Archive for the ‘History’ Category
Pancasila yang Keren

Sumber Gambar: beta.matanews.com
Pancasila yang Keren 1)
Oleh Dr. Beni Bevly 2)
Kini banyak pihak merasa Pancasila tidak sakti dan penuh dengan kebohongan, sehingga mereka melihatnya bukanlah objek yang keren. Terlepas dari benar atau tidaknya anggapan di atas, satu hal yang harus kita akui bahwa Pancasila tidak lagi memegang peranan sepenting ketika Orde Baru berkuasa. Berikut marilah kita diskusikan apa yang kita mau dari Pancasila? Apakah masih relevan? Jika ya, bagaimana kita mensikapinya? Apakah dengan repositioning Pancasila kita bisa membuatnya menjadi keren dan meletakkan Pancasila menjadi dasar filosofi dan pegangan rakyat Indonesia dalam bermasyarakat dan bernegara yang bisa mereka banggakan? 3) Read the rest of this entry »
Peringatan Hari Kemerdekaan: Ritualisme Yang Tak Berujung

Image source: suaramerdeka.com
Oleh Tanza Erlambang
Perayaan untuk menyambut hari kemerdekaan Indonesia ke 65 tahun ini, sudah dimulai, baik di berbagai daerah tanah air, maupun oleh masyarakat indonesia yang tersebar di berbagai belahan dunia. Seperti ritual, perayaan itu terasa menoton. Dari tahun ke tahun hanya seputar lomba yang itu-itu saja : mulai dari menangkap kodok sampai main gaple, lomba lari karung sampai makan kerupuk.
Pertandingan olahragapun hanya sebatas hura-hura, tidak mengarah ke prestasi, apalagi prestasi olimpiade atau piala dunia. Kejuaraan dunia sepak bola misalnya, tak pernah sekalipun diikuti. Kita, seperti sudah mentakdirkan diri sendiri sebagai bangsa penonton sepanjang masa. Read the rest of this entry »
In search of a voice and chivalry in fighting corruption
by Jennie S. Bev
News on corrupt officials, intellectuals who work for oppressive conglomerates and businesses causing extreme pollution and catastrophe have been selling newspapers and magazines.
Indonesia is in crisis and we aren’t talking about finances or its poor international image. We are talking about of the lack, or even a non-existence, of knights (the closest Western analogy to ksatria) in modern Indonesia. Read the rest of this entry »
To vote or not to vote, that is not the question

Image source: pemiluindonesia.com
By Evan A. Laksmana
Among the basic rights of any citizen, soldiers included, is the right to vote. But this has not been the case for members of the Indonesian military (TNI), who last exercised this right in the country’s first general elections in 1955.
In fact, since 1971, soldiers had been barred from voting. In return, the TNI was given fixed seats in the national and local parliaments, although the practice was discontinued after 2004. Read the rest of this entry »
Is China failing SE Asia’s test?

Image source: travel.nationalgeographic.com
by Evan A. Laksmana
With all the bombast surrounding the 60th anniversary of China-Indonesia relations in the last few months, many seem unaware of recent developments in the South China Sea. In the last fortnight, details have emerged regarding the Chinese Navy’s growing assertiveness and naval projection capability in the region.
According to a recent report by the International Institute for Strategic Studies, a flotilla of six ships from the North Sea Fleet sailed on March 18 on a “long-distance training exercise” in the vicinity of the Fiery Cross Reef in the Spratly Islands — and reportedly near the Malacca Strait as well. Read the rest of this entry »
Dialog Tragedi Kemanusiaan Mei 1998: dari Keterasingan Menjadi Karib
Oleh Dr. Beni Bevly
Dalam dialog Tragedi Kemanusiaan Mei 1998 dengan topik dari Keterasingan Menjadi Karib di Union City, San Francisco Bay Area pada tanggal 16 May 2010, kembali lagi berkumandang pertanyaan dan dialog mengenai: Mengapa perbuatan biadab ini terjadi? Apakah sudah ada penyelesaiannya? Bagaimana supaya hal ini tidak terjadi lagi? Apa yang bisa mereka lakukan dari Amerika?
Peringatan yang dimulai dengan makan malam bersama pada jam lima sore, berlajut dengan dialog hingga jam delapan malam, dihadiri sekitar 100 orang peserta, beberapa nara sumber, antara lain Romo Mutiara Andalas, SJ, Dr. Silvia Tiwon dari University of California Berkeley, Nina Jusuf dari Transformasi, dan saya sendiri sebagai moderator ternyata berjalan dengan penuh antusias. Read the rest of this entry »
Dari Keterasingan Menjadi Karib: 12 Tahun Tragedi Mei 1998

