Archive for the ‘Environmental and Housing’ Category
Belajar dari Perubahan Lingkungan Bisnis di AS
Oleh Dr. Beni Bevly, Silicon Valley
Memasuki tahun 2012 dan sejak terjadinya resesi tahun 2008, agaknya perekonomian AS masih rentan, walapun volume kenaikan penjualan pada akhir pekan Black Friday 2011 lalu menunjukkan gejala yang menjanjikan. Dalam situasi seperti ini, apa yang bisa kita pelajari dari sikap dan tindakan yang positif dari pebisnis di Tanah Seberang?
Periode dari hari Kamis hingga Minggu terakhir bulan November 2011, yaitu Thanksgiving weekend, berbondong-bondong customer memasuki toko retail di Tanah Seberang. Sebagai pelaku dan saksi mata langsung, saya pernah camping dan ngantri supaya bisa masuk ke salah satu elektronik reltailer di subuh hari, pemandangan ini memang biasa, tetapi yang tidak biasa adalah jumlah customer yang lebih besar dibandingkan dengan tahun 2010, yaitu 226 juta meningkat dari 212 juta customer. Read the rest of this entry »
Climate change can strain region’s security
By Evan A. Laksmana
FOLLOWING the recent ‘triple disaster’ in Indonesia – the flooding in Papua, the tsunami that hit the Mentawai islands, and the volcanic eruption in Central Java – some are wondering whether climate change will increase the intensity and frequency of similar events in the region.
The Singapore-based Economy and Environment Programme for South-east Asia (a project under the International Development Research Centre of Canada), for instance, has shown that the Read the rest of this entry »
The Battle of Dragon Antaboga against Octopus Lapindo

By Patrisius Mutiara Andalas, SJ
The mud people have made use of traditional stories familiar to the people to share their sufferings to the public and resist against unjust corporation. They refer to Sang Hyang Antaboga in the epic of Mahabharata and with the help of local artists connect the Lapindo Corporation with gurita (octopus). Octopus with dexterous arms can shrink and expand coordinately, and its camouflage system survives octopus in critical situations. They see the need to raise public awareness of the camouflaging power by the corporation to justify its innocence in the mudflow. They performed the battle between dragon Antaboga against octopus Lapindo to commemorate the fourth year of the mudflow in Porong. Read the rest of this entry »
Model dari Discovery Bay Hong Kong: Kembali ke Alam
Perlu diakui bahwa pembangunan di Indonesia banyak yang menghasilkan masalah. Misalnya, karena kurangnya perencanaan, maka banyak lokasi di Indonesia, termasuk di Jakarta, menjadi banjir , di samping musibah atau potensi musibah lain.
Dalam kaitan dengan model pembangunan dan tingkah laku masyarakat yang bersahabat dengan alam, saya mengajak anda untuk menelusuri pengalaman saya di Hong Kong dan kemungkinan penerapannya di Indonesia. Read the rest of this entry »
Land Banking
By Dr. Beni Bevly
Suatu ketika Mark Twain, novelis besar di Tanah Seberang, pernah berkata bahwa lokasi tanah yang baik tidak pernah out of style. Agaknya ungkapan ini tetap menjadi landasan para pebisbis properti untuk melakukan transaksi, sebagaimana dijelaskan oleh David Gold dalam diskusinya dengan saya dalam kaitannya dengan dengan bisnis land banking di San Jose daerah Silicon Valley. Apakah land banking? Apa yang bisa kita pelajari dari para pebisnis ini untuk diterapkan di Tanah Air? Read the rest of this entry »
VOA Newsmaker Breakfast Interview on Housing Activism

In a recent interview with a VOA broadcaster Jimmy Manan, I talked about anti-foreclosure housing activism that the residents of Mountain House, California, has been doing. Listen the radio interview segment here: VOA Breakfast with Newsmaker Jennie S. Bev 05-03-2010
I hope it is useful and inspiring.
Binis yang Akan Merubah Dunia

Sumber gambar: heatusa.com
Oleh Dr. Beni Bevly
Beberapa saat yang lalu, the Wall Street Journal (WSJ) di Tanah Seberang mengajukan ide yang berjudul “Five technologies that will change the world”. Sebagian besar dari kita pasti akan tergoda untuk mengetahui teknologi apa sajakah yang diajukan oleh raja koran ini. Bukan hanya itu, efek alamiah yang inheren dari perkembangan teknologi ini diperkirakan akan menunjang perkembangan bisnis yang akan merubah dunia pula. Read the rest of this entry »
Climate change is also defense and security problem

Image source: beritajakarta.com
by Evan A. Laksmana
We are now only less than a month away from the UN summit on climate Change in Copenhagen to hammer out a new post-Kyoto deal to save the planet.
Meanwhile, recent reports show that in Southeast Asia, one of the most susceptible regions to climate change, more than 750,000 people have died between 1998 and 2009 from natural disasters.
Indonesia too will soon see firsthand the increases in the severity of drought, flooding, forest fires, rising sea level and extreme weather conditions.
Yet, with this impending disaster, the then defense minister Juwono Sudarsono said recently his department had no specific national security agenda for climate change.
This statement is shocking – not least for its lack of concern about how climate change could radically change our national defense. Read the rest of this entry »
Her Voice: Bruce Marks, the man who saves the American Dream

by Jennie S. Bev
San Joaquin County is one of the hardest-hit counties in California in this mortgage crisis. And Mountain House was named by New York Times in November 2008 as “the most underwater community in the United States,” as 90 percent of home values there have gone underwater, and the depth of depreciation is as steep as 70 percent.
Those who have been paying skyrocketing monthly mortgage payments and have been receiving reduced earnings are probably feeling the pinch of the economic crisis. Many of them have stopped payments and are facing foreclosure.
