaps yang nilainya mencapai ratusan miliar dollar.
Dalam kuarter kedua tahun 2008, dilaporkan bahwa Lehman rugi $2,8 miliar dan terpaksa menjual $6 miliar asetnya. Dalam setengah tahun petama di tahun 2008 harga stoknya menurun sebanyak 73%.
Pada 6 Okober, 2008, pada saat Richard Fuld memberikan kesaksian di depan Kongress, Representative Waxman bilang bahwa Fuld mengantongi hampir $500 juta sejak tahun 2000, sambil memimpin Leman ke arah kebangkrutan.
Waxman berkata pada Fuld, “My question is a simple one. Is this fair?” Fuld menerangkan bahwa ia tidak dibayar semuanya dengan uang tunai. Ia menerima options dan incentives lainnya yang tidak ada harganya lagi setelah perusahaannya bangkrut.
Hal lain yang patut didiskusikan bahwa selain institusi keuangan, industri real estate juga mempunyai andil dalam menciptakan krisi ekonomi ini. Contohnya adalah perusahan developer (di AS disebut builder) ke sembilan terbesar di AS, Beazer Homes USA Inc. dengan CEO Ian McCarthy. Untuk mengejar keuntungan maha besar yang revenue-nya mencapai hampir $5 miliar, perusahaan ini telah melanggar federal law, termasuk pemalsuan data para pembeli rumah supaya kredit mereka bisa dikabulkan oleh bank.
Karena revenue yang besar itulah maka, McCarthy mengantongi sebanyak sebanyak $29,6 juta pada tahun 2006. Pada tahun 2007, pendapatannya menurun 75%. Hal ini disebabkan di antaranya manurunnya pendapatan perusahaan dan perbuatan kriminalnya, sehingga ia “hanya” menerima $7,5 juta.
Ada sebagian yang berpendapat bahwa krisis ekonomi seperti ini mestinya tidak terjadi jika Charles Christopher Cox sebagai Chairman dari U.S. Securities and Exchange Commission (SEC) mengambil inisiatif perbaikan dan tindakan tegas terhadap para pelaku pasar yang jelas tidak etis dan menyebabkan krisis ekonomi. Karena sikapnya yang masa bodoh itu, pada 8 September 2008, calon presiden John McCain berkata, “The chairman of the SEC serves at the appointment of the president and, in my view, has betrayed the public’s trust,” Ia menambahkan “If I were president today, I would fire him.”
Sebenarnya apakah ada pihak lain yang mencoba memberi masukan dan ingin mencegah terjadinya krisi ekonomi ini? Jawabannya ada. Sebagai contohnya Attorney General dari 50 negara bagian pernah menuntut untuk memberhentikan subprime lending, terutama subprime mortgage. Tetapi tuntutan ini dikalahkan oleh George Bush dengan mendayagunakan the Office of the Comptroller of the Currency (OCC) dan membatasi hak dari negara bagian untuk menuntut pemberlakuan Lending Law.
Ke tingkat mikro, bagaimanakah begitu banyak masyarakat AS terjebak dalam subprime mortgage yang menjadi salah satu penyebab utama krisis ekonomi?
Singkatnya, subprime mortgage dapat diartikan sebagai kredit pemilikan rumah yang beresiko tinggi. Jika seseorang memiliki subprime mortgage berarti orang itu akan mengalami kesulitan untuk membayar cicilan bulannya pada pihak yang memberi pinjaman atau lender yang umumnya adalah bank.
Seperti apakah bentuk subprime mortgage itu? Jika anda pernah membaca kontrak jual beli rumah secara kredit di AS maka anda akan menemukan salah satu dari kedua istilah ini, yaitu istilah ARM atau Adjustable-Rate Mortgage dan 30 Year Fix Rate.
Umumnya ARM mengandung resiko yang lebih tinggi karena suku bunga bisa berubah setelah dalam jangka waktu tertentu dan kebanyakan pembeli rumah hanya melakukan pembayar bunga saja setiap bulannya. Sedangkan 30 Year Fix Rate menawarkan pada pembeli rumah untuk melakukan cicilan, termasuk bunga dan principle, dengan suatu jumlah uang yang tetap dan dalam waktu 30 tahun maka rumah itu akan lunas.
