Overseas Think Tank for Indonesia

facilitating intellectuals to contribute to indonesia

Archive for the ‘Human Resources’ Category

Mindset Bisnis

with one comment

Sumber Gambar: adrishta.com
Oleh Dr. Beni Bevly

Mindset memegang peranan yang sangat penting dalam setiap aktivitas. Ia merupakan salah satu faktor utama dalam menentukan keberhasilan pencapaian tujuan. Begitu juga peranannya dalam kegiatan berbisnis. Mindset yang seperti apakah yang perlu diterapkan demi tercapainya tujuan bisnis kita?

Ketika hendak berliburan dan akan meninggalkan rumah saya di Kalifornia Utara di Tanah Seberang untuk beberapa hari, saya meminta bantuan seorang anak bule tetangga dan sekaligus teman karib saya yang masih berusia 9 tahun. Read the rest of this entry »

Written by Beni Bevly

December 8th, 2011 at 7:07 pm

Keunikan Bisnis Berbasis Keluarga di AS

without comments

family business
Sumber gambar: upcomingdiscs.com

Dr. Beni Bevly, San Francisco

Beberapa waktu yang lalu, ketika saya menghadiri seminar mengenai bisnis yang diselenggarakan oleh The National Council of Asian-American Business Associations (NCAABA) di San Francisco State University (SFSU), salah satu presenter-nya berkata dengan tersenyum nakal, “Here is what happens about family businesses. First generation builds it, second generation milks it, and third generation destroys it. What do you think?”

Pertanyaan di atas sengaja diajukan oleh presenter tersebut hanya dari sisi ekstrim supaya peserta seminar berpikir. Read the rest of this entry »

Written by Beni Bevly

February 17th, 2011 at 12:32 pm

Solusi Bisnis dari Seberang

without comments

Judul: Solusi Bisnis dari Seberang
Penulis: Dr. Beni Bevly dan Jennie S Bev, DBA
Penerbit: Afton Asia, Jakarta
Genre: Bisnis
Jumlah Halaman: 194
Dimensi: 15,24 x 22,86 cm
ISBN: 978-602-97885-01
Edisi: I, Januari 2011
Harga: Rp. 58.500,-

Berbisnis adalah salah satu cara untuk mencapai kesejahteraan bagi diri sendiri, keluarga, komunitas dan negara yang bisa dipelajari dengan mudah bila mendapatkan dan menggunakan sumber yang tepat.

Tidak seperti buku bisnis lainnya yang secara umum hanya membahas teori, tetapi buku “Solusi Bisnis dari Seberang” adalah sumber pengetahuan yang aplikatif dan jitu untuk berbisnis yang secara langsung dituangkan oleh dua praktisi, professional dan pakar bisnis yang bermukim di Silicon Valley, USA, yaitu Dr. Beni Bevly dan Jennie S Bev, DBA. Di tengah guncangan perekonomian USA, mereka masih banyak menemukan model bisnis yang sukses.

Dengan ketajaman pengetahuan bisnis praktis, akademis dan gaya bahasanya yang ngepop, mereka berhasil membuat isi buku ini mudah untuk dipahami dan diterapkan. Selain bagi para pebisnis dan calon pebisnis, ini adalah buku wajib bagi para eksekutif, pengamat, dosen, pengambil keputusan dari pihak swasta dan pemerintah, mahasiswa, karyawan dan pelajar.

Dengan memiliki buku ini berarti Anda telah membantu para korban bencana alam dan pendidikan putra-putri Indonesia yang akan disalurkan melalui Bevly Foundation.

Pemesanan dari Indonesia

Dapatkan dan milikilah segera buku ini dengan mengirimkan Rp. 58.500,- kepada akun BCA atas nama Siat Ching Mij dengan akun nomor 028 3840988. Konfirmasikan bukti transfer Anda melalui email kepada afton.asia@gmail.com atau fax (021) 319-27651. Setelah menerima konfirmasi bukti transfer, buku akan segera dikirimkan ke alamat Anda di Indonesia tanpa dikenakan biaya pengiriman dengan menggunakan TIKI (Titipan Kilat).

Pemesanan dari Amerika Serikat, Kanada dan negara lain

Buku Solusi Bisnis dari Seberang juga telah diterbitkan di Amerika Serikat. Untuk itu peminat yang menetap di AS, Kanada dan negara lain bisa memesannya dengan klik di sini.

