Overseas Think Tank for Indonesia

facilitating intellectuals to contribute to indonesia

Archive for the ‘Technology’ Category

Inovasi

without comments


Sumber Gambar: patrickdriessen.blogspot.com

Oleh Dr. Beni Bevly

Cell phone (sebutan rekan kita di Tanah Seberang Amerika Serikat untuk hand phone) Palm Centro saya memang sudah saatnya diganti. Tidak terasa sudah dua tahun telah berlalu, bukan hanya karena modelnya yang out of style dan kecanggihannya yang kalah jauh jika dibandingkan smart phone model terkini, tetapi ia telah dikunyah oleh anjing Labrador teman saya yang nakal. Hal ini mendorong saya untuk ke toko AT&T dan membeli iPhone 4. Read the rest of this entry »

Written by Beni Bevly

October 31st, 2011 at 4:56 pm

Defense reforms for 2010-14: Men over materiel?

without comments

Without dedicated, motivated, able, and well-trained troops, the ministry's investments in revitalizing defense industries or acquiring state-of-the-art weaponry will be wasted.
Image source: english.peopledaily.com.cn

By Evan A. Laksmana

“To defend everything is to defend nothing.” There is a lot of wisdom in this old military axiom. Indeed, it is hard to deny that when it comes to national defense, and even war, we just simply can’t do it all. We need to prioritize.

Yet, when we briefly glance through the recent policies made by the Defense Ministry for its 100-day program, the policy makers there seem to be doing the exact opposite – from stepping up military modernization, strengthening local defense industries, to improving border security and disaster management.

The more worrying aspect, however, is not so much the all-embracing priorities, but the perception that the next step after getting the military out of politics and business is to upgrade their weaponry. Read the rest of this entry »

Written by Beni Bevly

February 1st, 2010 at 2:40 pm

Binis yang Akan Merubah Dunia

without comments

Dikabarkan bahwa BioCentric menawarkan kerja sama dengan siapa saja yang bisa menyediakan tanah sekitar 3 acre di daerah yang banyak mendapat sinar matahari dan biaya pertama sebesar USD 80.000/acre. Mereka akan mensuplai pengetahuan, teknologi, dan juga menyalurkan produk akhir ke pembeli.
Sumber gambar: heatusa.com

Oleh Dr. Beni Bevly

Beberapa saat yang lalu, the Wall Street Journal (WSJ) di Tanah Seberang mengajukan ide yang berjudul “Five technologies that will change the world”. Sebagian besar dari kita pasti akan tergoda untuk mengetahui teknologi apa sajakah yang diajukan oleh raja koran ini. Bukan hanya itu, efek alamiah yang inheren dari perkembangan teknologi ini diperkirakan akan menunjang perkembangan bisnis yang akan merubah dunia pula. Read the rest of this entry »

Written by Beni Bevly

January 22nd, 2010 at 11:37 am

Bertanding di Tanah Seberang dan Transformasi ke Tanah Air

with 2 comments

Transformasi suatu bisnis akan bisa berjalan lancar bukan hanya tergantung dari faktor infra struktur fisik dan hukum, tetapi juga tergantung dari kesiapan dan buying power masyarkat di Tanah Air. Jika ketiga faktor ini mendukung, maka tranformasi model bisnis AS dari Tanah Seberang ke Tanah Air akan berjalan lebih mulus.Sumber gambar: 4starerectors.com

Oleh Dr. Beni Bevly

Banyak bisnis besar yang dikenal ternyata berasal dari Silicon Valley, wilayah dekat di mana saya menetap, dan dari Tanah Seberang lainnya. Di samping itu, saya yakin masih banyak bisnis besar dan kecil, yang sebenarnya erat hubungannya dengan Tanah Air, belum begitu akrab di telinga kita. Kali ini mari kita intip bisnis apa saja yang ada, bagaimana mereka memulainya, dan apakah bisa ditransformasikan ke Tanah Air?

Google, HP, Cisco, Apple dan banyak perusahaan IT besar lainnya yang berjaya di Silicon Valley pastilah sudah sangat bersahabat dengan telinga anda. Dan saya yakin di benak anda akan terbayang bahwa pemain tingkat atas yang bertanding di perusahaan-perusahaan ini adalah para pebisnis bule. Jika itu bayangan Anda, maka Anda betul. Bagaimana kalau saya sebut Marvell (Marvell Technology Group) yang merupakan pemimpin dalam produk storage, communication dan consumer silicon solutions. Apakah nama perusahaan ini men-trigger pikiran Anda? Read the rest of this entry »

Written by Beni Bevly

October 14th, 2009 at 8:54 am

Meningkatkan Daya Saing

with 29 comments

The Baldrige Criteria for Performance Excellence dipergunakan sebagai bahan assessment dan improvement tool yang telah dicetak dan didistribusikan lebih dari dua juta copy secara luas.