Keuntungannya pada ARM bahwa pada mulanya dan umumnya ia menawarkan cicilan yang lebih murah dari 30 Year Fix Rate. Biasanya, jangka waktu ARM mulai dari 6 bulan sampai 12 tahun ARM. Artinya sesuai dengan kontrak, suku bunga tidak akan mengalami perubahan dalam waktu tertentu. Setelah itu suku bunganya akan disesuaikan dengan keadaan pasar. Kebanyak yang terjadi adalah kenaikan suku bunga yang cukup tinggi, yang juga berarti kenaikan cicilan bulanan bagi pembeli rumah. Di sinilah letak masalah utama bagi para pembeli rumah, terutama mereka yang pendapatannya hanya cukup untuk membayar cicilan pada periode pemula.
Ternyata penawaran dari pihak yang meminjamkan uang untuk kepemilikan rumah ini semakin mengiurkan. Satu produk baru yang dikenal dengan Option ARM memberikan alternatif pada pembeli rumah untuk membayar cicilan bulanan rumah jauh lebih rendah dari seharusnya. Dalam Option ARM terdapat satu pilihan yang dinamakan Negative Amortization, yaitu pembeli bisa mencicil lebih kecil dari harga interest only. Sebutlah cicilan mereka dalam program ARM sebesar $2.000/bulan. Dalam program Negative Amortization ini mereka bisa mencicil dengan $1.500/bulan.
Lalu kemana selisihnya yang berjumlah $500? Selisih ini akan ditambahkan ke principle utang sehingga utangnya setiap bulan akan bertambah $500.
Apa kriteria seseorang untuk mendapatkan kredit pemilikan rumah dari lender di AS? Paling tidak ada dua criteria yaitu Credit Score (CS), dan rasio utang dan besarnya pendapatan seseorang. Tentu saja masih ada faktor lain seperti pemilikan kartu kredit, dan rasio jumlah credit line dan kredit yang dipakai. CS ditentukan oleh tiga badan yang bernama TransUnion, Experian dan Equifax yang dasar utamanya berpatokan pada tingkah laku pembayaran seseorang atas utang.
Kebalikan dengan anggapan umum mengenai CS. Sebenarnya, semakin banyak utang dan semakin lancar seseorang membayar utangya maka CS-nya akan naik. CS berkisar antara 310 – 840. Nilai 620 kebawah disebut poor, 620 – 659 fair, 660 – 749 good dan 750 – 840 excellent. Nilai fair pada saat itu sudah cukup bagi seseorang untuk membeli rumah secara kredit.
Rasio utang dan besarnya pendapatan seseorang pada umumnya dilihat dari pay check, bank statement dan dokumen pembayaran pajak yang dibandingkan dengan data dari CS. Tetapi dengan program baru, seseorang tidak harus menggunakan ketiga dokumen untuk membuktikan besarnya pendapatannya, ia cukup memberikan surat atau stated income yang menyatakan berapa pendapatannya.
Selain itu, dalam program kredit pemilikan rumah pada saat itu, seseorang juga tidak perlu membayar uang muka dan bahkan tidak perlu membayar uang closing, seperti biaya escrow (seperti pengurusan balik nama dan pengcekan keabsahan dokumen), notaris dan komisi realtor yang biasanya membutuhkan puluhan sampai ratusan ribu dollar, tergantung dari harga rumahnya. Hal ini dimungkinkan karena koloborasi antara broker, appraiser, realtor dan bank.
Broker dan realtor bekerja sama untuk menunjuk appraiser supaya memberikan penilaian harga rumah di atas harga jual, sehingga bank bisa menggucurkan dana berdasarkan nilai yang di-appraise yang bisa mencapai lebih 110 persen dari harga beli. Kelebihan nilai appraisal ini akan digunakan untuk biaya closing. Dengan demikian pembeli rumah hanya membayar cicilan bulan pertama.
System appraisal yang menambahkan harga rumah menjadi lebih tinggi dari sebenarnya, pada akhirnya menciptakan nilai baru yang lebih tinggi, bukan hanya terhadap rumah yang di-appraise tetapi juga terhadap rumah di sekitarnya.
