Overseas Think Tank for Indonesia

facilitating intellectuals to contribute to indonesia

Archive for the ‘Education’ Category

WHEN A SOCIETY IS TOO DULL: Cho Seung-Hui’s Case

with 30 comments

Cho Seung Hui

By Beni Bevly
Normally, I only write the topic that relates to Indonesia, however I could not resist to discuss Cho Seung-Hui’s case. After all, I realized that this tragedy (Cho Seung-Hui’s case) can happen anywhere, especially in diverse countries such as in the United States and Indonesia. Beside that, as Indonesians, we can learn from this tragedy.

This tragedy took place on Monday, 4/16/2007 at Virginia Tech or Virginia Polytechnic Institute and State University in Blacksburg, Virginia, USA. Cho Seung-Hui, 23 years old shot 32 people to death and committed suicide in the deadliest one-man shooting rampage in modern U.S. history (Matt Apuzzo, Va. Tech Shooter was Laughed at, Yahoo! News, 4/19/2007). The reasons, according to Cho who sent his message to NBC, were to persecute and rant about rich kids. To achieve these goals why did Cho have to kill his classmates and then killed himself?

Now there are many analysts out there who are mentioning why Cho did such as thing, including an analysis that mentioning Cho was mentally ill. Regardless of what the analysts say, is Cho’s action something to do with social jealousy or American society overall?

Cho Seung-Hui came to the U.S. at about age 8 in 1992 and whose parents work at a dry cleaners in suburban Washington. He was a shy and quite boy. He did not speak a lot. There were several occasions at Westfield High School in Chantilly, Virginia where he went to, he was picked on.

Chris Davids, one of students at Virginia Tech and graduated from Westfield High School with Cho in 2003, recalled that Cho almost never opened his mouth and would ignore attempts to strike up a conversation.

Once, in English class, the teacher had the students read aloud, and when it was Cho’s turn, he just looked down in silence, Davids recalled. Finally, after the teacher threatened him with an F for participation, Cho started to read in a strange, deep voice that sounded “like he had something in his mouth,” Davids said.

Other source said that there were just some people who were really mean to him and they would push him down and laugh at him. He didn’t speak English really well and they would really make fun of him.

Behind Cho’s silence, it grew burning vengeance that he has to carry out. In a package that he sent to NBC on Wednesday, 4/18/2007 containing a rambling and often incoherent 23-page written statement from Cho, 28 video clips and 43 photos — many of them showing Cho, in a military-style vest and backward baseball cap, brandishing handguns, he mentioned, “You had a hundred billion chances and ways to have avoided today, but you decided to spill my blood. You forced me into a corner and gave me only one option. The decision was yours. Now you have blood on your hands that will never wash off.”

“Your Mercedes wasn’t enough, you brats. Your golden necklaces weren’t enough, you snobs. Your trust funds wasn’t enough. Your vodka and cognac wasn’t enough. All your debaucheries weren’t enough. Those weren’t enough to fulfill your hedonistic needs. You had everything.”

Finally, with his anger, he carried out his vengeance by killing 32 Virgin Tech students and himself. It seems that Cho Seung-Hui has accumulated his anger for years. He also was also trapped in a condition where there was nobody he could trust and talk to. In this case, the society to him was a pressure. It pressed him to a limit where he could not escape, unless with his vengeance.

I do not want to try to be an expert in this case. However, as an immigrant and from immigrant point of view, some times you find the fact that America is not the land of hope and the society is too dull to be your friend, even your parents and love one do not understand you. This situation could create tremendous frustration. For some people, they will find positive ways to overcome, for other, ending life is the only option. I hope Cho Seung-Hui’s case will not be a model and emulated by others.

_____
*Beni Bevly holds BA in Political Science, MBA in Marketing, and is a DBA (Doctor of Business Administration) candidate. He is the founder of Overseas Think Tank for Indonesia.

Written by Beni Bevly

April 19th, 2007 at 1:55 pm

TERLALU KOMPREHENSIF

with 32 comments

hard_back_books

Oleh Beni Bevly
Tahapan kuliah yang terasa paling sulit adalah ketika seorang mahasiswa harus menyelesaikan skripsi. Dalam tahap ini, kemampuan nalar dan menulis, serta kerja sama dengan dosen menjadi kunci utama suksesnya suatu skripsi. Dalam tahap ini pula sering ditemui hal yang tak terduga.

Sebagai mahasiswa angkatan 1987 jurusan Ilmu Politik, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), Universitas Indonesia (UI), aku menyelesaikan semua mata kuliahku kurang dari 4 tahun. Hal ini terhitung cepat. Maka tibalah saatnya bagiku untuk menyusun skripsi. Topik yang aku sukai adalah masalah politik komunisme di Republik Rakyat Cina sejak tahun 1920an sampai tahun 1970an yang minitikberatkan perkembangan Khun Chun Tang (partai komunis) dibawah Mao Zedong sampai keberhasilan Deng Xiaoping menduduki kursi kekuasaan. Untuk itu aku minta dua orang dosen pembimbing ahli Sinology (ilmu mengenai Cina) masing-masing dari FISIP dan Fakultas Sastra UI.

Aku mulai membuat proposal yang kalau disetujui oleh dosen pembimbing maka proposal ini akan menjadi Bab I, Pendahuluan skripsiku. Proposal yang tebalnya sekitar 40 halaman ini dikeritik dan dikembalikan ke aku oleh dosen pembimbing dari FISIP dengan beberapa komentar. Sedangkan pembimbing dari Fakultas Sastra tidak melihat adanya masalah pada proposalku. Tarik-ulur antara aku dan pembimbingku ini terjadi sekitar emam bulan. Berarapa koreksi aku lakukan. Akhirnya pembimbing dari FISIP bilang ke aku, “Aku menyerah dan mengundurkan diri sebagai pembimbingmu. Skripsi kamu terlalu komprehensif.”

Setelah mengambil cuti panjang, aku meneruskan skripsiku dengan topik politik Apartheid di Afrika Selatan dan memilih dosen pembimbing yang lain. Skripsi itu selesai dalam waktu 4 bulan.