Oleh Dr. Beni Bevly

Seperti yang diketahui bahwa pemimpin di Washington, DC, di Tanah Seberang sering mendapat tantangan dari mitra bisnisnya, terutama dari Eropa, Jepang, Korea dan China. Sementara itu, tantangan yang tidak kalah ganasnya juga datang dari dalam negeri. Untuk itulah, pemerintahan Paman Sam – yang dikenal sebagai pemerintahan kapitalis dan membatasi diri untuk mencampuri kegiatan bisnis swasta – terpaksa turun tangan dengan memberikan dukungan berupa gudelines dan penghargaan untuk meningkatkan daya saing pebisnis dalam negeri. Read the rest of this entry »

Written by Beni Bevly

September 21st, 2009 at 10:13 am

Going Green

with 7 comments

Tidak ada yang baik mengenai pencemaran bahan kimiah ke sungai-sungai di Negara Ketiga sehingga orang bisa membeli barang lebih murah di negara maju. Hal-hal seperti itu pada hakekatnya adalah salah, terlepas dari anda seorang environmentalist atau bukan.
Sumber Gambar: newsimg.bbc.co.uk

Oleh Dr. Beni Bevly

Pada hari Selasa, 17 Februari 2009, saya menyaksikan suatu peristiwa penting di Tanah Seberang, yaitu penandatanganan $787 miliar paket stimulus, stimulus terbesar sejak perang dunia ke dua, oleh President Barack Obama. Pada event yang sama, Blake Jones, CEO Namaste Solar, perusahaan panel solar kecil, mendapat kehormatan untuk bicara. Ia menyatakan bahwa perusahaannya tumbuh sangat cepat, dari 3 karyawan menjadi 60 dalam waktu 3 tahun. Dengan paket stimulus ini, ia memprediksikan bisa merekrut 20 karyawan lagi. Apa arti kejadian ini bagi perkembangan perusahaan yang bersifat going green baik di Tanah Seberang muapun di Tanah Air? Sebenarnya apa sajakah yang tercakup dalam slogan going green ini? Kesempatan apa yang dapat diraih oleh pangusaha di Tanah Air dalam rangka mendukung gerakan going green?

Pengusaha yang mengdopsi usaha going green tentunya menjadi semakin populer dan banyak diminati sejak kejadian di atas. Going green telah dipopulerkan oleh Al Gore, Pemenang Hadiah Nobel tahun 2007 melalui buku dan video An Inconvvenient Truth-nya. Intinya, dalam beberapa tahun terakhir ini, suhu temparatur global (global warming) meningkat dengan drastis. Dari kumpulan 21 tahun yang terpanas, 20 di antaranya terjadi dalam 25 tahun terakhir. Akibat dari kenaikan suhu secara drastis ini ternyata berdampak negative bagi kelangsungan lingkungan dan kehidupan manusia.

Pada saat ini, banyak penduduk di Tanah Seberang telah menyadari akan perubahan keadaan linkungan alam dan bahaya global warming. Maka itu, mereka bersedia dan siap untuk menganti lifestyle mereka dengan going green life style. Merekalah yang akan menjadi komsumer terbesar dalam bisnis going green.

Slogan going green mencakup pengertian filosofis yang berkaitan dengan pergerakan sosial yang berpusat pada konservasi dan perbaikan lingkungan alam. Dalam kegiatan sehari-hari di Tanah Seberang pengertian ini dikaitkan dengan penghematan energi, penghematan penggunaan air bersih, efisiensi penggunaan bahan bakar, memilih makanan yang bersahabat dengan lingkungan, tidak menggunakan minuman botol, menggunakan barang second hand, lebih baik menyewa dari pada membeli, belanja dengan dengan teliti, tidak cepat mengganti alat elektronik dan digital, dan lain-lain.

Searah dengan gerakan seperti di atas, maka berjamuranlah usaha di Tanah Seberang. Usaha seperti itu di antaranya adalah pengdaan solar panel seperti Namaste Solar, green cleaning and household management, green building, green design, green consumerism, green parenting atau pet care, dan green consultant.

Bagaimana kondisi di Tanah Air? Dengan paket stimulus raksasa dari Tanah Seberang dan ditambah gerakan going green menjalar ke Tanah Air, diperkirakan usaha dalam bidang ini akan bekembang pesat. Hal ini juga didukung oleh para Lembaga Swadaya Masyarakat seperti Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) yang memiliki perwakilan di 25 provinsi dan 438 organisasi yang berafiliasi sebagai anggota bekerja untuk menjaga dan membela kelestarian alam dan lingkungan komunitas Indonesia.

Perubahan lifestyle seperti ini akan banyak membuka peluang untuk para pengusaha, termasuk pengusa kecil dan besar. Di Tanah Seberang, salah satu perusahaan raksasa, yaitu Wal Mart telah komit mendukung gaya hidup ini. Lee Scott, CEO-nya mengatakan:

“Tidak perlu ada konflik antara linkungan dan ekonomi. Bagi saya, tidak ada yang baik mengenai pencemaran bahan kimiah ke udara. Tidak ada yang baik mengenai asap yang anda lihat di kota-kota. Tidak ada yang baik mengenai pencemaran bahan kimiah ke sungai-sungai di Negara Ketiga sehingga orang bisa membeli barang lebih murah di negara maju. Hal-hal seperti itu pada hakekatnya adalah salah, terlepas dari anda seorang environmentalist atau bukan.”

Untuk itu Wal Mart telah banyak menjual green product. Mereka juga telah mengganti sumber energi dan cara proses yang lebih efisien dan lebih going green.

Kembali ke Tanah Air. Perubahan gaya hidup seperti ini juga akan membuka peluang usaha baru seperti meningkatnya gerakan menghemat energi. Gejala ini bisa dimafaatkan oleh pengusaha untuk menawarkan produk teknologi hemat energi seperti compact fluorescent light bulbs/CFLs.

Para penganut lifestyle going green juga akan menghemat dalam pengunaan air bersih, karena itu produk-produk hemat air bersih seperti low-flow showerhead dan faucet aerator dan tanaman atau bunga yang tidak mebutuhkan banyak air akan menjadi semakin laku. Mereka juga akan menggunakan kendaraan yang hemat atau tidak mengunakan bahan bakar, maka seorang pengusaha bisa menawarkan pengunaan sepeda yang nyaman untuk dikendarai di kompleks-kompleks.