Akibat koloborasi seperti di ataslah maka sekarang paling sedikit terdapat 12 juta keluarga di AS yang mempunyai utang lebih besar dari harga rumah sebenarnya. Mereka sedang terancam tidak mampu bayar cicilan bulanan. Jika keadaan ini tidak ditemukan jalan keluarnya maka perekonomian AS yang sudah tertatih-tatih akan terpuruk. Akankah $700 milliar bailout pemerintah membantu menyelesaikan masalah ini?
Benarkah American Dream terkubur besama dengan krisis ekonomi? Agaknya untuk 12 juta keluarga tersebut, sementara ini harus menerima kenyataan pahit.
Di sisi lain, untuk jutaan keluarga yang lain, inilah kesempatan mereka untuk merealisasikan American Dream mereka dengan cara memiliki rumah yang lebih terjangkau dan realistis. Paling tidak – seperti pepatah Amerika – “There is a silver lining in the cloud” bagi mereka. Alasannya bukan hanya mengenai kepemilikan rumah, tetapi serangkain program perubahan perbaikan sedang dan telah digulirkan oleh pemerintah AS.
______
Dr. Beni Bevly adalah penulis buku Managing For Profit Organizations in the Flatter World. Ia bisa dijumpai di www.overseasthinktankforindonesia.com. Artikel ini diterbitkan oleh Majalah Duit.
INDONESIA’S IMMIGRATION RULES HOLD BACK ECONOMIC DEVELOPMENT

Image source: ilowirawan.wordpress.com
By Evan Jones
It is unfortunate that the Von Heydebreck-Stricker family’s unhappy experience with Padang Immigration last month (JP 21 Jan 2008 – where they were forced into pay Rp1.6 million in questionable overstay fines), is an incident that happens all too often.
Indonesia’s immigration policies are based on outdated laws originally designed to protect Indonesia’s workers from job-stealing foreigners. In today’s reality, the immigration system has been distorted into a cash cow for those that manage it.
The real cost of this inability of the nation’s civil service to reform itself is seen in the nation’s weak economic performance, by the lack of confidence of business to invest in wealth producing industries – of which the ailing tourism sector is only one.
While today’s immigration rules cost the nation billions of dollars in lost business, our near neighbours earn cash windfalls from unwitting (and unwilling) visa-run tourists.
For example, every foreigner’s application for a KITAS (Resident Stay Permit) must be made at an Indonesian Embassy outside the country. So scores of foreigners board daily flights to Singapore and Kuala Lumpur to apply for, or to renew their visas.
To avoid days standing in consulate queues, many prefer to use local “visa brokers” whose inside embassy contacts speed up the multi day process.
How big is this business? Take Mr Tan, whose Singapore agency has made a handsome living off this archaic visa process for over 35 years. He started back in the early 70′s, at a folding table outside the old Indonesian Embassy on Orchard Road. Nowadays, his sleek office has a
staff of seven, he drives a new Mercedes, he has a country house in Australia and his lucrative business enabled him educate his children at British universities. Multiply Mr Tan by several dozen and you get an idea of how big this business is.
The opportunities to gouge cash from immigration “services” reaches all the way to Ambassadorial level. Former Indonesian ambassador to Malaysia Hadi A. Wajarabi is facing accusations that he misappropriated a whopping USD2.6 million in visa fees during his term
in Kuala Lumpur.
But a few million dollars in embezzled visa fee revenues misses a larger point. Hard-to-comply-with visa regulations have prevented entire industries from setting up shop in Indonesia.
A classic example exists in ship repair, where global shipyards have set up branch yards in Indonesia, a competitive place to carry out low value metal bashing. But the big ticket value of a modern ship is in the machinery and electronics. This business stays in Singapore and
Malaysia because the cost (and risk of arbitrary arrest) of mobilising specialist foreign technicians within Indonesia is not worth the trouble.
While it is hard to measure lost opportunities in industry, we can more easily see the losses caused by the 2004 Visa On Arrival rules. Of the 40 million tourists who visit Asean each year, a mere 5 million visit Indonesia. Tuk Tuk Lake Toba, for example, is now a ghost town. A dozen world class golf courses in Batam and Bintan struggle to stay solvent as pre 2003 annual arrivals of 1.6 million lie stagnant at under 900,000.