With 18.7 million vacant homes this year and 7 million more properties expected to foreclose in 2010 and 2011, this mortgage crisis is more than our neighbors’ issue — it is our own personal issue as well.
Many of us have grown to be skeptical as no one seems to be able to lend a hand. Not attorneys, not government officials, and especially not lenders.
When we started to distrust the system, this man came along. Read the rest of this entry »
Housing Activism: Menanggapi Krisis Perumahan di Amerika Serikat

Pada tangal 12 September 2009, Beni Bevly* menyampaikan Webinar (Web site seminar) di kantor Majalah Kabari, San Fransciso, CA, Amerika Serikat.
Seminar ini mendiskusikan bagaimana seseorang bisa mengkontribusikan tenaga, pikiran dan waktunya kepada komunitas di mana ia tinggal di Amerika Serikat dalam menghadapi krisis perumahan. Bevly percaya bahwa dengan membantu komunitas berarti membantu diri sendiri. Lebih lengkapnya, ikuti seminar ini dengan mengklik: Housing Activism: Menanggapi Krisis Perumahan di Amerika Serikat.
(Setelah mengklik link di atas, untuk menampilkan video dalam seminar ini, klik icon kamera di sudut kanan atas di screen komputer anda. Koreksi, di bagian Masalah Mikro, seharusnya disebut subprime loan atau subprime mortgage loan, bukan jumbo loan.)
_____
*Dr. Beni Bevly adalah pendiri Overseas Think Tank for Indonesia dan Ketua Mountain House Action Group di Kalifornia Utara, Amerika Serikat.
Her Voice: Time to protect consumers of home-loan modifications
by Jennie S. Bev
A week ago, the office of Rep. Jerry McNerney, D-Pleasanton, and the Mountain House Community Services District co-hosted a Foreclosure Prevention Summit Workshop at Bethany Elementary School in Mountain House.
The resident-led housing activism organization Mountain House Action Group has been involved since the beginning in November 2008 through our advocacy and sharing activities. The event was attended by Bank of America, Chase, Fannie Mae, several Housing and Urban Development Department-approved counselors and more than 150 homeowners. Read the rest of this entry »
Her Voice: Lifting moratoriums and loan restructuring hope
By Jennie S. Bev
The foreclosure moratorium, which basically banned foreclosure sales and evictions for mortgages funded and securitized by Fannie Mae and Freddie Mac, ended on March 31. It came with many consequences: the good, the bad and the sexy. Loan restructuring is the last resort for most homeowners, but why is nobody getting any?
Some have taken the liberty of extending foreclosure moratorium. The state of New York is processing a bill that would extend the moratorium to one full year, and Marshall & Ilsley Corp. announced it has extended its foreclosure moratorium with an additional 90 days through June 30. Read the rest of this entry »
Going Green

Sumber Gambar: newsimg.bbc.co.uk
Oleh Dr. Beni Bevly
Pada hari Selasa, 17 Februari 2009, saya menyaksikan suatu peristiwa penting di Tanah Seberang, yaitu penandatanganan $787 miliar paket stimulus, stimulus terbesar sejak perang dunia ke dua, oleh President Barack Obama. Pada event yang sama, Blake Jones, CEO Namaste Solar, perusahaan panel solar kecil, mendapat kehormatan untuk bicara. Ia menyatakan bahwa perusahaannya tumbuh sangat cepat, dari 3 karyawan menjadi 60 dalam waktu 3 tahun. Dengan paket stimulus ini, ia memprediksikan bisa merekrut 20 karyawan lagi. Apa arti kejadian ini bagi perkembangan perusahaan yang bersifat going green baik di Tanah Seberang muapun di Tanah Air? Sebenarnya apa sajakah yang tercakup dalam slogan going green ini? Kesempatan apa yang dapat diraih oleh pangusaha di Tanah Air dalam rangka mendukung gerakan going green?
Pengusaha yang mengdopsi usaha going green tentunya menjadi semakin populer dan banyak diminati sejak kejadian di atas. Going green telah dipopulerkan oleh Al Gore, Pemenang Hadiah Nobel tahun 2007 melalui buku dan video An Inconvvenient Truth-nya. Intinya, dalam beberapa tahun terakhir ini, suhu temparatur global (global warming) meningkat dengan drastis. Dari kumpulan 21 tahun yang terpanas, 20 di antaranya terjadi dalam 25 tahun terakhir. Akibat dari kenaikan suhu secara drastis ini ternyata berdampak negative bagi kelangsungan lingkungan dan kehidupan manusia.
Pada saat ini, banyak penduduk di Tanah Seberang telah menyadari akan perubahan keadaan linkungan alam dan bahaya global warming. Maka itu, mereka bersedia dan siap untuk menganti lifestyle mereka dengan going green life style. Merekalah yang akan menjadi komsumer terbesar dalam bisnis going green.
Slogan going green mencakup pengertian filosofis yang berkaitan dengan pergerakan sosial yang berpusat pada konservasi dan perbaikan lingkungan alam. Dalam kegiatan sehari-hari di Tanah Seberang pengertian ini dikaitkan dengan penghematan energi, penghematan penggunaan air bersih, efisiensi penggunaan bahan bakar, memilih makanan yang bersahabat dengan lingkungan, tidak menggunakan minuman botol, menggunakan barang second hand, lebih baik menyewa dari pada membeli, belanja dengan dengan teliti, tidak cepat mengganti alat elektronik dan digital, dan lain-lain.
Searah dengan gerakan seperti di atas, maka berjamuranlah usaha di Tanah Seberang. Usaha seperti itu di antaranya adalah pengdaan solar panel seperti Namaste Solar, green cleaning and household management, green building, green design, green consumerism, green parenting atau pet care, dan green consultant.