Makanan organik adalah salah satu objek yang dikonsumsi oleh konsumer golongan ini. Berkaitan dengan hal ini, pengusaha bisa menawarkan makan organik yang berasal dari dalam negeri. Hal lain yang bisa ditawarkan adalah penggunaan produk packaging yang bio-degradable/ecological friendly/recyclable, usaha sewa barang, produk tahan lama, dan usaha recycling alat elektonik.

Memang untuk memulai usaha baru pasti dibutuhkan informasi, pengetahuan dan keahlian baru pula, termasuk usaha yang satu ini. Informasi, pengetahuan dan keahlian baru ini bisa didapati di universitas-universitas terkemuka dalam dan luar negeri. Biasanya mereka menyediakan mata kuliah, kursus, seminar dan perpustakaan yang memberikan informasi sejenis ini.

Di samping itu, buku, majalah dan newsletters keluaran terbaru juga sering membahas topik ini.

Jika anda punya akses ke internet, maka fasilitas muktahir ini adalah alat yang paling bisa diandalkan dalam mencari dan memperkaya informasi mengenai usaha yang berkaitan dengan lifestyle going green.

Kapan waktu yang tepat untuk memulai usaha seperti ini? Jawabannya adalah sekarang. Jangan sampai jauh tertinggal oleh Namaste Solar.

_____
Dr. Beni Bevly adalah penulis buku Managing For Profit Organizations
in the Flatter World
. Ia bisa dijumpai di www.overseasthinktankforindonesia.com. Artikel ini diterbitkan oleh majalah Duit!

Written by Beni Bevly

March 9th, 2009 at 3:04 pm

Don’t Be Evil

without comments

…adalah sangat mungkin untuk mencari keuntungan dengan cara don’t be evil.
Sumber gambar: seoblackhat.com

Oleh Dr. Beni Bevly

Akhir pekan lalu, dalam perjalanan ke Sacramento, ibu kota negara bagian Kalifornia di Tanah Seberang, saya berhenti di Burger King. Saya memesan satu cangkir kopi dan french fries. Setelah bayar, waiter-nya memberikan satu cangkir kopi seketika kepada saya.

Saya menunggu french fries yang saya pesan, tetapi setelah kurang lebih lima menit berselang, tidak kunjung datang juga. Lalu saya tanya ke waiter tersebut. Ia menjawab, “Oh gosh, I totally forgot. Forgive me.”

Dengan terburu ia mengemas dua paket frech fries dan memberikan ke saya sambil berkata, “Because it is my mistake, I am giving you two french fries.”

Pada keesokan harinya, saya menghadiri appointment saya dengan beberapa partner bisnis saya di Espresso Bar Nordstrom dekat tempat tinggal saya di kota Pleasanton, Kalifornia. Kami pesan dua kopi, dua teh dan makanan kecil. Tak lama kemudian siaplah miniman dan makanan kami, kecuali satu cangkir teh yang kami pesan. Kami tidak menanyakan hal itu kepada waiter segera, kami berpikir mungkin teh yang satu itu akan dibawakan kemudian.

Beberapa saat berlalu, teh tersebut belum juga datang. Akhirnya saya menayakan hal itu pada waiter. Ternyata pesanan kami tidak tercatat di note pad-nya sehingga mereka tidak menyediakan teh itu. Waiter itu berkata, “I am sorry about that. We will not charge you for this tea. It will be ready soon.”

Di tengah krisis Ekonomi di Tanah Seberang yang oleh banyak orang dilihat sebagai akibat kerakusan sistem kapitalis, ternyata kedua kasus yang sangat kecil ini merupakan dua tetes air segar yang menunjukkan kejujuran dan kebaikan hati karyawan mereka.

Mungkin sebagian dari kita bertanya, “Ah, itukan hanya tindakan karyawan mereka. Lagi pula merekakan berhadapan muka secara langsung dengan pelanggan. Bagaimana dengan bos besar yang duduk di belakan meja dan perusahaan yang tidak bersentuhan langsung dengan pelanggan? Bukankah mereka sangat rakus dan menerapkan sistem kapitalis murni?

Memang pertanyaan di atas tidak bisa dipungkiri. Memang banyak yang seperti itu, akan tetapi tidak semua pelaku bisnis, termasuk bisnis raksasa di Tanah Seberang. Ambilah contoh Google yang kini telah tumbuh menjadi search engine terbesar di dunia maya.

Saya mulai mengenal Google secara akdemik pada tahun 2005 ketika saya mengambil summer course Building Products through Customer-Driven Innovations di Stanford University. Di situ saya diperkenalkan dengan satu konsep yang cukup asing di telinga saya pada waktu itu, yaitu: “Don’t be evil.”

Google didirikan pada tahun 1998 oleh Larry Page dan Sergey Brin. Mereka memulai usahanya di ruangan kos di Stanford University dengan menerapkan philosophy don’t be evil. Kini, perusahaan ini telah memiliki lebih dari 10.000 karyawan worldwide.

Dalam philosophynya, Google menemukan apa yang mereka sebut “Ten Things Google Has Found To Be True.” Di antaranya disebut secara explicit disebutkan “You can make money without doing evil” atau “Kamu bisa mencari uang dengan tanpa berlaku seperti iblis.”

Seperti kita ketahui bahwa keuntungan terbesar dari Google adalah melalui iklan. Sebenarnya, dengan program canggihnya, dengan mudah mereka bisa tergoda untuk menawarkan produk culas supaya mendatangkan lebih banyak uang. Contohnya, menarik bayaran yang lebih tinggi dari pelanggan mereka supaya nama mereka bisa tampil di baris pertama ketika di-search oleh pengguna internet walaupun tidak berhubungan langsung dengan topic yang disearch.