One can measure a country’s level of development by the ease with which it’s residents can understand and comply with government regulations. Indeed, there is a trend is for governments everywhere to improve public service standards – for government departments to
(publicly) benchmark their own service performance.
But Indonesia’s immigration rules are moving in the opposite direction. There are more and more rules and the newest regulations are even harder to understand and comply with, than the old ones. The Von Heydebreck-Stricker family’s recent experience is an example of this trend.
In the past decade, the many calls to reform Immigration’s antiquated rules were sidetracked by vested interests who don’t want to see the Department of Justice and Human Rights lose this cash-bearing Immigration cow.
Mr. Sofyan Wanandi, head of the Indonesian Business Association, explained the difficulty of implementing reform at last week’s APEC Business Advisory Council (ABAC) APEC meeting. “Too many sectorial interests, including civil servants with unclear motives, obstruct efforts,” he explained.
Sofyan thinks the solution to reform lies in giving the reform job to well paid highly professional talent and keeping it away from the hands of bureaucrats.
Ten years ago the term “reformasi” was a popular catchcry. Could a review of how well today’s Indonesia’s civil service serves it’s public, explain why the word has fallen into disuse?
_____
Evan Jones is an Australian business analyst, 30 years in SE Asia.
DELAPAN KECENDERUNGAN UTAMA DI INDONESIA 2008
[Baca langsung di Sinar Harapan. Download file PDF Delapan Kecenderungan Utama di Indonesia 2008 (Sinar Harapan)].
Oleh Beni Bevly
Pada tahun 2008, terlihat ada delapan kecenderungan utama yang akan terjadi di Indonesia. Ada yang menjanjikan, tetapi lebih banyak yang negatif. Berikut delapan kecenderungan tersebut.
Pertama, meningkatnya kebebasan berbicara dan mengeluarkan pendapat. Kebebasan bukanlah hal yang aneh lagi sejak bergulirnya reformasi, tetapi hal ini akan lebih meningkat pada tahun 2008. Mengapa? Karena kaum minoritas–yang selama ini tidak banyak bersuara–akan bersuara lebih lantang.
Kaum minoritas semakin mendapat dorongan yang kuat untuk bersuara karena beberapa prakondisi yang terjadi, seperti issue pencabutan Ketetapan MPR dan Peraturan Pemerintah seperti mengenai Marxis-Leninisme dan pelarangan pemakaian karakter Tionghoa.
Prakondisi yang lain adalah pemberlakuan undang-undang baru seperti Undang-Undang Kewarganergaraan Indonesia yang lebih menyetarakan orang Tionghoa dalam kehidupan negara. Yang juga akan semakin menyulut kebebasan berbicara adalah persaingan yang sudah dimulai menyongsong pemilihan umum 2009. Semua kelompok akan berusaha lebih keras untuk saling mempengaruhi dalam rangka memperbanyak pengikut.
Kedua, tingkat kekerasan dan intoleransi akan semakin tinggi, berulang kali dan memakan korban jiwa. Kekerasan ini bukan hanya terjadi secara vertikal, yaitu konflik negara dan rakyat, dan secara horizontal, yaitu konflik antara kelompok masyarakat, tetapi juga terjadi dengan cara kombinasi konflik vertikal dan horizontal. Agaknya, konflik dan intoleransi akan dipakai lagi untuk memperebutkan kursi kepresidenan pada 2009. Yang menjadi pertanyaan adalah berapa besar skalanya.
Pasar Bebas
Ketiga, berkurangnya “perlindungan” negara terhadap minoritas. Sejak berguliranya isu reformasi dan demokrasi, perlindungan tidak otomatis bisa didapatkan lebih mudah. Bahkan beberapa tahun terakhir ini memperlihatkan gejala berkurangnya perlindungan dari pemerintah. Salah satu sebabnya adalah penafsiran yang salah dari arti reformasi dan demokrasi.
