Archive for the ‘Natural Resources’ Category
Pancasila yang Keren

Sumber Gambar: beta.matanews.com
Pancasila yang Keren 1)
Oleh Dr. Beni Bevly 2)
Kini banyak pihak merasa Pancasila tidak sakti dan penuh dengan kebohongan, sehingga mereka melihatnya bukanlah objek yang keren. Terlepas dari benar atau tidaknya anggapan di atas, satu hal yang harus kita akui bahwa Pancasila tidak lagi memegang peranan sepenting ketika Orde Baru berkuasa. Berikut marilah kita diskusikan apa yang kita mau dari Pancasila? Apakah masih relevan? Jika ya, bagaimana kita mensikapinya? Apakah dengan repositioning Pancasila kita bisa membuatnya menjadi keren dan meletakkan Pancasila menjadi dasar filosofi dan pegangan rakyat Indonesia dalam bermasyarakat dan bernegara yang bisa mereka banggakan? 3) Read the rest of this entry »
Tatanan Perekonomian Dunia Pasca Amerika Serikat
Oleh Dr. Beni Bevly, San Francisco
Banyak para ahli yang memprediksikan kemunduran Amerika Serikat (AS) dari posisi nomor satu kekuatan ekonomi dunia dan munculnya kekuatan ekonomi baru. Bagaimana kemungkinan hal ini akan terjadi? Di manakah posisi Indonesia dalam tatanan perkonomian dunia pasca Amerika Serikat?
Perdebatan menurunnya kejayaan perekonomian AS akhirnya bermuara di sekitar opini mengenai munculnya atau akan munculnya kekuatan ekonomi tandingan AS dari kelompok negara BRIC dan MAVINS. Opini mengenai kemunculan BRIC (Brazil, Russia, India, dan China) sebagai kekuatan ekonomi yang akan menebas AS, pertama kali diperkenalkan oleh Jim O’Neill, global economist dari Goldman Sachs, sedangkan MAVINS (Mexico, Australia, Vietnam, Indonesia, Nigeria, and South Africa) sebagai kekuatan ekonomi dunia layer ke dua yang juga akan menjadi pesaing AS dipopulerkan awal tahun ini oleh Vincent Fernando dan Joe Weisenthal dari Business Insider. Read the rest of this entry »
Binis yang Akan Merubah Dunia

Sumber gambar: heatusa.com
Oleh Dr. Beni Bevly
Beberapa saat yang lalu, the Wall Street Journal (WSJ) di Tanah Seberang mengajukan ide yang berjudul “Five technologies that will change the world”. Sebagian besar dari kita pasti akan tergoda untuk mengetahui teknologi apa sajakah yang diajukan oleh raja koran ini. Bukan hanya itu, efek alamiah yang inheren dari perkembangan teknologi ini diperkirakan akan menunjang perkembangan bisnis yang akan merubah dunia pula. Read the rest of this entry »
Going Green

Sumber Gambar: newsimg.bbc.co.uk
Oleh Dr. Beni Bevly
Pada hari Selasa, 17 Februari 2009, saya menyaksikan suatu peristiwa penting di Tanah Seberang, yaitu penandatanganan $787 miliar paket stimulus, stimulus terbesar sejak perang dunia ke dua, oleh President Barack Obama. Pada event yang sama, Blake Jones, CEO Namaste Solar, perusahaan panel solar kecil, mendapat kehormatan untuk bicara. Ia menyatakan bahwa perusahaannya tumbuh sangat cepat, dari 3 karyawan menjadi 60 dalam waktu 3 tahun. Dengan paket stimulus ini, ia memprediksikan bisa merekrut 20 karyawan lagi. Apa arti kejadian ini bagi perkembangan perusahaan yang bersifat going green baik di Tanah Seberang muapun di Tanah Air? Sebenarnya apa sajakah yang tercakup dalam slogan going green ini? Kesempatan apa yang dapat diraih oleh pangusaha di Tanah Air dalam rangka mendukung gerakan going green?
Pengusaha yang mengdopsi usaha going green tentunya menjadi semakin populer dan banyak diminati sejak kejadian di atas. Going green telah dipopulerkan oleh Al Gore, Pemenang Hadiah Nobel tahun 2007 melalui buku dan video An Inconvvenient Truth-nya. Intinya, dalam beberapa tahun terakhir ini, suhu temparatur global (global warming) meningkat dengan drastis. Dari kumpulan 21 tahun yang terpanas, 20 di antaranya terjadi dalam 25 tahun terakhir. Akibat dari kenaikan suhu secara drastis ini ternyata berdampak negative bagi kelangsungan lingkungan dan kehidupan manusia.
Pada saat ini, banyak penduduk di Tanah Seberang telah menyadari akan perubahan keadaan linkungan alam dan bahaya global warming. Maka itu, mereka bersedia dan siap untuk menganti lifestyle mereka dengan going green life style. Merekalah yang akan menjadi komsumer terbesar dalam bisnis going green.