Peringatan Hari Kemerdekaan: Ritualisme Yang Tak Berujung

with 37 comments

panjat pohon pinang
Image source: suaramerdeka.com

Oleh Tanza Erlambang

Perayaan untuk menyambut hari kemerdekaan Indonesia ke 65 tahun ini, sudah dimulai, baik di berbagai daerah tanah air, maupun oleh masyarakat indonesia yang tersebar di berbagai belahan dunia. Seperti ritual, perayaan itu terasa menoton. Dari tahun ke tahun hanya seputar lomba yang itu-itu saja : mulai dari menangkap kodok sampai main gaple, lomba lari karung sampai makan kerupuk.

Pertandingan olahragapun hanya sebatas hura-hura, tidak mengarah ke prestasi, apalagi prestasi olimpiade atau piala dunia. Kejuaraan dunia sepak bola misalnya, tak pernah sekalipun diikuti. Kita, seperti sudah mentakdirkan diri sendiri sebagai bangsa penonton sepanjang masa. Read the rest of this entry »

Merubah Leadership Pemimpin Indonesia?

with 15 comments

Merubah leadership kepemimpinan Indonesia melalui pendidikan berantai

oleh Yunani Adam

Pada awal periode reformasi tahun 1998 masyarakat Indonesia mempunyai harapan besar akan terjadinya perubahan yang postif, termasuk diharapkan akan tampilnya pemimpin yang mengutamakan kepentingang masyarkat banyak dan negara. Sebaliknya, hingga saat ini leadership atau karakter dan ketrampilan kepemimpinan banyak pemimpin yang mengendalikan roda pemerintahan dan organisasi non-pemeritahan ternyata masih jauh dari harapan rakyat banyak dan merugikan negara. Dalam kesempatan ini saya akan membahas kemungkinan merubah leadership pemimpin Indonesia dengan menerapkan sistem pendidikan yang tepat.

Secara teknis, penerapan pendidikan yang saya ajukan adalah program pendidikan berantai yang melibatkan banyak individu, baik mereka yang berada di dalam maupun di luar negeri, termasuk dari segi pendanaan. Read the rest of this entry »

The boy from Menteng

with 2 comments

As a fixer and a visionary, Obama is known for his concerns about various issues. After all, his charisma as an activist was what made millions of Americans fall in love with him in the first place.
by Jennie S. Bev

Barack Obama is a different kind of president. He is not merely a president per se, as he is also a strong activist and a reformist. As Ralph Waldo Emerson once said, “We are reformers in Spring and Summer, in Autumn and Winter we stand by the old, reformers in the morning, conservers at night.” And like most, if not all reformists, his presence makes many people uncomfortable.

His planned visit Indonesia on March 20-22, 2010, has sparked much debate. For instance, Hizbut Tahrir said it would rally 5,000 supporters to stage a demonstration in Surabaya. Read the rest of this entry »

Defense reforms for 2010-14: Men over materiel?

without comments

Without dedicated, motivated, able, and well-trained troops, the ministry's investments in revitalizing defense industries or acquiring state-of-the-art weaponry will be wasted.
Image source: english.peopledaily.com.cn

By Evan A. Laksmana

“To defend everything is to defend nothing.” There is a lot of wisdom in this old military axiom. Indeed, it is hard to deny that when it comes to national defense, and even war, we just simply can’t do it all. We need to prioritize.

Yet, when we briefly glance through the recent policies made by the Defense Ministry for its 100-day program, the policy makers there seem to be doing the exact opposite – from stepping up military modernization, strengthening local defense industries, to improving border security and disaster management.

The more worrying aspect, however, is not so much the all-embracing priorities, but the perception that the next step after getting the military out of politics and business is to upgrade their weaponry. Read the rest of this entry »

Written by Beni Bevly

February 1st, 2010 at 2:40 pm

Kata sebagai Kunci Kesuksesan Penjualan

with one comment

Sebagai salesman ulung, sangatlah penting untuk memilih kata-kata yang kuat dan berpengaruh untuk mentriger perasaan ingin tahu dan perasaan positif...

Oleh Dr. Beni Bevly

Sering kali seorang salesman atau pihak penjual tidak menyadari bahwa pemakain kata-kata yang mempunyai pengaruh besar atau powerful words adalah kunci kesuksesan dalam penjualan suatu produk.

Minggu lalu bersama beberapa rekan yang belum mengenal keunikan dan kelezatan dari rupa-rupa teh pergi ke San Francisco China Town di Tanah Seberang untuk tea tasting. Penjaga toko pertama yang kami kunjungi, Blest Tea, menyambut kami dengan ramah dan penuh senyum. “We would like to have tea tasting,” kataku padanya.