Demokrasi ditafsirkan sebagai kekuatan pasar bebas, pasar yang menentukan. Hal ini secara jelas dikatakan oleh Sudjadnan Parnohadiningrat, Duta Besar Indonesia untuk AS awal tahun 2007 di hadapan masyarakat Amerika dan Indonesia di San Francisco. Ketika ada seorang bertanya, “How does Indonesian government handle Muslim fundamentalists movement who want to have Syariah Law as the legal foundation of the nation? E.g.: FPI demanded to close down Christian School,” ia menjawab, “Let the free market determines it.”
Keempat, kecenderungan peningkatan paham kedaerahan, golongan dan agama. Pada sisi tertentu pemisahan Timor-Timur dari Indonesia bisa dilihat sebagai pelopor dari kecenderungan ini. Hal ini kemudian diikuti oleh Aceh dengan menerapkan Hukum Syariah.
Wilayah lain seperti Irian Jaya yang telah mendapatkan nama Papua, sebagian penduduknya tetap tidak mengidentifikasikan dirinya sebagai orang Indonesia. Sebagian masyarakat Sulawesi, Maluku dan Ambon, setelah perang saudara, melihat dirinya sebagai masyarakat yang terpisah dari keseluruhan sistem kenegaraan di Indonesia.
Masih banyak masyarakat Indonesia yang baru mengenal bahasa Indonesia ketika duduk di bangku sekolah. Mereka mengidentifikasikan diri lebih dekat terhadap suku dan daerahnya. Ini diperkuat dengan penerapan sistem desentralisasi yang membuat para pejabat daerah lebih mementingkan wilayah mereka sendiri.
Kelima, jurang perbedaan sosial ekonomi semakin menajam. Indikasi pembangunan ekonomi Indonesia menunjukkan GDP-nya bisa mencapai 7% pada tahun 2008, inflasi dalam kondisi terkontrol, yaitu sekitar 6%, dan investasi naik 145% dari tahun 2006. Survey majalah Forbes pada tahun akhir 2007 mencerminkan bagaimana para konglomerat semakin kaya.
Di satu pihak hal ini mencerminkan kemajuan dan perbaikan ekonomi Indonesia secara keseluruhan. Di lain pihak, ternyata pengangguran dan kemiskinan semakin bertambah. Data dari Februari 2005 sampai Maret 2006, menunjukkan angka kemiskinan naik dari 16.0% ke 17.8%.
Angka penganguran menunjukkan kenaikan yang persisten, yaitu dimulai dari tahun 2004 dengan 8.70 %, menjadi 9.20% pada 2005, 11.80% di 2006, dan diperkirakan 12.50% pada tahun 2007. Ini menunjukkan bahwa perbedaan sosial ekonomi semakin menajam.
Mengambil Alih Kepemimpinan
Keenam, eksploitasi dan perusakan sumber daya alam yang semakin tak terkendali. Beberapa dekade terakhir ini sumberdaya alam diperas tanpa ada pertanggungjawaban dan hasilnya lebih banyak dipergunakan untuk kemakmuran sekelompok kecil orang.
Dari negara pengekspor minyak, kini Indonesia dikhawatirkan akan habis minyak buminya dalam waktu kurang dari 30 tahun dan belum ditemukan jalan keluarnya. Kebanyakan rakyat juga tidak menjadi lebih makmur.
Ketujuh, internasionalisasi akan pemilikan perusahaan swasta dan pemerintah. Anjloknya perekonomian Indonesia yang dimulai tahun 1997 ternyata menyebabkan campur tangan asing (baca: IMF) tidak bisa dihindari. Dengan alasan rasionalisasi dan efisiensi, maka baik perusahaan negara dan swasta dijual dengan undervalue.
Penjualan ini tidak berhenti dengan membaiknya perekonomian Indonesia. Mengapa? Selain nilai tukar dolar AS yang dinilai menguntungkan jika menjual perusahaan, ternyata ada pihak perantara atau calo mendapatkan bagian yang sangat besar dalam transaksi ini.
Ada yang menduga bahwa para calo ini adalah para intelektual dan praktisi ekonomi hitam yang menampilkan data bahwa pembeli dan penjual perusahaan di Indonesia akan sama sama untung.
