Overseas Think Tank for Indonesia

facilitating intellectuals to contribute to indonesia

Archive for the ‘Environmental and Housing’ Category

HITUNG-HITUNGAN SOAL KORUPSI

with 51 comments

Desa Tertinggal

Oleh Beni Bevly
Membaca pernyataan seorang menteri tentang keadaan desa-desa tertinggal di Indonesia sempat membuatku tercengang. Lalu aku teringat akan satu artikel yang pernah aku baca, yaitu tulisan Hayie Muhammad, Direktur Program Indonesia Procurement Watch. Aku pikir kenapa tidak aku coba hubungkan ini semua dengan menggunakan hitung-hitungan matematika secara kasar. Setelah aku lakukan, ternyata aku menemukan angka yang juga sangat mencengangkan, yaitu hanya dengan 12.5% uang hasil korupsi, desa-desa tertinggal tersebut bisa dimajukan.

Pada tanggal 15 Mei 2007 lalu, Menteri Kedulatan dan Perikanan, Freddy Numberi di Surabaya mengatakan,

“Di Indonesia ada 70.611 desa
dengan 20.000 diantaranya tanpa Puskesmas,
17.000 tak bisa dilintasi,
12.000 tanpa listrik,
30.000 dengan sebagian punya listrik dan sebagian tak punya listrik, dan banyak lagi.
Jadi, Indonesia bukan cuma Jakarta atau Surabaya” (antara.co.id).

Mengapa keadaan desa-desa ini sampai sedemikian parahnya? Untuk menjawab ini, coba kita kaitan dengan angka korupsi yang meraja rela di Indonesia.

Menurut laporan Bank Dunia dalam Indonesia Country Procurement Assessment Report, Reforming the Public Procurement Assessment System (2003) dan Komisi Pemberantasan Korupsi bahwa korupsi terbesar terjadi di bidang pengadaan barang/jasa, yaitu 77% dari total jumlah korupsi . Jumlah yang diperkirakan dikorupsi dari bidang ini setiap tahun mencapai hingga RP. 70 triliun (Hayie Muhammad, Mendesak, UU Pengadaan Barang, 2007). Jika kita berasumsi bahwa korupsi seperti ini telah bejalan 30 tahun, maka angka yang diperoleh adalah:

Rp. 70 triliun x 30 tahun = Rp. 2.100 triliun yang dikorupsi.

Selanjutnya kita akan hitung berapa biaya yang dibutuhkan untuk membangun puskesmas, sekolah, jalan aspal dan pembangunan listrik bagi saudara-saudara kita yang malang di desa yang ditinggal.

Pembangungan satu puskesmas memakan biaya sekitar Rp. 50 juta dan sekolahan SD sekitar Rp. 90 juta. Hal ini terlihat dari kegiatan yang dilakukan oleh Dompet Bengkulu dengan mengandalkan biaya dari Pembaca Kompas tahun 2000, sebagai berikut:

Dua proyek yang biaya pembangunannya ditanggung oleh Dompet Bengkulu adalah satu puskesmas pembantu Rp 49,5 juta, dan satu unit SD senilai Rp 88,4 juta (kompas.com).

Pembangunan jalan beraspal dibutuhkan biaya Rp. 1,6 milliar per kilo meter. Ingat ini adalah angka dari dari pemerintah, Dirjen Bina Marga, yang biasanya telah dibesar-besarkan atau di-mark up untuk dikorupsi. Kutipan langsungnya sebagai berikut:

Berdasarkan hasil kajian Ditjen Bina Marga, biaya konstruksi pengecoran beton badan jalan dengan lebar tujuh meter rata-rata sebesar Rp 2 miliar per kilometer. Sedangkan pembangunan jalan baru yang menggunakan aspal menghabiskan biaya Rp 1,6 miliar per kilometer (perpustakaan.bappenas.go.id).