Pengunduran diri dari dosen pembimbing pertamaku, menurutku sedikit banyak berhubungan dengan Avoidance Culture. RA Cooke dan JL Szumal dalam Measuring Normative Beliefs and Shared Behavior Expectations in Organizations: The Reliability and Validility of the Organizational Culture Inventory, Psychological Reports, 1993 mengatakan bahwa Avoidance Culture adalah bebiasaan anggota organisasi atau masyarakat untuk mengalihkan tanggungjawab ke pihak lain dan menghindari kemungkinan disalahkan karena kekeliruan. Lingkungan Avoidance Culture ditandai dengan kegagalan untuk memberikan imbalan (reward) terhadap kesuksesan seseorang, tetapi hanya menerapkan hukuman untuk kesalah yang diperbuat.

Agaknya dosen pembimbing aku itu terjebak dengan Avoidance Culture ini. Kultur seperti ini tidak semestinya tumbuh di kalangan intelektual dan akademis, atau bahkan di kalangan masyarakat awam sekalipun karena ia menghambat inovasi, kemandirian, keberanian untuk bertanggung jawab atas perbuatan sendiri atau sifat satria. Kutur seperti ini juga menghambat sifat persaigan yang sehat. Lalu kultur seperti apa yang patut ditumbuhkan di lingkungan kampus? Atau di lingkungan masyarakat awam?

RA Cooke dan JL Szumal mengajukan beberapa jenis kultur. Kultur yang patut dikembangkan di kalangan intelectual adalah Humanistic-Encouraging dan Self-Actualizing Cultures. Dalam Humanistic-Encouraging Culture anggotanya tampil mendukung, membangun dan bersifat terbuka dalam hubungan sesamanya. Organisasi atau tatanan masyarakatnya diatur untuk membantu anggotanya tumbuh dan berkembang.

Self-Actualizing Culture juga sangat mendukung aktivitas akademika di kalangan kampus. Organisasi yang menganut kutur ini menghargai creativitas, kwalitas dan hasil kerja dan pertumbuhan individu. Anggotanya dianjurakan untuk mencari dan menikmati kesenangan akan pekerjaan, pengembangan diri. Mereka juga disarankan untuk mencari aktivitas yang baru dan menyenangkan.

Selain dua kutur di atas, terdapat dua kultur lainnya yang patut dikembangkan di lingkungan masyarakat Indonesia, yaitu Competitive dan Achievement Cultures. Dalam Competitive Culture, kemenangan sangat dihargai. Anggota masyarakat diberi penghargaan karena karyanya melebihi orang lain. Dengan semangat bersaing dan penghargaan yang diperoleh akan karyanya, maka daya cipta akan berkembang lebih pesat.

Jenis kultur terakhir yang patut dikembangkan adalah Achievement Cultures. Kutur ini menghargai orang yang membuat rencana dan merealisasikan rencananya itu. Anggota masyarakat dalam kultur ini mempunyai kebiasaan untuk menyusun rencana kerja yang menantang tetapi realistic dan antusias dalam mewujudkan cita-citanya.

Dosen, sebagai agen perubahan, mestinya tidak mudah menyerah dan meleburkan dirinya dalam Avoidance Culture, sebaliknya ia perlu membuktikan kepada muridnya bahwa dengan kecerdasan dan keuletan, hal yang dianggap tidak mungkin bisa diwujudkan.

_____
*Beni Bevly holds BA in Political Science, MBA in Marketing, and is a DBA (Doctor of Business Administration) candidate. He is the founder of Overseas Think Tank for Indonesia.

BERKELEY and ITS MAFIA

without comments

One of the UC Berkeley’s gates

By Beni Bevly
City of Berkeley, California, USA and its University of California have remakable history and plays important role in shaping today’s Indonesia, and Indonesia-USA relationship. It was started from a group who pursued they education at the University of California (UC), Berkeley in 1960’s. In New Order period under Suharto’s regime, this group facilitated long-term U.S.-Indonesian strategic cooperation. This group is known as Berkeley Mafia. They are proud to be mentioned as “mafia.”

You shall know the truth and the truth shall make you free

On Saturday, March 03, 2007, I went to Berkeley. It took me about 1 hour drive from my house in Mountain House, California. When I exited from free way 580 to University Avenue, Berkeley, I felt different vibrant. Hippy, proletariat, peace, freedom of self-expression are among the words to mention Berkeley environment.

Peace wall
Relax at the peace wall

I parked at the rear of University Coin-Op laundry where the UC Berkeley students do their laundry. I had lunch at Jayakarta Restaurant, an Indonesia cuisine. Then I spent the rest of the day for exploring the famous city and its university.

Even though I took accounting class in summer at this university several years ago, but it was not the one that is in Berkeley. I attended its campus which is located in San Francisco.

Diversity in Berkeley

Berkeley is the site of the University of California, Berkeley, the oldest campus of the ten-campus University of California system, and the Lawrence Berkeley National Laboratory, Lawrence Hall of Science, Space Sciences Laboratory, and Mathematical Sciences Research Institute, which are on the campus grounds (http://wikipedia.org/). UC Berkeley was founded in 1868 in a merger of the private College of California and the public Agricultural, Mining, and Mechanical Arts College.

Martin Luther King at the corner of one of the streets

The University of California, Berkeley (also known as UC Berkeley, Berkeley, and Cal) is occupying about 200 acres on a wooded slope plus an additional 1000 acres (4 km²) of largely undeveloped land in the Berkeley Hills. The university offers some 300 undergraduate and graduate degree programs in a wide range of disciplines.

The postwar years saw moderate growth of the City, but events on the U.C. campus began to build up to the recognizable activism of the sixties. In the 1950s, McCarthyism induced the University to demand a loyalty oath from its professors, many of whom refused to sign any such oath on the principle of freedom of thought. In 1960, a U.S. House committee (HUAC) came to San Francisco to investigate the influence of communists in the Bay Area. Their inquisition was met by protesters, including many from the University. Meanwhile, a number of U.C. students became active in support of the Civil Rights Movement.