Kedelapan, gerakan perlawanan kaum muda terhadap pemerintah semakin intens. Kaum muda yang rata-rata di bawah dan berusia 45 semakin berani bersuara. Mereka membentuk LSM dan bersatu menuntut agar pemerintah bertindak lebih banyak untuk kemakmuran rakyat. Ada kecenderungan untuk mengambil alih kepemimpinan dengan perlawanan nonfisik seperti melalui petisi dan deklarasi. Contoh: perlawanan yang dilakukan oleh para pemuda pada tanggal 28 Oktober 2007 di Gedung Arsip Nasional, Jakarta yang memproklamirkan Ikrar Kaum Muda. Dalam ikrar ini, mereka menuntut pemerintah untuk mundur dan mereka yang akan maju untuk memimpin.
Mengapa kedelapan kecenderungan utama ini bisa terjadi dan bagaimana mengatasinya? Ini terjadi karena banyaknya pihak yang memperebutkan kekuasaan dan mengumpulkan kekayaan secara berlebihan dan dengan menghindari jeratan hukum dan mengabaikan moral kemanusiaan. Reformasi dan demokrasi disalahartikan sebagai boleh berbuat sebebas-bebasnya dan semua-maunya, lalu ini dieksploitasi untuk berbuat kejahatan.
Jalan keluar secara tradisional adalah melengkapi, memperkuat badan hukum dan menegakkan hukum. Jangka-panjangnya adalah melalui pendidikan sejak dini dengan materi yang tepat seperti menanamkan pengertian bagaimana korupsi bisa terjadi, korupsi adalah hal yang tidak baik, bagaimana untuk tidak terlibat dan memeranginya.
Penulis adalah pengamat masalah sosial, politik dan ekonomi Indonesia. Alumnus Jurusan Ilmu Politik FISIP-UI, doktor dalam bidang Perilaku Organisasi. Tinggal di San Francisco, AS.
(Catatan: Artikel ini dipost kembali dengan revisi)
“KANIBALISME” DI INDONESIA

Sumber gambar: http://apod.nasa.gov
Oleh Beni Bevly
Di waktu kecilku, aku pernah piara ikan hias, tetapi ikan yang aku ternak itu tidak sebesar dan sebanyak ikan temanku padahal aku sudah memberi makan yang ukurannya sama dan menjaga kesehatan airnya. Tetapi tetap saja, tumbuhnya lebih lambat dan masih ada yang mati. Lalu temanku mengsusulkan supaya aku membuat bak ikan yang lebih besar. Menurutnya, di dalam bak yang besar, ikan akan berkembang biak lebih banyak dan tumbuh lebih sehat.
Temanku menambahkan keterangannya dengan gaya professional, “Di bak yang kecil, ikan sulit berkembang biak dan tumbuh menjadi besar. Pertama, tempat yang terbatas dan padat dengan ikan-ikan lain membuat ikan tersebut sulit bergerak dengan leluasa. Kedua, ada kecenderungan ‘makan teman,’ ikan yang lebih kecil dan lemah menjadi santapan bagi ikan yang lebih kuat dan besar.”
Kayaknya kondisi di Indonesia, dengan jumlah penduduk ke empat terbesar di dunia, setelah Cina, India dan Amerika, sama seperti ikan di bak kecil di atas. Bahkan lebih parah lagi, air ikan di bak itu tidak terpelihara dengan baik. Ini terjadi bukan karena bak ikan yang kecil secara fisik, tetapi penduduk Indonesia dalam jumlah yang besar cenderung berkumpul pada satu sudut kecil. Al Gore (2006, p. 230-231) dalam buku dan DVD-nya yang terkenal An Inconvinience Truth: The Planet Emergency of Global Warming and What We Can Do About It menampilkan foto dunia pada malam hari yang diambil dengan satelit. Foto tersebut menunjukkan bahwa cahaya lampu listrik di wilayah Indonesia hanya terkonsentrasi di Jawa dan Bali, sedangkan di negara-negara lain seperti Jepang, Eropa dan Amerika Serikat cahaya lampunya merata di seluruh penjuru negara.