Bagaimana kondisi di Tanah Air? Dengan paket stimulus raksasa dari Tanah Seberang dan ditambah gerakan going green menjalar ke Tanah Air, diperkirakan usaha dalam bidang ini akan bekembang pesat. Hal ini juga didukung oleh para Lembaga Swadaya Masyarakat seperti Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) yang memiliki perwakilan di 25 provinsi dan 438 organisasi yang berafiliasi sebagai anggota bekerja untuk menjaga dan membela kelestarian alam dan lingkungan komunitas Indonesia.
Perubahan lifestyle seperti ini akan banyak membuka peluang untuk para pengusaha, termasuk pengusa kecil dan besar. Di Tanah Seberang, salah satu perusahaan raksasa, yaitu Wal Mart telah komit mendukung gaya hidup ini. Lee Scott, CEO-nya mengatakan:
“Tidak perlu ada konflik antara linkungan dan ekonomi. Bagi saya, tidak ada yang baik mengenai pencemaran bahan kimiah ke udara. Tidak ada yang baik mengenai asap yang anda lihat di kota-kota. Tidak ada yang baik mengenai pencemaran bahan kimiah ke sungai-sungai di Negara Ketiga sehingga orang bisa membeli barang lebih murah di negara maju. Hal-hal seperti itu pada hakekatnya adalah salah, terlepas dari anda seorang environmentalist atau bukan.”
Untuk itu Wal Mart telah banyak menjual green product. Mereka juga telah mengganti sumber energi dan cara proses yang lebih efisien dan lebih going green.
Kembali ke Tanah Air. Perubahan gaya hidup seperti ini juga akan membuka peluang usaha baru seperti meningkatnya gerakan menghemat energi. Gejala ini bisa dimafaatkan oleh pengusaha untuk menawarkan produk teknologi hemat energi seperti compact fluorescent light bulbs/CFLs.
Para penganut lifestyle going green juga akan menghemat dalam pengunaan air bersih, karena itu produk-produk hemat air bersih seperti low-flow showerhead dan faucet aerator dan tanaman atau bunga yang tidak mebutuhkan banyak air akan menjadi semakin laku. Mereka juga akan menggunakan kendaraan yang hemat atau tidak mengunakan bahan bakar, maka seorang pengusaha bisa menawarkan pengunaan sepeda yang nyaman untuk dikendarai di kompleks-kompleks.
Makanan organik adalah salah satu objek yang dikonsumsi oleh konsumer golongan ini. Berkaitan dengan hal ini, pengusaha bisa menawarkan makan organik yang berasal dari dalam negeri. Hal lain yang bisa ditawarkan adalah penggunaan produk packaging yang bio-degradable/ecological friendly/recyclable, usaha sewa barang, produk tahan lama, dan usaha recycling alat elektonik.
Memang untuk memulai usaha baru pasti dibutuhkan informasi, pengetahuan dan keahlian baru pula, termasuk usaha yang satu ini. Informasi, pengetahuan dan keahlian baru ini bisa didapati di universitas-universitas terkemuka dalam dan luar negeri. Biasanya mereka menyediakan mata kuliah, kursus, seminar dan perpustakaan yang memberikan informasi sejenis ini.
Di samping itu, buku, majalah dan newsletters keluaran terbaru juga sering membahas topik ini.
Jika anda punya akses ke internet, maka fasilitas muktahir ini adalah alat yang paling bisa diandalkan dalam mencari dan memperkaya informasi mengenai usaha yang berkaitan dengan lifestyle going green.
Kapan waktu yang tepat untuk memulai usaha seperti ini? Jawabannya adalah sekarang. Jangan sampai jauh tertinggal oleh Namaste Solar.
_____
Dr. Beni Bevly adalah penulis buku Managing For Profit Organizations
in the Flatter World. Ia bisa dijumpai di www.overseasthinktankforindonesia.com. Artikel ini diterbitkan oleh majalah Duit!
Terkuburnya American Dream?
Oleh Dr. Beni Bevly
Memasuki tahun 2007 beberapa kenalan dan tetangga saya di Kalifornia Utara mulai menunjukkan kegelisahannya terhadap perkembangan perekonomian Amerika Serikat (AS). Kemakmuran ekonomi yang dinikmati dan memberi keuntungan pada banyak orang – termasuk kenalan saya – sejak tahun 2000 yang ditandai dengan menaiknya harga rumah mencapai 86% pada pertengahan tahun 2006, ternyata membawa keprihatinan dan kesedihan yang mendalam. Sebenarnya apa yang terjadi? Apa akibatnya bagi sebagian masyarakat AS? Siapa pelaku utamanya? Benarkah American Dream juga ikut terkubur?
Pada masa kemakmuran ekonomi – yang bisa dikatakan semu – inilah pembangunan dipacu laju. Lahan kosong dan kering kerontang dalam beberapa bulan menjadi daerah real estate disertai dengan atau tanpa pembangunan business area atau daerah pertokoan, perkantoran dan industri ringan. Untuk membeli rumah secara kredit pada saat itu, seseorang harus ikut lotere dan berlomba dengan ratusan pembeli yang lain. Harga sewa toko juga meningkat drasatis. Pada saat itu, seseorang dengan pendapatan lumayan (sebutlah berkisar $75.000-$120.000/tahun) bisa membeli beberapa rumah. Kondisi seperti inilah yang terjadi di kota baru di mana saya tinggal.
Proses pembelian yang sudah atau sedang ditinggali harus melalui proses bidding secara tertutup. Dengan proses ini, seorang pembeli memberikan penawaran harga rumah yang lebih tinggi dari harga yang dipasang oleh penjual melalui amplop tertutup. Penjual tinggal memilih penawaran yang paling menguntungkan untuk mereka. Pada tahun 2004, saya sempat mem-bid satu rumah dengan $7.000 di atas harga yang dipasang, tetapi pemilik rumahnya menjual kepada pembeli lain yang mem-bid lebih tinggi.