Slogan going green mencakup pengertian filosofis yang berkaitan dengan pergerakan sosial yang berpusat pada konservasi dan perbaikan lingkungan alam. Dalam kegiatan sehari-hari di Tanah Seberang pengertian ini dikaitkan dengan penghematan energi, penghematan penggunaan air bersih, efisiensi penggunaan bahan bakar, memilih makanan yang bersahabat dengan lingkungan, tidak menggunakan minuman botol, menggunakan barang second hand, lebih baik menyewa dari pada membeli, belanja dengan dengan teliti, tidak cepat mengganti alat elektronik dan digital, dan lain-lain.
Searah dengan gerakan seperti di atas, maka berjamuranlah usaha di Tanah Seberang. Usaha seperti itu di antaranya adalah pengdaan solar panel seperti Namaste Solar, green cleaning and household management, green building, green design, green consumerism, green parenting atau pet care, dan green consultant.
Bagaimana kondisi di Tanah Air? Dengan paket stimulus raksasa dari Tanah Seberang dan ditambah gerakan going green menjalar ke Tanah Air, diperkirakan usaha dalam bidang ini akan bekembang pesat. Hal ini juga didukung oleh para Lembaga Swadaya Masyarakat seperti Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) yang memiliki perwakilan di 25 provinsi dan 438 organisasi yang berafiliasi sebagai anggota bekerja untuk menjaga dan membela kelestarian alam dan lingkungan komunitas Indonesia.
Perubahan lifestyle seperti ini akan banyak membuka peluang untuk para pengusaha, termasuk pengusa kecil dan besar. Di Tanah Seberang, salah satu perusahaan raksasa, yaitu Wal Mart telah komit mendukung gaya hidup ini. Lee Scott, CEO-nya mengatakan:
“Tidak perlu ada konflik antara linkungan dan ekonomi. Bagi saya, tidak ada yang baik mengenai pencemaran bahan kimiah ke udara. Tidak ada yang baik mengenai asap yang anda lihat di kota-kota. Tidak ada yang baik mengenai pencemaran bahan kimiah ke sungai-sungai di Negara Ketiga sehingga orang bisa membeli barang lebih murah di negara maju. Hal-hal seperti itu pada hakekatnya adalah salah, terlepas dari anda seorang environmentalist atau bukan.”
Untuk itu Wal Mart telah banyak menjual green product. Mereka juga telah mengganti sumber energi dan cara proses yang lebih efisien dan lebih going green.
Kembali ke Tanah Air. Perubahan gaya hidup seperti ini juga akan membuka peluang usaha baru seperti meningkatnya gerakan menghemat energi. Gejala ini bisa dimafaatkan oleh pengusaha untuk menawarkan produk teknologi hemat energi seperti compact fluorescent light bulbs/CFLs.
Para penganut lifestyle going green juga akan menghemat dalam pengunaan air bersih, karena itu produk-produk hemat air bersih seperti low-flow showerhead dan faucet aerator dan tanaman atau bunga yang tidak mebutuhkan banyak air akan menjadi semakin laku. Mereka juga akan menggunakan kendaraan yang hemat atau tidak mengunakan bahan bakar, maka seorang pengusaha bisa menawarkan pengunaan sepeda yang nyaman untuk dikendarai di kompleks-kompleks.
Makanan organik adalah salah satu objek yang dikonsumsi oleh konsumer golongan ini. Berkaitan dengan hal ini, pengusaha bisa menawarkan makan organik yang berasal dari dalam negeri. Hal lain yang bisa ditawarkan adalah penggunaan produk packaging yang bio-degradable/ecological friendly/recyclable, usaha sewa barang, produk tahan lama, dan usaha recycling alat elektonik.
Memang untuk memulai usaha baru pasti dibutuhkan informasi, pengetahuan dan keahlian baru pula, termasuk usaha yang satu ini. Informasi, pengetahuan dan keahlian baru ini bisa didapati di universitas-universitas terkemuka dalam dan luar negeri. Biasanya mereka menyediakan mata kuliah, kursus, seminar dan perpustakaan yang memberikan informasi sejenis ini.
Di samping itu, buku, majalah dan newsletters keluaran terbaru juga sering membahas topik ini.
Jika anda punya akses ke internet, maka fasilitas muktahir ini adalah alat yang paling bisa diandalkan dalam mencari dan memperkaya informasi mengenai usaha yang berkaitan dengan lifestyle going green.
Kapan waktu yang tepat untuk memulai usaha seperti ini? Jawabannya adalah sekarang. Jangan sampai jauh tertinggal oleh Namaste Solar.
_____
Dr. Beni Bevly adalah penulis buku Managing For Profit Organizations
in the Flatter World. Ia bisa dijumpai di www.overseasthinktankforindonesia.com. Artikel ini diterbitkan oleh majalah Duit!
Terminator’s lessons in leadership
By Jennie S. Bev
I was invited to attend an annual presentation by the 38th governor of California, Arnold Schwarzenegger, as organized by The Commonwealth Club, a public affairs forum, at the historical Fairmont Hotel in San Francisco last month.