Total jalan di Indonesia panjangnya 368.360 km, di antaranya yang beraspal 213.649 km dan yang tidak beraspal sepanjang 154.711 km (cia.gov). Aku berasumsi, jika jalan yang 154.711 km diaspal maka sebagian 17.000 desa itu bisa dilintasi.

Biaya penyambungan listrik untuk satu rumah dengan contoh Banda Aceh adalah mulai dari Rp. 454.000, Rp. 655.000 dan Rp. 1,1 juta (serambinews.com). Ambillah nilai tengahnya, yaitu Rp. 655.000 dan anggaplah rata-rata terdapat 1.500 rumah di setiap desa.

Maka perhitungan untuk keseluruhan pembiayaan di atas adalah:

20.000 puskesmas x Rp.50 juta = Rp. 1.000.000.000.000 atau Rp.1 triliun

20.000 SD x Rp. 90 juta = Rp. 1.800.000.000.000 atau Rp. 1,8 triliun

154.711 km jalan x Rp. 1.6 milliar = Rp. 247.537.600.000.000 atau Rp. 248 triliun.

12.000 desa x 1.500 rumah x Rp. 650 ribu biaya listrik = Rp. 11.700.000.000.000 atau Rp. 12 triliun.

Jadi total biaya yang diperlukan untuk mengatasi permasalah yang dikatakan oleh menteri Kedulatan dan Perikanan, Freddy Numberi adalah Rp. 262,8 triliun.

Jumalah uang Rp. 262,8 triliun (12.5%) ini relatif kecil dan tidak berarti dibandingkan dari Rp. 2.100 triliun yang lenyap karena korupsi. Kalau begitu, jika uang yang hilang karena korupsi tersebut dipergunakan sebagaimana mestinya, maka saudara-saudara kita di yang desa-desa tersebut tidak perlu merasakan penderitaan seperti sekarang. Jika tidak ada penderitaan seperti ini, para menteripun kehabisan bahan pidato yang membuat aku tercengang mendengarkannya. Bukan itu saja, pemerintahpun akan kelebihan uang sebesar Rp. 1.837,2 triliun (Rp. 2.100 triliun – Rp. 262.8 triliun). Lalu mau dikemanakan uang yang maha banyak ini? Dikorupsi lagi?

_____
*Beni Bevly holds BA in Political Science, MBA in Marketing, and is a DBA (Doctor of Business Administration) candidate. He is the founder of Overseas Think Tank for Indonesia.

Written by Beni Bevly

May 18th, 2007 at 6:24 pm

EXXON MOBIL and ITS MORAL CONSCIENCE

with one comment

Exxon Mobil
Image Source: web.centre.edu

By Beni Bevly
I used to subscribe quite many magazines, but nowadays there are only two of them come into my mail box frequently. They are The Week and Fortune. I consume the rest of the news from internet and CNN.

A couple days ago, I received Fortune with its the most prominent news, Fortune 500 Companies. Who can resist from reading that news? I opened it right away and found out my favorite pages. It showed that Exxon Mobil (Exxon) occupied no. 1 position in profit column. Again? I said “again” because I compared it to last year news. I really wanted to make sure that I got it right. I went over a pile of my old magazines. Yes, I was right, Exxon was there, at the same spot. Why does it matter to me? Of course it does and it also does matter to you too.

In the American society and government who are known for their “perfect” check and balance system compared to other countries, still, it shows a lot of unfair and unethical business practices. With less perfect check and balance system, Indonesia, the country where I was born, also practices this kind of business. Many Indonesia’s government officials and businesses also took advantage and conducted corruption at the largest energy company in Indonesia, PERTAMINA. Of course, I do not tolerate it.

What I would like to say is that America (the United States) is one of the countries that talks and promotes ethics, morality, humanity and democracy all the times in front of other countries, including Indonesia, but on the other hand, the United States government do not solve the Exxon’s phenomenon that took too much advantage and exploit Americans and other host countries seriously, while Americans and other people in the host countries suffer from Exxon’s operation. This negative case will be easily emulated by those corrupt people in the host countries.