Bukan itu saja, banyak di antaranya yang menguangkan dari kenaikan harga rumah mereka. Dengan menggunakan equity (lebih tepat disebut capital gain) yang ada, mereka melakukan refinance. Dengan proses ini mereka memperoleh uang cash di tangan, di pihak lain, nilai utang rumah mereka otomatis menjadi lebih besar. Dengan adanya cash di tangan, sebagian dari mereka berhenti kerja dan mulai berusaha. Sebagian besar menghabiskan uangnya untuk bertamasya, membeli barang mewah seperti mobil, me-remodel rumah, membeli rumah baru dan lain-lain. Tetanggaku membeli satu speed boat. Secara berkala ia mengajaku memancing atau ber-ski air dengan menggunakan perahunya.
Menjelang tahun 2007 keadaan berubah. Awal tahun 2008, Shirley, seorang pemilik rumah di samping rumah saya pernah berkata dengan mata berkaca-kaca, “Beni, I do not know what to do? Now I even can not sell my houses.”
Shirley yang sehari-harinya bekerja sebagai seorang perawat tergiur untuk mencari keuntungan besar. Ia membeli empat rumah secara kredit, setelah itu ia berharap harga rumahnya akan naik dalam waktu singkat, kemudian dijual untuk mendapat keuntungan.
Ternyata yang terjadi adalah kebalikan, keempat rumahnya yang berlokasi di Las Vegas dan di Kalifornia Utara mengalami penurunan harga secara drastis yang di antaranya mencapai lebih dari 50 persen, dari rata-rata $500.000 kini menjadi kurang dari $300.000. Supaya laku, maka ia harus menjualnya dengan harga jauh di bawah harga beli atau harga pasar pada saat itu.
Jika penjualan ini terjadi, maka ia harus menombok ratusan ribu dollar kepada bank. Selain itu, ia sudah menghabiskan uang begitu banyak untuk pengurusan pembelian ke empat rumah, dan membayar kredit bulanan. Tentu ia tidak mau menjual rumah-rumahnya dengan harga yang sangat murah dan menderita kerugian besar. Lalu apa yang ia perbuat?
She walked away. Ia meninggalkan keempat rumahnya begitu saja. Rumahnya kini berstatus forclosure. Hal ini juga terjadi pada Charles, kenalan saya yang lain. Bedanya ia membeli rumah secara kredit, bukan untuk mencari keuntungan tetapi untuk tempat tinggal ia dan keluarganya yang tercinta.
Kasus lain, pada awal Oktober 2008, Adam – seorang pelangganku – terlambat membayar uang keangotaannya. Ia menerangkan alsannya kepadaku, “Man, I was stressed out. My 401K was messed up. I moved my CD and money from Washington Mutual Bank.”
Krisis ekonomi ini menurunkan nilai 401K-nya (semacam tabungan masa pensiunya). Ia telah kehilangan beberapa puluh ribu dollar karena 401K-nya diinvestasikan oleh satu institusi keuangan yang ditunjuk perusahaan di mana ia bekerja. CD (certificate of deposit) dan uangnya yang dipindahkan ke bank lain belum clear. Hal ini membuat ia stress dan panik.
Situasi panik dan kepedihan yang menimpa Shirley, Charles dan Adam juga terjadi pada ribuan bahkan jutaan penduduk AS. Pertanyaan selanjutnya, sebenarnya apa yang terjadi?
Sebelum menjawab pertanyaan di atas, saya ingin meberikan ilustrasi lain secara mikro bagaimana krisis ekonomi ini menimpa para pengusaha, termasuk pengusaha kecil.
Setelah tidak bertemu beberapa lama, Eric, salah satu kenalan saya, mempunyai banyak bahan pembicaraan. Dengan perasaan prihatin ia berkata, “You know Beni, I am going to sell my business.”
“Why?” Saya bertanya.
“Last year it was still OK, but not now. It’s not. So far my business can survive because I go back to work. I have been using my salary to pay the expenses.” Kemudian ia menanyakan apakah saya kenal dengan orang yang mau membeli usahanya.
Sekarang plang usahanya telah berganti menjadi “Quickly coming soon”.
Singkatnya, Eric tidak mampu meneruskan usahanya karena berkurangnya pelanggan. Menurut pengakuannya, padahal ia sudah mendeversifikasi dan memberikan diskon, tetap saja tidak selaku tahun lalu. Hal yang serupa dialami oleh Jason, pemilik restoran Hawaiian Barbeque.
Di lain tempat, sekitar 20 mile dari tempat tinggalku, Nancy pemilik usaha massage therapy meminta bantuanku untuk menulis surat kepada management mall – yang akan ditandatangani penyewa-penyewa lain – untuk menurunkan harga sewa karena berkurangnya pelanggan. Mereka berjuang menekan pengeluaran supaya tidak bangkrut.
Secara pribadi, saya juga kehilangan salah satu rekan olah raga dan teman hang out saya, Robert. Untuk effisiensi kerja, Nordstrom di mana tempat ia bekerja melakukan restrukturisasi tenaga kerja. Ia berkata, “I was lucky, Beni. I just needed to adjust with my new position and my lower salary. A lot of my co-workers got laid off.”
Selain itu kami juga sering nongkrong di salah satu Starbucks, sekarang Starbucks itu telah tutup. Toko ini adalah salah satu dari 600 toko yang direncanakan akan ditutup sejak July 1, 2008. Secara keseluruhan Starbucks mengalami penurunan pendapatan hampir 30%.