Beyond my expectations, which later turned my skepticism upside down, this former Terminator and Kindergarten Cop is more than a celebrity hunk, but also a brainy politician, an intelligent speaker and an inspiring leader who is not only charming but also mind-set changing.
Many lessons can be learned from the substance, the presentation style and the speaker’s character as conveyed to the public in a mesmerizing way. Indonesian celebrities who are considering or already in the world of politics can definitely learn from Schwarzenegger.
Schwarzenegger talked about California being an international leader in the “green movement” with the accomplishment of AB 32 California’s Global Warming Solutions Act of 2006 and what his position is on the chant “Drill, Baby Drill”, which was made popular in the recent Republican Convention.
Schwarzenegger opened the speech with appreciation of Teddy Roosevelt — a strong advocate and a visionary of environment stewardship who spoke in the same forum in 1911 — and how he is grateful for materializing a life that is way beyond his wildest dreams.
I agree with this former Mr. Universe’s notion that California might be a small spot on the world map, but it has the power and influence of a continent. And it is backed by strong economic power: According to the 2007 CIA World Factbook, if California were an independent nation, it would have been the 10th largest economy in the world, alongside the United States, China, Japan, India, Germany, the UK, Russia, France and Brazil.
Under Schwarzenegger’s tenure, genuine concerns about environmental conservation by reducing greenhouse gases and carbon footprints are a strong internal motor that have made California a leader.
“We’ve reached a tipping point on the environment, and two years after I signed our ambitious global warming law, California is now at the forefront of the fight against climate change,” Schwarzenegger said. “We are not waiting for the federal government to get going but are working to lay the groundwork for an eventual national climate change program. The truth is there is far more economic opportunity in fighting global warming than there is economic risk.”
While Al Gore aims to implement completely renewable energy sources within 10 years, which will not be possible as scientists and activists have shown reservations, Schwarzenegger realistically aims for 20 percent renewable energy sources by 2010, which is doable. After all, as he quoted Bismarck, “Politics is the art of possible rather than the art of perfection”.
On “Drill, Baby Drill”, he recalled that in 1968, when he had just arrived in California, there was an oil spillage that overran Moss Beach in Los Angeles with tar. At that point, he made a pact to protect the environment. He clearly confirmed his stance that he would oppose any offshore drilling in California — and the whole of the United States for that matter — regardless of the two presidential candidates’ softening position on this issue.
He added that he would explore other renewable energy opportunities, such as nuclear, solar, wind and clean coal. In addition, he said he believed that if all states of the United States used California’s standards, it would be much more efficient as the guidelines are readily available for execution.
Overall, the substance of this speech might sound a bit typical in terms of its green messages, but the presentation itself was one of the most powerful I have ever seen. Such an impeccable, humorous and confident facade cannot be learned in a few days or even months. Schwarzenegger, apparently, has mastered the art of being an inspiring leader, which is about much more than being a celebrity politician. He has morphed into The Great Inspirer; as he put it bluntly, “We need to inspire people to act.”
In Indonesia, we have seen many celebrities trying to get lucky by plunging into the world of politics. We have seen how their celebrity status is the key to being elected to a position in parliament or another executive position. And Indonesians might possess a far different mentality than Americans, but all humans prefer to be inspired and to inspire others, especially in this trying time when Mother Nature needs our protection and care much more than before.
After all, the start of autumn might mean we are facing the inevitable winter, but we can flip it over into the dawn of spring. And one of the keys to success is having strong and inspiring leaders whose vision is in alignment with the world’s greatest contemporary need: a sustainable environment where mankind, civilization, flora, fauna and the planet are in balance.
And for this, we can learn from the one who ended his speech with “I’ll be back!”
_______
The writer is an author and a columnist based in Northern California. This article was published by the Jakarta Post.
THE GROWTH OF GNP, THE INCREASE OF POVERTY AND UNEMPLOYMENT IN INDONESIA
By Beni Bevly
It’s my tendency to get to know the topic more from the seminar or discussion that I am going to attend. The night before attending the discussion in San Francisco, CA, USA with Dorodjatun Kuntjoro-Jakti (MA ’66 Public Admin and PhD ’81 Political Science UC Berkeley Alumnus) who was a Professor of Economics at the University of Indonesia, Former Coordinating Minister for Economic Affairs, and the 14th former Indonesian Ambassador to the United States, I conducted a brief research on current Indonesia economy. There were two findings that’s quite interesting. First, about the positive progress of Indonesia economy represented by statistics economy growth, and second, it shows the decrease of wealth, increase of poverty and unemployment rate among Indonesian people. How could it be? I thought the discussion with Dr. Kuntjoro-Jakri would help me to understand this issue better.
In that seminar, he presented the statistic data regarding IV quarter of 2007 Indonesia economy improvement and a new tendency that was happening in Indonesia economy which involved private equity that had been buying undervalue, under-manged and high risk companies, including public companies. He called it P2P (Private Equity to Public) business. All the data he presented was so impressive and very promising. In term of economic growth, he mentioned from 1998 with -13.8% of GDP, has been improving persistently up to 6.3% in 2007 and would be 6.5-7% in 2008. In term of investment, it raised to 145% from 2006. He also mentioned that inflation was under control, which was around 6% in 2007-2009. And there were many other information and statistics to support the argument that Indonesia economy was already in the right track.