Atau mereka bisa menawarkan harga lebih tinggi supaya iklan pelanggan mereka bisa tetap nongol di layer computer pemakai dan berkelap-kelip. Tetapi mereka tidak melakukan hal itu. Salah satu yang mereka lakukan adalah megindentifikasikan secara jelas bahwa iklan adalah iklan.

Tepatnya Google mengatakan, “Advertising on Google is always clearly identified as a Sponsored Link. It is a core value for Google that there be no compromising of the integrity of our results” (Iklan pada Google selalu diidentifikasi sebagai Sponsored Link. Adalah keyakinan utama Google untuk tidak mengkompromikan keintegritasan dari produk kami”).

Mereka menambahkan, “We never manipulate rankings to put our partners higher in our search results. No one can buy better PageRank. Our users trust Google’s objectivity and no short-term gain could ever justify breaching that trust” (“Kami tidak pernah memanipulasikan ranking untuk menempatkan parner kami di posisi yang tinggi dalam hasil pencarian di Internet. Tidak ada orang yang bisa membeli PageRank yang lebih baik. Pengguna jasa kami mempercayai keobjektifan Google dan tidak ada keuntungan jangka pendek yang bisa menjustify pelanggaran kepercayaan itu”).

Dalam penggolongan philosophy lain yang mereka sebut “Ten Principles that Contribute to A Google User,” terdapat satu prinsip yang sangat mendukung philosophy “Don’t be Evil”, yaitu: be worthy of people’s trust.

Dengan perinsip ini, di antaranya, Google menghormati para pengguna/pelanggan untuk memiliki dan mengkontrol data sendiri. Mereka tidak pernah memberikan informasi para pengguna kepada pihak lain tanpa izin dari pengguna mereka.

Produk mereka juga mengingatkan jika terdapat insecure connection, perbedaan private policy pada website yang lain, tindakan yang mungkin menyusahkan pelanggan karena spam.

Menurut Google, semakin besar mereka, semakin penting untuk menjalani philosophy “Don’t be evil”.

Tentu saja kita berharap Google tetap bisa mempertahankan philosophy ini dan menjadi contoh bagi perusahaan lain bukan hanya di Tanah Seberang, tetapi juga di Tanah Air bahwa adalah sangat mungkin untuk mencari keuntungan dengan cara don’t be evil.

Supaya philosophy ini bisa diterapkan dengan baik, bukan hanya para executive dan pemilik bisnis yang perlu memulai, tetapi karyawan biasa juga mempunyai andil besar. Hal ini bisa dimulai dengan memperlakukan pelanggan seperti yang saya alami pada pekan lalu.

Seperti kata Edmund Burke, “All that is necessary for the triumph of evil is that good men do nothing.” Dan Max Lener mengingatkan untuk selalu menghindarkan perbuatan yang bersifat keiblisan dengan berkata, “When you choose the lesser of two evils, always remember that it is still an evil.”

_____
Dr. Beni Bevly adalah penulis buku Managing For Profit Organizations in the Flatter World. Ia bisa dijumpai di www.overseasthinktankforindonesia.com. Artikel ini diterbitkan oleh majalah Duit!

Written by Beni Bevly

February 10th, 2009 at 12:15 pm

Hope from Silicon Valley

with 2 comments

Silicon Valley
Image source: rainbowanchorstone.de

By Jennie S. Bev

In September I attended a presentation by a group of distinguished movers and shakers in the region and by Silicon Valley Joint Venture Network’s President and CEO Russell Hancock. In the midst of a bleak economy, those who reside in this region were eager to learn everything they could about the present and the future: What the present outlook is, how long the re-cession may last, what the current trends are and what kind of prosperity and security may come again to that region and to the United States in general.

As a citizen of the world and a local business player, I attended this presentation to find out how Silicon Valley’s innovative business climate might rally the best traits of capitalism to help the world and whether it might contribute to overturning the current grim economic outlook.

Silicon Valley Joint Venture Network was established in 1992 as a neutral forum to bring together leaders from business, labor, government, universities and non-profits to think outside the box and build creative solutions for the overall well-being of the region.

One of their important contributions is the annual Silicon Valley Index. It tells the real story about this region based on indicators which measure the economy and health of the community. The Index analyzes strengths and challenges that can influence local leaders’ decision-making. Such indicators are valuable bellwethers which reflect fundamentals of long-term regional economic health, reflect the interests and concerns of the community, are statistically measurable on a frequent basis and measure outcomes rather than inputs.

Silicon Valley is a central intellectual hub in the United States, one which possesses influential soft power worldwide, and is considered as the world’s center for innovation. This region’s attractiveness has been played down as no more than a high-tech hub where today’s household names — Hewlett Packard, Intel, Apple, Google, Sun Microsystems and eBay are based. In truth, this region is much more than that. It has long been the birthplace of innovation-based capitalism.

Silicon Valley’s distinguished character is unlike any other on the planet. It is not just a “psychological geographical location” which cannot be found on any official map. It is made up of 1,500 square miles, 40 cities and four counties with 2.6 million people. The region boasts 1.3 million workers, 42 percent of its residents are foreign born, 40 percent hold college degrees and 25 percent of the labor force work in highly skilled occupations. The average income is 60 percent higher than most U.S. regions, it produces 6 percent of U.S. GNP, 11 percent of U.S. patents, and its productivity rate is 50 percent higher than the U.S. average. Even though Silicon Valley is only a small part of the state of California geographically, its economic output is greater than that of the whole state of New York.