Lama priest in Berkeley

Finally, the University in 1964 provoked a massive student protest by banning the distribution of political literature on campus. This protest became known as the Free Speech Movement. As the Vietnam War rapidly escalated in the ensuing years, so did student activism at the University.

Although many think of the 1960s as the heyday of liberalism in Berkeley, it remains one of the most overwhelmingly liberal cities in the United States, with its 2004 presidential vote going more than 90% for John Kerry (54,419 votes) versus only 6.7% for George W. Bush (4,010 votes).

Romance at the Berkeleys poetry walk

In the period of 1960’s, the Berkeley Mafia — a U.S.-educated group of Indonesian economists – learnt, experienced and witnessed how the world changed from UC Berkeley point of view. With the knowledge that they compiled from this university, together with Seharto’s regime, they put a lot of efforts to bring Indonesia back from dire economic conditions and the brink of famine in the mid-1960s. They were appointed as ministers in the ‘New Order’ administration for almost three decades. They also involved in long-term U.S.-Indonesian strategic cooperation, which was important during the Cold War.

The members of the Berkeley Mafia (http://en.wikipedia.org/wiki/Berkeley_Mafia):

Widjojo Nitisastro: Minister of Planning and National Development/Chairman of the National Development Planning Body (BAPPENAS) (1967-1983), Coordinating Minister of Economics, Finance, and Industry (1973-1983), Advisor to BAPPENAS (1983-1998), Economics Advisor to the President (1993-1998), Chairman of the Economics Assistance Team (1999-2001)

Ali Wardhana: Minister of Finance (1973-1983), Coordinating Minister of Economics, Finance, and Industry (1983-1988).

JB Sumarlin: Vice Chairman of BAPPENAS (1973-1982), Minister of State Apparatus (1973-1983), Minister of Planning and National Development/Chairman of BAPPENAS (1983-1988), Minister of Finance (1988-1993).

Subroto: Minister of Manpower, Transmigration, and Cooperatives (1973-1978), Minister of Mines and Energy (1978-1988).

Emil Salim: Vice Chairman of BAPPENAS (1967-1971), Minister of State Apparatus (1971-1973), Minister of Transportation, Communication, and Tourism (1973-1978), Minister of Development Supervision and Environment (1978-1983), Minister of Population and Environment (1983-1993).

Regardless, some of the negative consequences of their actions and collaboration with Suharto, we cannot deny that this group had shaped Indonesia as we see now, the good and the bad.

_____
*Beni Bevly holds BA in Political Science, MBA in Marketing, and is a DBA (Doctor of Business Administration) candidate. He is the founder of Overseas Think Tank for Indonesia.

Written by Beni Bevly

March 5th, 2007 at 12:00 pm

YOPE ME, TANKA YE ME!?

with 27 comments

guru pemarah
Image source : saskschools.ca

Oleh Beni Bevly
Teriakan, “Yope me, tangka ye me!?”(Aku kurang yakin apakah ejaannya benar, kalimat ini berasal dari bahasa Melayu Sambas yang kurang lebih berarti: “Mengapa bisa begitu?”) tidak akan terlupakan olehku. Kalimat itu diteriakan oleh seorang guru SD Negeri 1, Sekura, Kalimantan Barat kepadaku dengan mata melotot dan sambil mencubit dada sebelah kiri atasku. Cubitan – yang dilakukan pada tahun 1975 – tersebut meninggalkan lecet dan memar kebiruan. Hukuman fisik seperti ini banyak ditemukan dalam sistem pendidikan Indonesia. Fenomena situasi pendidikan seperti apakah di atas? Jika pepatah “guru kencing berdiri, murid kencing berlari” benar, apa jadinya murid-murid yang menjadi objek perlakuan guru di atas nantinya? Berikut adalah pengalaman yang aku alami dan renungan akan sebagian sistem pendidikan kita.

Di lain saat, di SD Negeri 5, Pontianak, Kalimantan Barat pada sedang upacar bendera, aku melihat teman kelasku naik sepeda yang dikebut laju ketakutan karena terlambat, diparkir dan langsung masuk barisan untuk mengikuti upacara bendera. Kepala sekolah menghentikan upacara itu dan memanggil teman saya ke depan. Dengan ketakutan dan gerakan perlahan, temanku mendekati kepala sekolah tersebut. Tanpa berkata sepatahpun, dia menempeleng anak yang baru berusia kurang lebih sebelas tahun itu. Anak itu terpelanting jatuh. Kepala sekorang itu kemudian membentak, “Kembali ke barisan mu!”

Pada waktu di SMP Bhinneka Tunggal Ika, Jakarta, aku menyaksikan seorang guruku melontarkan penghapusan kayu tepat ke kepala teman kelasku sambil berkata, “Rontok gigi kamu!” Timpukan itu meninggalkan benjol besar kebiruan di jidat temanku tersebut.

Pada saat SMA Negeri 19, Jakarta, seorang guru lelaki mudaku mendatangi teman kelas perempuanku, berdiri di belakangnya dan menarik tali BH-nya, kemudian dibiarkan menjepret ke punggung teman perempuanku tersebut. Kemudian guru tersebut cengengesan sambil memperhatikan muridnya yang cemberut.

Tradisi pendidikan Konghucu yang keras – saya sempat rasakan langsung dari ayahku sebagai mantan guru Mandarin – dan juga menghukum secara fisik dengan memukul rotan ke tangan dan pantat murid agaknya ada kesamaan dengan hal di atas. Sama-sama mengancam dengan menimbulkan rasa sakit pada fisik dan ketakutan mental. Tapi bedanya, ayahku melakukan itu jika aku tidak mengerjakan PR atau pergi bermain. Dia menggunakan satu spesifik rotan yang ujungnya dibelah kecil-kecil. Tidak menggunakan penghapus kayu untuk menimpuk, atau telanjang tangan untuk mencubit dan menempeleng atau menjepret dengan tali BH yang sedang dipakai oleh murid perempuan. Aku tidak mengatakan bahwa tradisi pendidikan Konghucu yang mengunakan ancaman keras fisik dan ketkutan mental itu adalah baik.