Undangan terbuka dialog “Dari Keterasingan Menjadi Karib: 12 Tahun Tragedi Mei 1998″ akan diadakan pada:
Hari: Minggu, 16 Mei 2010
Pukul: 5:00pm-8:00pm (didahului oleh jamuan sederhana)
Tempat: Hall Gereja Holy Family, 3880 Smith Street, Union City, CA 94587.
Keterangan lebih lanjut, silakan baca artikel di bawah ini:
Latar Belakang
12 tahun telah berlalu sejak Tragedi Mei 1998 terjadi. Sejak itu telah banyak perubahan dan perkembangan baru yang menjanjikan di antaranya diberlakukannya Undang-Undang Kewarganegaraan yang menyetarakan posisi keturunan Tionghoa dengan suku lain di Indonesia, Tahun Baru Imlek sebagai hari Libur Nasional, diijinkannya karakter, bahasa dan budaya Mandarin/Tionghoa untuk diajarkan di sekolah dan ditampilkan di tempat umum, di antaranya dibangunnya Anjungan Tionghoa di Taman Mini Indonesia, dan berhentinya kediktatoran dan penguasa tangan besi Orde Lama. Read the rest of this entry »
Indonesia’s dance with the titans

by Evan A. Laksmana
Many Indonesians were disappointed when United States President Barack Obama cancelled his long-awaited “homecoming” trip to Jakarta last week. He was, after all, the only American President Indonesians could boast about being “one of their own”.
But pundits quickly point out that the country should move on and be more excited instead to celebrate the 60th anniversary of Chinese-Indonesian diplomatic relations next month, during which Chinese Premier Wen Jiabao is expected to visit Jakarta. Read the rest of this entry »
The boy from Menteng

by Jennie S. Bev
Barack Obama is a different kind of president. He is not merely a president per se, as he is also a strong activist and a reformist. As Ralph Waldo Emerson once said, “We are reformers in Spring and Summer, in Autumn and Winter we stand by the old, reformers in the morning, conservers at night.” And like most, if not all reformists, his presence makes many people uncomfortable.
His planned visit Indonesia on March 20-22, 2010, has sparked much debate. For instance, Hizbut Tahrir said it would rally 5,000 supporters to stage a demonstration in Surabaya. Read the rest of this entry »
U.S. Training of Kopassus

(Below is a letter from The East Timor and Indonesia Action Network (ETAN) that warned President Barack Obama against renewing any U.S. training for Indonesia’s notorious special forces and urged to sign a petition)
Contact: John M. Miller, East Timor and Indonesia Action Network (ETAN), +1-718-596-7668; 917-690-4391, etan@etan.org
U.S. Training of Kopassus: A Bad Idea Whose Time Has Not Come
The East Timor and Indonesia Action Network (ETAN) warned President Barack Obama against renewing any U.S. training for Indonesia’s notorious special forces. Read the rest of this entry »
Gus Dur di hati saya