Here are the points. First, Exxon is one of the companies who has influence to our life directly through its products, oil and energy. If we are talking about oil and energy, it will relate to our daily activity, from the moment we were in incubation, born and grown, and from the time we wake up, go to work, eat and sleep. All these activities relate to the use of oil and energy, the light we turn on, the car we drive, and the most important thing is the CO2 (Carbon dioxide: a heavy odorless colorless gas formed during respiration and by the decomposition of organic substances; absorbed from the air by plants in photosynthesis, dictionary.com) that we inhale every single second has been polluted. With Exxon’s enormous influence in our life, the question is do they contribute something to create a better quality of life?

If you visit their corporate web site, you will find out their very smart way to mention what they have contributed to this society with its no.1 profit. Do you feel the positive impact on us directly? I do not.

Second, there is an irony between American society and Exxon. While most Americans suffer from gas increase, Exxon is enjoying its extraordinary big amount of net profits. In 2005 Exxon’s net profit increased 42.6% and in 2006, it increased 9.3%. With these increases, Exxon made $39,500,000,000.00 net profits. This number is 32.2% from total of $122.9 billion of net profit in energy industry. If you compare to other industries, such as financial and consumer staple industries, Exxon did not only make the most money, but they also had the most profit in percentage in its industry. While the companies with no. 1 profits in financial industry, Citigroup made 8.3%, and in consumer staple industry, Altria made 15.3%.

How can Exxon keep increasing the price of gasoline and make tremendous of money, while most Americans does not experience in increasing their earnings. Most employers do not raise their employees’ salaries. They even do not adjust the salaries to inflation rate for these past years.

I know, the United States is a liberal and capitalistic country, but at the same time the United States is also a country that respects and believes in moral conscience, ethical value and people’s prosperity. I do not think that Exxon Mobil fits into these values. Therefore, my fellows in developing countries, including Indonesia, do not get trapped with this situation again. We have suffered enough. The suffering that created by small groups of corrupt people.

_____
*Beni Bevly holds BA in Political Science, MBA in Marketing, and is a DBA (Doctor of Business Administration) candidate. He is the founder of Overseas Think Tank for Indonesia.

EDELWEISS: Bunga Abadi

with 108 comments

Edelweiss

Oleh Beni Bevly
Salah satu kegiatan yang aku gemari pada masa SMA dan kuliah adalah hiking. Dengan hiking, aku merasa menjadi satu dengan alam, suara burung, angin keresekan daun, bahkan hujan membuatku menjadi “hidup”. Tidak hanya itu, setelah mencapai kepuncak, “rasa hidupku” semakin menjadi. Aku merasakan kemegahan jagat raya dan bumi di mana aku berpijak. Pada saat itu aku merasa ada interaksi dengan alam dan gunung di mana aku bepijak. Maka bisalah dimengerti jika John Muir, pendiri Sierra Club, USA, organisasi pelindung alam terbesar di dunia, berkata, “Let us do something to make the mountains glad” sebagai imbalan bahwa gunung telah membuat kita “hidup.”

John Muir

Tempat favorit untuk hiking-ku adalah di Gunung Gede. Apa yang menarik dari Gudung Gede, sehingga aku memilih tempat ini? Alasan utamanya, selain yang aku kemukakan adalah tantangan yang masih dalam jangkauan. Alasan lain adalah romantisme remaja akan kisah bunga Edelweiss yang sering dicetuskan oleh penulis cerpen atau novel.

Biasanya aku dan temanku tiba di kaki Gunung Gede pada siang hari. Kami melakukan pengecekan terakhir. Hiking dimulai ketika hari menjelang sore. Begitu hendak memasuki trail, aku harus melewati pos penjaga. Di pos ini aku dan temanku yang lain akan diberitahu tentang peraturan larangan dan akibat pelanggaran aturan. Sebelum dilepaskan, kami diminta untuk push up sebagai bukti bahwa bahwa kami memiliki kekuatan fisik untuk mendaki.