Pada saat ini pembangunan rumah dan daerah bisnis di tempat saya tinggal hampir berhenti. Lennar – developer ke dua terbesar di AS dan Centex – ke empat terbesar – telah menarik diri. Pulte – developer no satu terbesar – yang sedang menyelesaikan pembangunan beberapa petak tanah akan segera hengkang. Setelah itu hanya akan tinggal Shea Homes yang berjanji akan membangun lapangan golf dan rumah tinggal muktahir. Secara keseluruhan terdapat 8 devisi yang belum dibangun dari 12 divisi yang direncanakan.
Di tingkat internasional, krisis ekonomi di AS benar-benar terangkat kepermukaan dan menyebabkan kepanikan ketika pasar stock di negara-negara berpengaruh mengalami penurunan tajam pada hari Juma’at, 10 Oktober 2008. Di AS Dow Jones mengalami penurunan 7,3 persen, di Jepang Nikkei 9,4 persen, di Hongkong lebih dari 8 persen, di Singapura and Korea Selatan 6 and 5 persen berturut-turut, dan di Indonesia lebih dari 10 persen. Penurunan ini adalah yang terbesar sejak the Black Monday Market Crash di bulan Oktober 1987.
Sebelum itu, pada tahun 2007 AS mengalami defisit dalam transaksi sebesar $847 miliar. Hal ini menyebabkan penurunan dollar AS. Pada saat yang bersamaan terjadi penurunan harga rumah secara drastis. Daerah tertentu mencapai 30-50 persen. The wall Street Journal melaporkan bahwa sekitar 12 juta keluarga (16 persen penerima kredit rumah) membayar lebih besar dari nilai rumah yang mereka diami. 29 persen dari pembeli rumah secara kredit dalam lima tahun terakhir ini terancam untuk forclosure.
Pada February 2008, 63.000 orang kehilangan pekerjaannya, rekor dalam 5 tahun. Pada September 159.000 orang dirumahkan lagi. Hal ini berarti 84.000 orang per bulan kehilangan pekerjaan mereka. Tanggal 5 September 2008, the United States Department of Labor melaporkan bahwa angka penganguran naik menjadi 6,1%, paling tinggi dalam lima tahun.
Tanggal 7 September 2008, mortgage lenders Fannie Mae and Freddie Mac dinyatakan dalam keadaan “dirawat” dan perlu mendapat suntikan dana. Setelah itu, 15 September Lehman Brothers, perusahaan investasi terbesar menyatakan diri bankrut. Perusahaan asuransi terbesar AS, AIG diberikan suntikan dana dari Federal Reserve, dan consortium dari 10 bank sebesar $70 miliar.
Perekonomian AS hanya tumbuh 0,6 persen dalam quarter pertama di tahun 2008, menurun dari prediksi sebesar 2,2 persen.
Barack Obama mengatakan bahwa krisis ekonomi sekarang adalah yang terbesar sejak Great Depression 1929.
Kembali kepertanyaan mengapa hal ini terjadi dan siapa pelaku utamanya? Menurunnya harga stok adalah indikasi makro yang jelas dari menurunnya perekonomian suatu negara, termasuk AS. Penurunan ini di-trigger oleh merosotnya kepercayaan para pemegang saham/stok terhadap kondisi ekonomi saat itu. Ketidak-percayaan ini menyebabkan para pemegang saham panik dan melepas saham mereka hampir dalam waktu yang bersamaan dengan harga murah. Selanjutnya timbul pertanyaan, mengapa mereka berbuat demikian? Perbuatan mereka merupakan reaksi terhadap proses dan penumpukan masalah ekonomi yang telah berjalan tahunan.
Banyak ahli ekonom yang melihat ini sebagai akibat deregulasi, dimana pemerintah memberikan kebebasan yang luas pada para pelaku pasar. Pihak pemerintah yang dikuasai oleh kalangan konservatif percaya dengan keampuhan ekonomi pasar bebas yang salah satu pemikir utamanya adalah Milton Friedman. Pasar bebas diyakini akan menimbulkan persaingan yang akan membawa kemajuan dan mempunyai kemampuan untuk mencari jalan keluar dari permasalahan yang ada.
Deregulasi seperti ini menimbulkan praktek ekonomi yang tidak sehat. Para investor besar mendesak para CEO untuk menuai keuntungan super besar dalam jangka pendek, untuk itu para CEO akan diberi bonus hingga pendapatan mereka bisa mencapai ratusan juta dollar. Siapa yang tidak tertarik dengan tawaran ini? Maka terciptalah berbagai macam produk finansial yang pada akhirnya menjadi senjata makan tuan.
Mari kita lihat lebih mendetil bagaimana proses deregulasi ini digulirkan. Perbuatan utama yang perlu dilakukan tentunya membatalkan rergulasi. Tercatat dalam sejarah AS bahwa deregulasi yang sangat kontroversial adalah tindakan Presiden Nixon pada awal tahun 1971 dengan membatalkan cadangan emas sebagai patokan nilai dollar AS. Momentum ini agaknya menjadi inspirasi bagi deregulasi berikutnya.
Deregulasi yang diduga langsung berkaitan dengan krisis ekonomi sekarang adalah pemberlakuan Gramm-Leach-Bliley Act pada tahun 1999. Senator Phil Gramm yang menjadi Kepala Penasihat Ekonomi calon Presiden McCain sekarang adalah pemerakarsanya. Intinya ketetapan ini menderegulasi banking industry dan mengijinkan bank untuk untuk merger dengan perusahaan security. Hal ini otomatis membatalkan Glass-Steagall Act tahun 1933 yang memisahkan commercial dan investment banking.
Setelah itu, Gramm berhasil menggoalkan amendment yang mengijinkan bank dan broker melakukan trading mortgage seperti trading stock dan bond. Degergulasi jenis ini menyebabkan terjadinya trading sub-prime mortgage yang menjadi penyebab utama krisi ekonomi sekarang.