As in any technology region, boom-and-bust cycles and economic bubbles are natural and expected. Each bust brings with it the opportunity to experience another bubble. The key is to be prepared for whatever the future brings and make the most of the bubble.

To ride high in the wake of Silicon Valley’s future booms is probably the best thing other countries — Indonesia included — can expect to do, which explains why Indonesia should catch up technology-wise. Their new products will become run-of-the-mill commodities which may in turn give birth to another creative outburst. This could provide continual opportunities to outsourcing firms, like those based in Chennai and Shanghai.

Grady Means and David Schneider coined the term “metacapitalism” in 2000 to refer to worldwide competition characterized by brand-owning firms which focus on product innovation while establishing alliances with other firms to function as suppliers.

Metacapitalism trends go hand in hand with high levels of outsourcing, except for design and research and development departments which are likely to be kept in house. And such a trend allows small companies to take part in this highly equalized playground as the flattened world has empowered smaller players.

An increase in the number of jobs in the area is expected, but an incremental rather than a prodigious increase. And with a credit thaw coming, this center of innovative capitalism is becoming the center of world metacapitalism again. It is not just wishful thinking: Silicon Valley has morphed itself many times during the last half century. Believe.

______
The writer is an author and columnist based in Northern California. This article was published by The Jakarta Post.

Written by Beni Bevly

December 3rd, 2008 at 12:08 pm

MOGOK dan BUDAYA DIAM

with 4 comments

Mobilmogok
Image source: mappa.blogsome.com

Oleh Beni Bevly
Bela diri tae kwon do (tkd) adalah hobiku yang tidak bisa ditinggal. Pada tahun 1987, tepatnya tahun petama di Universitas Indonesia, aku mulai latihan tkd dengan formal dan sungguh-sungguh. Sejak itu di manapun aku pergi, philosofi dan gerakan fisik tkd ikut bersamaku.

Suartu hari pada tahun 1990, sebagai pelatih dan ketua Unit Kegiatan Mahasiswa Tae Kwon Do Universitas Indonesia (UKM TKD UI), aku memimpin murid-muridku yang berjumlah sekitar 40 orang latihan dan gasuku kenaikan tingkat di Gunung Putri, Jawa Barat. Dalam kegiatan ini ada dua yang aku mau diskusikan. Pertama, mengenai mobil yang mogok. Kedua, mengenai jam tangan aku yang hilang. Dari kedua peristiwa ini akan direflesikan pada keadaan sosial, ekononi dan politik Indonesia.

Menegenai mobil yang mogok. Beberapa minggu sebelum anggota TKD UI berangkat ke Gunung Putri, aku dan beberapa temanku survei ke tempat itu. Kami mencarter sebuah mobil yang menurut pengamatan kami mobil itu reliable untuk dipakai naik ke Gunung Putri. Karena aku sering naik mobil kutu pulang pergi dari kampus UI Depok – Pasar Minggu, aku tahu bahwa mobil yang kami sewa itu sering kebut dan kecepatannya melebihi mobil sejenisnya.

Tetapi apa yang terjadi, ketika malam hari, mobil tersebut jalan tersendat-sendat di lereng Gunung Putri. Mesinnya keluar asap, sopirnya hendak nyerah dan mau meninggalkan kami, sedangkan tujuan masih jauh, jalan gelap gulita, hujan turun deras dan diselang sambaran petir. Aku bernegosiasi dengan mengatakan bahwa aku akan menambah uang sewa jika sampai tujuan dan memintanya untuk mendinginkan mesin. Akhirnya setelah berhenti beberapa kali dan mobil tersebut berjalan zikzak dengan lambat, kamipun sampai ke tujuan.

Pada hari pertama latihan, aku dan beberapa temanku sampai dahulu. Menurut jadwal, peserta yang lain mestinya sudah sampai sebelum jam 6 sore. Tetapi mereka baru nongol sekitar jam 9 malam. Ternyata metromini yang kami carter juga mengalami hal yang sama. Mogok!

Agaknya gejala ini mewakili kualitas yang rendah dari produk mobil secara khusus dan produk lainnya secara umum di Indonesia. Yang dimaksud dengan kualitas adalah bagaimana kemampuan suatu produk melakukan pekerjaan sesuai dengan tujuan dibuatnya. Dengan kata lain, kualitas berhubungan denga reliability atau kehandalan suatu produk. Jelas kedua mobil di atas tidak reliable atau rendah kualitasnya.

Adalah suatu hal lumrah bahwa produk dari negara maju terdiri dari tiga tingkat kualitas – A, B dan C grade. Kebiasaan yang diketemui, A grade diekspor ke sesama negara maju, B grade ke negara berkembang dan C grade ke negara terbelakang. Hal ini tergantung dari standar mutu pemerintah, kejelian dan negotition power pihak penerima produk. Tetapi yang menjadi issue utama bagaimana kerja sama pemerintah dan produsen dalam negeri dalam untuk berswadaya dengan memproduksi produk yang bermutu, harga terjangkau dan mempunyai daya saing di dalam dan di luar negeri.

Sebagai contoh, pemerintahan Cina dan Korea Utara bekerja sama dengan produsen mobil mereka dalam meningkatkan mutu. Salah satu caranya adalah mematok standar emisi. Kedua negara ini, yang tadinya dianggap remeh, kini telah berhasil melewati kualitas mobil Amerika. Bahkan, produsen Amerika tidak bisa menjual mobil di Cina, karena standar mutu lingkungannya yang rendah (Al Gore, dalam bukunya yang terkenal Inconvinience Truth: The Planet Emergency of Global Warming and What We Can Do About It (New York: Rodale. p. 272).