Walaupun kesulitan trail untuk mencapai puncak aku kategorikan moderat, aku tetap bersikap sikap hati-hati. Ada dua tempat yang aku kira cukup berbahaya. Pertama, melewati genangan air. Seingatku, trail ini luasanya sekitar satu meter. Di sampingnya terdapat jurang curam yang dalam. Di antara genangan air yang kedalamannya bisa mencapai sepinggang itu terdapat batu yang berlumut dan licin. Batu inilah yang menjadi tempat kami menginjak. Jika tidak hati-hati, kemungkinannya adalah terpeleset dan jatuh kejurang tersebut.

Kedua, kami menyebutnya sebagai tanjakan maut. Tanjakan itu curammnya melebihi 45 derajat. Seperti biasanya, di hutan tropis, keadaan tanah dan batu yang lebih banyak diselimuti oleh lumut dan embun yang lembab dan becek. Di sana telah di pasang jaringan tambang. Pada suatu saat uku terlalu mengandalkan tambang itu. Aku mendaki dengan keyakinan penuh sambil membetot dan menginjak tambang tersebut. Setelah beberapa kali merayap, tiba-tiba tambang yang aku injak itu putus. Karena kehilangan injakan, badanku melorot, tetapi cukup beruntung bahwa aku memegang tambang yang lain dengan kencang. Pada saat itu, aku rasa jantungku mau copot.

Setelah melewati separuh perjalanan, kami beristirahat di salah satu pos yang disebut Kandang Badak. Di situ, di tengah udara yang dingin dan membuat tanganku bebal kesemutan, di tengah gelap yang hanya kedengaran suara air mengalir dan suara jengkrik, kami mendirikan tenda memasak indomie mengunakan portable kompor yang kami bawa. Setelah itu kami beristirahat, menghimpun tenaga untuk mengadakan “serangan fajar”. Serangan fajar yang kami maksudkan adalah meneruskan dakian pada saat yang tepat, yaitu pagi hari sehingga begitu sampai di puncak, kami bisa menikmati keindahan dan kemegahan alam melalui sinar matahari terbit.

Di puncak Gunung Gede inilah, bunga Edelweiss (Leontopodium alpinum) bisa ditemukan. Bunga ini berwarna putih-abu-kehijauan. Mereka tumbuh membentuk rimbunan kecil di permukanan tanah. Ketika dipetik dan disimpan di tempat kering dan temperatur ruangan, bunga ini tidak akan berubah warna seolah-olah ia tetap hidup dan abadi. Inilah keistimewaannya sehingga ia sering menjadi lambang kecintaan seorang remaja pria terdadap kekasihnya. Hal ini jugalah yang memancing para pendaki untuk memetik dan membawanya pulang.

Bunga Edelweiss dikelompokkan sebagai tanaman yang dilindungi oleh pemerintah, karena itulah setiap pendaki diperingatkan kembali untuk tidak memetik bunga ini. Bagi siap yang melanggar ketentuan ini akan dihukum dan didenda. Agaknya larangan dan ancaman hukuman ini semakin menunjukkan kejantanan, keteguhan hati dan pengobanan para pedaki remaja itu untuk membuktikan cinta mereka terhadap kekasihnya. Juga membuktikan betapa romantis mereka.

Maka tidaklah heran jika salah satu temanku memetik beberapa tangkai dan memasukkannya ke celana dalam di antara kedua selangkangannya. Ia telah mempersiapkan dari rumah dengan mengenakan dua lapis celana dalam. Dengan begitu ia bisa lolos dari geledahan penjaga pos di lereng gunung.

El Capitain

Setelah tinggal di AS kegemaran yang satu ini tidak aku bisa tinggalkan. Selama ini tempak yang aku temuai paling menyenangkan adalah hiking di bukit El Capitain. Bukit ini terletak di taman lindung Yosemite, Kalifornia Utara. Selain terkenal dengan bukit El Capitain-nya – yang sering dijadikan objek foto oleh gotografer terkenal, Ansel Adam – Yosemite juga terkenal dengan air terjunnya yang indah, pohon seqoia raksasa yang lobang di batang bawahnya bisa delewati mobil dan hampir setinggi monas, beruang dan macan gunung liarnya.