Unfortunately, I did not get the answer for my contradictory findings, which were the positive progress of Indonesia economy represented by statistics economy growth on one side, and showed the decrease of wealth, increase of poverty and unemployment rate among Indonesian people on the other side. In fact, my expectation on this seminar was not too high considering that Dr. Kuntjoro-Jakti had different reputation compared to his seniors at the University of California Berkeley who were known as Berkeley Mafia. He was considered as an populist scholar and a supporter of the rights and power of the people. Below is the statement I quoted from Kompas:
“Akan tetapi, sebetulnya posisi yang diambil Dorodjatun itu tidaklah aneh, bahkan mungkin dia memang tidak pas untuk dimasukkan ke dalam kelompok “epistemis liberal”. Meskipun dia dikenal sebagai generasi terakhir Mafia Berkeley, dia sebetulnya sudah menyimpang dari jalur liberalisme ekonomi yang dianut kelompok teknokrat tersebut.
Dalam sebuah diskusi Senat Mahasiswa di FISIP UI, dia secara bercanda mengatakan bahwa Pemerintah Indonesia waktu itu berhenti mengirimkan ekonom mudanya ke Berkeley setelah melihat hasil dari generasi terakhirnya (maksudnya dirinya sendiri) menjadi melenceng. Maka, kalau dulu Hadi Soesastro mengajar pengantar ekonomi di FISIP UI memakai textbook Samuelson, Dorodjatun lebih menyukai textbook Todaro.”
He even did not refer to Samuelson’s Economic text book when he taught at the college, instead he used Todaro’s.
As we know, Paul Anthony Samuelson (born May 15, 1915) is an American neoclassical economist who wrote Economics. Samuelson’s text was first published in 1948, and it immediately became the authority for the principles of economics courses. The book continues to be the standard-bearer for principles courses, and this revision continues to be a clear, accurate, and interesting introduction to modern economics principles. Bill Nordhaus is now the primary author of this text, and he has revised the book to be as current and relevant as ever.
Whereas, Michael P. Todaro is an American economist and is a pioneer in the field of transportation economics. His Economic Development in the Third World is a book to aim at undergraduates and focuses on development problems such as poverty, inequality and unemployment. In order to help students grasp important economic concepts, emphasis is placed on explaining them in the context of the actual problems confronting Third World policy makers.
However, there is always the other side of a coin. An article which discusses his economy policy on Pikiran Rakyat news paper mentions:
“Sementara itu ketua Tim Pemantau Kebijakan Publik P3R Ahmad Iskandar menambahkan, semua kebijakan ekonomi yang dikeluarkan tim Menko Ekuin Kabinet Gotong Royong (Dorodjatun Kuncoro Jakti cs) cenderung hanya meniru konsepsi kebijakan yang dibuat oleh arsitek ekonomi Orde Baru yang lebih mementingkan kepentingan pihak asing ketimbang kepentingan rakyat. ”Kami menyayangkan kinerja Pak Dorodjatun yang memperlihatkan dirinya tidak lebih hanya kelanjutan dari ”mafia berkeley” generasi kedua,” ungkap Iskandar.
Ia menambahkan, krisis ekonomi nasional yang sudah berlangsung hampir 5 tahun tidak bisa dilepaskan dari kesalahan konsepsi, policy, dan strategi pembangunan yang dibuat arsitek ekonomi Orde Baru yang beken disebut Mafia Berkeley (Widjojo Nitisastro, Ali Wardhana, Emil Salim, M. Sadli, dan Subroto).”
Basically, this article discusses that Dr. Kuntjoro-Jakti’s performance as Coordinating Minister for Economic Affairs was the continuation from Berkeley Mafia who prioritized foreigners’ vested interest and set aside people’s interest.
Despite of the above arguments, from February 2005 to March 2006, the poverty rate increased from 16.0 to 17.8 percent. There are 39 million people, 4 million more than in 2005, who were getting poorer. There are two main elements that caused the increasing of poverty rate. First, the increase of fuel price. Once, it increased 126% in 2005, and the majority of the people still feel the impact until today. Second the increase of rice price. Between February 2005 and March 2006 the rice price increased double. While the people wages barely increased. The number of poor Indonesians would have soared even more, to 51 million people according to the statistics office.
According to the CIA-The World Fact Book, the unemployment rate had been increasing steadily since 2004 that stared with 8.70 %, becoming 9.20% in 2005, 11.80% in 2006, and it was estimated 12.50% in 2007. There are two main elements that cause the unemployment keeps increasing in Indonesia. First, the economic development does not reach the rural areas. From time to time, these areas are far left behind. Many of them are getting poorer. People who live in these areas no longer can rely on what they have been doing to support their life. As a result, a lot of them seek for jobs in urban areas such as Jakarta, Surabaya and other big cities. Many of them become jobless and they even create more problems in big cities, such as increasing crime rate.
