Overseas Think Tank for Indonesia

facilitating intellectuals to contribute to indonesia

Archive for the ‘Human Rights’ Category

Peringatan kerusuhan Mei 1998 dan wacana pluralisme

with 37 comments

Common Ground News logo

oleh Jennie S. Bev

[Catatan: Dalam artikel yang belum diedit, penulis menggunakan istilah "Tragedi Mei 1998" namun editor CGN menggunakan istilah "kerusuhan." Artikel ini adalah terjemahan dari artikel versi Bahasa Inggris.]

San Francisco, California – Pada Mei ini genap 12 tahun kerusuhan Mei 1998, sebuah peristiwa penting dalam sejarah Indonesia. Menyusul meninggalnya empat orang mahasiswa yang ikut berunjuk rasa menuntut mundurnya Presiden Suharto saat itu, orang-orang pun ramai turun ke jalan, membuat kerusuhan dan melakukan penjarahan.

Meski banyak orang menyatakan bahwa kerusuhan tersebut adalah buntut dari kekecewaan terhadap rezim yang berkuasa dan adanya pengangguran massal, komunitas orang Tionghoa-lah yang langsung menjadi sasaran amukan massa, di mana, menurut berbagai laporan, hampir 100 perempuan Tionghoa diperkosa. Read the rest of this entry »

Written by Beni Bevly

June 17th, 2010 at 2:41 pm

Anniversary of Indonesian riots spurs talk of pluralism

with one comment

Butterflies by Salvador Dali

by Jennie S. Bev

San Francisco, California – This month marks the 12th anniversary of a critical event in recent Indonesian history – the May 1998 riots. Following the death of four university students who were participating in a protest to demand the resignation of President Suharto, people took to the streets, rioting and looting.

Though many claim the riots were a result of frustration with the current regime and mass unemployment, the ethnic Chinese Indonesian community quickly became a target of mob violence, including reports of nearly 100 Chinese Indonesian women being raped. Read the rest of this entry »

Written by Beni Bevly

May 25th, 2010 at 1:54 pm

Dialog Tragedi Kemanusiaan Mei 1998: dari Keterasingan Menjadi Karib

with 38 comments

tragedi seperti ini jika dibiarkan dan tidak ada penyelesaian yang adil, suatu saat bukan hanya etnis Tionghoa yang menjadi sasaran, tetapi objek penderita bukan mustahil akan meluas ke minoritas lain di Indonesia. Minoritas yang menjadi sasaran itu bisa jadi adalah saya, anda, saudara kita, teman kita dan rakyat kita yang lemah.

Oleh Dr. Beni Bevly

Dalam dialog Tragedi Kemanusiaan Mei 1998 dengan topik dari Keterasingan Menjadi Karib di Union City, San Francisco Bay Area pada tanggal 16 May 2010, kembali lagi berkumandang pertanyaan dan dialog mengenai: Mengapa perbuatan biadab ini terjadi? Apakah sudah ada penyelesaiannya? Bagaimana supaya hal ini tidak terjadi lagi? Apa yang bisa mereka lakukan dari Amerika?

Peringatan yang dimulai dengan makan malam bersama pada jam lima sore, berlajut dengan dialog hingga jam delapan malam, dihadiri sekitar 100 orang peserta, beberapa nara sumber, antara lain Romo Mutiara Andalas, SJ, Dr. Silvia Tiwon dari University of California Berkeley, Nina Jusuf dari Transformasi, dan saya sendiri sebagai moderator ternyata berjalan dengan penuh antusias. Read the rest of this entry »

Written by Beni Bevly

May 24th, 2010 at 6:33 pm

Setelah 12 Tahun

with 3 comments

Negara menampilkan wajah gelap ketika terlibat dalam pembiakan kekerasan dan diskriminasi rasial, dan menghalangi pencarian keadilan untuk korban.
Sumber gambar: adferoafferro.files.wordpress.com

Oleh Mutiara Andalas, SJ

Peringatan 12 tahun tragedi Mei 1998 ibarat nyala lilin yang menerangi paras kemanusiaan Indonesia. Pelaku menyerang kehidupan korban dan melukai kemanusiaan bersama. Paguyuban korban membela kesucian hidup korban kekerasan dan diskriminasi rasial dari stigma politik. Negara yang membisu, apalagi menghalangi ziarah keadilan bagi korban tragedi, menyembah berhala politik kekerasan dan diskriminasi. Ratapan korban mendorong paguyuban korban melukis ulang paras negara dan anutan politiknya. Negara yang memeluk politik kemanusiaan mendaku kesucian hidup rakyat miskin dan minoritas sosial. Read the rest of this entry »

Written by Beni Bevly

May 24th, 2010 at 6:26 pm

Manicheism in Indonesia

with one comment

The Rose by Salvador Dali

by Jennie S. Bev

Along with Serbia, Iraq, Iran and North Korea, the peace-building approach in Indonesia is both polarizing and dualistic. In a term used by Johan Galtung, these traits are “manicheistic.”