Pohon seqoia
Image source: extranomical.com

Dalam perjalanan ke Yosemite dengan mengendarai, ada sebuah terowogan yang cukup panjang perlu dilewati. Sekeluaranya dari terowongan tersebut, pemandangan bukit El Capitain yang spektakuler itu langsung terlihat. Di kaki bukit tersebut ada beberapa trail. Di mulut trail itu ditulis informasi yang jelas mengenai tingkat kesulitan, jarak dan hal-hal yang mesti diperhatikan. Salah satunya adalah adanya binatang buas seperti macan gunung. Sebagai pendaki, untuk melindungi diri, pendaki diijinkan membawa senjata api dan tajam lainnya.

Umumnya, aku memilih trail yang bisa pulang hari. Trail di El Capitain, jika dibandingkan dengan Gunung Gede, sangatlah aman dalam pengertian petunjuknya jelas, jalannya tidak becek dan belumut, tambang yang ada sangat kuat. Dengan kondisi ini, kecuali kecerobohan sendiri, seorang pendaki sulit untuk melorot dan jatuh karena tanah longsor atau licin.

Kondisi ini bisa dipertahankan karena “park ranger” melakukan perawatan berkala, seperti mengali saluran air, memindahakan batu yang longsor, meminggirkan pohon yang tumbang, dan mengganti tambang yang rapuh dengan tetap mempertahankan kealamian daerah itu. Selain itu di alam sub tropis, pada masa semi, panas dan gugur, hujan tidak turun, jadi alam hanya basah dan lembab selama kurang lebih 3 bulan dalam satu tahun.

Hal lain yang aku perhatikan bahwa sepanjang trail, sulit detemukan sampah berupa kantong plastik, botol air minum, atau bahkan puntung rokok. Menyimpan sampah di kantong baju atau di tasnya sendiri sampai ketemu tong sampah baru dibuang adalah kebiasaan umum di USA.

Dalam pendakian itu, aku melihat macan gunung sedang minum air dikali yang jernih. Dengan berhati-hati aku mencari angle yang baik dan memfoto macan itu.

Apa kesenangan hi king di Gunugn Gede, Indonesia dan di bukut El Capitain, Amerika? Kesenangan umumnya adalah tantangan yang menumbulkan rasa ingin menaklukkan, yaitu menaklukkan rasa letih, pegal di kaki dan keinginan untuk menyerah. Sebagai imbalannya adalah kagum atas kemampuan diri ku berjalan dan memanjat sedemikian jauh dan menikmati alam dari ketinggian. Bedanya dengan di Gunung Gede, keamanan dan kebersihan di bukut El Capitain lebih baik.

Bagaimana hal ini bisa terjadi? Pemakai dan pengurusnya mempunyai rasa memiliki dan tanggung jawab yang tinggi. Mereka tahu mana tindakan yang merusak lingkungan dan mana yang memelihara lingkungnan. Mana yang sebaiknya dilakukan dan mana yang tidak. Mereka bekerja sama, bukannya kucing-kucingan dengan pendaki yang ingin mendapatkan bunga Edelweiss sebagai lambang semu bukti kejantanan dan cinta mereka tanpa memperhatikan kelangengan bunga itu sendiri. Agaknya itulah maksud John Muir dengan, “Let us do something to make the mountains glad.”

_____
*Beni Bevly holds BA in Political Science, MBA in Marketing, and is a DBA (Doctor of Business Administration) candidate. He is the founder of Overseas Think Tank for Indonesia.