Tetapi yang aku ingin gugah adalah bagaimana perasaan anda mengenai tindakan guru yang agaknya hanya dilandaskan pada kemarahan, kebencian dan kecabulan terhadap murid didiknya. Di mana moral guru yang menarik dan menjepretkan tali BH murid perempuan tersebut. Sungguh memalukan!

_____
*Beni Bevly holds BA in Political Science, MBA in Marketing, and is a DBA (Doctor of Business Administration) candidate. He is the founder of Overseas Think Tank for Indonesia.

Written by Beni Bevly

March 3rd, 2007 at 11:28 am

HUKUMAN MENGHADAP BENDERA

with 5 comments

benderamerahputih1.gif

Oleh Beni Bevly
Upacara bendera adalah salah satu instrument politik pemerintah untuk mengindoktrinasi rakyat Indonesia. Dalam upacara yang sakral ini, diucapkan berulang-ulang topik yang sama untuk mencuci otak pesertanya. Hampir semua institusi di Indonesia diwajibkan untuk mengadakan upacara ini. Begitu juga di sekolah tempat aku belajar.

Pada tahun 1986, tepatnya tanggal 17 Agustus, cap kauw atau SMA Negeri 19, Jakarta menyelenggarakan upacara bendera dan aku sebagai salah satu pesertanya. Ketika tiba saatnya menyanyikan lagu Indonesia Raya, salah satu temanku yang bertindak sebagai dirigen mengatakan, “Marilah kita menyanykan lagu Indonesia Raya dengan ketukan ke-empat.” Lalu dia menggoyangkan tangan sambil menghitung satu, dua, tiga … . Apa yang terjadi? Seharusnya kami beramai-ramai memulai dengan menyanyikan “Indonesia … tanah … airku … “ dan seterusnya, tetapi suara tape atau radio dari rumah tetangga sekolah di sebelah kiri aku tiba-tiba terdengan memutarkan lagu dengan suara kencang, “Bergadang, jangan bergadang … .“

Keadaan ini membuat proses penyanyian lagu Indonesia Raya tersendat-sendat. Sebagian murid terus menyanyi, sebagian menyeringai merasa geli dan bagian lainnya bengong. Aku melihat pundak temanku di depan bergoyang. Rupanya ia sedang menahan ketawa. Karena itu aku ditulari rasa gelinya. Teman di sampingku malah menutup mulutnya supaya tidak sampai tedengat suara tawanya. Melihat ini aku jadi tidak tahan, suara tertawaku sempat terdengar keluar, begitu juga teman di depanku. Betapa tidak? Muka Roma Irama yang berjanggut, bergitar dan sambil berjoget riang terbanyang di depanku.

Setelah selesai upacara bendera, wakil kepala sekelah bertanya dengan suara dalam dan dengan nada mengancam, “Siapa yang tertawa tadi?” Tidak ada yang menjawab. Suasana menjadi sunyi. Suara serangga di atas kepalakupun terdengar kencang. Sekali lagi dia bertanya dengan nada yang yang lebih serius dan setengah membentak, “Siapa yang tertawa?!”

Dadaku dek-dekan. Aku rasakan bahwa mukaku panas. Aku enggan untuk mengangkat tangan, tetapi aku tidak mau dikatakan pengecut dan tidak bertangung jawab. Maka dengan menggertakan gigi, aku angkat tangan. Wakil kepala sekolahku melototiku. Aku segera menundukkan kepala untuk menghindari pandangan mata dengan dia. Tak lama kemudian, teman di depan dan di sampingku juga berbuat hal yang sama seperti yang aku lakukan.

“Mana sifat patriotis kalian?!” dia bertanya dengan nada membentak. “Ini adalah contoh dari orang yang tidak menghargai perjuangan para pendahulu kita.” Ia menambahkan.

Setelah dikuliahi beberapa saat. Barisan dibubarkan. Kamipun dihukum menghadap dan sambil memberi hormat pada bendera selama satu jam tanpa boleh bergerak. Aku menjalani hukuman satu jam tersebut dengan kakiku pegal, tangan gemetar, panas matahari menyengat dan menahan rasa haus, tetapi tanpa penyesalan karena aku tidak merasa bahwa aku tidak menghargai perjuangan para pendahulu kita. Ketawa itu keluar begitu saja tidak bisa ditahan karena lucu semata.

Lagu Indonesia Raya, Pancasila, lambang negara Burung Garuda, sejarah bangsa yang jaya dan cita-cita manuju masyarakat adil dan makmur adalah topik yang paling sering dikumandangkan dan didoktrinkan pada upacara bendera setiap hari Senin dan tanggal 17 Agustus. Selama puluhan tahun aku mendengarkan hal seperti itu. Selanjutnya, coba kita lihat apa yang ada dibalik semua topik ini.

Lagu Indonesia Raya digubah oleh Wage Rudolf Soepratman yang lahir pada tahun 9 Maret 1903 di Batavia. Sambil mengeyam pendidikan Belanda, ia belajar musik dari saudara iparnya Willem van Eldik yang juga membiayai sekolahnya (http://id.wikipedia.org/wiki/Soepratman, retreived tanggal 12 Februari 2007).

Lagu ini pertama kali dikumandangkan pada tanggal 28 Oktober 1928 di Kongres Pemuda (Sumpah Pemuda). Kemudian, lirik lagu ini pertama kali dipublikasikan oleh Sin PO, harian Cina yang diterbitkan dalam bahasa Melayu. Harian yang didirikan pada tahun 1910 ini selain mempopularkan lagu kebangsaan Indonesia, is juga mempropagandakan penggunaan nama “Indonesia” untuk menggantikan “Hindia Belanda” sejak hari Sumpah Pemuda pada tahun 1928.

Penerbitan Sin Po dilarang pada masa kedudukan Jepang (1942), tetapi pada tahun 1945, ia kembali terbit. Pada tahun 1962, nama Sin Po diganti dengan “Warta Bhakti.” Setelah kejadian Gerakan 30 September/Partai Komunis Indonesia (G30S/PKI), tapatnya tahun 1965, Sin Po menemui ajalnya.