Manicheism itself is a term originated from religious studies referring to a dualistic system of good and bad. In this case, it is referring to a preference in a security-oriented approach, rather than in a peace-oriented approach.

In Indonesia, the state prefers to see “security” as identical to “peace.”

Indonesia must learn to adopt peace-oriented approaches in both daily living and policy making activities and attitudes. Failure to do so will exacerbate the already tarnished face of peaceful Indonesia with ongoing violent incidents and persecutions of minorities. By adopting a peace-oriented rather than a security-oriented approach, Indonesia will be able to cultivate peace from the ground up, where human rights — including minority rights — are upheld respectfully. Read the rest of this entry »

Written by Beni Bevly

May 24th, 2010 at 9:30 am

Forgiveness and Justice after May 1998 Tragedy

with one comment

May 1998 Tragedy - Riot - Atrocity in Jakarta Indonesia

by Jennie S. Bev

Twelve years ago, our family and my parents’ house were saved by a mosque. A mob came to torch down the neighborhood but a good Muslim neighbor shouted, “Don’t torch our homes. There is a mosque nearby!” I was fortunate I was there and not on the way to my house in Tangerang, West Java.

Afterward, I heard many cars and their occupants were violently attacked on Kebon Jeruk toll road. One of those cars could have been mine.

Questions on forgiveness and justice have been haunting me since.

As a triple minority, based on my ethnicity, gender and religious affiliation, I belonged to “the weakest link” group, which explains why women of Chinese-Indonesian descent were targeted. Read the rest of this entry »

Written by Beni Bevly

May 13th, 2010 at 1:27 pm

Dari Keterasingan Menjadi Karib: 12 Tahun Tragedi Mei 1998

with 27 comments

Dari keterasingan menjadi karib

Undangan terbuka dialog “Dari Keterasingan Menjadi Karib: 12 Tahun Tragedi Mei 1998″ akan diadakan pada:

Hari: Minggu, 16 Mei 2010
Pukul: 5:00pm-8:00pm (didahului oleh jamuan sederhana)
Tempat: Hall Gereja Holy Family, 3880 Smith Street, Union City, CA 94587.

Keterangan lebih lanjut, silakan baca artikel di bawah ini:

Latar Belakang

12 tahun telah berlalu sejak Tragedi Mei 1998 terjadi. Sejak itu telah banyak perubahan dan perkembangan baru yang menjanjikan di antaranya diberlakukannya Undang-Undang Kewarganegaraan yang menyetarakan posisi keturunan Tionghoa dengan suku lain di Indonesia, Tahun Baru Imlek sebagai hari Libur Nasional, diijinkannya karakter, bahasa dan budaya Mandarin/Tionghoa untuk diajarkan di sekolah dan ditampilkan di tempat umum, di antaranya dibangunnya Anjungan Tionghoa di Taman Mini Indonesia, dan berhentinya kediktatoran dan penguasa tangan besi Orde Lama. Read the rest of this entry »

Written by Beni Bevly

May 3rd, 2010 at 8:48 pm

Jalan Tragis Para Teroris

with one comment

Politik Para Teroris oleh Mutara Andalas, SJ
Oleh: Muhammadun AS*

Judul buku : Politik Para Teroris
Penulis : Mutiara Andalas
Pengantar : AM. Hendropriyono
Penerbit : Kanisius Yogyakarta
Cetakan : 1, 2010
Tebal : 132 halaman

Terorisme merupakan epifeni terburuk paling tragis yang terjadi di langit milenium abad ke-21 sekarang ini. Hampir manusia sejagat disibukkan dengan gelombang terorisme yang terus menyeruak hampir di sekujur tubuh benua di dunia ini. Amerika Serikat (AS) menjadi negara pertama yang terlibat paling serius dengan skandal dan tragedi terorisme. Read the rest of this entry »

Written by Beni Bevly

May 3rd, 2010 at 8:23 pm

The boy from Menteng

with 2 comments

As a fixer and a visionary, Obama is known for his concerns about various issues. After all, his charisma as an activist was what made millions of Americans fall in love with him in the first place.
by Jennie S. Bev

Barack Obama is a different kind of president. He is not merely a president per se, as he is also a strong activist and a reformist. As Ralph Waldo Emerson once said, “We are reformers in Spring and Summer, in Autumn and Winter we stand by the old, reformers in the morning, conservers at night.” And like most, if not all reformists, his presence makes many people uncomfortable.