Second, there is lack of trained human resources. According to a recent international survey on quality of human resources, Indonesia ranked 59th among 60 developing countries surveyed, just below Vietnam. From 106 million-strong work force, 18% have never attended school, 36% are elementary school graduates and dropouts, 20% are junior high school graduates, 21% are senior high school graduates and less than 6 percent are academy and university graduates (Jakarta Post, retrieved on November 12, 2007). The industries have offered numerous job opportunities but they cannot be filled because of the absence people or lack of competence.
What these tell us? Even though Indonesian GDP growth has persistently improved since 1999, however, first, the economy development does not support agricultural development and its infrastructure, especially in cultivating rice or paddy properly. Second, the development only concentrates mostly in big cities. Third, there is no real effort and political will to establish effective and efficient power/energy plant and refinery and/or look for fossil fuel substitution. Fourth, the education system/program does not match to the requirement of the labor market. Because of these four elements, poverty and unemployment remain increase, regardless how much the statistics show that Indonesia economy improves.
_____
*Beni Bevly holds BA in Political Science, MBA in Marketing, and is a DBA (Doctor of Business Administration) candidate. He is the founder of Overseas Think Tank for Indonesia.
TERJEBAK PADA POLITIK KETERGANTUNGAN
Oleh Beni Bevly
Dalam satu mailing list, ada seorang sahabat yang menangapi artikel “KETERPURUKAN EKONOMI INDONESIA DAN KAITANNYA DENGAN TRAGEDI MEI 1998: Analisa Preliminary”. Dalam kaitannya dengan perkembangan ekonomi Indonesia dan kerja sama dengan negara lain, ia mengemukakan:
“Yang pasti juga tidak ada satu negara industripun yang senang kalau negara dunia ketiga bisa menyainginya.”
Membaca kutipan di atas, mengingatkan aku pada teori ketergantungan dan kepentingan dalam hubungan internasional. Dalam dunia internasional, konstelasi politik, keamanan dan ekonomi telah banyak berubah sejak selesainya perang dingin, runtuhnya kubu Uni Soviet dan tumbuhnya raksasa ekonomi China. Walaupun demikian ada satu hal yang tidak berubah, hal ini sejalan dengan kutipan di atas, yaitu negara maju tetap akan menciptakan ketergantungan negara berkembang dan negara terbelakang kepada mereka demi pememenuhan kepentingan nasional mereka.
Dengan terciptaan ketergantungan baik dalam ekonomi, keamanan dan politik, maka suatu negara yang tergantung tidak akan bisa berkembang secara maksimal. Ketergantungan dan efek seperti inilah yang terjadi di Indonesia pada masa Orde Baru dan juga pada masa sekarang.
Salah satu contohnya adalah di mana Indonesia sangat tergantung pada mengekspor minyak dan kayu mentah pada negara maju, di lain pihak Indonesia tidak dikasih kesempatan untuk mengelolah minyak dan kayu mentah itu menjadi barang jadi atau setengah jadi. Terlepas dari dikasih atau tidaknya kesempatan, pemerintahan Indonesia sudah seharusnya dan selayaknya menumbuhkan dan mempuyai kemampuan ini.
Begitu juga dalam hal politik dan keamanan. Situasi ketakutan akan blok timur (komunis) atau karena hal lain, maka membuat Indonesia bergantung pada dukungan Amerika Serikat baik dari segi ideologi maupun kekuatan bersenjata. Sementara pembangunan dan pendidikan politik secara positive, terbuka dan dewasa agaknya tidak disampaikan pada rakyat Indonesia.
Dua contoh di atas (mengelolah bahan mentah menjadi bahan jadi, dan pembangunan dan pendidikan politik) tentu saja bukan menjadi masalah pemerintahan negara maju yang bekerja sama dengan Indonesia. Bagi mereka justru hal ini lebih baik jangan dikembangkan, karena kondisi keterbelakangan ini bisa digunakan untuk kepentingan nasional negara mereka. Mengapa begitu? Karena pada dasarnya setiap hubungan internasional antar negara selalu didasarkan atas kepentingan nasional. Hanya pemerintahan Indonesia saja yang selama ini tidak banyak melakukan hubungan Internasional berdasarkan kepentingan nasional yang rasional. Indonesia sering mencampur-adukkan kepentingan pribadi/golongan di dalam negeri dan perasaan “solidaritas’ yang tidak menentu. Contohnya adalah sikap Indonesia pada pemerintahan militer Myanmar dan pada pemerintahan Ahmad Dinejad, Iran.
Dengan type hubungan internasional seperti ini, tentu saja mempengaruhi perkembangan dalam negeri Indonesia. Singkatnya, negara kita tidak bisa berdiri sendiri dan tetap menjadi negara yang bergantung pada negara lain secara berkepanjangan.
_____
*Beni Bevly holds BA in Political Science, MBA in Marketing, and is a DBA (Doctor of Business Administration) candidate. He is the founder of Overseas Think Tank for Indonesia.
OTHER WAY TO DECREASE GASOLINE PRICE?