Harian yang begitu penting dalam sejarah dan perannya terhadap penbentukan bangsa Indonesia dibredel begitu saja. Ia tidak berhasil dibinasakah oleh penjajah Belanda dan Jepang, tetapi ia mati ditangan bangsa sendiri, di mana ia sebagai salah satu pendirinya.

Pancasila adalah topik yang pasti dikumandangkan dalam upacara bendera. Bagaimana sebenarnya ide di balik Pancasila sebagai dasar negara? Pada tanggal 1 Juni 1945, sebelum Soekarno memprolamirkan kemerdekaan, ia menyatakan bahwa dasar negara Indonesia tidak sekuler seperti India (overly seculer) dan tidak berdasarkan berdasarakan agama seperti di Saudi Arabia (strictly theocratic). Ia minta peserta dalam Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) untuk menerima kenyataan bahwa negara Indonesia dibangun berdasarkan “an agreement on fudamentals” oleh semua etnis, ras, provinsi dan kelompok keagamaan dari ex-Hindia Belanda yang telah bejuang untuk membangun Republik Indonesia. Soekarno juga menekankan bahwa ada “mythical unity” dalam kesadaran semua masyarakat di mana pluralism adalah ciri penting menjadi orang Indonesia (Juwono Sudarsono, Debate on Pancasila, JuwonoSudarsono.com, 18 Juni 2006).

Bagaimana perkembangan selanjutnya? Di bawah orde baru, Pancasila rupanya dijadikan alat utama untuk memperkuat kekuasaan regime-nya selama 32 tahun. Sila pertama, ketiga dan ke empat merupakan senjata yang paling ampuh untuk mereka. Mari kita kaji satu persatu.

Sila pertama, “Ketuhanan yang Maha Esa.” Dengan sila ini pemerintahan Orde Baru mengkontrol ideologi rakyat bahwa semua rakyat Indonesia harus beragama. Agama yang disahkan oleh regime Soeharto adalah Islam, Kristen, Katolik, Budha dan Hindu. Disamping itu, Konghucu yang digolongkan sebagai kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa diperbolehkan dengan berbagai perbatasan. Padahal masih banyak agama lain di Indonesia yang tidak mendapat tempat atau pengakuan dari negara.

Hal lain yang dilakukan regime ini adalah hanya memperbolehkan satu organisasi keagamaan untuk masing-masing agama dan semua organisasi tersebut harus berazaskan Pancasila. Organisasi tersebut seperti Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) terorganisir dengan rapih melalui Departemen Keagamaan. Keadaan ini sangat mempermudah pemerintah untuk menyampaikan “pesan,” dan mengontrol pesan itu agar terlaksanakan di antara umatnya.

Mengkontrol rakyat melalui agama bukanlah suatu hal yang baru dalam sejarah. Empat ratus tahun setelah kematian Yesus, Raja Romawi memperlakukan agama Katolik sebagai agama negara untuk mengkontrol para pengikut Yesus. Pada jaman yang lebih modern, atas nama agama Katolik pula, Hitler berhasil meyakinkan rakyat dan tentaranya untuk membunuh jutaaan bangsa Yahudi yang dianggap membunuh Yesus. Dengan senjata agama ini juga, Hitler berhasil membungkam mulut Paus di Roma untuk tidak mengecam tindakan dia.

Dalam perang Iran-Iraq pada tahun 1980-an, Ayatullah Khomeini menggunakan agama Islam untuk merekrut para bocah untuk dijadikan tentara sahid. Hasilnya? Berbondong, bahkan berjuta-juta orang mendaftarkan diri dan rela mati di medan perang. Dan masih banyak kasus lain-nya yang serupa terjadi.

Sisi lain, sila pertama ini mengandung pengertian, jika di-Inggriskan, “one God” atau “monotheism.” Pengertian monotheisme tidaklah mengena bagi pengikut ajaran Budha dan Hindu yang mengakui banyak bodisatwa dan dewa. Bahayanya, jika sila pertama ini diterapkan secara harfiah, maka kedua agama ini tidak akan mendapat tempat di negara Indonesia.

Hal lain yang paling utama bagi regime Orde Baru adalah menutup kemungkinan ideologi komunisme dan sosialisme tumbuh di bumi Nusantara. Komunisme dan sosialisme umunya merupakan ideologi yang memperjuangkan kaum miskin, tertindas, tidak berdaya, kaum peroletar dan Marhaen. Betapa banyaknya kaum seperti ini di pemerintahan Soeharto. Jika kedua paham ini tumbuh subur maka terancamlah kedudukan beliau.

Sila ketiga, “Persatuan Indonesia.” Atas nama sila ini banyak oposisi politik Soeharto yang dijebloskan ke penjara. Dengan sila ini pula Undang-Undang Subversif diberlakukan. Setiap gerakan yang mempertanyakan kedudukan TNI dan Pemerintahan Soeharto akan diidentifikasikan dengan pengacau negara dan keamanan rakyat. Para aktivis yang memperjuangkan hak azasi manusia juga dijerat dengan undan-undang ini. Munir, ketua KONTRAS adalah salah satu dari sekian aktivis yang menjadi korban senjata sila ketiga ini.

Sedemikian kuatnya penerpan sila ini, sehingga jiwa manusia tidak ada artinya lagi. Lihatlah dari peristiwa Aceh dan East Timor. Bahkan di East Timor dikabarkan sepersepuluh jiwa rakyatnya dikorbankan.

Pasal keempat, “Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan” merupakan alat yang mudah bagi Soeharto untuk memaksakan kehendak. Soeharto tahu betul bahwa sifat rakyat Indonesia adalah paternlistik. Artinya, rakyat mempunyai kecenderungan untuk mengikuti kemauan pemimpin atau orang yang dituakan. Dalam kenyataannya, orang banyak boleh bermusyawarah, tetapi pemimpin merekalah yang mufakat atau mengambil keputusan.

Hal seperti inilah yang terjadi di MPR/DPR, rapat menteri dan badan pemerintah lainnya. Mereka boleh bermusyawarah tetapi Soeharto-lah yang selalu memutuskan apa yang boleh mereka perbuat. Jikapun mereka diberi kebebasan untuk menentukan nasib sendiri, pada akhirnya mereka tetap minta “restu” pada pemimpin mereka.