Perusahaan Otomobil Nasional (PROTON) dari Malaysia, walaupun belum mempunyai kedudukan yang sangat penting, tetapi mulai diperhitungkan di dunia internasional. Enam puluh percent dari mobil dalam negeri adalah produk independent PROTON. Diprediksikan bahwa pada tahun 2010, PROTON akan produksi 1 juta unit untuk pasar internasional (Pedal to the Metal, Far Eastern Economic Review, May 2, 1996. pp. 64-66).

Selama ini, produk otomobil dari Indonesia tidak terdengar di pasar Internasional. Pada masa menjelang kejatuhan Orde Baru, Tommy Suharto melalui perusahaan Timor yang bekerja sama dengan otomobil dari Korea berusaha mengembangkan produk mobil dalam negeri. Tetapi hal ini kandas karena kolusi dan ketidak-jujuran berbisnis. Lalu siapakah pemain yang bisa mengangkat nama Indonesia seperti Hyundai mengangkat nama Korea Selatan atau Proton mengangkat nama Malaysia?

Peristiwa lain yang aku alami saat gasukhu adalah jam tangan aku yang hilang. Setelah selesai gashuku, kami semua siap di dalam bis dan hendak pulang. Saat itu aku baru sadar bahwa jam tanganku tidak ada pergelangan tanganku. Aku pikir, jamku pasti ketinggalan di rumah penduduk tempat kami nginap.Aku tergesa-gesa hendak turun dan menanyakan hal itu pada pemilik rumah, tetapi seorang temanku mencegah dan bilang, “Jangan! Nanti kamu dikira menuduh mereka mencuri jam tangan kamu dan mereka bisa tersinggung dan marah.”

Aku ragu mengenai perkataan temanku. Teman-temanku yang lain membenarkan. Pada akhirnya aku memutuskan untuk melupakan jam tangan tersebut.

Aku mengerti maksud temanku mencegah aku balik ke rumah penduduk tersebut karena mereka hendak mencegah konflik yang mereka perkirakan akan terjadi. Memang konflik terhindari, tetapi masalah tidak terselesaikan. Ada dua hal yang aku tangkap dari peristiwa ini bahwa bangsa kita masih menganut budaya diam. Di lain pihak keterbukaan diperkirakan akan menjadi masalah.

Dalam demokrasi, budaya diam dan ketidak-terbukaan adalah hal yang harus dibuang jauh-jauh. Karena kommunikasi dan keterbukaanlah yang menjamin tumbuhnya demokrasi. Di negara maju yang telah menerapkan demokrasi, keterbukaan sangat dijunjung tinggi. Kritik dan mempertanyakan sesuatu pada pihak lain adalah hal yang wajar. Pihak yang ditanya atau dikritik lantas tidak menjadi marah, tersinggung, timbul konflik dan melakukan tindakan kekerasan.

Contohnya, awal tahun 2007, ketika aku berada di San Francisco, AS, aku melihat seseorang sedang mengkampanyekan untuk tidak melakukan hubungan sex sebelum menikah dan setia pada pasangannya. Hal itu, antara lain, dikatakan untuk mencegah penyakit AIDS.

Tiba-tiba datang seorang wanita dan menunjuk kepada orang yang sedang berkampanye tersebut sambil berkata, “You are crazy. You think you are an angle. You live in 21th century. Wake up!” Kemudian argumen berlanjut hingga beberapa menit. Tetapi setelah itu mereka pergi tanpa terjadi konflik fisik yang lebih jauh. Si tukang kampenyepun meneruskan usahanya.

Contoh lain, jika anda nonton tayangan iklan di saluran TV Amerika. Tidaklah heran jika anda menemukan bahwa satu merek dagang mengungkapkan kelebihan produk mereka dan menerangkan dengan rinci kekurangan produk pesaingnya. Hal yang serupa juga ditemukan dalam kampanye pemilihan presiden. Kubu Al Gore tidak segan menyerang kekurangan baik pribadi araupun kebijakan partai politik kubu George Bush. Tetapi setelah pemilihan, pihak yang kalah akan memberi selamat kepada pihak yang menang.

Keterbukaan dan kritikan menjadikan demokrasi mereka semakin kuat, karena kekurangan mereka terbongkar dan untuk survive, mereka harus memperbaiki. Selayaknya hal serupa pula yang mesti terjadi di Indonesia. Bukan hanya tersinggung, marah dan menghasut untuk menimbulkan kekerasan.

_____
*Beni Bevly holds BA in Political Science, MBA in Marketing, and is a DBA (Doctor of Business Administration) candidate. He is the founder of Overseas Think Tank for Indonesia.

KRL

with 34 comments

Kesemerautan KRL

Oleh Beni Bevly
Hari-hari kuliahku di Universitas Indonesia (UI), Depok antara tahun 1987-1992, diwarnai dengan naik kereta rel listrik (KRL). Setelah menetap di Amerika, beru aku sadari betapa tidak efisien dan “boros”nya cara kerja KRL di Indonesia. Berikut aku membuat perbandingan cara kerja KRL dan Bay Area Rapid Transit (BART) di San Francisco serta melihat implikasinya bagi perkembangan ekonomi Indonesia secara nasional dan usulan cara mengatsinya.

Dari segi kenyamanannya, kondisi stasiun dan KRL seringkali semerautan. Tidak jarang aku harus berdesakan di pintu dan di dalam kereta dengan penumpang lain, termasuk para pedangan yang memanggul sayur dan ayam hidup yang mempunyai aroma bau khas.