“Not a problem. There will be $3 charge per person if you don’t buy our tea,” katanya. Read the rest of this entry »

Written by Beni Bevly

July 13th, 2009 at 2:45 pm

Kepemimpinan

with 20 comments

Kepemimpinan seperti ini harus mempunyai kemampuan untuk mentransform para pengikutnya, menciptakan visi dari tujuan yang akan dicapai, dan mengartikulasikan cara pencapaiannya
Image source: bisconsulting.ca

Oleh Dr. Beni Bevly

Agaknya baru pertama kali dalam sejarah di Tanah Seberang bahwa seorang Presiden turun tangan memecat Chief of Executive (CEO) perusahaan swasta. Di akhir bulan Maret dan awal April 2009, media cetak dan elektonik membuat head line besar bahwa President Barack Obama memecat Chairman dan CEO General Motors Corp. (GM), G. Richard Wagoner Jr., 56, yang telah bekerja selama 32 tahun dan menjabat sebagai CEO selama 5 tahun. Mengapa Wagoner sampai dipecat oleh Obama? Leadership atau kepemimpinan seperti apakah yang diinginkan olehnya?

Kepemimpinan Wagoner terangkat kepermukaan dan dipertanyakan oleh banyak pihak termasuk masyarakat awam di Tanah Seberang ketika ia terbang ke Washington untuk minta bantuan pemerintah dengan menggunakan jet perusahaan pada bulan November 2008. Di depan senat ia tidak bisa memberikan menjawab yang memuaskan mengapa ia membutuhkan bantuan berupa uang dari pajak rakyat Tanah Seberang. Read the rest of this entry »

Written by Beni Bevly

May 4th, 2009 at 3:17 pm

The Thinker: On the Carpenter And Resurrection

with 45 comments

Jesus, his teachings and lessons from his life and death can be interpreted in many ways without having to be religious or even be a Christian.

By Jennie S. Bev

Two millennia ago, a simple man from Nazareth made his debut in the world of politics and religion by starting a minuscule Jewish sect.

Jesus was a humble man whose values and virtues were remarkable. He was inspiring to all mankind, and Christians believe that he was divine, rising after his death on the day now referred to as Easter Sunday. Read the rest of this entry »

The Thinker: In Search of Radical Public Intellectuals

with 26 comments

Many of today’s intellectuals are indeed academics, but there was a time when nonacademic intellectuals formed the majority, an age when higher education was considered largely unnecessary.
Image source: home.flash.net

By Jennie S. Bev

Contrary to popular belief, academics are intellectuals but not all intellectuals are academics. Additionally, not all intellectuals are known to the public, and not all public intellectuals are radical.

Radical intellectuals can be found somewhere between university classes and writing and research gigs. They might even be unemployed and possess no Harvard or University of Indonesia PhDs. They are usually those who possess strong opinions but stay on the sidelines. They are iconoclasts, critics and polemicists. Read the rest of this entry »

Written by Beni Bevly

April 14th, 2009 at 10:36 am

Fairness

with 51 comments

Selain memperhatikan input dan outcome, karyawan juga melihat apakah give-and-take mereka fair.
Sumber gambar: thefreedictionary.com

Oleh Dr. Beni Bevly

Fairness sering kali diukur dengan posisi seorang karyawan dan berapa besar pendapatan yang mereka terima. Semenjak krisis ekonomi di Tanah Seberang terungkap betapa besarnya pendapatan para CEO perusahaan besar. Hal ini menyebabkan Presiden baru Barak Obama turun tangan dan membatasi pendapatan mereka. Apakah pembatasan terhadap pendapatan para CEO yang dilakukan oleh Obama fair? Bagaimana mengukur fairness pendapatan dalam suatu perusahaan?

Ketika saya memulai karir professional di Tanah Seberang sepuluh tahun yang lalu, gaji pertama yang saya terima sekitar $9,5 per jam. Angka ini lebih tinggi dari pada gaji minimum di Kalifornia pada saat itu, yaitu $5,75/jam (kini $8/jam di Kalifornia dan $6,55 di tingkat Federal atau nasional. Ketika mencapai posisi manager gaji saya sekitar tiga kali lipat dari gaji bawahan saya yang paling rendah. Read the rest of this entry »

Written by Beni Bevly

April 9th, 2009 at 10:47 am

The Thinker: A Flourishing State Lives on Compassion

without comments

In any society, the least a government could do is ensure that violence is kept to a minimum, and for this, compassion is key.
Image source: proteuscoven.org

By Jennie S. Bev

In modern societies, compassion is scarce. Almost every day we read news about deadly brawls, mass shootings, hazing, social unrest, murders, robberies — even servants killed in their employers’ homes for petty reasons.