Pada tahun 2002, Presiden Bush mempropagandakan agenda “ownership society” yang menyatakan bahwa masyarakat berpendapatan terendah sekalipun seharusnya mampu memiliki rumah.
Ide Gramm dan Bush tidak akan berkembang menjadi bubble dan meletus jika mereka tidak didukung dengan tindakan Alan Greenspan, seorang ekonom dan Chairman dari the Federal Reserve dari tahun 1987 sampai 2006.
Setelah 9/11 tahun 2001, the Federal Open Market Committee, di mana Greenspan sebagai ketuanya, memveto mengurangi suku bunga dari 3,5% to 3,0%. Kemudian, setelah Accounting Scandals tahun 2002 yang melibatkan Enron, Federal Reserve menurunkan suku bunga lagi menjadi 1,0%.
Tindakan Greenspan ini oleh Ekonom Pemenang Nobel Prize Joseph E. Stiglitz – yang pandangannya sering bertentangan dengan Milton Friedman – dinilai sebagai penyumbang besar dalam krisis ekonomi sekarang. Stiglitz mengatakan, “didn’t really believe in regulation; when the excesses of the financial system were noted, [he and others] called for self-regulation—an oxymoron.”
Selain Greenspan, Richard Syron (Chairman dan Chief Executive Freddie Mac atau Federal Home Loan Mortgage Corporation) dan David Taiclet (CEO dari Fannie May atau Federal National Mortgage Association) juga diyakini sebagai dalang krisis ini. Kedua institusi keuangan ini memfasilitasi liquiditas pasar mortgage dengan memastikan bahwa dana selalu tersedia untuk badan yang akan meminjamkan uang kepada pembeli rumah.
Sangat tidaklah mungkin bahwa mereka tidak mengetahui bahwa dana yang dikucurkan tersebut adalah untuk sebagian peminjam yang sebenarnya tidak legitimate. Walaupun demikian dana terus mengalir yang totalnya berjumlah $5,3 trillion, hampir setengah dari keseluruhan pasar mortgage di AS yang berjumlah $12 trillion.
Pada saat yang bersamaan pendapat kedua CEO ini sangat besar. Securities and Exchange Commission melaporkan bahwa Richard Syron seorang diri saja mengantongi hampir $19,8 juta tahun lalu walaupun harga stok perusahaanya telah turun 50%.
Di institusi finansial lain, Joe Cassano yang berada dibelakang Financial Products Unit AIG (American International Group, Inc) mengasuransikan sub-prime mortgage yang beresiko tinggi dan Credit Default Swap (CDS). CDS adalah produk derivative yang merupakan perjanjian antara dua pihak di mana “pembeli” membayar secara periodic kepada “penjual” sebesar harga di mana diperhitungkan pembayaran tuntas apabila terjadi default atau ketidakmampuan membayar dalam hubunganannya dengan entitas ketiga. Singkatnya, karena ulahnya, Cassano menjadi orang yang paling bertanggung jawab terhadap keruntuhan AIG.
Tahukan anda berapa gaji dan bonus orang yang mempunyai andil dalam keruntuhan AIG ini? Cassano telah mengeruk $280 juta sejak tahun 2000. Sekitar $35 juta per tahun.
Tamparan yang lebih hebat lagi untuk perekonomian AS adalah berita yang dibawa oleh Richard Fuld, CEO Lehman Brothers. Pada tanggal 15 November 2008, Fuld mengumumkan berita kebangkrutan terbesar dalam sejarah AS. Kebangkrutan tejadi karena perusahaan yang menjual produk financial services, investment banking dan investment management ini memegang terlalu banyak subprime dan mortgage lainnya yang mempunyai bunga rendah. Selain itu, perusahaan ini diduga terlibat dalam tansaksi Credit Default Swaps yang nilainya mencapai ratusan miliar dollar.
Dalam kuarter kedua tahun 2008, dilaporkan bahwa Lehman rugi $2,8 miliar dan terpaksa menjual $6 miliar asetnya. Dalam setengah tahun petama di tahun 2008 harga stoknya menurun sebanyak 73%.
Pada 6 Okober, 2008, pada saat Richard Fuld memberikan kesaksian di depan Kongress, Representative Waxman bilang bahwa Fuld mengantongi hampir $500 juta sejak tahun 2000, sambil memimpin Leman ke arah kebangkrutan.
Waxman berkata pada Fuld, “My question is a simple one. Is this fair?” Fuld menerangkan bahwa ia tidak dibayar semuanya dengan uang tunai. Ia menerima options dan incentives lainnya yang tidak ada harganya lagi setelah perusahaannya bangkrut.
Hal lain yang patut didiskusikan bahwa selain institusi keuangan, industri real estate juga mempunyai andil dalam menciptakan krisi ekonomi ini. Contohnya adalah perusahan developer (di AS disebut builder) ke sembilan terbesar di AS, Beazer Homes USA Inc. dengan CEO Ian McCarthy. Untuk mengejar keuntungan maha besar yang revenue-nya mencapai hampir $5 miliar, perusahaan ini telah melanggar federal law, termasuk pemalsuan data para pembeli rumah supaya kredit mereka bisa dikabulkan oleh bank.
Karena revenue yang besar itulah maka, McCarthy mengantongi sebanyak sebanyak $29,6 juta pada tahun 2006. Pada tahun 2007, pendapatannya menurun 75%. Hal ini disebabkan di antaranya manurunnya pendapatan perusahaan dan perbuatan kriminalnya, sehingga ia “hanya” menerima $7,5 juta.
Ada sebagian yang berpendapat bahwa krisis ekonomi seperti ini mestinya tidak terjadi jika Charles Christopher Cox sebagai Chairman dari U.S. Securities and Exchange Commission (SEC) mengambil inisiatif perbaikan dan tindakan tegas terhadap para pelaku pasar yang jelas tidak etis dan menyebabkan krisis ekonomi. Karena sikapnya yang masa bodoh itu, pada 8 September 2008, calon presiden John McCain berkata, “The chairman of the SEC serves at the appointment of the president and, in my view, has betrayed the public’s trust,” Ia menambahkan “If I were president today, I would fire him.”