Dari segi jumlah pekerjanya, karena pengalamanku naik jalur yang aku tempuh adalah Stasiun Kota (Beos) – Pondok Cina, Depok, di Stasiun Kota, aku temui beberapa loket untuk membeli tiket. Total penjual tiket bisa sampai belasan orang. Di stasiun tersebut terdapat beberapa pintu masuk. Di setiap pintu masuk itu juga dijaga satu sampai dua orang. Umumnya, aku melihat dua orang di bagian depan depan tempat mengendarai kereta. Ketika ada di dalam kereta, paling tidak ada dua orang yang keliling dan memeriksa tiket.

Aku perkirakan, jumlah petugas penjual tiket, penjaga pintu masuk dan ditambah personnel untuk mengoperasikan satu kereta, terdapat lebih dari 30 orang. Supaya mempermudah, aku tidak memasukkan jumlah orang yang bekerja di departemen lain seperti Maintenance Department dan lain-lain.

BART di bawah tanah

Beberapa waktu yang lalu aku peri ke San Francisso Downtown dengan naik kereta. Di stasiun Bay Area Rapid Transit (BART) Powell, pusat kota San Francisco, adalah stasiun kereta yang paling besar dan ramai di Kalifornia Utara, USA. Kondisi stasiun dan keretanya rapih. Penumpang yang jumlahnya ratusan orang tenang berbaris menunggu giliran. Kereta yang bergerbong 5 sampai 15 itu datang dan pergi setiap menit. Secara fisik, Stasiun Kota lebih luas, tetapi frequensi lalu lalang kereta dan jumlah penumpangnya diperkirakan tidak jauh lebih sedikit dari Stasiun Kota.

BART di permukaan

Di Stasiun Powell, tidak terdapat loket penjulan karcis, tetapi setiap orang membeli karcis melalui belasan mesin yang tersedia. Terdapat puluhan pintu untuk masuk ke stasiun, tetapi tidak ada satupun penjaganya. Setiap penumpang cukup memasukkan tiketnya ke dalam mesin di pintu masuk, lalu pintu tersebut akan membuka halangan supaya penumpang bisa masuk. Di dalam kereta, tidak ada orang yang memeriksa karcis kita, hanya ada satu supir di depan gerbong kereta.

Beli tiket di BART

Aku perkirakan jumlah personnel secara keseluruhan di stasiun Powell dan ditambah dengan personnel satu kereta, terdapat 3 orang. Tidak ada petugas penjual tiket dan juga tidak ada penjaga pintu masuk. Yang ada hanya dua pos informasi yang masing-masing dijaga oleh satu orang.

Pintu masuk ke BART

Dari perbandingan di atas bisa dilihat betapa tidak efficient-nya cara kerja Stasiun Kota, Jakarta. Efficiency diartikan sebagai jumlah input yang dibutuhkan untuk menghasilkan output tertentu dalam suatu proses. Jelas input pada stasiun kota, dalam hal tenaga kerja jauh melebihi Stasiun Powell, karena itu Stasiun Powell jauh lebih efficient.

Mungkin ada yang berargumen bahwa pemerintah atau pemilik usaha di Indonesia sengaja merekrut jumlah pekerja yang banyak karena menerapkan sistem padat karya. Sistem padat karya dimaksudkan oleh pemerintah untuk memberantas pengangguran. Tetapi apakah benar cara ini tepat untuk memajukan perekomian dan pembangunana nasional?

Mari kita lihat efficency dan kaitannya dengan angka penganguran data tahun 2005 (www.cia.gov, diambil pada tanggal 4 Janaury 2007). Jepang – yang terkenal dengan sistem Just In Time (JIT)-nya yang sangat efficient dalam segala hal, antara lain tenaga kerja dan sistem ini banyak ditiru oleh negara lain termasuk Amerika – hanya mempunyai angka penganguran 4,4 persen. (Fundamental dari philosophy JIT adalah menghilangkan “waste” (segala kelebihan dalam proses, seperti tenaga kerja, waktu, material dan lain-lain) untuk mencapai minimum input, mempercepat proses pertukaran atau perpindahan tahap kerja, bekerja sama dengan suppliers, menyusun kembali “work flow,” mempergunakan sumberdaya yang flexible, memperhatikan kwalitas, “expose” permasalahan, dan melibatkan karyawan untuk memecahkan permasalahan (Russell, R. S. & Taylor III, B. W. 2000. Operation Management, Multi Media Version).

Korea Selatan yang hari kemerdekaannya hampir sama dengan Indonesia yaitu tanggal 15 Agustus 1945, juga terkenal dengan sistem kerjanya yang efficient memiliki 3,7 persen.

Singapura, negara tetangga kita yang paling dekat dan juga terkenal dengan efficiencynya memiliki angka penganguran 3,1 persen.

Amerika sebagai sumber dan otak dari cara kerja efficient yang dipelopori oleh W. Edwards Deming memiliki 5,1% angka penganguran.

Indonesia yang menerapkan sistem padat karya memiliki angka penganguran 11,8 persen

Dalam kaitannya dengan sistem padat karya yang penekananya untuk meningkatkan jumlah tenaga kerja dalam suatu kelompok, ahli “organizational behavior,” Robert Kreitner & Angelo Kinicki, 2003, dalam Organizational Behavior, melalui “social loafing teory,” mengatakan bahwa usaha atau effort individu dalam suatu kelompok cenderung menurun jika ukuran kelompok tersebut membesar keanggotaanya.