Pasal keempat ini semakin memantapkan sifat paternalistik yang di satu sisih menciptakan keterkantungan pada pemimpin dan membuat pemimpin cenderung menjadi absolut. Dalam konteks inilah, seorang pemimpin yang absolut tentu dengan senang hati mempertahankan pasal ke empat ini.

burunggaruda.png

Dalam upacara bendera, biasanya kepala sekolah akan mengingatkan pada kami betapa gagahnya lambang negara kita, Burung Garuda. Kalau dikaji lebih mendalam, lambang negara Indonesia ini sangat irrasional. Bagaimana mungkin seekor burung mempunyai jumlah bulu tetentu pada tempat tertentu. Pada masing-masing sayap bulunya berjumlah 17. Pada ekor garuda terdapat 8 bulu. Bulu di bawah perisai/pangkal ekor berjumlah 19 dan bulu di leher berjumlah 45. Bukankah lambang negara ini melambangkan irrasionalitas pemimpin Indonesia?

Keirrasionalitasan pemerintahan Soeharto jelas terlihat bagaimana ia memaksakan pembangunan Indonesia untuk tinggal landas dan menuju masyarakt industri dengan hanya mengandalakan satu orang yaitu Habibie, anak emasnya. Sedangkan Indonesia mempunyai tanah yang begitu subur untuk pertanian sebagai negara agraris dan begitu luas lautan yang mempunyai potensi untuk menjadi negara termaju di bidang pengelolaan laut atau maritim. Ditambah masih banyak propinsi lain yang tertinggal pembangunannya.

Tetapi semua ini tidak dihiraukan oleh Soeharto dan dan ia memaksa untuk masuki tahap industrialisasi. Salah satu caranya dengan membangun industri pesawat terbang. Nyatanya industri ini membawa kerugian materiil dan pesawatnya jatuh sehingga memakan banyak jiwa.

Topik lain yang selalu dikumandangkan dalam upara bendera adalah bangsa kita yang jaya. Kerajaan Sriwijaya dan Majapahit selalu dijadikan contoh. Apakah benar bahwa kedua kerajaan itu adalah kerajaan Indonesia pada masa lampau yang jaya? Sriwijaya adalah kerajaan Budha yang terkenal dengan candi Borobudur-nya. Jika diperhatikan bahwa bentuk candi dan ukirannya menyerupai candi di India. Demikian juga Majapahit, kerajaan ini mempunyai kesamaan dengan India dalam hal agama Hindu. Gajah Mada yang diagungkan karena telah mempersatukan Indonesia, mukanya lebih mirip dengan orang India ketimbang orang Jawa (Duncan Graham, 2004, The People Next Door).

Secara garis besar periode kerajaan di Indonesia mempunyai kemiripan dangan periode perubahan kerajaan di India. Pertama, periode kerajaan Budha. Kedua, periode kerajaan Hindu dan yang terakhir adalah kerajaan Islam. Di India, periode kekuasaan kembali lagi ke Hindu. Dari nama negara kita yang berasal dari bahasa Yunani, “Indo” berarti India, “Nesos” berarti kepulauan. Yang jika diterjemahkan secara bebas, Indonesia berarti Kepulauan India.

Melihat keadaan demikian, apakah ini suatu kebetulan? Ada dugaan para ilmuwan bahwa Indonesia dijajah oleh India dalam kurun waktu yang lama (Tentu hal ini perlu dilakukan penelitian lebih lanjut). Setelah itu, dijajah lagi oleh Belanda dan Jepang. Jika demikian halnya, bagaimana kepala sekolahku mengatakan bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang jaya. Bahkan sekarangpun dengan jumlah penduduk nomor 4 sedunia dan wilayah yang luas, Indonesia tidak banyak dikenal di dunia Internasional. Sebelum 9/11, jika aku kenalkan diriku dari Indonesia ke generasi muda Amerika, banyak dari mereka tidak tahu bahwa ada negara yang bernama Indonesia. Nama Indonesia baru “berkibar” setelah 9/11 karena dikaitkan dengan sarang teroris.

Hal terakhir yang selalu dikumandangkan dalam upacar tersebut adalah cita-cita menuju masyarakat adil dan makmur. Sejak aku sekolah sekitar tahun 1975, hingga saat ini, 30 tahun sudah, Indonesia masih jauh dari masyarakat adil dan makmur. Bagaimana ini bisa terjadi, jika Indoneisa dikategorikan sebagai bangsa terkorup ketiga di dunia dan kestabilan politiknya sangat rentan. Dengan keadaan demikian, kekayaan tekonsentrasi hanya pada kelompok tertentu. Investasi dari luarpun enggan untuk masuk di Indonesia.

Dengan mengetahui keadaan negara kita seperti di atas, dari pada mengagungkan masa lalu dan meneriakkan Pancasila, bukankah lebih baik bagi inspektur upacara bendera mengajak semua pesertanya untuk melihat kenyataan dan memperbaiki Indonesia.

_____
*Beni Bevly holds BA in Political Science, MBA in Marketing, and is a DBA (Doctor of Business Administration) candidate. He is the founder of Overseas Think Tank for Indonesia.

NGOMONG APA KAMU?

with 28 comments

ngomongapakamu1.jpg

Oleh Beni Bevly

Memang banyak guru Cap Kauw (SMAN 19) Jakarta – sekolahku – yang bermutu dan berdedikasi tinggi, tetapi tidak bisa dipungkiri bahwa sebagian dari mereka jauh dari yang aku harapkan. Kekurangan ini bisa menjadi kekuatan bagi perkembangan murid tertentu, atau sebaliknya, muridnya menjadi semakin lemah. Tergantung bagaimana murid tersebut menghadapi situasi seperti ini. Secara umum bahwa guru yang mempunyai kebiasaan men”discourage” cenderung menghasilkan murid yang lemah dalam hal intelenjensia. Kebiasaan guru seperti ini mengingatkan aku pada penelitian ini dikenal dengan nama “Brown Eyes-Blue Eyes.” Pada dasarnya hasil penilitian ini menunjukkan jika satu kelompok murid diperlakukan sebagai murid yang tidak mampu maka nilainya akan turun sebanding, sebaliknya jika kelompak yang sama diperlakukan sebagai murid yang pintar maka nilainya menanjak. Dalam banyak hal, guru di Indonesia, termasuk sebagian besar guruku di Cap Kauw tidak memperdulikan hal ini.