By Beni Bevly
In Indonesia, most natural resources are occupied, exploited, controlled and managed by Indonesian State Owned Enterprises or Badan Usaha Milik Negara (BUMN). In contrary, in the United States, private companies have the right to do such as things, for example Exxon Mobile that becomes the the most profitable company. Even though Indonesia and the United States governments have the different ways to manage their natural resources, there is one common, the price of natural resources, especially the gasoline price keeps increasing.
How are the reactions from people of these two nations regarding the gasoline price hikes? In Indonesia, there is mainly marked with protest and demonstration method that tend to lead to violence. Whereas, the people in the United States tend to utilized media and moral pressure method to the related company, such as Exxon Mobile and to the government. Below are the examples how they utilize media and moral pressure to the government.
Today, there is a news that spreads all over the United States. It mentions about how the hot weather influences gasoline, how it costs consumers and how to act to lower the price.
Fuel expands when temperatures rise, but most retail gas station nozzles don’t adjust for volume differences based on temperature. That oversight means California motorists could be losing up to 3 cents on every gallon, or $480 million annually, according to an estimate by the Foundation for Taxpayer and Consumer Rights (Examiner.com, 5/11/2007).
To:
Gov. Arnold Schwarzenegger
Assembly Speaker Fabian Nuñez
Senate President Pro Tem Don PerataDear California leaders,
We urge you to call a special legislative session to debate and take action on the price of gasoline in California. Prices are at crisis level, and we citizens of your state can’t take it any more.
A fill-up is costing us $7 to $15 more than in the rest of the nation. Prices have passed last year’s record level and it is still weeks before the peak summer driving season begins. Oil companies and refiners are making unheard-of profits from gasoline in our state, with no substantial relief in sight.
We urge you to discuss regulatory structures and changes to bring down prices and prevent unreasonable pump-price spikes like the one we are now enduring.
We want you to act now (Comsumerwatchdog.org, 5/11/2007).
(For you who want to sign a petition, click here).
Both of these methods, Indonesians’ and Americans’ ways, do not really show positive result. Is there any other way to decrease the gasoline price within short term?
_____
*Beni Bevly holds BA in Political Science, MBA in Marketing, and is a DBA (Doctor of Business Administration) candidate. He is the founder of Overseas Think Tank for Indonesia.
EXXON MOBIL and ITS MORAL CONSCIENCE
By Beni Bevly
I used to subscribe quite many magazines, but nowadays there are only two of them come into my mail box frequently. They are The Week and Fortune. I consume the rest of the news from internet and CNN.
A couple days ago, I received Fortune with its the most prominent news, Fortune 500 Companies. Who can resist from reading that news? I opened it right away and found out my favorite pages. It showed that Exxon Mobil (Exxon) occupied no. 1 position in profit column. Again? I said “again” because I compared it to last year news. I really wanted to make sure that I got it right. I went over a pile of my old magazines. Yes, I was right, Exxon was there, at the same spot. Why does it matter to me? Of course it does and it also does matter to you too.
In the American society and government who are known for their “perfect” check and balance system compared to other countries, still, it shows a lot of unfair and unethical business practices. With less perfect check and balance system, Indonesia, the country where I was born, also practices this kind of business. Many Indonesia’s government officials and businesses also took advantage and conducted corruption at the largest energy company in Indonesia, PERTAMINA. Of course, I do not tolerate it.
What I would like to say is that America (the United States) is one of the countries that talks and promotes ethics, morality, humanity and democracy all the times in front of other countries, including Indonesia, but on the other hand, the United States government do not solve the Exxon’s phenomenon that took too much advantage and exploit Americans and other host countries seriously, while Americans and other people in the host countries suffer from Exxon’s operation. This negative case will be easily emulated by those corrupt people in the host countries.
Here are the points. First, Exxon is one of the companies who has influence to our life directly through its products, oil and energy. If we are talking about oil and energy, it will relate to our daily activity, from the moment we were in incubation, born and grown, and from the time we wake up, go to work, eat and sleep. All these activities relate to the use of oil and energy, the light we turn on, the car we drive, and the most important thing is the CO2 (Carbon dioxide: a heavy odorless colorless gas formed during respiration and by the decomposition of organic substances; absorbed from the air by plants in photosynthesis, dictionary.com) that we inhale every single second has been polluted. With Exxon’s enormous influence in our life, the question is do they contribute something to create a better quality of life?
If you visit their corporate web site, you will find out their very smart way to mention what they have contributed to this society with its no.1 profit. Do you feel the positive impact on us directly? I do not.
Second, there is an irony between American society and Exxon. While most Americans suffer from gas increase, Exxon is enjoying its extraordinary big amount of net profits. In 2005 Exxon’s net profit increased 42.6% and in 2006, it increased 9.3%. With these increases, Exxon made $39,500,000,000.00 net profits. This number is 32.2% from total of $122.9 billion of net profit in energy industry. If you compare to other industries, such as financial and consumer staple industries, Exxon did not only make the most money, but they also had the most profit in percentage in its industry. While the companies with no. 1 profits in financial industry, Citigroup made 8.3%, and in consumer staple industry, Altria made 15.3%.