Written by Beni Bevly

March 27th, 2007 at 12:00 pm

CONFLICT IN ACEH

with 15 comments

An Indonesian army officer holds suspected rebel members in Aceh
Image source: msnbc.msn.com

By Beni Bevly
The conflict between Indonesian government and Aceh separatists has affected local people who live in Aceh. There are about 3,502 families live desperately because all the resources have been destroyed during the conflict. Now they live scattered around in emergency huts. Their houses and other properties were burnt. The parents have no way to support their children and themselves. A lot of them only eat one meal (rice) a day (Antara News, March 9, 2007).

What is the source of the conflict? Why has not this conflict been resolved?

A mother cries
Image source: theage.com.au

The simple reason that we hear every day is that the Aceh separatists want to liberate their people from Indonesian government’s occupation and have their own Islam nation. While the Indonesia government does their “job” to keep the unity of Indonesia.

Theoretically, according to Kreitner, R., & Kinicki, A. (1998), in “Organizational Behavior,” conflict accours because:
. Incompatible personalities or value system.
. Competition for limited resources.
. Inadaquate communication.
. Organization complexity (too many hierarchical layers).
. Unreasonable or unclear policies, standards, or rules.
. Unresonable deadlines or extreme time pressure.
. Unmet expectations.
. Unresolves or suspressed conflict.

To resolve the conflict, Indonesian government and Aceh separatists need to sit down and go over the above list that causes the conflict. Instead of treating each other as enemy, both parties will enjoy the benefits of cooperating as allies.

Cohan, R. & Bradford, L., in “Influence Without Authority” suggest the following tips for dealing with potential allies:
. Mutual respects. Assume they are competent and smart.
. Openness. Talk straigth to them. Give them the information they need to know.
. Trust. Assume that no one will take any action that is purposely intended to hurt another, so hold back no information that other could use, even if it doesn’t help your immediate position.
. Mutual benefit. Plan every strategy so that both parties win.

In this situation, both parties need a high integrity negotiator who can be trusted. The negotiators will discuss the problems and how to solve it based on Kreitner’s & Kinicki’s, and Cohan’s & Bradford’s frame works.

_____
*Beni Bevly holds BA in Political Science, MBA in Marketing, and is a DBA (Doctor of Business Administration) candidate. He is the founder of Overseas Think Tank for Indonesia.

JALAN DARAT, JALAN LAUT

with 8 comments

rencanapembangunanjalan
Image source: www.mountainhouse.net

Oleh Beni Bevly
Salah satu kegemaranku ketika tinggal di Gang Wijayasari, Pontianak adalah memancing ikan dan menangkap kodak. Pengalaman memancing ikan yang aku dilakukan pada siang hari dan menangkap kodok tentunya pada malam hari ini ternyata membuka mataku mengenai hubungan struktur jalan dan kondisi sosial-ekonomi masyarakat Indonesia yang parah.

Biasanya aku dan temanku memancing ikan di kali atau di sungai Kapuas. Jika memamcing di kali, aku menggunakan kail berumpan cacing yang disambung kebatang bambu kecil yang panjangnnya mencapai dua meter. Hasil pancinganku berupa ikan gabus dan belut.

Kalau memancing di sungai Kapuas, aku menggunakan kail yang disambung ke gulungan benang plastik. Tujuanku memancing di sungai karena aku ingin mendapatkan udang gala.

Peralatan yang dibutuhkan untuk menangkap kodok adalah senter yang terang dan kantong kain untuk menyimpan kodak yang berhasil ditangkap. Pada umumnya, aku selalu membawa pulang hasil pancingan atau tangkapan, aku siang, masak dan makan bersama keluarga.

Sebelum berangkat melakukan kegiatan di atas, ada satu hal yang temanku dan aku harus sepakati, yaitu: “Kita akan lewat jalan mana?” Jalan laut atau jalan darat?” Kalau kami memutuskan lewat jalan laut, maka kami akan pergi melalui gang depan, jika jalan darat maka yang dilalui adalah gang belakang.

Jalan laut berarti jalan raya yang beraspal. Jalan darat adalah jalan setapak yang melalui perkampungan atau perkebunan. Gang depan adalah jalan kecil yang menumbus ke jalan raya yang beraspal dan gang belakang merupakan jalan kecil yang dipakai untuk menuju daerah yang lebih dalam ke perkebunan atau daerah perkampungan.