His planned visit Indonesia on March 20-22, 2010, has sparked much debate. For instance, Hizbut Tahrir said it would rally 5,000 supporters to stage a demonstration in Surabaya. Read the rest of this entry »

U.S. Training of Kopassus

with 3 comments

ETAN

(Below is a letter from The East Timor and Indonesia Action Network (ETAN) that warned President Barack Obama against renewing any U.S. training for Indonesia’s notorious special forces and urged to sign a petition)

Contact: John M. Miller, East Timor and Indonesia Action Network (ETAN), +1-718-596-7668; 917-690-4391, etan@etan.org

U.S. Training of Kopassus: A Bad Idea Whose Time Has Not Come

The East Timor and Indonesia Action Network (ETAN) warned President Barack Obama against renewing any U.S. training for Indonesia’s notorious special forces. Read the rest of this entry »

Written by Beni Bevly

March 19th, 2010 at 4:09 pm

Lahir dari Rahim; Wacana Perempuan Asia tentang Allah di Era Globalisasi

without comments

Lahir dari Rahim oleh P. Mutiara Andalas, SJ

Diresensi oleh: Abda’iyah Alhadi

Judul : Lahir dari Rahim: Wacana Perempuan Asia tentang Allah di Era Globalisasi
Penulis : P. Mutiara Andalas, SJ
Kata Pengantar: Jennie S. Bevly dan Ulil Abshar Abdalla
Penerbit : Kanisius, Yogyakarta
Edisi : I, Juni 2009
Harga : Rp 55.000,00

Membahas permasalahan gender adalah menganalisis hubungan peran laki-laki dan perempuan dalam kehidupan sosialnya. Bukan permasalahan kodrat laki-laki yang memproduksi sperma dan perempuan melahirkan. Sebagai manusia keduanya memiliki hak dan kewajiban yang sama dalam menjalankan perannya sebagai makhluk sosial. Akan tetapi yang menjadi permasalahan adalah struktur soaial yang timpang, bias gender yang menyebar luas dan mempengaruhi pola pikir, tindakan dan bentuk kehidupan sosial di negeri ini. Read the rest of this entry »

Written by Beni Bevly

March 19th, 2010 at 3:51 pm

Peaceful pluralism and nonkilling policy

without comments

After all, remember, humanity was created out of love for togetherness, not for hatred.

By Jennie S. Bev

The world of politics is based on violence, within which killing — as a form of violence — is a major component in gaining and maintaining power.

Throughout the history of political philosophy, from Plato’s Republic, Aristotle’s Politics, Machiavelli’s The Prince, Hobbes’s Leviathan, Locke’s Two Treaties of Government, Rousseau’s The Social Contract, Marx and Engels’ The Communist Manifesto, to Weber’s “Politics as a Vocation,” all agreed that killing is a necessary form of force used in a power struggle, if not as a last resort.

Weber even defined “a modern state” as a “human community that claims the monopoly use of physical force within a given territory.” He also added: “He who seeks the salvation of the soul, of his own and that of others, should not seek it along the avenue of politics, for the quite different tasks of politics can only be solved by violence.” Read the rest of this entry »

Written by Beni Bevly

February 1st, 2010 at 2:47 pm

Gus Dur di hati saya

without comments

Keberaniannya mengakui kesalahan Institusi NU di masa lalu menyingkap komitmen Islam sepanjang masa untuk membela perikemanusiaan masyarakat korban.

Oleh Mutiara Andalas, SJ

(Artikel di bawah ini adalah Eulogy Mutiara Andalas dalam kegiatan Gus Dur Candlelight Memorial di Foster City, San Francisco Bay Area, USA pada hari Jum’at, 8 January 2009).

Menjelang era reformasi 1998, saya ikut diantara komunitas persaudaraan lintasagama yang mendirikan tenda Tim Relawan untuk Kemanusiaan di kantor Pengurus Besar Nahdatul Ulama. Saya berjumpa dengan nahyidin muda yang mengisahkan kekaguman dalam rasa hormat pada sosok Abdurrahman Wahid. Pengalaman awal saya dengan Gus Dur adalah melihatnya keluar masuk gedung PBNU dari tenda. Read the rest of this entry »

Written by Beni Bevly

January 12th, 2010 at 4:13 pm

Bapak Pluralisme Indonesia

with 2 comments

Gus Dur: Bapak Pluralisme Indonesia

Oleh Dr. Beni Bevly

Amukan teroris dan tumbuhnya radikalisme Islam secara pesat setelah runtuhnya Orde Baru pada tahun 1998 di Indonesia telah banyak menimbulkan rasa was-was di kalangan non-Islam radikal, termasuk penghuni bumi di belahan lain di dunia ini. Rasa was-was ini timbul karena persepsi yang tercipta dari tindakan kelompok teroris dan Islam radikal tersebut.

Ternyata ada satu tokoh yang secara berani, kontroversial dan lucu menampilkan sisi lain dari persepsi radikalisme Islam. Read the rest of this entry »

Gus Dur as a defender of pluralism, religious freedom

with one comment

Gus Dur also promoted the idea of localization (pribumisasi) of Islam, rather than “Arabization”, although he was well versed in Arabic. By the Indonesianization of Islam he meant the blending of Islamic beliefs and values with local culture.

By Dr. Muhammad Ali

Pluralism has always been a contentious issue, but Abdurrahman “Gus Dur” Wahid worked beyond passive tolerance. He advocated the creation of a public space for communication, dialogue and cooperation between the mainstream and the marginalized.

Raised in a pesantren (Islamic boarding school) and Nahdlatul Ulama (NU) tradition, but also in Western and Eastern traditions, Gus Dur became the advocate of a reform rooted in the traditions. Read the rest of this entry »

Written by Beni Bevly

January 12th, 2010 at 2:58 pm