How can Exxon keep increasing the price of gasoline and make tremendous of money, while most Americans does not experience in increasing their earnings. Most employers do not raise their employees’ salaries. They even do not adjust the salaries to inflation rate for these past years.
I know, the United States is a liberal and capitalistic country, but at the same time the United States is also a country that respects and believes in moral conscience, ethical value and people’s prosperity. I do not think that Exxon Mobil fits into these values. Therefore, my fellows in developing countries, including Indonesia, do not get trapped with this situation again. We have suffered enough. The suffering that created by small groups of corrupt people.
_____
*Beni Bevly holds BA in Political Science, MBA in Marketing, and is a DBA (Doctor of Business Administration) candidate. He is the founder of Overseas Think Tank for Indonesia.
EDELWEISS: Bunga Abadi
Oleh Beni Bevly
Salah satu kegiatan yang aku gemari pada masa SMA dan kuliah adalah hiking. Dengan hiking, aku merasa menjadi satu dengan alam, suara burung, angin keresekan daun, bahkan hujan membuatku menjadi “hidup”. Tidak hanya itu, setelah mencapai kepuncak, “rasa hidupku” semakin menjadi. Aku merasakan kemegahan jagat raya dan bumi di mana aku berpijak. Pada saat itu aku merasa ada interaksi dengan alam dan gunung di mana aku bepijak. Maka bisalah dimengerti jika John Muir, pendiri Sierra Club, USA, organisasi pelindung alam terbesar di dunia, berkata, “Let us do something to make the mountains glad” sebagai imbalan bahwa gunung telah membuat kita “hidup.”
Tempat favorit untuk hiking-ku adalah di Gunung Gede. Apa yang menarik dari Gudung Gede, sehingga aku memilih tempat ini? Alasan utamanya, selain yang aku kemukakan adalah tantangan yang masih dalam jangkauan. Alasan lain adalah romantisme remaja akan kisah bunga Edelweiss yang sering dicetuskan oleh penulis cerpen atau novel.
Biasanya aku dan temanku tiba di kaki Gunung Gede pada siang hari. Kami melakukan pengecekan terakhir. Hiking dimulai ketika hari menjelang sore. Begitu hendak memasuki trail, aku harus melewati pos penjaga. Di pos ini aku dan temanku yang lain akan diberitahu tentang peraturan larangan dan akibat pelanggaran aturan. Sebelum dilepaskan, kami diminta untuk push up sebagai bukti bahwa bahwa kami memiliki kekuatan fisik untuk mendaki.
Walaupun kesulitan trail untuk mencapai puncak aku kategorikan moderat, aku tetap bersikap sikap hati-hati. Ada dua tempat yang aku kira cukup berbahaya. Pertama, melewati genangan air. Seingatku, trail ini luasanya sekitar satu meter. Di sampingnya terdapat jurang curam yang dalam. Di antara genangan air yang kedalamannya bisa mencapai sepinggang itu terdapat batu yang berlumut dan licin. Batu inilah yang menjadi tempat kami menginjak. Jika tidak hati-hati, kemungkinannya adalah terpeleset dan jatuh kejurang tersebut.
Kedua, kami menyebutnya sebagai tanjakan maut. Tanjakan itu curammnya melebihi 45 derajat. Seperti biasanya, di hutan tropis, keadaan tanah dan batu yang lebih banyak diselimuti oleh lumut dan embun yang lembab dan becek. Di sana telah di pasang jaringan tambang. Pada suatu saat uku terlalu mengandalkan tambang itu. Aku mendaki dengan keyakinan penuh sambil membetot dan menginjak tambang tersebut. Setelah beberapa kali merayap, tiba-tiba tambang yang aku injak itu putus. Karena kehilangan injakan, badanku melorot, tetapi cukup beruntung bahwa aku memegang tambang yang lain dengan kencang. Pada saat itu, aku rasa jantungku mau copot.
Setelah melewati separuh perjalanan, kami beristirahat di salah satu pos yang disebut Kandang Badak. Di situ, di tengah udara yang dingin dan membuat tanganku bebal kesemutan, di tengah gelap yang hanya kedengaran suara air mengalir dan suara jengkrik, kami mendirikan tenda memasak indomie mengunakan portable kompor yang kami bawa. Setelah itu kami beristirahat, menghimpun tenaga untuk mengadakan “serangan fajar”. Serangan fajar yang kami maksudkan adalah meneruskan dakian pada saat yang tepat, yaitu pagi hari sehingga begitu sampai di puncak, kami bisa menikmati keindahan dan kemegahan alam melalui sinar matahari terbit.
Di puncak Gunung Gede inilah, bunga Edelweiss (Leontopodium alpinum) bisa ditemukan. Bunga ini berwarna putih-abu-kehijauan. Mereka tumbuh membentuk rimbunan kecil di permukanan tanah. Ketika dipetik dan disimpan di tempat kering dan temperatur ruangan, bunga ini tidak akan berubah warna seolah-olah ia tetap hidup dan abadi. Inilah keistimewaannya sehingga ia sering menjadi lambang kecintaan seorang remaja pria terdadap kekasihnya. Hal ini jugalah yang memancing para pendaki untuk memetik dan membawanya pulang.