Sebenarnya apakah ada pihak lain yang mencoba memberi masukan dan ingin mencegah terjadinya krisi ekonomi ini? Jawabannya ada. Sebagai contohnya Attorney General dari 50 negara bagian pernah menuntut untuk memberhentikan subprime lending, terutama subprime mortgage. Tetapi tuntutan ini dikalahkan oleh George Bush dengan mendayagunakan the Office of the Comptroller of the Currency (OCC) dan membatasi hak dari negara bagian untuk menuntut pemberlakuan Lending Law.
Ke tingkat mikro, bagaimanakah begitu banyak masyarakat AS terjebak dalam subprime mortgage yang menjadi salah satu penyebab utama krisis ekonomi?
Singkatnya, subprime mortgage dapat diartikan sebagai kredit pemilikan rumah yang beresiko tinggi. Jika seseorang memiliki subprime mortgage berarti orang itu akan mengalami kesulitan untuk membayar cicilan bulannya pada pihak yang memberi pinjaman atau lender yang umumnya adalah bank.
Seperti apakah bentuk subprime mortgage itu? Jika anda pernah membaca kontrak jual beli rumah secara kredit di AS maka anda akan menemukan salah satu dari kedua istilah ini, yaitu istilah ARM atau Adjustable-Rate Mortgage dan 30 Year Fix Rate.
Umumnya ARM mengandung resiko yang lebih tinggi karena suku bunga bisa berubah setelah dalam jangka waktu tertentu dan kebanyakan pembeli rumah hanya melakukan pembayar bunga saja setiap bulannya. Sedangkan 30 Year Fix Rate menawarkan pada pembeli rumah untuk melakukan cicilan, termasuk bunga dan principle, dengan suatu jumlah uang yang tetap dan dalam waktu 30 tahun maka rumah itu akan lunas.
Keuntungannya pada ARM bahwa pada mulanya dan umumnya ia menawarkan cicilan yang lebih murah dari 30 Year Fix Rate. Biasanya, jangka waktu ARM mulai dari 6 bulan sampai 12 tahun ARM. Artinya sesuai dengan kontrak, suku bunga tidak akan mengalami perubahan dalam waktu tertentu. Setelah itu suku bunganya akan disesuaikan dengan keadaan pasar. Kebanyak yang terjadi adalah kenaikan suku bunga yang cukup tinggi, yang juga berarti kenaikan cicilan bulanan bagi pembeli rumah. Di sinilah letak masalah utama bagi para pembeli rumah, terutama mereka yang pendapatannya hanya cukup untuk membayar cicilan pada periode pemula.
Ternyata penawaran dari pihak yang meminjamkan uang untuk kepemilikan rumah ini semakin mengiurkan. Satu produk baru yang dikenal dengan Option ARM memberikan alternatif pada pembeli rumah untuk membayar cicilan bulanan rumah jauh lebih rendah dari seharusnya. Dalam Option ARM terdapat satu pilihan yang dinamakan Negative Amortization, yaitu pembeli bisa mencicil lebih kecil dari harga interest only. Sebutlah cicilan mereka dalam program ARM sebesar $2.000/bulan. Dalam program Negative Amortization ini mereka bisa mencicil dengan $1.500/bulan.
Lalu kemana selisihnya yang berjumlah $500? Selisih ini akan ditambahkan ke principle utang sehingga utangnya setiap bulan akan bertambah $500.
Apa kriteria seseorang untuk mendapatkan kredit pemilikan rumah dari lender di AS? Paling tidak ada dua criteria yaitu Credit Score (CS), dan rasio utang dan besarnya pendapatan seseorang. Tentu saja masih ada faktor lain seperti pemilikan kartu kredit, dan rasio jumlah credit line dan kredit yang dipakai. CS ditentukan oleh tiga badan yang bernama TransUnion, Experian dan Equifax yang dasar utamanya berpatokan pada tingkah laku pembayaran seseorang atas utang.
Kebalikan dengan anggapan umum mengenai CS. Sebenarnya, semakin banyak utang dan semakin lancar seseorang membayar utangya maka CS-nya akan naik. CS berkisar antara 310 – 840. Nilai 620 kebawah disebut poor, 620 – 659 fair, 660 – 749 good dan 750 – 840 excellent. Nilai fair pada saat itu sudah cukup bagi seseorang untuk membeli rumah secara kredit.
Rasio utang dan besarnya pendapatan seseorang pada umumnya dilihat dari pay check, bank statement dan dokumen pembayaran pajak yang dibandingkan dengan data dari CS. Tetapi dengan program baru, seseorang tidak harus menggunakan ketiga dokumen untuk membuktikan besarnya pendapatannya, ia cukup memberikan surat atau stated income yang menyatakan berapa pendapatannya.
Selain itu, dalam program kredit pemilikan rumah pada saat itu, seseorang juga tidak perlu membayar uang muka dan bahkan tidak perlu membayar uang closing, seperti biaya escrow (seperti pengurusan balik nama dan pengcekan keabsahan dokumen), notaris dan komisi realtor yang biasanya membutuhkan puluhan sampai ratusan ribu dollar, tergantung dari harga rumahnya. Hal ini dimungkinkan karena koloborasi antara broker, appraiser, realtor dan bank.
Broker dan realtor bekerja sama untuk menunjuk appraiser supaya memberikan penilaian harga rumah di atas harga jual, sehingga bank bisa menggucurkan dana berdasarkan nilai yang di-appraise yang bisa mencapai lebih 110 persen dari harga beli. Kelebihan nilai appraisal ini akan digunakan untuk biaya closing. Dengan demikian pembeli rumah hanya membayar cicilan bulan pertama.