Yang aku ingin garis bawahi di sini, bukan proses memancing atau menangkap kodaknya, tetapi aku mau mengungkapkan hubungan struktur jalan di atas dan pengaruhnya terhadap kondisi kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat Indonesia.

Pertama, mari kita mulai dengan pola pembangunan jalan di Pontianak yang agaknya juga mencerminkan pola pembangunan jalan di kota lain, termasuk di Jakarta. Jalan dibangun setelah banyak orang yang lalu lalalang di tempat itu. Jika sudah padat karena meningkatnya kendaraan bermotor, maka untuk kebanyakan kasus, jalan dibesarkan. Suatu jalan mendapat perhatian khusus jika jalan tersebut sering dilewati oleh pejabat tinggi negara baik negara Indonesia ataupun negara asing.

Bagaimana dengan gang-gang kecil? Bagaimana jalan-jalan di perkampungan dan di perkebunan? Apakah ada pejabat tinggi negara yang sering melewati jalan itu? Jawabannya hampir 100% tidak ada. Jadi jalan tersebut tidak mendapat perhatian. Jelas pola pembangunan jalan seperti ini tidak berdasarkan pada perencanaan.

Ada dua daerah di Indonesia yang bisa dijadikan contoh bahwa jalannya termasuk dibangun dengan perencanaan. Pertama, daerah kota tua Beos dan Menteng. Kedua, pusat kota Singkawang. Jika diperhatikan, daerah pertama dibangun oleh penjajah kita, Belanda. Dan kota kedua agaknya dibangun oleh orang Cina sebagai penduduk mayoritas.

Di dua daerah di atas sulit untuk ditemukan gang-gang kecil. Kalau begitu apakah yang tinggal di situ, pada waktu jalan dibangun adalah pejabat negara? Di Menteng kemungkinan besar adalah pejabat negara Belanda, tapi bagaimana dengan Beos dan Singkawang? Memang layaknya bahwa pembangunan jalan dilakukan bukan karena jalan tersebut akan dilewati pejabat negara, tetapi karena visi ke depan dan perencanan yang baik untuk kepentingan umum.

Di Amerika, jika seorang mengendarai mobil dari paling barat (misalnya kota San Franciso) ke paling timur (sebut saja mau ke New York) maka orang tersebut bisa menggunakan jalan free way 80 (jalan tol no. 80) yang sambung-menyambung dan panjangnya kurang lebih 3.000 mile atau 5.000 kilometer. Umumnya jarak tersebut ditempuh dalam waktu satu minggu, jika menyetir selama kurang lebih tujuh jam sehari dengan kecepatan rata-rata di atas 70 mile perjam. Sebagian besar free way-nya sudah ada sejak tahun 1930-an.

Coba bandingkan dengan menyetir dari Sabang sampai Merauke yang jaraknya hampir sama dengan San Francisco ke New York, yaitu sekitar 5.000 kilometer. Apakah tersedia jalan tol yang sambung menyambung – termasuk feri – dari Sabang sampai ke Merauke? Jawabannya kemungkinan besar adalah tidak ada. Dengan demikian, bukankah kita ketinggalan 70 tahun dengan Amerika dalam hal pembangunan jalan?

Terlepas dari dari ketinggalan atau tidak, tetapi ada satu hal yang sangat menganggu dengan cara pembangunan jalan di negara kita ini. Hal ini adalah pengaruhnya terhadap kehidupan kondisi kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat. Dengan pembangunan seperti di atas, otomatis masyarakat terbagi dua, yang tinggal di gang kecil dan yang tinggal di jalan besar beraspal. Pada umumnya yang tinggal di jalan besar adalah orang yang status sosial dan ekonominya lebih tinggi dari orang yang tinggal di gang kecil.