Suatu hari, aku mengikuti pelajaran bahasa Inggris. Guru Inggrisku memulai pelajaran dengan menerangkan dengan singkat mengenai pengunaan irregular verbs. Tak lama kemudian kami disuruh menyalin dari papan tulis. Sementara itu, seperti biasa, guru tersebut tertidur di mejanya sambil mendengkur. (Kemudian hari, aku ketahui bahwa dia sering tidur pada saat mengajar karena sakit. Tetapi mengapa tidak dicari guru pengganti sementar?). Setelah selesai menyalin, salah satu temanku memberanikan diri untuk membangunkan dia.

Selanjutnya, kami diminta untuk menerapkan irregular verbs dalam kalimat. Sampai pada giliranku, aku menggunakan kata forsaken yang berasal dari kata forsake dalam kalimat pasif. Apa komentar guru tersebut? Sambil ternsenyum mengejek, melihat aku dari sudut matanya dan dia bilang, “Ngomong apa kamu?” Seluruh kelas merasa lucu dan mereka tertawa terbahak-bahak. Aku tersenyum kecut, merasa direndahkan dan terhina.

Begitu sekolah selesai, aku tidak langsung pulang kerumah, tetapi ke tempat kursus Inggris dan mendaftarkan diri jadi salah satu peserta kursus. Aku belajar mati-matian termasuk bagaimana pronunciation per kata. Beberapa bulan kemudian, nilai Bahasa Inggris di raporku menanjak.

Bahasa Inggris berbeda dengan bahasa Indonesia dalam banyak hal. Dari yang paling sederhana seperti susunan diterangkan-menerangkannya terbalik, konteks waktu dalam kalimat harus jelas. Tidak cukup dengan hanya menambahkan kata yesterday di belakang kalimat seperti dalam Bahasa Indonesia, tetapi harus merubah kata kerja menjadi past form. Pronunciation, intonation dan accent sangat menentukan apakah orang bule bisa mengerti kita dalam berbicara. Sebagai perbandingannya, orang bicara bahasa Indonesia tanpa mamapu melafalkan “r” atau pelo-pun bisa dimengerti dengan mudah oleh kita.

Yang jarang disadari orang dalam mempelajari bahasa Inggris bahwa pengucapannya banyak didasarkan persepsi suara yang didengar oleh si pembicara. Sederhananya, di telinga orang yang berbahas Inggris, suara anjing menggongong dilafalkan sebagai “whoof.” Orang yang berbahasa Indonesia mendengarnya sebagai “gong.” Contoh lain, suara tembakan, bagi orang yang berbahasa Inggris didengar sebagai “bang,” bagi orang Indonesia sebagai “dor.”

Dalam tahap tertentu bahasa Inggris, terutama pronunciation dan intonation-nya sama rumitnya dengan bahasa Cina, baik itu bahasa Mandarin, Khek, Tio Ciu atau lainnya. Tetapi bahasa Cina memiliki lebih banyak variasi dan ribuan karakter. Satu kata bisa memiliki 5 atau lebih pengertian. Sebut saja dalam bahasa Cina Khek, “si” bisa diartikan sebagai empat, mati, tahi, salah satu arah angin, dan kumis, tergantung dari intonasi pengucapan, penulisan karakter dan konteksnya.

Kembali ke komentar guru aku – “Ngomong apa kamu?” – adalah suatu perbuatan yang tidak menciptakan iklim belajar yang membangun. Aku yakin, hingga pada saat ini masih banyak guru seperti itu. Hal ini mengingatkan aku pada suatu penelitian yang dilakukan oleh guru sekolah dasar di AS. Penelitian ini dikenal dengan nama “Brown Eyes-Blue Eyes.” Pada dasarnya tujuan penilitian ini untuk menunjukkan jika satu kelompok murid diperlakukan sebagai murid yang tidak mampu maka nilainya akan turun sebanding, sebaliknya jika kelompak yang sama diperlakukan sebagai murid yang pintar maka nilainya menanjak.

Murid-murid dalam satu kelas di bagi dua kelompok berdasarkan warna mata. Kelompok pertama yang bermata biru dipakaikan dasi. Sedangakan kelompak kedua yang bermata coklat tidak boleh pakai dasi. Pada minggu pertama, sang guru mengatakan bahwa murid yang bermata biru itu jauh lebih pintar dari murid bermata coklat, karena itu mereka diberi dasi khusus sebagai penghargaan. Dalam setiap kegiatan murid bermata biru diprioritaskan. Dalam waktu yang singkat, percaya diri yang lebih besar timbul dikalangan murid mata biru, nilai ujiannya juga jauh lebih baik. Sedangkan murid yang bermata coklat, percaya dirinya turun seketika seiring dengan menurunya nilai ujian mereka. Murid bermata biru pun punya kecenderungan untuk menganiaya murid bermata biru.

Minggu berikutnya, sang guru berkata, “Minggu lalu aku berbohong. Sebenarnya yang lebih pintar dan superior adalah murid yang bermata coklat, maka dasi yang kamu miliki sekarang harus kamu berikan kepada murid bermata coklat”. Seketika itu juga, murid bermata coklat merebut dasi dari murid bermata biru. Kemudian guru tersebut melakukan kegiatan yang sama dengan meninggikan dan mendahulukan murid bermata coklat. Tingkah laku kedua kelompok murid ini pun segera berbalik, begitu juga hasil ujiannya.

Minggu ketiga, semua murid diberitahu bahwa pada dasarnya kalian adalah sama pintar dan guru tersebut menyuruh mereka membuang pita khusus tersebut. Sejak itu guru mereka menerapkan iklim belajar yang positif untuk semua murid. Nilai mereka, kepercayaan diri dan saling menghargai umumnya meningkat.