System appraisal yang menambahkan harga rumah menjadi lebih tinggi dari sebenarnya, pada akhirnya menciptakan nilai baru yang lebih tinggi, bukan hanya terhadap rumah yang di-appraise tetapi juga terhadap rumah di sekitarnya.
Akibat koloborasi seperti di ataslah maka sekarang paling sedikit terdapat 12 juta keluarga di AS yang mempunyai utang lebih besar dari harga rumah sebenarnya. Mereka sedang terancam tidak mampu bayar cicilan bulanan. Jika keadaan ini tidak ditemukan jalan keluarnya maka perekonomian AS yang sudah tertatih-tatih akan terpuruk. Akankah $700 milliar bailout pemerintah membantu menyelesaikan masalah ini?
Benarkah American Dream terkubur besama dengan krisis ekonomi? Agaknya untuk 12 juta keluarga tersebut, sementara ini harus menerima kenyataan pahit.
Di sisi lain, untuk jutaan keluarga yang lain, inilah kesempatan mereka untuk merealisasikan American Dream mereka dengan cara memiliki rumah yang lebih terjangkau dan realistis. Paling tidak – seperti pepatah Amerika – “There is a silver lining in the cloud” bagi mereka. Alasannya bukan hanya mengenai kepemilikan rumah, tetapi serangkain program perubahan perbaikan sedang dan telah digulirkan oleh pemerintah AS.
______
Dr. Beni Bevly adalah penulis buku Managing For Profit Organizations in the Flatter World. Ia bisa dijumpai di www.overseasthinktankforindonesia.com. Artikel ini diterbitkan oleh Majalah Duit.
Terminator’s lessons in leadership
By Jennie S. Bev
I was invited to attend an annual presentation by the 38th governor of California, Arnold Schwarzenegger, as organized by The Commonwealth Club, a public affairs forum, at the historical Fairmont Hotel in San Francisco last month.
Beyond my expectations, which later turned my skepticism upside down, this former Terminator and Kindergarten Cop is more than a celebrity hunk, but also a brainy politician, an intelligent speaker and an inspiring leader who is not only charming but also mind-set changing.
Many lessons can be learned from the substance, the presentation style and the speaker’s character as conveyed to the public in a mesmerizing way. Indonesian celebrities who are considering or already in the world of politics can definitely learn from Schwarzenegger.
Schwarzenegger talked about California being an international leader in the “green movement” with the accomplishment of AB 32 California’s Global Warming Solutions Act of 2006 and what his position is on the chant “Drill, Baby Drill”, which was made popular in the recent Republican Convention.
Schwarzenegger opened the speech with appreciation of Teddy Roosevelt — a strong advocate and a visionary of environment stewardship who spoke in the same forum in 1911 — and how he is grateful for materializing a life that is way beyond his wildest dreams.
I agree with this former Mr. Universe’s notion that California might be a small spot on the world map, but it has the power and influence of a continent. And it is backed by strong economic power: According to the 2007 CIA World Factbook, if California were an independent nation, it would have been the 10th largest economy in the world, alongside the United States, China, Japan, India, Germany, the UK, Russia, France and Brazil.
Under Schwarzenegger’s tenure, genuine concerns about environmental conservation by reducing greenhouse gases and carbon footprints are a strong internal motor that have made California a leader.
“We’ve reached a tipping point on the environment, and two years after I signed our ambitious global warming law, California is now at the forefront of the fight against climate change,” Schwarzenegger said. “We are not waiting for the federal government to get going but are working to lay the groundwork for an eventual national climate change program. The truth is there is far more economic opportunity in fighting global warming than there is economic risk.”
While Al Gore aims to implement completely renewable energy sources within 10 years, which will not be possible as scientists and activists have shown reservations, Schwarzenegger realistically aims for 20 percent renewable energy sources by 2010, which is doable. After all, as he quoted Bismarck, “Politics is the art of possible rather than the art of perfection”.
On “Drill, Baby Drill”, he recalled that in 1968, when he had just arrived in California, there was an oil spillage that overran Moss Beach in Los Angeles with tar. At that point, he made a pact to protect the environment. He clearly confirmed his stance that he would oppose any offshore drilling in California — and the whole of the United States for that matter — regardless of the two presidential candidates’ softening position on this issue.
He added that he would explore other renewable energy opportunities, such as nuclear, solar, wind and clean coal. In addition, he said he believed that if all states of the United States used California’s standards, it would be much more efficient as the guidelines are readily available for execution.
Overall, the substance of this speech might sound a bit typical in terms of its green messages, but the presentation itself was one of the most powerful I have ever seen. Such an impeccable, humorous and confident facade cannot be learned in a few days or even months. Schwarzenegger, apparently, has mastered the art of being an inspiring leader, which is about much more than being a celebrity politician. He has morphed into The Great Inspirer; as he put it bluntly, “We need to inspire people to act.”
In Indonesia, we have seen many celebrities trying to get lucky by plunging into the world of politics. We have seen how their celebrity status is the key to being elected to a position in parliament or another executive position. And Indonesians might possess a far different mentality than Americans, but all humans prefer to be inspired and to inspire others, especially in this trying time when Mother Nature needs our protection and care much more than before.
After all, the start of autumn might mean we are facing the inevitable winter, but we can flip it over into the dawn of spring. And one of the keys to success is having strong and inspiring leaders whose vision is in alignment with the world’s greatest contemporary need: a sustainable environment where mankind, civilization, flora, fauna and the planet are in balance.
And for this, we can learn from the one who ended his speech with “I’ll be back!”
_______
The writer is an author and a columnist based in Northern California. This article was published by the Jakarta Post.