Paling tidak foto ini mendakan dua hal, yaitu penyebaran penduduk dan pembangunan yang tidak merata. Jelas bahwa penduduk Indonesia mayoritas (60 persen dari 215 juta penduduk) terkonsentrasi di Jawa dan Bali, begitu pula pembangunannya.
Lebih spesifik, di Jakarta yang jumlah penduduknya 20 juta jiwa, hampir 10% dari jumlah keseluruh penduduk Indonesia. Sebagai perbandingan tentang jumlah penduduk, di San Francisco, kota pusat technology komputer dunia, jumlah pendudunya kurang dari 1 juta jiwa (0.3% dari 300.000.000 jumlah penduduk A.S.). Di Los Angeles pusat perfilman film dunia, penduduknya kurang dari 4 juta (1.3%). Di New York, pusat perdagangan dunia, hanya kurang dari 9 juta (3%). Penyebaran penduduk di Amerika yang jauh lebih merata dibandingkan dengan Indonesia terjadi karena pembangunannya yang merata. Di setiap daerah pelosok, baik itu daerah pertanian, pertambangan dan perternakan, pasti ada sambungan telepon (termasuk jaringan internet), listrik dan jalan beraspal.
Sebagai gambaran, suatu hari aku ingin menyaksikan secara langsung kondisi pertanian Central Valley yang dibanggakan pemerintahan oleh lokal California di Amerika. Setelah kurang lebih tiga jam mengendarai dari San Francisco, terbentanglah perkebunan yang luas seperti kebun anggur, jeruk, strawberry dan lain-lain. Yang sangat mengagumkan, walaupun daerah itu sepi – aku tidak menemukan mobil lain selain mobil yang aku setir di jalan – tetapi tetap tersedia banyak jalan dua jalur beraspal yang membagi daerah pertanian menjadi petak-petak besar. Di setiap perempatan dipasang lampu listrik dan terlihat sistem pengairan. Di samping setiap jalan diikuti oleh kabel telepon. Kondisi jalannya terawat baik tidak di temukan lubang dan genangan air becek di jalan.
Kembali ke Indonesia, khususnya di Jakarta. Akibat kepadatan yang tidak terkendali ini dan ditambah dengan kemerosotan moral, maka kehidupan di Jakarta hampir tidak bedanya dengan ikan-ikan hias di bak kecil itu, tempat untuk berkembang banyak yang tercemar, dan “kanibalisme” pun terjadi. Kanibalisme ini terjadi dalam bentuk yang paling halus, seperti main serong, penipuan, perampokan, korupsi dan sampai pembunuhan massal seperti dalam peristiwa dalam Mei 1998. Keadaan ini tidak hanya terjadi di Jakarta, tetapi juga meluas di kota lain. Tidak hanya terjadi terhadap etnis tertentu, tetapi juga meluas pada suku, golongan dan kelompok agama lain.
Pernahkan kita bertanya, mengapa kepadatnya dan kesumpekan kehidupan di kota-kota besar di Indonesia bahkan melebihi di AS? Jawabannya adalah pertanyaan yang lain, siapa yang mau hidup di tempat yang fasilitas/sarana dan prasarananya tidak memadai, seperti jalan aspal, kendaraan, listrik, air bersih, kesehatan dan mata pencaharian? Walaupun ada program transmigrasi, tetapi banyak para transmigran itu keluar dari daerahnya dan bertempat tinggal di ibu kota propinsi atau pulang lagi ke pulau Jawa. Intinya adalah pembangunan yang prasarana, yaitu jalan, listrik dan pengairan yang tidak merata, sehingga menghambat pembangunan lainnya.
Hal lain yang patut dipertanyakan, apakah benar bahwa pinjaman luar negeri yang kayaknya telah menjadi utang permanen Indonesia yang berjumlah US$176.38 miliar (pinjaman pemerintah US$ 125,25 ditambah pinjaman swasta US$ 51,13 miliar pada Desember 2006, Wikipedia) tidak cukup untuk membangun prasarana itu?
_____
*Beni Bevly holds BA in Political Science, MBA in Marketing, and is a DBA (Doctor of Business Administration) candidate. He is the founder of Overseas Think Tank for Indonesia.