Kondisi jalanan seperti di atas, menutup kemungkinan orang yang lebih kaya untuk tinggal di gang yang tidak bisa masuk mobil, becek dan banjir kalau hujan, di kanan kiri ada preman mabuk yang siap meminta, menjambret atau menodong untuk mendapatkan uang atau perhiasan. Keadaan menjadi lebih buruk bila orang yang lalul-lalang tersebut dianggap orang asing yang cukup berada, seperti Cina.

Akhirnya, pemisahan sosial ekonomi yang tajam terjadi karena salah satu sebabnya adalah struktur jalan tadi. Yang miskin mencari tempat seperti itu karena terjangkau, yang kaya menghindari tempat itu karena alasan keamanan dan kenyamanan. Karena tempat yang “terjangkau” inilah, maka agaknya pemerintah menggunakannya sebagai standar UMR (Upah Minimum Regional).

Mengenai UMR, sebagai perbandingan, ketika aku bekerja sebagai manager di salah satu perusahaan konglomerat di Indonesia, gajiku sekitar 25 kali lebih besar dari karyawanku yang terbawah. Di Amerika aku, juga bekerja sebagai manager di salah satu perushaan Fortune 500, gajiku hanya sekitar 2,5 kali lebih besar dari karyawanku yang berada di lapisan terbawah. Ini terjadi karena UMR di Kalifornia cukup tinggi, yaitu sekitar $8.00 per jam. Jika jumlah UMRnya lebih kecil dari itu, orang Amerika yang tinggal di Kalifronia tidak akan mampu membiaya sewa apartement ataupun kos di rumahan.

Di Amerika memang terdapat daerah kumuh, tetapi jika dibandingkan dengan kekumuhan di Indonesia, tempat itu masih “mewah”. Salah seorang temanku yang tinggal di apartemen bantuan pemerintah di San Francisco, kondisinya sangat mengejutkan. Fasilitasnya melebihi apartement yang aku tinggal di Sunter, Jakarta. Lain halnya dengan di Indonesia, kekumuhan di Amerika terjadi bukan karena peran pemerintah yang tidak efektif untuk membangun prasarana. Intinya, kondisi jalan yang dibangun oleh pemerintahan Amerika tidak ikut mendekung terjadinya kekumuhan dan perbedaan status sosial dan ekonomi. Tetapi kekumuhan di Amerika lebih banyak terjadi karena faktor budaya keluarga, etnis dan pendidikan mereka. Hal ini terjadi terutama di kalangan African America (etnis kulit hitam) dan Spanish (Amerika Latin).

Akan sulit ditemukan suatu daerah yang terdiri dari gang-gang kecil di Amerika. Karena struktur jalan yang demikian, rumah yang dibangun menjadi teratur, keamanan dan kenyamananpun lebih baik. Maka orang yang status sosial dan ekonominya lebih tinggi tidak memiliki masalah untuk tinggal di kota atau daerah yang bukan tergolong mahal. Mereka tetap bisa mempertahankan gaya hidup mereka, tetap bisa memiliki speed boat, mobil Mercedes, dan tetap bisa bepakaian perlente tanpa diganggu. Bentrokan fisik karena perbedaan status sosial dan ekonomi jarang terjadi.

Aku tidak akan melihat implikasi pembangunan jalan ini lebih jauh seperti terhadap industri pertanian. Tetapi ada satu hal lagi yang perlu direnungkan, bagaimana keadaan jalan di pedalaman Indonesia, jika orang asing dan Cina tetap tinggal di sana dan PP 10 (Peraturan Pemerintah No. 10) tidak diberlakukan pada tahun 1959? Apakah hal ini berpengaruh positif terhadap pembangunan jalanannya, seperti di Menteng, Jakarta dan di pusat kota Singkawang?

_____
*Beni Bevly holds BA in Political Science, MBA in Marketing, and is a DBA (Doctor of Business Administration) candidate. He is the founder of Overseas Think Tank for Indonesia.

Written by Beni Bevly

February 25th, 2007 at 11:05 am