Menurunnya usaha individu jelas mempengaruhi efficency kerja kelompok. Usaha individu menurun disebabkan oleh (1) pemerataan usaha (“Jika setiap orang bersikap masa bodoh, mengapa aku harus berusaha keras?”). (2) kehilangan tanggung jawab pribadi (“Aku tenggelam di tengah keramaian, jadi siapa yang peduli”). (3) Hilangnya motivasi karena imbalan harus dibagi (“Mengapa aku harus kerja lebih keras dari mereka, jika aku mendapat imbalan yang sama.”).

Dengan kata lain, peningkatan jumlah anggota dalam suatu kelompok kerja daripada jumlah yang semestinya menimbulkan: Pertama, anggapan dari anggotanya bahwa tugas yang di berikan mudah, tidak penting dan tidak menarik. Kedua, pemikiran anggotanya bahwa output secara individu tidak terdeteksi. Ketiga, kelompak anggotanya berharap rekan kerja mereka untuk tidak peduli terhadap tugas mereka.

Timbulnya ketiga gejala di atas pada gilirannya menurunkan efficeincy dan kwalitas beserta kwantitas output yang diharapkan.

Lalu bagaimana supaya bisa menciptakan eficiency dan meproduksikan hasil yang diharapkan yang sekaligus bisa menekan angka penganguran? Menurut hematku kuncinya adalah menumbuhkan sifat “entrepreneurship” di masyarakat Indonesia. Menurut Robert D. Hisrich dan Micheal P. Peters dalam Entrepreneurship, entrepreneurship adalah prosess penciptaaan sesuatu yang baru dan bernilai dengan mengerahkan waktu dan usaha seperlunya dengan adanya resiko pengorbanan finansial, psychological dan sosial, dan menerima hasil yang berupa imbalan materi, kepuasan pribadi serta kemandirian.

Dari hasil penelitian mereka, Hisrich dan Peters menggarisbawahi bahwa untuk menjadi seorang entrepreneur atau pengusaha yang sukses, paling sedikit seseorang harus memiliki 5 hal. Pertama, kemampuan untuk menekuni informasi data (termasuk sistem pem-file-lan yang efective) dan mengkontrol keuangan yang meliputi cash flow, inventory, receivable, data pelanggan dan pengeluaran atau biaya.

Kedua, kemampuan dalam hal inventory control. Terlalu banyak inventory akan menguras cash flow, sedangkan terlalu sedikit inventory bisa mengakibatkan perginya pelanggan.

Ketiga, kemampuan dalam mengelolah human resources. Kemampuan ini meliputi perencanaan sumberdaya manusia yang dibutuhkan, penyusuanan job descrition, pengrekrutan, pelatihan, evaluasi kinerja, motivasi dan pemuntusan hubungan kerja.

Keempat, kemampuan marketing antara lain meliputi pengembangan produk dan jasa baru secara berkesinambungan yang harus berbeda dan lebih baik dari pesaing. Cara yang paling umum adalah mencari tahu apa saja kebutuhan customer dan bagaimana memenuhinya. Langkah berikutnya adalah menuntukan harga bagi produk dan jasa yang dijual.

Kelima, kemampuan perencanaan. Sebelum membuat perencanaan, keadaan mikro (yang berkaitan langsung dengan keadaan si pengusaha) dan mikro (yang berkaitan dengan industri yang digeluti, dan kondisi lingkungan yang lebih luas seperti keadaan perekonomian propinsi atau negara) perlu dirumuskan. Umumnya, para ahli managment mengusulkan penggunaan metoda SWOT, yaitu strengths dan weaknesses (kekuatan dan kelemahan yang berasal dari internal organisasi), opportuinities dan threats (kesempatan dan ancaman yang berasal dari external organisasi). (lihat David, F. R. 2006. Strategic Management: Concepts & Cases).

Kembali lagi ke peristiwa naik KRL di atas, alangkah menyenangkannya jika efficiency dan kwalitas pelayanan KRL kita di Jakarta bisa seperti BART di San Francisco. Jika demikian halnya bukankah semua pihak menikmatinya?

_____
*Beni Bevly holds BA in Political Science, MBA in Marketing, and is a DBA (Doctor of Business Administration) candidate. He is the founder of Overseas Think Tank for Indonesia.

COMMUNICATION MEDIA: Changing Marketing Approach

with 2 comments

communication-media1.jpg

By Beni Bevly
The innovation and advancement in communication media such as cell phone, satellite TV and Internet have impacted companies to change their marketing approach. With these new technologies, customers have more access to new or alternative products and services at real time. They are not stuck to certain products that are already obsolete.

On the other side, these technologies help companies to involve and witness what, where, and how customers’ needs can be fulfilled. They also help companies to have better communication with their customers. Finally, these technologies have increased the competition among businesses.

With the combination of these technologies – phone, satellite TV, and Internet – customers now have multiple choices of products to purchase at real time. For example customers can choose from various of merchandise that suit their needs from life TV commercial by calling them to make a purchase. Customers can utilize Google.com to look for products and services they need. Priceline.com will give customers price comparison. Ebay.com provides any kind of products that customers are looking for.

At the other side, because of communication technology innovation and its advancement, there is relatively risky for a business to claim that they are the only producer that has the capacity to fulfill certain customers’ needs. This statement only can be justified if they have the ability to personalize customers’ needs. Otherwise, the company may lose their credibility because customers will find out right away the fact by utilizing the latest communication technology.

The perfect examples regarding personalizing customers’ needs are Amazon.com and Netflix.com. They are able to communicate personalized needs to their customers though their sophisticated software.

_____
*Beni Bevly holds BA in Political Science, MBA in Marketing, and is a DBA (Doctor of Business Administration) candidate. He is the founder of Overseas Think Tank for Indonesia.

Written by Beni Bevly

February 24th, 2007 at 5:35 pm