Bunga Edelweiss dikelompokkan sebagai tanaman yang dilindungi oleh pemerintah, karena itulah setiap pendaki diperingatkan kembali untuk tidak memetik bunga ini. Bagi siap yang melanggar ketentuan ini akan dihukum dan didenda. Agaknya larangan dan ancaman hukuman ini semakin menunjukkan kejantanan, keteguhan hati dan pengobanan para pedaki remaja itu untuk membuktikan cinta mereka terhadap kekasihnya. Juga membuktikan betapa romantis mereka.
Maka tidaklah heran jika salah satu temanku memetik beberapa tangkai dan memasukkannya ke celana dalam di antara kedua selangkangannya. Ia telah mempersiapkan dari rumah dengan mengenakan dua lapis celana dalam. Dengan begitu ia bisa lolos dari geledahan penjaga pos di lereng gunung.
Setelah tinggal di AS kegemaran yang satu ini tidak aku bisa tinggalkan. Selama ini tempak yang aku temuai paling menyenangkan adalah hiking di bukit El Capitain. Bukit ini terletak di taman lindung Yosemite, Kalifornia Utara. Selain terkenal dengan bukit El Capitain-nya – yang sering dijadikan objek foto oleh gotografer terkenal, Ansel Adam – Yosemite juga terkenal dengan air terjunnya yang indah, pohon seqoia raksasa yang lobang di batang bawahnya bisa delewati mobil dan hampir setinggi monas, beruang dan macan gunung liarnya.

Image source: extranomical.com
Dalam perjalanan ke Yosemite dengan mengendarai, ada sebuah terowogan yang cukup panjang perlu dilewati. Sekeluaranya dari terowongan tersebut, pemandangan bukit El Capitain yang spektakuler itu langsung terlihat. Di kaki bukit tersebut ada beberapa trail. Di mulut trail itu ditulis informasi yang jelas mengenai tingkat kesulitan, jarak dan hal-hal yang mesti diperhatikan. Salah satunya adalah adanya binatang buas seperti macan gunung. Sebagai pendaki, untuk melindungi diri, pendaki diijinkan membawa senjata api dan tajam lainnya.
Umumnya, aku memilih trail yang bisa pulang hari. Trail di El Capitain, jika dibandingkan dengan Gunung Gede, sangatlah aman dalam pengertian petunjuknya jelas, jalannya tidak becek dan belumut, tambang yang ada sangat kuat. Dengan kondisi ini, kecuali kecerobohan sendiri, seorang pendaki sulit untuk melorot dan jatuh karena tanah longsor atau licin.
Kondisi ini bisa dipertahankan karena “park ranger” melakukan perawatan berkala, seperti mengali saluran air, memindahakan batu yang longsor, meminggirkan pohon yang tumbang, dan mengganti tambang yang rapuh dengan tetap mempertahankan kealamian daerah itu. Selain itu di alam sub tropis, pada masa semi, panas dan gugur, hujan tidak turun, jadi alam hanya basah dan lembab selama kurang lebih 3 bulan dalam satu tahun.
Hal lain yang aku perhatikan bahwa sepanjang trail, sulit detemukan sampah berupa kantong plastik, botol air minum, atau bahkan puntung rokok. Menyimpan sampah di kantong baju atau di tasnya sendiri sampai ketemu tong sampah baru dibuang adalah kebiasaan umum di USA.
Dalam pendakian itu, aku melihat macan gunung sedang minum air dikali yang jernih. Dengan berhati-hati aku mencari angle yang baik dan memfoto macan itu.
Apa kesenangan hi king di Gunugn Gede, Indonesia dan di bukut El Capitain, Amerika? Kesenangan umumnya adalah tantangan yang menumbulkan rasa ingin menaklukkan, yaitu menaklukkan rasa letih, pegal di kaki dan keinginan untuk menyerah. Sebagai imbalannya adalah kagum atas kemampuan diri ku berjalan dan memanjat sedemikian jauh dan menikmati alam dari ketinggian. Bedanya dengan di Gunung Gede, keamanan dan kebersihan di bukut El Capitain lebih baik.
Bagaimana hal ini bisa terjadi? Pemakai dan pengurusnya mempunyai rasa memiliki dan tanggung jawab yang tinggi. Mereka tahu mana tindakan yang merusak lingkungan dan mana yang memelihara lingkungnan. Mana yang sebaiknya dilakukan dan mana yang tidak. Mereka bekerja sama, bukannya kucing-kucingan dengan pendaki yang ingin mendapatkan bunga Edelweiss sebagai lambang semu bukti kejantanan dan cinta mereka tanpa memperhatikan kelangengan bunga itu sendiri. Agaknya itulah maksud John Muir dengan, “Let us do something to make the mountains glad.”
_____
*Beni Bevly holds BA in Political Science, MBA in Marketing, and is a DBA (Doctor of Business Administration) candidate. He is the founder of Overseas Think Tank for Indonesia.