Two weeks ago, a high school in southern Germany was the scene of a shooting that killed at least 10 people. In Alabama, a gunman killed nine people, including members of his own family, before eventually killing himself. Read the rest of this entry »

Written by Beni Bevly

April 1st, 2009 at 2:15 pm

Customer Sevice Kelas Dunia

with 33 comments

Prinsinya, “We do not hire salesmen, but we hire men with integrity, then we train them to sell.”
Sumber gambar: junkpros.com

Oleh Dr. Beni Bevly

Pernahkan anda mendengar bahwa suatu Deparment Store di Tanah Seberang menerima pengembalian roda mobil dari seorang pelanggan dan memberikan uang kepadanya walaupun jelas mereka tidak menjual roda mobil? Pernahkan anda mendengar kasus bahwa suatu tokoh sepatu menerima pengembalian sepatu yang rusak karena sudah dipakai tahunan dari pelanggannya dan memberikan uang kepadanya di Tanah Air?

Agaknya peristiwa seperti ini adalah mustahil terjadi di Tanah Air, tetapi hal ini adalah praktek yang cukup lumrah di Tanah Seberang. Mengapa demikian? Bukankah ini adalah praktek bisnis yang merugikan? Dengan artikel ini marilah kita mebalikkan dugaan ini dan melihat kemungkinannya untuk diterapkan di Tanah Air?

Kedua kasus di atas adalah bagian dari ratusan mungkin ribuan kasus yang terjadi di Nordstrom, Inc., Deparment Store terkemuka di Tanah Seberang di mana saya pernah bekerja sebagai Customer Sevice Manager. Kasus-kasus seperti inilah yang membuat customer service Nordstrom menjadi terkenal. Bahkan beberapa kasus seperti ini dijadikan case study di kelas-kelas MBA di universitas terkemuka di dunia. Akhirnya Nordstom—yang didirikan oleh John W. Nordstrom dengan modal $5.000—dikenal sebagai America’s Number One Customer Service Company, mereka juga sering disebut sebagai World Class Customer Service Company.

Dibandingkan dengan perusahaan retail di Tanah Seberang, Nordstrom memang mempunyai return policy (kebijakan pengembalian barang) yang liberal. Umumnya para usaha retail menerapkan kebijakan bahwa seorang pelanggan boleh mengembalikan barang yang telah dibeli dalam jangka 30 hari dari hari tansaksi. Barang tersebut belum pernah dipakai dan masih utuh seperti apa adanya dengan disertai tanda terima.

Untuk menerima pengembalian barang dari Nordstrom, karyawan mereka hanya menggunakan satu kebijakan yang juga dipakai untuk hal-hal yang lain, yaitu use your best judgment in all situations (mengambil keputusan terbaik dalam semua situasi). Keputusan yang terbaik sering kali diterjemahkan sebagai suatu perbuatan yang membantu pelanggan.

Contohnya, sebagai Customer Service Manager saya harus memberi penjelasan mengapa barang yang dipesan oleh pelanggan melalui telepon belum juga siap. Seperti biasa dengan senyum simpati dan memperkenalkan diri dan berkata, “I apologize for what happened.” Lalu ia berkata, “What can you do to make it up?” “Would you like to accept a $10 gift certificate?” Saya balik bertanya. Singkatnya, sang pelanggan tersebut belanja dengan menghabiskan lebih dari $500.00. Ia puas dan sangat berterima kasih. Sejak saat itu saya lebih sering melihat dia hadir di Department Store di mana saya bekerja.

Adalah suatu hal yang tidak bisa dipungkiri bahwa kehebatan customer service dari suatu perusahaan akan semakin banyak mendatangkan pelanggan dan pelanggan tersebut akan semakin sering belanja. Atas dasar itulah maka beberapa perusahaan di Tanah Seberang seperti Nordstrom menerapkan kebijakan return policy yang liberal.

Kembali ke pertanyaan: Bukankah praktek bisnis seperti ini merugikan? Ternyata di Nordstrom, pelanggan yang menyalah gunakan kebijakan ini hanya berjumlah 1%. Mengapa hal ini bisa terjadi?

Paling tidak ada dua hal yang bisa menjelaskan gejala ini. Pertama, mayoritas pelanggan Nordstrom adalah dari kalangan menengah ke atas. Pelanggan seperti ini cenderung untuk bertindak secara “terhormat”. Mereka tidak sembarang memancing di air keruh.

Kedua, Nordstrom memilih lokasi yang tepat untuk membuka cabangnya. Mereka selalu memilih lingkungan high class, masyarakat di sekitarnya mempunyai pendapatan dan pendidikan yang tinggi. Crime rate (angka kejahatan) juga selalu menjadi pertimbangan mereka.