Oleh Mutiara Andalas, SJ
(Artikel di bawah ini adalah Eulogy Mutiara Andalas dalam kegiatan Gus Dur Candlelight Memorial di Foster City, San Francisco Bay Area, USA pada hari Jum’at, 8 January 2009).
Menjelang era reformasi 1998, saya ikut diantara komunitas persaudaraan lintasagama yang mendirikan tenda Tim Relawan untuk Kemanusiaan di kantor Pengurus Besar Nahdatul Ulama. Saya berjumpa dengan nahyidin muda yang mengisahkan kekaguman dalam rasa hormat pada sosok Abdurrahman Wahid. Pengalaman awal saya dengan Gus Dur adalah melihatnya keluar masuk gedung PBNU dari tenda. Read the rest of this entry »
Bapak Pluralisme Indonesia

Oleh Dr. Beni Bevly
Amukan teroris dan tumbuhnya radikalisme Islam secara pesat setelah runtuhnya Orde Baru pada tahun 1998 di Indonesia telah banyak menimbulkan rasa was-was di kalangan non-Islam radikal, termasuk penghuni bumi di belahan lain di dunia ini. Rasa was-was ini timbul karena persepsi yang tercipta dari tindakan kelompok teroris dan Islam radikal tersebut.
Ternyata ada satu tokoh yang secara berani, kontroversial dan lucu menampilkan sisi lain dari persepsi radikalisme Islam. Read the rest of this entry »
Gus Dur as a defender of pluralism, religious freedom

By Dr. Muhammad Ali
Pluralism has always been a contentious issue, but Abdurrahman “Gus Dur” Wahid worked beyond passive tolerance. He advocated the creation of a public space for communication, dialogue and cooperation between the mainstream and the marginalized.
Raised in a pesantren (Islamic boarding school) and Nahdlatul Ulama (NU) tradition, but also in Western and Eastern traditions, Gus Dur became the advocate of a reform rooted in the traditions. Read the rest of this entry »
Ecce Homo! Kebisuan Negara, Pembisuan Korban, & Politik Kenangan*
Sumber gambar: coffeeoriental.wordpress.com
Oleh Mutiara Andalas[1]
Kebisuan negara dan pembisuan korban adalah halangan terbesar kenangan akan korban. Mutiara Andalas
Clara, karakter imajiner dalam cerita pendek Seno Gumira Ajidarma, barangkali akan menjadi kenangan langka kita terhadap kekerasan seksual massal dalam tragedi Mei 1998. Awan gelap masih membebat identitas sebagian besar perempuan Indonesia etnis Cina yang menjadi korban kekerasan seksual dalam tragedi. Negara menyayangkan tanggapan terbatas korban terhadap undangan kesaksian demi menyingkap kebenaran. Wacana politik berpusar di sekitar selisih data korban, keterbatasan menjangkau korban, dan pembuktian kekerasan seksual. Pendamping korban terjepit dilema antara membongkar pelaku dan melindungi korban kekerasan seksual. Pilihan melindungi keselamatan korban dari ancaman pelaku membiakkan isu kekerasan seksual sebagai drama kebohongan. Tarik-menarik keduanya cenderung berakibat negatif bagi korban. Narasi penderitaan korban kekerasan seksual dan dakwaan mereka terhadap pelaku semakin kehilangan tempat dalam kenangan publik. Read the rest of this entry »
Kebenaran, Keadilan, dan Ekuilibrium Reflektif

Oleh Jennie S. Bev
Kebenaran sangat tinggi harganya. Setiap bulan Mei membangkitkan kenangan akan api, darah, seruan kebesaran Tuhan yang dilacurkan, penggagahan perempuan, dan linangan air mata. Kubur-kubur anak-anak bangsa sudah lama mengering, namun luka masih basah. Keadilan tampak jauh dari gapaian.
Akankah kebenaran dan keadilan bisa dicapai dengan ekuilibrium reflektif?
John Rawls, filsuf hukum dari Harvard menulis: dalam masyarakat teratur (well-ordered society), tatanan sosial diatur dengan konsepsi keadilan para anggotanya. Read the rest of this entry »