Idealnya, guru harus selalu menciptakan iklim belajar yang baik di kelas. Penelitian Brown Eyes-Blue Eyes, membuktikan betapa berpengaruhnya omongan dan tindakan guru terdadap perkembangan mental dan intelektual sang murid. Seorang guru tidak semestinya men-discourage murid yang dianggap lebih lambat dalam hal berpikir jika dibandingkan murid lain. Dukungan dan pujian perlu dikeluarkan dari mulut seorang guru demi kemajuan murid, bukan ledekan dan bentakan.

_____
*Beni Bevly holds BA in Political Science, MBA in Marketing, and is a DBA (Doctor of Business Administration) candidate. He is the founder of Overseas Think Tank for Indonesia.

MOTHER

with 2 comments

gagap.jpg
Gagap

Oleh Beni Bevly
Sistem dan kurikulum pendidikan ternyata sangat menentukan perkembangan jiwa dan intelektual muridnya. Salah satu hal yang hilang dari pendidikan masa kecil angkatan ku adalah program Show and Tell seperti yang banyak ditetapkan di sekolah Amerika Serikat sejak jaman dulu. Berikut adalah pengalaman dan refleksiku di sekolah menengah.

Sejak kecil aku sudah menunjukkan gejala gagap. Suatu hari di bangku kelas 2, SMP Bhinneka Tunggal Ika, Jakarta, aku mendapat giliran baca bagian pertama dari buku pegangan bahasa Inggris, Student Book. Aku ingat betul kata pertama yang hendak aku baca adalah “mother.” Tetapi untuk beberapa saat kata itu tidak keluar dari mulutku. Aku berjuang keras. Suara yang terdengar adalah: “Mo … mo … “.

Sambil tersenyum guru bahas Inggris-ku meminta aku maju ke depan kelas dan berdiri di tempat tinggi yang dipergunakan untuk menulis di papan tulis. Sambil memegang buku – dadaku berdetak keras, seluruh badanku terasa panas, dan keringat mengucur dari atas kepala – aku berkonsentrasi keras. Akhirnya huruf pertama “mother” keluar dari mulutku. Selanjutnya, aku merasa bahwa aku membaca seluruh artikel kecil itu seperti letusan senjata yang mengeluarkan peluruh meleset secepat kilat. Setelah itu, aku merasa lega, malu, kesal dan marah pada waktu yang bersamaan terhadap diriku.

Sejak saat itu setiap pulang sekolah, di loteng rumah orang tuaku yang panas dan di depan kaca berwarna biru buram, aku membaca artikel itu keras-keras. Aku ulang berkali-kali sampai keringat membasahi wajah dan tubuhku. Pada hari yang lain, tidak jarang, aku harus membuka bajuku yang basah oleh keringat dan meneruskan membaca membaca artikel itu lagi dalam keadaan haus dan lapar.

Aku lakukan itu lebih dari satu bulan. Sebagai hasilnya, aku mempunyai kemampuan membaca – artikulasi dan intonasi – yang cukup baik di antara teman sekelasku. Aku berterima kasih pada guru bahas Inggrisku itu.

Berdiri dan membaca di depan kelas seperti yang aku lakukan atas permintaan Inggris-ku adalah hal yang baik untuk melatih keberanian untuk tampil dan jiwa kepemimpinan. Tapi sayangnya, hal ini hanya dilakukan sampai taraf membaca saja.

Di AS ada satu program yang disebut show and tell. Pada hari tertentu setiap murid tingkat TK dan SD diminta untuk membawa salah satu atau beberapa objek kebanggaan mereka. Setiap murid mendapat giliran di depan kelas untuk menunjukkan objek tersebut sambil menceritakan apa saja yang murid mau sampaikan. Sebelum kembali ke bangkunya, murid yang lain diberi kesempatan untuk bertanya. Kadang kala terjadi tanya-jawab yang seru dan lucu.

Ada beberapa unsur positif dari program show and tell. Petama, melatih kemampuan murid untuk tampil di depan umum. Kedua, mengasah kemampuan untuk mendiskripsi dan berargumen. Ketiga, membiasakan diri untuk menerima kenyataan bahwa setiap orang mempunyai hal yang berbeda. Keempat, mengurangi rasa cemburu dan iri akan keberadaan orang lain.

Karena tidak diterapkannya program show and tell di Indonesia, aku duga mempengaruhi hal sebagai berikut: Satu, kemampuan murid Indonesia untuk tampil dan berbicara di depan umum masih minim. Jika mereka mendiskripsikan sesuatu, misalnya diminta mendeskripsikan kapur, maka mereka cenderung bilang, “Kapur … ya kapur”. Dua, tidak terbiasa dengan perbedaan. Harus diakui bahwa terdapat kenyataan ada murid yang orangtuanya lebih berada, sehingga murid tersebut tampil berbeda. Tiga, perbedaan ini cenderung menimbulkan kecemburuan dan iri.

Pada tingkat gejala sosial yang lebih luas lagi, sering kita dengar imbauan pemerintah terhadap gologan masyarakat berada, terutama terhadap orang Cina, “Hindari penampilan yang mentereng. Jangan terlalu menyolok.” Aku mengerti di satu pihak pemerintah hendak mencegah terjadinya kecemburuan sosial yang mengarah pada kekerasan. Tetapi di lain pihak, adalah hak setiap orang untuk tampil seperti yang mereka mau. Jika sejak kecil dilatih dan disadarkan bahwa setiap orang adalah berbeda baik secara fisik, sifat dan kepemilikannya, serta setiap orang mempunyai hak yang sama untuk meraih dan tampil beda – melalui program show and tell – maka kecemburuan sosial akan bisa diminimal. Tetapi bukan meredam sepihak dengan cara menyuruh mereka merendahkan dirinya.

_____
*Beni Bevly holds BA in Political Science, MBA in Marketing, and is a DBA (Doctor of Business Administration) candidate. He is the founder of Overseas Think Tank for Indonesia.