Ketiga, Nordstrom mempunyai record and report system yang canggih. Setiap pengembalian barang dagangan dari pelanggan akan tercatat dengan baik melalaui POS (Point of Sales) di kasir dan transaksi kejadian terekam secara jelas oleh kamera keamanan. Jika ada seorang pelanggan yang menunjukkan gejala menyalahgunakan kebijakan ini, maka pihak Nordstrom bisa segera melihat sejarah atau pola pelaku.

Keempat, hampir semua karyawan Nordstrom terlatih dengan baik dan tahu waktu yang tepat untuk menerapkan use your best judgment in all situations.

Bagaimana kemungkinan penerapan customer service kelas dunia di Tanah Air sehingga bisa mendatangkan banyak pelanggan, mereka tidak ragu untuk belanja dan tidak menyalahgunakan kebijakan pengembalian barang yang liberal ini?

Sebagai seorang pengusaha jika ingin terjun dalam bidang retail dan menerapkan customer service kelas dunia seperti ini, maka hal pertama dan utama adalah pemilihan lokasi. Seperti yang dilakukan oleh Nordstrom bahwa mereka memilih lokasi di lingkungan masyarakat kelas tinggi, berada, berpendidikan dan yang statistik kejahatannya sangat rendah. Untuk di Tanah Air, agaknya daerah seperti Menteng dan Pondok Indah adalah daerah yang cukup tepat.

Pengusaha juga harus berani menanam modal dalam perangkat canggih yang mampu merekam dan melaporkan semua transaksi dan kejadian di POS secara detail, mulai dari detik per detik. Pada umunya ada dua jenis technology yang bisa dimaksimalkan, pertama pengunaan kamera yang canggih dan dihubungkan ke ruang keamanan. Kedua, menggunakan RSS (Retek Store Solution) software yang menghubungkan transaksi di POS dengan data persediaan barang dan departement lainnya, termasuk Loss Prevention Department.

Semua system ini tidak akan berfungsi dengan baik jika manusia (karyawan) di dalamnya tidak terlatih dan memiliki integritas yang tinggi. Sebagai contoh, Nordstrom merekrut karyawan bukan karena mereka pintar menjual, tetapi mereka mempunyai karakter yang baik. Setelah itu, Nordstrom baru melatih mereka untuk menjual. Prinsinya, “We do not hire salesmen, but we hire men with integrity, then we train them to sell.”

Selain system recruiting dan training yang baik, juga perlu diterapkan system penghargaan yang memadai. Salah satu hal yang sederhana dan selalu dilakukan oleh Nordstrom adalah penyambutan yang hangat terhadap karyawan baru. Hal ini dilakukan antara lain dengan cara memberi satu hadiah mungil yang terbungkus rapih oleh seorang manager kepada karyawan sambil berkata, “We, Nordstrom, would like to give you the precious gift. That gift is very valuable to Nordstrom.” Setelah itu sang karyawan baru diminta untuk membuka hadiah itu, dan ia akan menemukan satu cermin kecil dan cantik. Lalu sang manager berkata, “Look at the mirror, that’s is Nordstrom most precious asset. It is you.”

____
Dr. Beni Bevly adalah penulis buku Managing For Profit Organizations in the Flatter World. Ia bisa dijumpai di www.overseasthinktankforindonesia.com. Artikel ini diterbitkan oleh majalah Duit!

Written by Beni Bevly

December 3rd, 2008 at 12:27 pm

Managing For Profit Organizations in the Flatter World

with 23 comments

Title: Managing For Profit Organizations in the Flatter World
Author: Dr. Beni Bevly
Language: English
Genre: Business/Management
Specification: 157 pages; 4.25″ x 6.87″; soft cover
Price: $12.00 (BUY)

Managing For Profit Organizations in the Flatter World by Dr. Beni Bevly

In today’s flatter world, compared to previous ones, contemporary for profit organizations are different. At least six characteristics mark this type of organizations, i.e.: First, these organizations are more complex than ever. Second, they consist of more diverse members. Third, these organizations introduce new systems more frequently. Fourth, all of these organizations struggle for improving competitiveness. Fifth, they choose to focus more on customers’ needs. Sixth, many of them are inventing the new way to approach the flatter world.

These six characteristics can be perceived either as opportunities or threats. A skillful and a positive organization leader will perceive these characteristics as his or her opportunities to make more profit, whereas for other leaders, these characteristics can be intimidating.

Regardless how and what the perception of characteristics of contemporary for profit organizations, this book discusses the major issues related to those characteristics and provides several tools to manage this type of organizations in the flatter world.

(BUY)

Written by Beni Bevly

September 3rd, 2008 at 2:18 pm